
Ferdi, Jordan, serta Sean menanti di ruang tunggu emergency. Sementara Nath tengah diperiksa dan di tangani oleh dokter.
"Duh, semoga dia nggak apa-apa." ucap Ferdi.
"Kayaknya selama kita kerja, pak Nath nggak pernah sakit deh. Baru kali ini." celetuk Sean.
"Tapi selama beberapa hari ini tuh, lo pada merhatiin nggak sih?. Kalau pak Nath itu agak aneh." Jordan membuat Ferdi dan Sean tampak berpikir.
"Gue pernah liat dia kayak lagi bengong mikirin sesuatu gitu. Cuma gue mau nanya kan nggak enak." ucap Sean.
"Kalau lo, Fer?" tanya Jordan.
Ferdi masih berpikir.
"Kayaknya biasa aja deh." ujar pemuda itu.
"Eh tapi nggak, deng. Yang hari pas kita nungguin anak gue sakit. Pas lo berdua udah pulang tuh. Nath kan balik sama gue. Hari itu matanya sembab banget, kayak abis nangis. Pas gue tanya, dia bilang dia alergi. Alergi dingin atau apa gitu, lupa gue. Tapi gue yakin banget dia abis nangis. Cuma mungkin dia malu ngomong sama gue." Ferdi berujar panjang lebar.
"Apa ya, apa ada masalah gede yang dia nggak bisa cerita ke orang lain?" tanya Jordan.
"Maybe, bisa jadi." Sean menimpali.
Ketiga sahabat itu pun terdiam. Tak lama seorang dokter datang menghampiri. Dokter itu memberitahu kondisi Nath yang cukup serius. Hingga mengharuskan dirinya untuk dirawat inap.
Karena khawatir terjadi sesuatu yang lebih buruk dan karena tak punya pilihan lain, Ferdi dan teman-temannya menyetujui hal tersebut.
***
"Selamat pagi, Arvel."
Seorang perawat masuk ke ruangan tempat dimana Arvel di rawat.
"Pagi, sus." jawab Arvel seraya menghentikan aktivitasnya dalam membaca buku.
"Ini ada kiriman buat kamu."
Suster itu tampak meletakkan satu box cukup besar ke atas meja.
"Dari siapa sus?" tanya Arvel.
"Bisa minta tolong dibawa kesini?" tanya nya lagi.
Suster itu dengan senang hati membawakan box tersebut kepada Arvel.
"Awas agak berat." ucap si perawat.
Arvel lalu menerimanya.
"Mau dibantu buka?" tanya perawat itu lagi.
"Nggak usah sus, biar saya aja." ucap Arvel.
__ADS_1
"Baik, kalau ada apa-apa, panggil saya ya."
"Iya sus, terima kasih."
"Sama-sama."
Perawat itu lalu pergi meninggalkan Arvel sendirian. Arvel yang penasaran dengan isi kotak itu melihat ke sekeliling. Mencari siapa pengirimnya.
"Dari papa?"
Arvel mengerutkan kening, ia bingung mengapa tiba-tiba Nando mengirimkan sesuatu kepadanya.
Karena rasa penasarannya semakin tinggi, ia pun membuka box tersebut. Pertama ia melihat ada boneka owl atau burung hantu mini, seukuran telapak tangan.
Arvel tersenyum dan langsung teringat pada Cindy. Sebab hanya Cindy yang mengetahui jika Arvel menyukai burung hantu dan berharap dapat memeliharanya.
Meski sampai saat ini ia belum berani meminta izin pada Clara. Lantaran Clara pernah bercerita bahwa ia takut pada burung hantu.
Tapi..
Arvel kembali terdiam. Di box ini tertulis dari papa, yang berarti bukan Cindy pengirimnya melainkan Nando. Jika benar Nando, maka tau dari mana pria itu perihal burung hantu.
Apakah ia mendekati Cindy dan bertanya. Tau dari mana ia siapa saja teman-teman Arvel. Setelah bertahun-tahun hidup tak pernah sekalipun ia perhatian terhadap anak-anaknya.
"Ah."
Arvel jadi bingung kali ini. Ia meletakkan burung hantu mini itu ke sisi kanan tempat tidur lalu kembali membongkar box.
Arvel lanjut membuka, ia kemudian tertegun. Ia tak percaya melihat sebuah laptop gaming seri terbaru dari sebuah brand, ada di sana. Perlahan Arvel mengeluarkan kotak laptop tersebut dan membukanya.
