
"Arvel ngantuk."
Arvel berkata pada Nando, ketika pria itu masih sama mengoceh dan memberi nasehat basi. Padahal selama ini boro-boro ia memiliki perhatian terhadap anak-anak.
Nando terus mengoceh, namun Arvel kini meluruskan tubuh di atas tempat tidur, lalu memejamkan mata.
Beberapa saat kemudian Nando keluar, saat itu hanya ada Clara di depan kamar. Ferdi sedang ke toilet, sedang Anzel serta Axel tengah makan di kantin rumah sakit.
"Lain kali yang becus jaga anak."
Suara Nando tersebut mengundang perhatian sekitar, hingga Clara merasa sedikit tidak enak.
"Masih untung ya, kamu aku izinkan menjenguk. Emang selama ini kamu sudah becus sama anak-anak?"
Clara membalas pria itu. Dan sebelum Nando mempermalukan dirinya lebih lanjut, Clara sudah kembali mencecar.
"Kamu cuma sibuk sama selingkuhan kamu selama ini. Sibuk ngurusin dia, ngempanin dia. Mana ada kamu perhatian sama anak-anak. Bahkan kasih nafkah ke anak-anak pun nggak ada setelah cerai. Aku sendiri semua yang berjuang untuk mereka."
Banyak yang mendengar hal tersebut dan Nando begitu geram.
"Nggak usah merasa jadi ibu yang superior kamu. Nggak usah menjelekkan ayah dari anak-anak kamu, yang dulunya pernah hidup seatap bahkan tidur satu kamar dengan kamu."
Nando mencekik Clara, tiba-tiba Ferdi muncul dan mendorong pria itu.
"Apa-apaan lo?" ujarnya dengan penuh emosi.
"Lo didik istri lo ini." teriak Nando.
"Elo yang didik diri lo, bangsat!"
"Buuuk!"
Sebuah bogem mentah mendarat di wajah Nando, kericuhan pun terjadi. Dokter, perawat serta office boy yang kebetulan melintas, kini memisahkan keduanya. Anzel dan Axel yang baru tiba dari kantin pun berlarian mendekat.
"Pak, tolong jangan buat keributan. Ini rumah sakit."
Salah seorang dokter berujar, tak lama sekuriti pun datang menghampiri karena ada yang melaporkan.
"Dia mencekik istri saya, dok. Bisa dilihat di rekaman CCTV." ujar Ferdi.
"Dia mencekik perempuan yang dulunya adalah istri dia juga dan sekarang mereka sudah bercerai. Dia nggak punya hak menyentuh istri saya."
Ferdi terus berkata dengan kekesalan yang memuncak di atas kepala. Sementara semua mata kini tertuju pada Nando.
"Itu karena lo nggak mendidik istri lo dengan baik."
"Papa yang harusnya jaga tangan dan perilaku papa."
Anzel yang sudah naik pitam sejak tadi tiba-tiba mendorong dan mencekik Nando.
"Papa pikir cuma tangan papa yang bisa kayak gini ke mama, hah?"
__ADS_1
Ferdi dan Clara mencoba menarik Anzel, dibantu oleh dokter dan perawat. Sedang Nando kini ditarik oleh sekuriti.
"Bukan sekali dua kali papa mencekik mama, sering papa lakukan itu bahkan di depan kami." teriak Anzel lagi.
"Karena dia perempuan yang nggak becus dalam segala hal."
"Papa yang lebih nggak becus lagi jadi manusia." Anzel kembali berujar.
"Sudah-sudah, mari ikut kami ke pos."
Sekuriti tersebut menarik Nando dengan paksa, dan mau tidak mau Nando pun akhirnya bergerak menjauh.
"Kalau emang lo berani, satu lawan satu dengan gue." teriak Ferdi.
"Pak, udah pak."
Dokter mencoba menenangkan Ferdi, begitupula dengan Clara dan Axel.
"Udah, om." ujar anak itu.
"Kalau bukan di rumah sakit, terserah mau ngapain. Tapi ini di rumah sakit." lanjut remaja itu lagi.
Ferdi mencoba menarik nafas panjang dan menetralkan emosinya. Suasana mulai tenang dan yang tidak berkepentingan kini membubarkan diri.
