Terpaksa Menikahi Janda Kaya

Terpaksa Menikahi Janda Kaya
Ketahuan


__ADS_3

"Fer, ini mobil kamu kenapa?"


Clara baru menyadari jika mobil kantor yang dipakai Ferdi mengalami penyok dan lecet di bagian sisi kanan. Seperti habis menabrak atau di tabrak sesuatu.


"Aaaa...."


"Kamu abis kecelakaan?"


Belum sempat Ferdi berkilah, Clara sudah nyerocos dan ucapannya tersebut benar serta tepat sasaran.


"Kenapa nggak bilang sama aku?" tanya Clara lagi.


Ferdi menarik nafas, ia tidak pernah mengetahui jika seorang perempuan yang telah berstatus istri bisa menjadi cenayang.


"Harusnya kamu bilang, Ferdi. Kalau ada apa-apa sama kamu gimana?. Ini bukan masalah sepele loh."


Axel yang baru tiba dari warung sambil membawa micin yang diminta oleh Clara, kini terpaku menatap kedua orang tuanya yang tengah berdebat tersebut.


"Aku nggak apa-apa, Clara. Buktinya aku masih berdiri di muka kamu sekarang. Aku ini makhluk fana loh, bukan roh."


"Kamu masih aja bercanda ya. Aku tuh khawatir sama kamu. Kenapa coba bisa sampe kecelakaan kayak gini?"


Axel melirik ke arah mobil Ferdi dan melihat bagian sisi yang penyok.


"Om Ferdi kecelakaan?" tanya nya kemudian.


"Pasti kamu ngebut kan, terus mau nabrak sesuatu dan mobilnya kamu banting ke kanan akhirnya nabrak orang."


Ferdi menatap Clara. Ia baru merasakan arti pernikahan yang sesungguhnya. Yakni tak bisa membela diri ketika makhluk bernama istri tengah marah. Ia akan terus membuka dan menutup mulut seperti ikan mas koki yang diberi pakan pelet.


"Pokoknya kalau ada apa-apa, kamu harus cerita sama aku. Aku nggak mau kamu menyembunyikan apapun. Kalau kamu kayak gitu, nanti aku juga bisa menyembunyikan segala sesuatu dari kamu."


Ferdi menarik nafas panjang, mencoba mencari udara yang seolah mendadak menipis.


"Kamu nggak ada luka kan?" tanya Clara lagi.


Ferdi menggeleng.


"Ya udah aku mau siapin makan malam dulu, nanti kita bicara lagi."


Clara masuk ke dalam rumah. Ferdi menarik nafas lebih panjang ketimbang yang tadi.


"Baru ngerasain ya om, di omelin mak lampir?. Axel sama abang udah bertahun-tahun. Sampe kadang Axel tuh pengen cosplay jadi haji Bolot."


Ferdi tertawa, tak lama terdengar sebuah teriakan dari dalam.


"Axel mana micinnya?"


"Tuh kan, baru dibilangin." ujar Axel kemudian.


Ferdi makin tertawa, Axel lalu buru-buru masuk ke dalam sebelum Clara kembali berteriak.

__ADS_1


"Iya maaaa."


***


"Lagian udah gue bilang, ketok magic Ferdi, Nichol, Aditya Atmaja."


Jordan menyebut nama Ferdi dengan jeda koma yang begitu banyak. Di setiap jeda itu ia menahan rasa gregetan terhadap sang sahabat.


Sebab Ferdi telah ia suruh untuk membenahi mobilnya yang penyok. Namun sahabatnya itu masih mengatakan nanti-nanti. Akibatnya Clara mengetahui peristiwa tersebut, meski tuduhan atas kronologinya sedikit keliru.


Ferdi sejatinya di tabrak dengan sengaja entah oleh siapa. Kecurigaan saat ini mengarah pada Nando namun ia tak memiliki bukti.


"Gue pikir dia nggak bakalan ngeh. Ternyata gue menikahi seorang dukun, yang jago menganalisa serta cocokologi." ujar Ferdi.


Jordan menahan tawa.


"Menikah itu nggak sama dengan pacaran, Fer." ujarnya Kemudian.


"Cewek yang udah jadi bini, itu bisa jadi multitasking, multitalenta, multifungsi, multi level marketing, semuanya." lanjutnya lagi.


"Mereka bisa jadi partner, temen, musuh, dukun, cenayang, peramal, polisi militer, unit cyber crime dan lain-lain."


