
Nando mengemudikan mobil dengan emosi yang tak jua hilang sejak tadi. Apalagi ketika ia mengingat percakapan terakhirnya dengan sang anak kedua.
Anzel benar-benar telah menusuk bagian hatinya yang paling dalam. Ia kini benar-benar murka terhadap Ferdi dan juga Clara. Baginya kedua orang itulah yang bertanggung jawab atas sikap buruk anak-anaknya saat ini.
Memang sudah menjadi sifat Nando, selalu menyalahkan kejadian yang menimpa dirinya kepada orang lain. Ia cenderung enggan untuk introspeksi diri, padahal kesalahan lebih banyak berada padanya.
***
"Selamat sore tante, om."
Seorang gadis cantik menghampiri Clara serta Ferdi yang masih duduk di kursi koridor.
"Hai Cindy."
Clara terkejut dengan kehadiran gadis itu, sekaligus senang.
"Cindy mau jenguk Arvel tante, boleh. ?" tanya Cindy kemudian.
"Oh, tentu. Silahkan." ucap Clara.
"Ayo tante antar."
Clara melangkah lalu diikuti oleh Cindy. Tak lama Anzel dan Axel pun tiba. Mereka hendak masuk ke dalam, namun ditahan oleh Ferdi.
"Di dalam lagi ada Cindy." ujar pria itu.
Anzel dan Axel saling bersitatap. Lalu keduanya bergegas pergi ke muka pintu untuk mengintip. Tampak di dalam Clara sendang mencoba membangunkan Arvel yang tertidur.
"Arvel, ini ada Cindy." ujar wanita itu.
Arvel tak bergeming. Lalu tanpa sengaja Clara melihat ke arah Anzel dan juga Axel. Kedua anaknya itu melambaikan tangan memanggil-manggil Clara tanpa suara.
"Eee, Cindy tante tinggal sebentar ya. Kamu bangunin aja Arvel-nya." ucap wanita itu. Ia buru-buru keluar.
"Apaan?" tanya Clara pada Anzel dan juga Axel. Sementara kini Ferdi memperhatikan.
"Biarin aja ma, paling juga bang Arvel pura-pura tidur." ujar Anzel.
"Iya, minta dibangunin sama kak Cindy. Makanya pas mama coba bangunin dia pura-pura nyenyak." Axel menimpali.
Clara tak terlalu paham pada sifat anak-anaknya kini. Mungkin sebagian iya, tapi sebagian lagi pasti hanya dimengerti oleh mereka bertiga saja. Sebab sudah pasti ketiga anak itu tau persis baik buruk sifat mereka satu sama lain.
"Nih, mama liat ya. Pasti dia bangun kalau Cindy yang bangunin."
Anzel mengajak Clara mengintip ke dalam. Ferdi yang penasaran ikut nimbrung. Sementara si bungsu tak mau ketinggalan.
Dan benar saja apa yang diucapkan kedua anaknya tersebut. Arvel memang Bagun, ketika Cindy yang membangunkan. Clara hanya menahan senyum sambil mengelus dada. Tiba-tiba mata wanita itu berkaca-kaca seperti menahan tangis.
"Bayi mama udah gede aja, udah bisa suka-sukaan sama cewek." ujarnya mellow.
Ferdi tersenyum lalu mengusap punggung istrinya itu.
"Kamu sendirian?" tanya Arvel pada Cindy.
__ADS_1
"Iya, mau sama siapa coba. Kan aku nggak ada yang akrab sama teman-teman kamu. Aku juga ketemu sekedarnya aja sama mereka, buat kepentingan pementasan drama." jawab Cindy.
Arvel tersenyum. Dari pintu semuanya juga tampak tersenyum.
"Gubrak."
Axel mendadak terjatuh, akibat cara berdirinya yang tak seimbang.
"Gaes?"
Arvel kaget begitupula dengan Cindy. Axel dan Anzel nyengir, sementara Clara ditarik oleh Ferdi. Arvel mengambil sesuatu dan melemparnya ke arah kedua adiknya tersebut.
"Buuuk."
Kedua adiknya itu malah cekikikan dan kabur begitu saja. Sementara Cindy kini hanya tertawa.
"Ma, kalau mau pulang, pulang aja dulu." ucap Anzel pada Axel, ketika mereka telah berhenti mengintip sang kakak.
"Iya ma, biar kita yang jagain bang Arvel. Ntar malem mama kesini, kita pulang. Besok kita gantian lagi." Axel menimpali.
