
Jessica benar-benar marah dan malu di sepanjang perjalanan pulang. Berkali-kali ia memukul setir kemudi dengan sekuat tenaga. Ia tak menyangka jika Ferdi yang terlihat seperti laki-laki baik dan polos tersebut, akan mampu berselingkuh dari dirinya. Padahal kemarin ia hanya ceplas-ceplos menuduh saja, tapi ternyata benar kejadian.
Saat ini hubungannya dengan Ricardo, om Jordan agak sedikit renggang. Lantaran om dari teman Ferdi tersebut sudah memiliki istri. Ia tak bisa terlalu fokus pada Jessica.
Sedang Jessica memang berniat menjadikan Ferdi sebagai lelaki cadangan. Jika sudah berhasil mengeruk harta om Ricardo ia tetap akan jalan dengan Ferdi. Sebagai alibi dan tameng bahwa ia bukanlah seorang pelakor.
Tapi kali ini ia tak bisa melakukan semua itu. Ferdi yang baginya sangat polos dan baik kini telah terpengaruh. Pastilah itu perbuatan teman-temannya. Ia diberitahu soal perselingkuhan Jessica dan dipengaruhi untuk membalas.
Sebab Ferdi tak mungkin terpikir sendiri ke arah sana, jika tidak ada yang menjadi setan. Jessica tau persis siapa Ferdi. Ia terlalu sepuluh betul untuk berkhianat dalam hubungan. Ia tipikal pria yang sangat bucin terhadap pasangan.
***
"Fer, tadi itu keren bro."
Jordan memberikan dukungannya pada Ferdi, ketika Clara telah pulang dan Ferdi kembali ke kantor.
"Yup, cewek kayak gitu mesti dikasih pelajaran." timpal nova.
"Kalau nggak, lo bakal dijadikan lelaki cadangan terus." lanjutnya kemudian.
"Gue setuju sama Nova." Sean nyeletuk.
"Pasti di otak Jessica nih, dia jadi selingkuhan omnya Jordan biar bisa leha-leha karena dapat duit banyak. Terus tetap jadi pacar lo biar bisa terus pamer kemesraan di sosmed bareng cowok good looking. Karena kan nggak mungkin pamer kemesraan di sosmed sama suami orang."
"Bener banget, Sean." Nova kembali menimpali.
"Gue cewek dan gue tau persis ada cewek-cewek yang berpikirnya kayak gitu. Karena disini kan posisinya Ferdi ganteng, tapi nggak terlalu berduit. Sedang yang onoh berduit tapi laki orang. Intinya Jessica serakah, pengen dua-duanya. Sok cantik, anjir." lanjutnya lagi.
"Lo kenapa nggak pacaran aja sih sama si mbak?" Jordan bertanya pada Ferdi. Hal tersebut mengundang tatapan dari Sean dan juga Nova.
"Ya kali dia mau sama gue. Mantan lakinya aja, punya mobil lumayan bagus. Emang dia mau pacaran pake taksi online?" Ferdi berseloroh sambil tertawa.
"Kan mobil bokap lo banyak, Ferdi. Bisa kali pake satu." ujar Sean.
"Iya, lo mah terlalu membumi bro. Lama-lama kelelep lo di lumpur." Jordan menambahi.
Mereka semua tertawa-tawa.
"Bangsat." seloroh Ferdi.
"Lah iya kan, lo tuh terlalu gengsi bro sama harta bokap lo. Kalau gue jadi elo mah." Lagi-lagi Sean berujar.
__ADS_1
"Iya, udah flexing-flexing kan lo. Pamer-pamer di sosmed." ucap Ferdi.
"Yoi, apalagi coba?"
Mereka kembali tertawa-tawa.
"Tuh mbak-mbak udah pernah menikah dan gagal, bro. Pastinya dia akan selektif nyari pasangan. Dan lagian kan gue udah mau dijodohin sama bokap gue."
"Eh iya tuh, masalah itu. Emang jadi ya, Fer?" tanya Nova."
Ferdi menghela nafas panjang.
"Kayaknya sih, jadi." ucapnya kemudian.
"Wah, bakalan kondangan nih kita." seloroh Sean.
"Otak lu kondangan-kondangan. Gue yang susah ini." Ferdi berkata sambil tertawa dan hal tersebut kembali mengundang tawa yang lainnya.
