
Acara lamaran itu pun selesai, pihak Ferdi akhirnya pulang dengan diantar oleh pihak dari Clara menuju ke halaman parkir.
Jeffri tampak bersalaman dan sedikit berbasa-basi dengan keluarga Clara, begitu pula sebaliknya.
"Aku akan hubungi kamu nanti." ucap Ferdi kepada Clara.
Wanita beranak tiga itupun tersenyum dan tersipu malu dibuatnya.
"Iya, aku tunggu." ujarnya kemudian.
Maka Ferdi segera masuk ke dalam mobil. Sesaat kemudian mobil tersebut mulai merayap. Clara tersenyum sambil melambaikan tangan. Ferdi membalas senyum dan perlahan keluar dari pintu pagar yang telah dibuka oleh sekuriti.
Ketika mobil tersebut benar-benar keluar dari halaman, Ferdi yang belum menutup kaca melihat Axel yang tengah membeli es krim di depan rumah.
Axel menoleh dan melambaikan tangan sambil nyengir padanya. Ferdi balas tersenyum, kemudian benar-benar berlalu meninggalkan tempat itu.
***
"Bro, si Nova kata emaknya belum balik."
Tiba-tiba Jordan mengetik sesuatu di grup kantor yang hanya terdiri dari dirinya, Ferdi, Sean, dan juga Nathan.
"Belum balik gimana?" Ferdi mengetik balasan dan mengirimkannya di grup tersebut.
"Tadi kan kata si Nova dia mau pergi sama temennya, makanya nggak mau bareng kita balik." tiba-tiba Sean muncul dan berbicara juga disana.
"Udah coba di hubungi belum?" tanya Nath.
"Udah pak Nath, dan nggak bisa. Jangankan diangkat, nyambung aja kagak." ujar Jordan lagi.
Seketika mereka semua pun teringat, pada laki-laki bertampang CEO novel online yang tadi mereka lihat di acara lamaran Ferdi dengan Clara.
"Jangan bilang dia pergi sama si CEO itu." ucap Ferdi.
"Siapa tau." Nath menimpali.
"Wah, parah nih Nova. Gue takut terjadi apa-apa sama tuh anak." Sean ikut berbicara.
"Ngeri di bawa ke hotel terus di coblos aja." Jordan kembali berbicara.
"Dia pernah cerita ke gue kalau dia belum pernah begituan, bro. Takut di rayu-rayu dan cowoknya nggak tanggung jawab." ujar Sean lagi.
"Gue hubungi Clara dulu deh." ucap Ferdi.
"Nah iya, bro. Suruh tanyain ke si cowok itu." tukas Jordan.
"Mudah-mudahan bisa ketemu." balas Nath.
"Ntar kabarin ya." Sean menimpali.
"Oke."
__ADS_1
Ferdi pun meninggalkan grup itu sejenak, lalu mencoba menelpon Clara. Pada saat yang bersamaan Clara sedang mandi, sehingga telpon tersebut tak ada yang mengangkat.
"Cla, kamu tau nggak cowok yang tadi ngobrol terus sama Nova?"
Ferdi mengirim pesan singkat pada Clara melalui WhatsApp.
"Nova sampai saat ini belum pulang dan nggak bisa di hubungi. Takutnya pergi sama itu cowok dan di apa-apain. Kasihan ibunya nyariin dia." lanjut Ferdi lagi.
Selang beberapa saat berlalu, Clara selesai mandi. Ia melihat handphone dan menemukan pesan dari Ferdi. Kemudian segera saja ia menghubungi pria itu dan bertanya. Ferdi pun menjelaskan kronologi kejadian.
"Oke, tunggu. Aku hubungi dia dulu." ujar Clara.
"Oke, tolong ya." jawab Ferdi.
Maka Clara pun menyudahi percakapan dan segera menelpon CEO yang dicurigai telah membawa Nova. Tak lama Clara kembali menelpon Ferdi.
"Fer, dia nggak bisa dihubungi juga. Tapi tadi aku sempat telpon kakaknya, katanya dia ada di tempat biasa dia nongkrong."
"Kamu tau nggak tempatnya dimana?" tanya Ferdi.
"Tau, mau aku samperin kamu terus kita kesana. Apa gimana?" Clara balik bertanya.
"Jangan, biar aku aja yang jemput kamu."
"Oke, aku tunggu di rumah."
"Tunggu dalam lima belas menit." ucap Ferdi.
"Oke."
Awalnya Frans bertanya mau kemana adiknya itu. Setelah Ferdi menjelaskan ia segera memberi kunci mobil dan menyuruh Ferdi segera pergi.
Sebab takut terjadi banyak hal pada Nova, apabila teman-temannya terlalu lama bergerak. Maka Ferdi segera tancap gas sambil menelpon Jordan, Sean, serta Nath. Ketiga orang ini akhirnya ikut menyusul.
