
"Fer, gue punya 6 tiket nonton, dikasih sama temen gue. Lo mau nggak sama istri dan anak-anak lo nonton bareng gue?"
Nath bertanya ketika Ferdi tengah masuk ke ruangan kerjanya untuk mengambil flashdisk.
"Lo dapat gratisan itu?" tanya Ferdi.
"Iya." jawab Nath.
"Banyak amat?"
"Makanya, daripada nggak kepake. Jordan, Sean, sama Nova udah gue kasih. Nggak usah cerita ke karyawan lain, ntar dibilang gue tebang pilih." tukas Nath.
"Ntar gue tanya bini sama anak-anak gue dulu deh." ujar Ferdi.
"Ya udah, kabarin gue ya. Sayang nih tiket kalau hangus." tukas Nath lagi.
"Iya." jawab Ferdi.
***
Di rumah setelah pulang kerja.
"Nggak bisa ikut, Fer. Besok Friska sama Valerie mau main kesini." ucap Clara.
"Kamu aja sama anak-anak." ujarnya lagi.
"Yah mama, aturan ikut aja biar seru." celetuk Axel.
"Tante Valerie sama tante Friska-nya mau dikemanakan sayang?. Masa mama tinggal demi nonton." ucap Clara.
"Lagian mama udah duluan janji sama mereka." lanjutnya lagi.
"Ya udah deh kalau gitu, Axel tetap mau ikut om Ferdi." ujar remaja itu.
"Ya udah, ikut sekalian sama abang." ucap Clara.
"Abang ikut ya bang?" Axel memastikan kedua kakaknya untuk ikut.
"Iya." jawab Arvel dan Anzel serentak, sambil terus memperhatikan layar handphone. Karena sejak tadi mereka terlihat memainkan perangkat tersebut.
Ferdi kemudian menghubungi Nath dan mengatakan bahwa ia bersedia, tetapi tanpa Clara.
"Ya udah, besok sore jam tiga kita jalan." balas Nath.
***
"Kamu apa-apaan sih?"
Ninis marah pada Nando ketika menemukan bukti transfer sejumlah uang ke rekening Clara, yang belum lama ini ia lakukan.
Uang itu diperuntukkan Nando bagi anak-anak sekaligus berusaha untuk sok baik. Guna menarik simpati dari mereka.
Tujuannya tentu saja agar Clara bisa menunda pengambilan perusahaan yang saat ini tengah ia kelola. Paling tidak sampai semua rencana dan strategi yang tengah ia persiapkan rampung.
__ADS_1
"Uang aku, urusan aku. Yang penting di rumah ini kebutuhan kamu masih aku penuhi, dan kamu nggak kelaparan, kehujanan, atau kepanasan di luar sana." jawab Nando.
"Ya nggak bisa gitu dong, aku ini istri kamu yang sah sekarang. Aku berhak tau dan kamu harusnya berembuk dulu sama aku, kalau kamu mau ngasih ke mantan istri kamu itu."
"Aku dan Clara punya anak ya. Dan mereka tanggung jawab aku."
Nando tak ingin jujur mengenai rencananya dibalik itu. Karena baginya Ninis saat ini sudah tidak terlalu penting.
"Ya kenapa nggak ngomong sama aku, kamu pikir aku ini siapa?" tanya Ninis.
"Emangnya kamu siapa?. Pegawai badan pengawas keuangan?. Sampai kamu harus banget tau larinya uang aku kemana." Nando balik melempar pertanyaan dengan nada tinggi.
"Kamu tuh udah benar-benar berubah ya sekarang." Ninis menatap suaminya itu.
Sejatinya Nando bukanlah berubah. Tak peduli pada istri sah memang adalah sifat yang mendasar dalam dirinya. Saat masih menjadi suami Clara, ia pun tak peduli dan lebih mementingkan selingkuhannya.
Kini setelah jadi suami sah Ninis, kelakuannya pun sama persis. Ia lebih memperhatikan selingkuhannya ketimbang wanita itu.
"Terserah kamu mau ngomong apa, aku capek di debat terus."
Nando berlalu meninggalkan Ninis. Ia pergi keluar apartemen dan entah kemana. Sementara Ninis kini terlihat kesal.
***
Sesuai kesepakatan, Ferdi mengajak ketiga anak sambungnya untuk pergi nonton bersama Nath.
Mereka berangkat dengan menggunakan satu mobil. Axel berada di depan, disisi Ferdi yang tengah mengemudi. Sedang Arvel dan Anzel ada di belakang. Mereka berdua tampak bermain handphone, sementara Axel terlihat makan makaroni pedas.
"Huh, pedes banget."
"Minum dulu, itu kan ada." ujar Ferdi seraya melirik air mineral yang ada di samping, dekat tuas pengatur gigi kendaraan.
Axel pun lalu menghentikan aktivitas makan, lalu minum.
"Om Ferdi mau nggak?" tanya Axel.
"Nggak, kamu aja. Om lagi radang tenggorokan." jawab Ferdi.