"Yang tenang pak."
Sang dokter masih mencoba mendampingi. Setelah suasana kondusif ia pun berpamitan. Sebab masih ada banyak pasien yang mesti ia tangani.
Wanita itu menggelengkan kepala.
"Nggak apa-apa, Fer." jawabnya.
"Maafin aku tadi ninggalin kamu. Karena aku pikir dia nggak akan mengulang kesalahan yang sama." ucap Ferdi lagi.
"Udah nggak apa-apa, kamu tenang aja ya. Aku udah biasa di cekik kayak gitu sama dia." ucap Clara.
"Bukan masalah biasa nggak biasa, Cla. Kamu itu istri aku sekarang, dan dia nggak berhak menyentuh kamu." ujar Ferdi.
"Aku aja yang suami kamu nggak ada berlaku kasar ke fisik kamu. Ini dia cuma mantan loh." lanjutnya kemudian.
Anzel terlihat menarik nafas, kemudian ia berlalu. Axel yang bingung dengan sikap kakaknya itu kini menyusul.
Anzel melangkah keluar dari lobi rumah sakit, matanya kini menilik ke pos sekuriti dan ternyata Nando telah keluar dari sana. Nando kemudian berjalan ke arah halaman parkir diikuti oleh Anzel. Sementara Axel tetap mengekor sang kakak dari jarak yang agak jauh.
Nando membuka pintu mobi, namun Anzel menghalangi pria itu.
"Anzel?"
"Jangan pernah ganggu keluarga kamu lagi." ucap anak itu.
"Jangan sekali-kali." lanjutnya kemudian.
__ADS_1
Nano menatap sang anak dalam-dalam.
"Jadi kamu menerima kehadiran laki-laki itu?" tanya nya dengan kemarahan yang sengaja di tahan, namun terasa oleh Anzel.
"Ya." jawab Anzel kemudian.
"Kami butuh sosok ayah yang lebih waras, ketimbang ayah yang cuma bisa berlaku kasar terhadap perempuan."
"Kamu benar-benar mau melakukan ini terhadap papa. Papa ini ayah kandung kamu."
"Kita nggak bisa merubah soal itu, selamanya papa akan menjadi papa kandung kami. Tapi setidaknya kami nggak harus berurusan sama papa."
Anzel berlalu meninggalkan tempat itu.
"Kamu akan menyesal dengan ini semua, Anzel. Kamu dan saudara kamu akan menyesal." ucap Nando.
Anzel berbalik dan berkata pada sang ayah.
"Menyesal karena orang lain lebih baik, daripada dibuat menyesal oleh darah daging sendiri. Itu lebih sakit." ujarnya kemudian.
Nando pun seketika terdiam, seperti jantungnya tiba-tiba membeku dan berhenti berdetak.
Anzel melangkah kembali ke dalam rumah sakit, Axel kini mengejar kakak keduanya itu.
"Bang, itu tadi keren banget." ujarnya kemudian.
Anzel diam dan terus saja berjalan.
"Abang harus pertahankan itu. Orang kayak papa emang mesti dikasih pelajaran sekali-kali. Soalnya dia kayak nggak sekolah dulunya." ujar Axel lagi.
"Lo nggak usah bahas ini di depan mama." pinta Anzel.
"Beres, bang serahkan aja sama Axel."
Mereka kemudian kembali berjalan, seolah sebelumnya tak terjadi apa-apa.
***
Sementara di suatu tempat.
"Gimana caranya gue bisa menghancurkan hubungan mereka."
Jessica mondar-mandir secara perlahan, sambil membawa segelas minuman beralkohol di tangannya.
"Nggak masalah gue nggak bisa memiliki lo lagi, Fer." ucap wanita itu.
"Tapi yang jelas, gue nggak akan membiarkan elo bahagia selamanya. Apalagi sama si Clara, perempuan yang sok elegan dan sok kecakepan itu." lanjutnya lagi.
"Gue akan hancurkan kalian sampai ke akar-akar. Karena lo cuma milik gue, Ferdi."
Jessica mereguk minuman yang ada di tangannya hingga habis. Sambil melemparkan pandangan jauh menembus kaca apartemen.
__ADS_1