Ferdi menjemput Clara dan bertanya di mana lokasinya. Usai Clara memberitahu, Ferdi segera mengabari ketiga temannya dan mereka bergerak ke sana.
Tak butuh waktu lama, mereka pun akhirnya tiba. Tempat tersebut adalah sebuah klub malam private yang tampaknya hanya dihadiri oleh orang-orang kaya saja.
Atas kemudahan dari Clara, sebab Clara dikenali oleh penjaga tempat tersebut. Mereka pun akhirnya berhasil masuk dan bertemu dengan CEO yang mereka curigai.
Tak hanya itu saja, mereka juga menemukan Nova berada di dalam pelukan pria itu. Maka dengan penuh kemarahan Ferdi segera menarik Nova.
"Nova, lo ngapain disini dan kenapa nggak bisa dihubungi?"
Nova yang kaget langsung menatap Ferdi dan yang lainnya.
"Emak lo nyariin tau nggak?" Jordan berkata dengan tak kalah marahnya.
Sementara si pria CEO kini berdiri dan menatap mereka semua.
"Clara, ada apa ini?" tanya nya kemudian.
__ADS_1
"Nggak usah banyak bacot."
Nathan mendorong bahu laki-laki itu.
"Hei, biasa aja dong bro. Lo tau sopan santun kan?" ucap pria CEO itu penuh kemarahan.
"Nggak usah ngomongin sopan-santun deh, lo aja ngajak anak orang tanpa pamit ke orang tuanya." Kali ini Sean bersuara.
Suasana pun menjadi ricuh seketika, banyak pasang mata yang kini tertuju kesana.
"Gaes, ini nggak seperti yang kalian kira." ucap Nova.
"Terus apa, Va?. Apa maksudnya kayak gini?" Ferdi kembali mencecar temannya itu.
"Lo pamit ke orang tua lo untuk datang ke acara gue, dan lo ilang. Otomatis orang tua lo akan nyalahin gue kalau lo kenapa-kenapa."
"Lagian kamu juga, Grey. Kamu kenapa main bawa anak perempuan orang tanpa izin." Clara berkata pada CEO itu.
"Clara kami sudah dewasa, dan kami berhak untuk melakukan apapun yang orang dewasa mau. Semisal jalan berdua ataupun berkencan."
"Tapi lo ingetin juga dia untuk pulang." Kali ini Ferdi yang berkata pada CEO bernama Grey tersebut.
"Lo nggak berhak marahin dia, Fer. Ini maunya gue juga." Nova membela Grey.
Maka Ferdi dan yang lain pun tak bisa berbuat apa-apa. Sebab Nova adalah orang lain, meskipun mereka berteman. Nova punya hak atas hidupnya sendiri dan teman-temannya tak bisa ikut campur.
"Gini, Nova. Yang pasti kamu hubungi keluarga kamu dulu sekarang. Mereka khawatir." ucap Clara pada gadis itu.
"Kalaupun mau pergi lagi dengan siapapun itu, setidaknya kabari mereka. Biar mereka nggak khawatir dan nggak menyalahkan siapa-siapa." ujarnya lagi.
Nova menghela nafas lalu mencoba mengirim pesan singkat pada sang ibu.
"Mending lo pulang dulu deh, Va." ucap Nath lagi.
Dengan kesal Nova pun mengambil tas tangan miliknya, lalu bergerak keluar diikuti oleh Sean. Sebab ia takut terjadi apa-apa pada perempuan itu. Sementara kini di dalam, Ferdi, Jordan, dan Nathan kembali menatap Grey.
"Kalau mau ngajak perempuan, meski lo udah dewasa. Tetaplah punya cara, karena kita nggak tinggal di Amerika."
Nathan kembali berujar.
"Oke sorry." ucap Grey.
Tak lama Nathan pun berlalu, dengan kepala yang masih tegang dan berapi-api. Jordan juga akhirnya ikut mengiring.
Mereka semua tak berkelahi sebab merasa tak enak pada Clara. Grey sendiri merupakan teman dari perempuan itu. Mereka juga tak enak pada Ferdi jika terkesan tak memandang calon istrinya.
Sama seperti teman-temannya, Ferdi pun demikian. Ia juga menahan diri demi Clara. Padahal ia sudah sangat ingin memukul wajah Grey. Sejak pertama ia melihat pria itu memeluk Nova tadi. Kini tinggal Clara dan Ferdi yang masih berada di hadapan Grey.
"Kita harus membicarakan hal ini dengan serius, besok." ucap Clara.
Tak lama wanita itupun berlalu, diikuti oleh Ferdi. Hanya sisa Grey yang tampak terpaku dalam diam.
__ADS_1