Ferdi tertawa kali ini.


"Sumpah kaget gue, sampe gue nggak bisa ngomong." ujar pemuda itu.


"Makanya lo hati-hati. Kalau kata bokap gue, lebih baik jujur. Daripada ujungnya dia tau sendiri dan jadi perang dunia ketiga."


"Oh masih, tapi nggak akan separah saat dia tau sendiri. Lo belajar noh sama bapak gue, emak gue marah mulu soalnya."


Ferdi makin tertawa mendengar celotehan temannya itu.


"Gue kayaknya emang harus mengenali dia lebih jauh." ujarnya kemudian.


"Kalau nggak, gue bakalan kaget terus sama sifatnya dia yang nggak gue tau." lanjutnya lagi.


"Emang rumah tangga kudu begitu, makanya gue belum mau nikah." seloroh Jordan lagi.


"Eh, gue terpaksa ya bangsat." ujar Ferdi seraya tertawa.


"Terpaksa tapi lo cinta."


"Iya sih." Ferdi melebarkan senyuman.


Mereka mengobrol sampai beberapa saat ke depan. Tak lama setelah itu telpon tersebut pun di sudahi.


"Kenapa si Ferdi?"


Sean yang malam itu menginap di rumah Jordan bertanya.


"Ketahuan bininya dia kecelakaan." jawab Jordan.

__ADS_1


"Terus si Clara marah?"


"Ya marah. Apalagi coba yang bisa di lakukan seorang istri kecuali nyap-nyap. Pokoknya apa-apa emosi dulu, berpikir jernih kemudian." seloroh Jordan.


"Tapi Ferdi juga ngeyel sih." lanjutnya lagi.


"Iya, padahal udah kita suruh ke bengkel ya." ujar Sean.


"Sama lah si Ferdi kayak lo, suka menunda sesuatu yang penting."


"Koq jadi ngikut-ngikutin gue?" Sean bertanya dengan nada sewot.


"Iya kan?. Ini aja kerjaan besok kagak lo kerjain dari tadi."


"Mager gue, besok ajalah."


"Tuh, sama kayak Ferdi." ujar Jordan sambil tertawa.


Sean lalu melorotkan tubuh, dari yang bersandar menjadi berbaring seutuhnya.


"Gue rebahan dulu, ntar gue kerjain." ujarnya kemudian.


Jordan hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil menghela nafas panjang. Sean dan Ferdi benar-benar seperti anak kembar, meski tak serupa dan tak serahim.


***


"Masih marah sama aku?"


Ferdi yang baru selesai mandi dan berganti pakaian, bertanya pada Clara yang telah merebahkan diri di atas tempat tidur.


"Ya, gimana nggak marah coba. Kamu kecelakaan nggak ngasih tau aku. Terus aku ini dianggap apa?"


"Ya dianggap istri lah, masa dianggap suami. Kan suaminya aku."


"Ih, nyebelin."


Clara memalingkan wajahnya ke sisi kiri, sementara Ferdi ada disisi kanan.


"Udah bohongin istri, nggak nyadar juga lagi. Bukannya minta maaf." Clara menggerutu, semester Ferdi kini tersenyum.


"Aku nggak ngasih tau kamu, karena masalahnya udah selesai dan aku nggak apa-apa. Aku cuma nggak mau kamu kepikiran, lebih baik pikiran kamu di gunakan untuk mikirin anak-anak."


"Tapi hidup itu bukan hanya tentang aku sama anak-anak doang, Fer. Kita ini suami-istri, harusnya kita saling berkomunikasi dalam hal apapun."


Ferdi menarik nafas, dan tiba-tiba ia sudah ada di belakang Clara. Ia menarik wanita itu ke dalam pelukannya.


"Maafin aku ya." ujarnya kemudian.


"Lain kali aku nggak akan gitu lagi." lanjut pemuda itu.


Clara mengangguk, Ferdi lalu mencium kening sang istri untuk waktu yang cukup lama. Clara pun akhirnya kembali tersenyum. Mereka lalu tertidur dengan posisi saling berpelukan.

__ADS_1


Ketika dini hari menjelang, keduanya sama-sama terbangun dalam gairah yang begitu menggebu-gebu. Mereka pun akhirnya melakukan hubungan suami-istri, disaat situasi rumah sedang hening. Karena semua orang yang ada masih tertidur lelap.


__ADS_2