Isinya sama, sesuai gambar. Meski tadi sempat Arvel mengira, mungkin hanya mempergunakan kotaknya saja untuk membungkus sesuatu.
Tetapi tenyata isinya memang sebuah laptop gaming. Dan yang mengetahui jika ia menginginkan laptop gaming tersebut hanya teman-teman akrabnya disekolah.
"Apa mungkin Nando menemui teman-temannya itu dan bertanya pada mereka?" pikir Arvel.
Tapi kembali lagi, dari mana Nando tau siapa teman-temannya. Mereka tak pernah bertemu satu sama lain. Kalaupun temannya ada main ke rumah, sudah pasti mereka tak pernah bertemu Nando. Lantaran Nando yang terlalu sibuk.
"Hhhhh."
Arvel lalu berpikir keras. Mengapa clue yang ada dalam box tersebut begitu membingungkan. Ia memang sudah lama mendambakan laptop gaming tersebut. Namun ia sendiri tak ingin memberatkan Clara, sebab harga laptop tersebut cukup tinggi.
Lagipula ia sudah dibelikan MacBook dan perangkat Apple lainnya oleh sang ibu. Belum lagi bayaran sekolahnya yang tinggi.
Rasanya terlampau keterlaluan bila ia meminta lagi, hanya untuk keperluan bermain game online. Lagipula game online favoritnya masih bisa di mainkan dari handphone.
Alhasil Arvel hanya memendam keinginan dan menceritakan pada teman-temannya saja. Tapi kini ia mendapatkan apa yang ia inginkan tersebut dan disini tertulis dari papa.
Arvel bingung harus menerima pemberian ini atau tidak. Sebab sangat aneh melihat Nando tiba-tiba bersikap manis seperti ini.
***
__ADS_1
Nath sadar dari pingsannya yang cukup panjang. Perawat memberitahu Ferdi dan kedua temannya yang masih menunggu. Mereka tentu saja lega, dan bergegas menuju ke tempat dimana Nath dirawat.
"Bro."
Ferdi mendekat ke arah bosnya itu. Nath mencoba memaksakan sebuah senyum diantara rasa tak nyaman yang masih melanda tubuhnya.
"Lo udah nggak apa-apa?" tanya Ferdi.
Nath mengangguk.
"Kalau ada apa-apa itu cerita, jangan dipendam sendiri." ucap Ferdi lagi.
"Iya pak Nath, walau mungkin kita nggak bisa bantu. Paling nggak ada yang mendengarkan uneg-unegnya elo." Jordan menimpali.
"Kita bisa dipercaya koq, kalau lo mau." Sean turut berkata-kata.
"Gue baik-baik aja koq." jawab Nath dengan suara yang masih terdengar lemah.
"Cuma kecapean aja." lanjutnya lagi.
"Tapi kata dokter tadi, semua ini karena tingkat stress yang lo alami itu tinggi. Pressure lo gede katanya." Sean kembali berujar.
Nath agak sedikit terdiam karena ternyata ia tak bisa berbohong. Dokter telah terlebih dahulu mengatakan perihal faktor penyebab yang membuat dirinya sampai harus dirawat seperti ini.
"Lo kenapa sih, mikirin kantor kita yang bermasalah?" tanya Jordan.
Nath menggeleng.
"Kantor kita baik-baik aja." ujarnya kemudian.
"Terus?" tanya Jordan lagi.
"Ini murni masalah pribadi gue di rumah." jawab Nath.
"Lo ada masalah dengan orang tua lo?" tanya Ferdi.
Nath mengangguk.
"Tadi lo ada kasih tau mereka nggak kalau gue disini?" Nath balik bertanya.
"Belum ada sih, baru mau kasih tau terus dipanggil perawat." ujar Jordan.
"Bagus deh, gue nggak mau mereka kesini." tukas Nath.
"Tapi nanti kalau mereka khawatir dan nyariin lo gimana?" tanya Ferdi.
"Mereka nggak akan peduli." Nath berkata dengan nada dingin.
"Yang mereka peduli cuma, gue bisa mendirikan perusahaan dan sukses. Mereka nggak bener-bener mau mikirin soal diri gue ataupun perasaan gue." ujarnya lagi.
Ferdi, Jordan, dan Sean hanya bisa saling bersitatap satu sama lain. Kalau sudah menyangkut perihal keluarga, mereka akan angkat tangan. Sebab itu bukan ranah mereka.
__ADS_1