
Sesampainya di rumah, Clara antusias sebab pesanannya semua ada dan lengkap. Sate ayamnya sendiri dibeli dengan lontong yang terpisah.
Sebelum itu Anzel ada sempat menelpon Clara dan bertanya, apa Clara memasak nasi atau tidak. Clara bilang iya ada, kemudian Anzel menutup telpon dan memberitahukan pada yang lain. Jadi siapa yang hendak makan nasi, mereka hanya dibelikan satenya saja.
"Kalau Axel mau pake lontong juga, buat lauk soalnya."
Axel berujar kala itu, membuat Ferdi, Arvel dan Anzel sontak terbahak.
"Karbohidrat jadi lauk, nih anak emang bener-bener ya." Anzel rasanya ingin menggetok kepala Axel.
"Bihun aja karbohidrat dijadiin lauk nasi uduk koq." Ia membela diri.
Arvel menggeleng-gelengkan kepalanya dengan tak habis pikir.
"Biarin aja lah, suka-suka dia." ucap Arvel pada Anzel.
"Ntar dia lama-lama martabak manis sama rujak jadi lauk nasi." seloroh remaja itu lagi.
Ferdi dan Anzel tertawa.
Kini mereka semua sudah ada dirumah, mereka membantu Clara menyiapkan semuanya.
"Hueeek."
Clara mendadak mual meski tidak begitu hebat.
"Kenapa sayang?" tanya Ferdi seraya mendekat.
"Kenapa ma?"
Axel dan kedua kakaknya juga ikut bertanya.
"Mama kecium bau ketek lo kali, makanya mual." celetuk Anzel.
Clara terbahak di tengah rasa mual yang melandanya. Begitupula dengan Ferdi, Arvel dan juga Anzel sendiri.
"Enak aja, ketek gue masih wangi ya." Axel sewot.
Ferdi mengusap-usap perut Clara sambil merangkulnya dengan hangat. Perlahan rasa mual itu hilang dan mereka pun mulai makan.
Pertama-tama mereka membuka sate, kemudian memakannya bersama lontong dan juga nasi. Sementara Axel makan dengan nasi dan juga lontong.
"Bang, astaga."
Clara tertawa melihat kelakuan Axel.
"Enak tau ma, nasi lauk lontong sama bumbu sate." ujarnya kemudian.
"Kelakuan adek lo noh." ujar Anzel pada Arvel.
Arvel pun hanya tertawa, sama halnya dengan Ferdi.
"Axel makannya banyak, tapi badannya nggak gemuk ya." ucap Ferdi.
"Dia mah kalau olahraga nomor satu, Fer." Clara berseloroh.
"Oh ya?"
"Iya, kecuali lagi car free day. Jangan coba-coba ngajak dia. Pasti kayak tempo hari." lanjut wanita itu kemudian.
Axel nyengir.
"Dia tuh om, kalau lagi jogging di Gelora Bung Karno. Orang baru satu putaran, dia udah dua atau tiga." ucap Anzel.
"Oh ya?" Ferdi bertanya seraya tertawa.
"Iya, pecicilan banget kayak kecoa terbang." Arvel menimpali.
Mereka kembali tertawa-tawa.
"Tapi di tempat latihan karate, dia juga gitu." ucap Ferdi.
__ADS_1
"Pada nggak tau kan, kalau Axel itu satu dojo sama om Ferdi?" Axel mengatakan itu semua.
"Emang iya?" tanya Anzel pada adiknya itu.
"Iya, Axel udah lama kenal sama om Ferdi. Dari waktu mama belum ngomong kalau dia mau nikah sama seseorang."
Arvel dan Anzel agak kaget, namun mereka tak menunjukkan ekspresi yang berlebihan dan tetap tenang.
"Saat itu lo tau nggak kalau om Ferdi pacarnya mama?" tanya Anzel lagi.
"Nggak tau, om Ferdi aja nggak tau kalau Axel anaknya mama. Iya kan om?" tanya Axel pada Ferdi.
Ferdi mengangguk.
"Om malah pertama ngeliat dia itu di depan sekolahnya. Lagi jajan ngumpet-ngumpet." tukas Ferdi.
"Pasti takut kita tau kan?" tanya Arvel.
Lagi-lagi Axel nyengir.
"Kalau di rumah sok bersih banget." ucap Clara.
"Iya, ma. Axel nggak jajan koq, nggak nakal di luar." lanjut wanita itu.
Lagi-lagi Axel nyengir dan lanjut makan. Begitupula dengan yang lainnya.
"Koq aku pengen mie goreng ya, Fer?"
Clara berujar di tengah-tengah acara makan. Dimana diatas meja pun, semuanya terlihat berkelimpahan.
"Nggak bersyukur banget sih aku. Tapi pengen." ucap Clara.
"Ya udah aku masakin."