"Kamu jangan banyak-banyak makan pedes kayak gitu. Nanti sama kayak om." lanjutnya lagi.
"Axel tuh emang bandel, om. Nggak akan berhenti kalau nggak kejadian." Arvel yang ada dibelakang nyeletuk.
"Biarin aja, palingan juga ntar merengek ke mama kalau sakit." Anzel menimpali.
"Iya-iya."
Axel menutup tempat makaroni tersebut, kemudian meletakkannya ke dashboard mobil.
"Bawel banget semuanya kayak Ratu Clara." ujarnya sewot.
Ferdi menahan tawa melihat tingkah anak itu. Selang beberapa saat mereka tiba di tempat janjian. Mereka bertemu Nath dan Nath bilang sebaiknya mereka makan terlebih dahulu. Sebab filmnya di mulai masih satu jam lagi.
Mereka pun lalu menyambangi sebuah restoran dan memesan makanan disana. Ferdi duduk berhadapan dengan Anzel sedang Arvel yang ada disisinya berhadapan dengan Nath.
__ADS_1
Axel ada di bagian samping dan tak ada siapapun di hadapannya. Namun ia tak peduli, karena yang terpenting baginya adalah makan.
"Kita mau nonton film apa sih om?" tanya Axel pada Nath dengan gaya sok akrab. Ia memang terbilang cukup percaya diri untuk berbicara dengan orang lain, yang bahkan baru ia kenal.
Nath tersenyum dan menjawab. Ia menyebutkan salah satu judul film Superhero yang memang belum di tonton oleh ketiga anak Ferdi.
"Asik." ujar Axel.
"Padahal kita bertiga baru rencana mau nonton film ini." ujarnya lagi.
"Oh ya?. Kebetulan dong?" tanya Nath pada remaja itu.
"Iya." jawab Axel.
"Uhuk-uhuk."
Tiba-tiba Arvel tersedak dan itu terdengar cukup parah. Sontak Ferdi dan yang lainnya menoleh. Ia kemudian hendak meminta air mineral pada pelayan, sebab minuman mereka semuanya adalah minuman manis yang dingin. Ferdi bergerak, namun pergerakannya di dahului Nath yang tampak panik.
Buru-buru ia menuju ke dekat kasir dan meminta air mineral. Tak lama ia kembali mendekat. Saat itu sebenarnya Arvel sedang tertawa, sebab ia tadi makan sambil melamun dan kini ia membuat gaduh suasana.
"Noah, kamu minum dulu!" ujar Nath.
Sejenak Ferdi, Anzel, dan Axel serta Arvel sendiri pun terdiam.
"Om, namanya Arvel bukan Noah." seloroh Axel.
"Oh iya, sorry. Om ingatnya keponakan om."
Nath berkilah, mereka semua lalu tertawa.
"Jauh banget dari Arvel ke Noah." ucap Ferdi.
Nath kembali tertawa dengan hati yang remuk redam. Arvel lalu minum, air mineral itu sudah dibukakan oleh Nath sebelumnya.
Mereka lanjut makan sambil berbincang. Kemudian mereka menemani Axel yang merengek minta main time zone. Mereka semua ikut bermain tanpa terkecuali.
Di akhir-akhir sesi, Anzel terlihat bermain simulasi mobil balap bersama Ferdi. Sedang Axel terlihat bermain capit yang isinya makanan.
Otaknya tak jauh-jauh dari makan. Meski ia memiliki tubuh yang cukup bagus untuk ukuran tukang lahap. Sebab ia juga kuat dalam hal berolahraga di sekolah.
Arvel sendiri sejak awal lebih tertarik pada permainan tembak-tembakan. Namun kemudian ia merasa bosan dan beralih pada simulasi samsak tinju. Kemudian ia mencoba membuat sebuah pukulan disana.
"Buuuk."
Dan ternyata ia cukup kuat untuk itu. Nath mendekat, lalu ia melakukan hal yang sama. Pukulannya jauh di atas Arvel hingga membuat Arvel tercengang.
"Really?" ujarnya kemudian.
Nath menatap anak itu dalam diam, lalu ia pun tertawa kecil. Arvel jadi ikut-ikutan tertawa. Mereka mencoba sekali lagi, dan lagi-lagi Nath lebih yang unggul. Skor Nath lebih tinggi ketimbang dirinya.
Usai dari permainan tersebut, Arvel melihat ke arah permainan pukul boneka hamster. Yakni sebuah meja dengan banyak lubang, yang didalamnya terdapat boneka berbentuk hamster.
Cara bermainnya, kita harus memukul boneka tersebut dengan alat berbentuk palu, ketika Boneka tersebut keluar dari lubang.
__ADS_1
Ia dan Nath memutuskan untuk bermain. Dan ketika koin mulai dimasukkan. Boneka-boneka hamster tersebut mulai bermunculan.
Arvel memukul mereka dengan cepat, namun Nath ternyata lebih barbar. Mereka kembali tertawa-tawa, dan terus memainkannya sampai koin habis.