"Tapi janji sama mama, kalau mama sama om Ferdi pulang jangan saling menjahili sama abang." ucap Clara.
"Iya janji, tenang aja." ujar Axel sambil nyengir.
"Mama tuh kalau udah ngeliat kamu nyengir, udah nggak yakin." ucap Clara lagi.
"Tenang aja ma, Anzel yang jagain. Kalau dia nakal, Anzel jitak."
"Ya udah, mama pulang dulu ya. Mau mandi soalnya."
Meski tak terlihat jelas di depan Cindy, namun Anzel dan Axel tau jika kakak mereka tersebut sangat sewot hatinya. Demi menatap kedatangan mereka berdua.
Sebab waktunya dengan Cindy telah dibajak. Namun ia pun tak bisa mengusir kedua adiknya secara serta merta. Karena akan terlihat jelas sekali, jika ia ingin bersama Cindy. Sementara ia masih sedikit jual mahal di depan gadis itu, demi menjaga harga diri.
"Kalian nggak mau beli minuman gitu?" tanya Arvel. Ini adalah pengusiran secara halus. Anzel dan Axel sejatinya mengerti. Rencana mereka adalah merampok uang Arvel.
"Mau sih, bang. Tapi kita nggak bawa duit banyak." ujar Axel.
"Lagian ngapain beli minuman doang mesti bawa duit banyak." ucap Arvel.
"Pengennya yang mahal kali." celetuk Cindy sambil tertawa.
"Iya kak, pengennya seturbuk." ujar Axel.
"Setarbak, seturbuk, setarbak, seturbuk. Gaya lo." ujar Arvel sewot.
"Beli aja es teh manis sono di kantin rumah sakit. Paling juga lima ribu, teh poci." lanjutnya lagi.
"Hehe, tapi duit dulu dong." ujar Anzel.
Arvel menghela nafas dan melirik tajam, sementara Cindy makin tertawa melihat sikap ketiga saudara itu.
"Sini gue transfer ke rekening digital lo." ujarnya kemudian.
__ADS_1
Tak lama ia pun mentransfer sejumlah uang ke rekening digital milik Anzel.
"Elah bang, seratus lima puluh ribu pelit amat." ujar Anzel.
"Abang kan duitnya banyak." ujarnya lagi.
"Eh, kutu air. Seratus lima puluh ribu buat lo berdua sekali makan itu, banyak ya. Lo beliin ketoprak harga ceban, dapat lima belas piring." ujar Arvel kemudian.
"Hehe." Anzel dan Axel nyengir di waktu yang nyaris bersamaan.
"Kalau nggak, sini balikin!" ucapnya lagi.
"Ya, jangan dong." ujar Anzel.
"Ntar Abang siku tangannya borok. Iya kan kak Cindy?" Axel meminta dukungan Cindy.
"Iya benar-benar." jawab Cindy sambil tertawa.
"Lagian bukannya bersyukur, heran." tukas Arvel lagi.
"Hehe." Kedua kecoa besar itu akhirnya beranjak.
"Kak Cindy mau minuman nggak?" tanya Axel.
"Nggak usah, nanti kakak mau pulang juga bentar lagi."
"Oh ya udah, kita pergi ya." ujar Axel.
"Kamu sama adek-adek kamu lucu banget ya." ucap Cindy.
"Kalau mau lucu tiap hari, main aja kesini kak."
Axel yang sudah berada di muka pintu menoleh dan nyeletuk. Namun kemudian Anzel menariknya dan ia pun menghilang.
Arvel dan Cindy lanjut ngobrol.
***
"Mama sama om Ferdi pulang?"
Arvel bertanya ketika Cindy telah pulang dan kedua adiknya telah kembali masuk ke kamar.
"Iya, biar mama mandi sama ganti baju dulu." jawab Anzel.
"Aturan tadi kalian ikut pulang aja. Atau Axel kek."
"Takut punya adek lagi ya?" Axel langsung menjudge sang kakak, sambil nyengir lebar mirip venom. Anzel sendiri baru terpikir sampai sana.
"Enak tau bang, punya adek lagi. Ntar pasti cewek-cewek akan lebih sering komen di akun kita, kalau kita posting foto bareng adek baru. Pasti cewek-cewek akan komen, "Ih idaman banget nih, keliatan kalau punya anak nanti bakalan sayang sama anak."
Axel menirukan omongan netijen.
"Kan lumayan adek kita buat pencitraan."
__ADS_1
Arvel dan Anzel akhirnya tak kuasa menahan senyum. Tadinya mereka khawatir, namun kini malah menjadi tawa.