Ferdi menghentikan makan lalu beralih ke kitchen set. Tak menunggu waktu lama ia segera datang dengan sepiring mie instan goreng.
"Hmmm." Clara mengendus bau mie instan tersebut.
"Udah nggak apa-apa, makan aja." jawab Ferdi.
Clara lalu menyiram mie instan yang ada di piring dengan bumbu sate.
Seketika Ferdi, dan ketiga anak sambungnya melirik ke arah sana.
"O, ow. ucap Clara sambil melirik mereka semua.
"Kayaknya ada yang salah nih." ujarnya kemudian.
Tak lama suasana pun menjadi lebih hidup. Pasalnya Clara menyuapi suami dan ketiga anaknya dengan mie instan yang di mix dengan bumbu sate tersebut.
Meski hanya kebagian sedikit-sedikit, namun kebersamaan diantara mereka kian hangat terasa.
***
"Fer, makasih ya. Udah ada dalam hidup aku dan anak-anak."
Clara berujar pada Ferdi ketika semua telah beres. Malam telah semakin larut dan mereka sudah mandi. Anak-anak sendiri sudah terlelap semua di kamar masing-masing, akibat kekenyangan.
"Sama-sama." jawab Ferdi.
Aku bahagia punya kalian." lanjutnya lagi.
"Nanti anggota kita bertambah satu lagi." ujar Clara seraya mengusap perutnya sendiri.
"Ferdi tersenyum dan turut melakukan hal yang sama.
"Nanti jadi anak yang baik ya sayang." ucap Ferdi pada si jabang bayi.
"Harus sayang dan nurut sama mama, sama papa, sama abang juga."
Clara mengusap dan membelai kepala serta rambut sang suami.
__ADS_1
"Aku sayang kamu, Ferdi. Sayang banget." ujarnya kemudian.
"Aku juga." jawab Ferdi.
Mereka lalu saling berciuman untuk beberapa saat. Tak lama Ferdi menarik selimut, lalu mereka pun tidur bersama.
***
Pagi hari.
Semuanya bangun di jam yang tepat dan langsung bergegas mandi. Saat turun kebawah, Arvel, Anzel dan Axel sudah mendapati Clara dan Ferdi di meja makan.
"Ma, martabak semalam yang manis masih kan?"
Axel bertanya seraya mendekat ke meja makan.
"Masih dong, ini udah mama panasin." ucap Clara sambil makan, sementara Ferdi terlihat menyeruput kopi paginya.
Axel menarik kursi lalu duduk, begitupula dengan Arvel dan juga Anzel.
"Ini ada nasi goreng sama martabak. Ada jus jeruk sama susu, terserah kalian mau yang mana." ujar Clara.
Maka ketiga anak itu pun memilih sarapan mereka masing-masing.
"Om, Axel boleh nggak sih panggil om "papa?"
Axel melontarkan pertanyaan yang membuat Ferdi dan yang lainnnya tersentak. Ferdi sendiri jantungnya kini berdegup dengan kencang.
"Axel udah mikirin ini semalaman. Axel rasa nggak terlalu berlebihan kalau menganggap om Ferdi itu bapaknya Axel sendiri."
Ferdi menoleh pada Clara dan Clara pun tersenyum penuh haru.
"Ya, boleh dong. Kan om juga menganggap kalian seperti anak kandung om sendiri." ucapnya agak terbata-bata.
"Kalian bebas mau panggil om apa. Mau tetap panggil om atau..."
Ferdi menarik nafas.
"Terserah kalian, yang penting kalian nyaman." ucap pemuda itu lagi.
"Ya udah, mulai sekarang Axel akan panggil om Ferdi itu papa."
Ferdi tersenyum, sementara Arvel dan Anzel tampaknya tak masalah. Meski belum diketahui mereka akan mengikuti jejak Axel atau tidak.
"Eh tapi kalau papa, sama kayak papa Nando dong?. Kalau daddy aja gimana?" tanya Axel.
"Biar kayak temen-temen Axel yang papanya bule." lanjutnya lagi.
"Lagu lo, daddy. Daddy Cahyadi." celetuk Anzel sambil tertawa. Ferdi, Clara dan Arvel pun tertawa dibuatnya.
"Close the door dong." ujar Axel.
"Ya udah deh, papa aja." lanjutnya lagi.
"Kalau udah manggil papa, berarti harus nurut." ucap Clara.
"Papa juga berhak marah soalnya, kalau nakal." lanjutnya lagi.
"Emang gitu ya ma, konsepnya?" tanya Axel.
"Oh iya dong."
Arvel dan Anzel menimpali.
"Kalau nakal marahin aja om." lanjut mereka lagi.
Axel diam, kemudian nyengir dan lanjut makan. Sementara Ferdi tentu saja ia merasa bahagia, sama halnya dengan Clara.
***
Yuk mampir ke cerita baru author. Area 21+ ya. Thank you.
__ADS_1