
"Kalau gitu, kita harus siap-siap." ucap Jeffri pada Adrian dihadapan Glenca.
"Iya, dan kita semua harus berpenampilan sangat meyakinkan. Tidak boleh terlihat dulu kalau keuangan kita bermasalah." jawab Adrian.
"Itu tugas lo, untuk mengatur semuanya." ucap Jeffri lagi.
Adrian tersenyum, selama ini segala urusan Jeffri dan keluarga serta perusahaan. Dirinyalah yang mengatur semuanya.
Ia tak akan membiarkan keluarga Jeffri malu dan terlihat tak berwibawa di hadapan Clara maupun keluarganya nanti.
"Lo tenang aja, serahkan sama gue." ucap Adrian kemudian.
Jeffri mengambil gelas berisi minuman dan mengangkatnya, begitupula dengan Adrian serta Glenca.
Setelah cheers mereka kemudian minum bersama. Meski isi gelas Jeffri bukan lagi minuman beralkohol. Sebab ia dari menderita sakit beberapa waktu lalu.
***
"Ternyata sate kayak gini juga enak ya om." ucap Axel pada Ferdi. Ini porsi kedua yang mereka beli. Sedang Jordan dan Sean kini tengah bersiap makan nasi goreng abang-abang yang kebetulan lewat.
"Iya enak, kamu nggak pernah makan kan?"
Ferdi menjudge Axel sambil tersenyum.
"Iya, nggak pernah. Axel tuh nggak boleh semua sama mama, kecuali mama yang beliin. Tempat belinya pun mama yang milih. Katanya suka nggak bersih lah, ini lah, itulah."
Axel mengoceh panjang lebar sambil terus makan, sementara Ferdi tertawa kecil.
"Ini bersih koq, om jamin." ucap Ferdi.
"Kalau nggak bersih, om juga mana mau beli." lanjutnya lagi.
"Iya, tapi kalau mama Axel tuh berlebihan, om." ujar Axel.
Ferdi kembali tertawa.
"Oh ya, kamu makan santai kayak gini nggak takut ketahuan sama dia saudara kamu?" Ferdi mempertanyakan perihal Arvel dan juga Anzel.
"Mereka nggak latihan hari ini. Lagi ada turnamen mobile legends kan." ucap Axel.
"Emang mereka ikut?"
"Ikut, om. Mereka kan termasuk gamer pro."
__ADS_1
"Emang mama sama papa kamu nggak melarang?" tanya Ferdi.
"Masih SMA kan kakak-kakak kamu itu?" tukasnya lagi.
"Iya, tapi mama nggak marah. Yang penting sekolah tetap lanjut, kata mama."
"Waw, orang tua kamu sesantai itu?" Untuk kesekian kali Ferdi kembali bertanya.
"Iya."
"Papa kamu juga gitu?"
"Kalau papa...." Axel agak menjeda ucapannya, membuat Ferdi kian penasaran.
"Papa nggak ngurusin kita, om." lanjut anak itu kemudian. Ia agak memperlambat makannya dan itu menjadikan Ferdi menjadi agak merasa bersalah.
"Maksudnya.?" tanya Ferdi.
"Papa sama mama Axel pisah dan papa udah nikah lagi. Dia jarang ngurusin kami, udah sibuk sama istri barunya."
Ferdi makin dilanda rasa bersalah.
"Sorry, om harusnya nggak menanyakan hal tersebut."
Ferdi meletakkan bekas makannya dan membuka sebuah botol air mineral, lalu menyerahkan air mineral itu untuk Axel.
***
"Jadi pa, kita harus siap-siap?" tanya Frans ketika Jeffri menemui anaknya itu di kamar dan memberitahukan perihal pertemuan Ferdi dengan calon istrinya.
"Iya, tadinya papa pikir pihak kita yang akan mengajak itu perempuan untuk bertemu. Dan kita meminta dia untuk menjadi menantu keluarga ini. Tapi ternyata, malah dia yang meminta duluan."
"Koq bisa?. Emang papa sama om Adrian udah menjalin komunikasi dan menyampaikan maksud sebelumnya?" tanya Frans heran.
"Udah, kan si Glenca ternyata berteman sama si calonnya Ferdi."
"Oh mereka temenan gitu?"