"Eh by the way lo udah enakan badannya?" tanya Sean.
"Iya, kayaknya abis ketemu mbak langsung seger nih." goda Nova.
"Iya ya." ujarnya kemudian.
"Berarti emang lo udah harus punya bini, Fer. Biar nggak melulu mikirin Jessica." ucap Jordan.
"Heh, kerja-kerja."
Nathan melintas dan mengingatkan sambil tertawa. Ia tak pernah serius dalam menegur para bawahannya tersebut.
"Iya pak Nath, ini juga kerja koq." seloroh Nova.
Tak lama mereka pun kembali pada pekerjaan masing-masing.
***
Sementara itu di sepanjang perjalanan pulang, Clara mengingat kejadian tadi di kantor Ferdi. Entah kenapa part dimana Ferdi mengatakan jika Clara adalah pacarnya, selalu terngiang-ngiang di benak wanita itu.
"Ah, apa sih gue?"
Clara berusaha menepis pikirannya. Kemudian ia tertawa kecil.
__ADS_1
"Masa iya gue suka sama berondong. Mana muda banget lagi keliatannya."
Clara berbicara pada dirinya sendiri. Namun wajah tampan dan senyum Ferdi seakan tak mau hilang dari pandangan matanya.
Belum pernah ia merasa senyaman itu terhadap seseorang. Dengan mantan suaminya sekalipun ia belum pernah.
***
"Napa lu, senyum-senyum sendiri?"
Igor bertanya pada Frans yang kedapatan bekerja sambil mesem-mesem sendiri di kantor.
"Apa sih?"
Frans berusaha menepis namun gagal.
"Inget tuh cewek kan lo pasti." ucap Igor lagi. Dan kali ini Frans memperlihatkan senyumannya.
"Cakep banget ya." ujarnya kemudian.
"Eh, si Nadia mau lo kemanain coba?" Igor mengingatkan.
"Ingat, perselingkuhan terjadi bukan hanya karena ada kesempatan. Tapi juga niat dan umpan balik. Waspadalah, waspadalah."
Frans melempar file ke arah Igor. Sementara Igor kini tertawa-tawa, lalu kembali ke meja kerjanya.
Ia tak salah menduga, saat ini memang Frans tengah memikirkan Clara. Jika ada kesempatan, ia mau bertemu lagi dengan perempuan itu. Frans tak dapat melupakan senyuman dan juga suaranya saat berbicara. Ia begitu cantik dan terlihat lembut.
Jika diperistri, ia akan menjadi ibu-ibu yang penuh kelembutan serta perhatian. Agak berbeda dengan Nadia yang mempunyai karakter sangat manja.
Nadia lahir di keluarga kaya-raya, tetapi selalu menuruti keinginan sang anak. Boleh dibilang apa yang Nadia minta, selalu di berikan oleh orang tuanya. Ia tak pernah kekurangan sekalipun. Sehingga ia tumbuh menjadi sosok yang selalu ingin di penuhi.
Nadia sendiri cukup cantik, tipikal anak orang kaya pada umunya yang memiliki kulit bersih dengan tubuh yang langsing dan cukup tinggi. Namun tak secantik Clara yang Frans lihat.
Sepanjang berhubungan dengan Nadia, Frans banyak sekali bersabar dan mengalah. Semata demi menjaga agar mereka tak bertengkar. Sebab perusahan Jeffri juga sangat tergantung, dari pasokan bahan baku perusahan ayah Nadia.
Intinya anak-anak Jeffri memiliki hubungan yang memiliki maksud di belakangnya. Meski itu terkesan tidak tulus. Bagi Frans lebih baik berada dalam hubungan yang saling menguntungkan dengan orang kaya. Daripada memilih perempuan biasa yang ia cintai, namun bisa jadi perempuan itu adalah tipikal pengeruk harta.
Dari dulu Frans memang selau berpacaran dengan anak orang kaya. Namun hubungan itu ada saja kandasnya. Terakhir ini ia bertemu dengan Nadia. Namun belakangan Frans merasa jika dirinya seperti di setir dan harus selalu menuruti keinginan Nadia.
Maka dari itu ketika bertemu Clara. Ia merasa dirinya berhak untuk jatuh cinta secara normal. Toh dia jatuh cinta bukan dengan perempuan yang biasa. Dari penampilannya saja Clara terlihat seperti seorang perempuan sukses.
__ADS_1