"Iya, dan udah di coba di ditanya sama Glenca. Mau nggak dikenalkan dengan seorang laki-laki. Tadinya kata Glenca, dia nggak mau. Karena udah dekat sama cowok lain. Tapi tiba-tiba tadi dia nelpon dan bilang mau. Mau nikah di hari pertemuan itu juga, ayo katanya."
"Buset, kebelet amat tuh mbak-mbak." ujar Frans seraya tertawa. Jeffri pun hanya bisa tersenyum.
"Tapi ini keberuntungan buat kita." ucap pria itu.
__ADS_1
"Di setiap kesulitan dan situasi mendesak, akan selalu ada jalan keluar." lanjutnya lagi.
Frans mengangguk-anggukkan kepala sambil tersenyum. Jeffri menepuk bahu anaknya itu kemudian berlalu. Frans tersenyum karena masih merasakan kebahagiaan yang dirasakan Jeffri. Sampai kemudian ia tersadar, jika ini adalah petaka untuk Ferdi.
Ya, Ferdi jelas akan sangat terluka. Frans bahkan tak sanggup membayangkan raut wajah adiknya itu ketika di pelaminan nanti. Frans pasti akan hancur menyaksikan Ferdi yang terluka, menikahi wanita yang bukan pilihannya.
Malam itu Ferdi pulang cukup larut. Frans sama sekali tak keluar kamar, apalagi sengaja menemui Ferdi. Seperti kebiasaan yang sering ia lakukan setiap hari.
Ia sama sekali tak ingin melihat wajah Ferdi yang penuh beban. Sementara Jeffri berpapasan di bibir tangga atas dengan anak keduanya itu.
"Mungkin besok atau lusa, kita akan bertemu dengan calon kamu. Persiapkan diri!" ucap Jeffri seraya menepuk bahu Ferdi.
Ferdi diam dan mengangguk, kemudian berlalu menuju ke kamar. Esok harinya Adrian mengurus segala keperluan. Sementara Aini memesan gaun terbaru dari desainer ternama yang sering membuat baju untuk keluarga mereka.
Sedang untuk Ferdi, Frans, dan Jeffri sendiri, hampir semua isi lemari mereka adalah barang branded dengan harga yang tinggi. Lagipula mereka laki-laki, tak akan terlihat jika jas yang mereka pakai itu lagi dan itu lagi.
Apalagi milik Ferdi, hampir semuanya berwarna hitam, bahkan sampai kepada kaos. Hingga setiap hari ia terlihat seperti tak berganti pakaian. Ia memiliki lima kemeja putih dengan brand dan model yang sama. Hanya itu yang warnanya berbeda.
***
"Kamu benar mau menikah lagi?"
Salah satu saudara sepupu Clara dari pihak ayahnya bertanya pada wanita itu di telpon. Ketika Clara menyampaikan jika ia ingin melakukan hal tersebut.
Clara ingin keluarga dari mendiang ayah maupun ibunya ada yang hadir, untuk menyaksikan pernikahan keduanya nanti.
Kalaupun tidak bisa hadir, minimal ia telah memberitahu. Ia tak ingin dianggap sebagai orang yang lupa pada keluarga besar.
"Iya Indra, aku rasa sudah saatnya membina rumah tangga yang baru lagi." ucap Clara.
"Apa itu tidak terlalu cepat?" tanya Indra kemudian.
"Aku bukan mau menghalang-halangi ya, Cla. Tapi apakah kamu benar sudah siap, apakah anak-anak menerima dan apakah kamu yakin kalau kamu tidak salah pilih. Aku dan keluarga besar kita pasti punya ketakutan yang sama. Takut kamu disakiti lagi."
Clara menghela nafas.
"Nggak, In. Aku yakin nggak salah pilih." ucap Clara sok tau, padahal ia sendiri belum tau seperti apa calonnya kelak. Sebab ia menikah untuk kepentingan perusahaan.
"Ya sudah kalau kamu yakin, kabari aku aja kalau kapan kamu akan nikah. Atau kabari ke yang lain juga boleh."
"Iya In, pasti aku kabari."
"Baik, anak-anak sehat?"
__ADS_1
"Sehat." jawab Clara.
Mereka lanjut berbincang hingga beberapa saat ke depan.