Terpaksa Menikahi Janda Kaya

Terpaksa Menikahi Janda Kaya
Kerja Lembur


__ADS_3

"Cla, aku mungkin pulangnya larut. Soalnya kerjaan aku belum kelar."


Ferdi mengirim pesan singkat pada Clara, ketika ia harus bekerja lembur malam itu. Sejatinya ia sudah lelah, namun demi aplikasi yang tengah ia kerjakan segera rampung dan bisa menjualnya di play store. Ferdi rela bekerja lebih keras.


Ia kini berhutang pada Nath dan berpikir untuk menambah nafkahnya untuk Clara dan anak-anak.


Meski Clara tak meminta hal tersebut dan menerima berapapun yang diberikan oleh Ferdi. Tetapi sebagai suami, sah-sah saja jika ia ingin menambah penghasilan. Toh penghasilan tinggi adalah demi kemakmuran bersama.


"Dert."


"Dert."


Sebuah notifikasi getar terdengar, Clara membalas.


"Oke, aku tunggu di rumah Fer. Tapi kalau aku ketiduran, maaf ya."


"Iya, nggak apa-apa. Kalau mau tidur duluan, tidur aja. Ntar menjelang pagi aku pulang, aku boboin." ucap Ferdi.


"Heh."


Balas Clara diikuti stiker lucu yang membawa palu. Tanda seperti ingin memukul kepala Ferdi.


"Wkwkkwk." Ferdi membalas dengan tawa.


"Anak muda pikiran kotor kamu." seloroh Clara.


"Bukan salah aku, salah kamu kenapa cantik."


"Lah, nyalahin orang. Otak kamu aja yang kotor, jangan mencari pembelaan."


"Wkwkwkwk." balas Ferdi.


"Ya udah sayang, semangat ya kerjanya." ucap Clara kemudian.


"Iya, makasih ya sayang." balas Ferdi.


"I love you." ucap Clara lagi.


"I love you too."


Clara menyudahi percakapan tersebut, karena ingin agar Ferdi bisa berkonsentrasi. Semakin cepat ia mengerjakan pekerjaannya, semakin cepat pula ia akan tiba di rumah.


"Ma, mamaaaa."


Tiba-tiba terdengar suara teriakan Axel di depan pintu kamar Clara. Buru-buru wanita itu keluar.


"Kenapa nak?" tanya nya panik.


"Abang Ar, ma."


"Kenapa?" tanya Clara.


"Itu..." Nafas Axel masih tersengal-sengal


Clara segera berlarian menuju ke kamar anak pertamanya itu. Namun belum sempat tiba disana ia mendengar suara Anzel.


"Ma disini, ma. Di bawah tangga."


Clara berlarian dan menilik ke bawah, betapa terkejutnya ia melihat Arvel tergeletak di bawah dalam kondisi tak sadarkan diri.


"Arvel." teriaknya kemudian buru-buru turun dan di susul oleh Axel.


"Ini abang kamu jatuh?" tanya Clara panik, bahkan hampir menangis. Wajah Anzel terlihat dipenuhi ketakutan.

__ADS_1


"Tadi kita sempat bercanda terus kejar-kejaran, ma. Abang jatuh karena Anzel."


Clara begitu marah, namun kemudian ia menarik nafas dalam-dalam.


"Udah buruan panggil sekuriti, siapkan mobil."


"Nggak bisa, ma. Abang tuh jatuh, kita harus bawa dia pake ambulans dan harus petugas medis yang urus." ujar Anzel.


"Kalau nunggu ambulans lama lagi, Anzel. Ini abang kamu pingsan begini. Takutnya ada apa-apa sama dia kalau lambat ditangani."


"Tetap nggak bisa ma, takutnya abang ada dislokasi tulang atau apa kalau kita asal angkat. Kita nggak tau cideranya apa."


"Ya udah panggil ambulans sekarang." Clara setengah berteriak karena panik.


"Udah, tadi udah Anzel telpon. Kita tunggu dulu."


Clara benar-benar cemas kali ini.


"Makanya kadang mama bilang, jangan pecicilan dekat tangga. Kayak gini kan akibatnya."


Anzel dan Axel diam. Tak lama ambulans pun datang dan Arvel segera di larikan ke rumah sakit terdekat.


***


Di kantor Ferdi terus mengerjakan pekerjaannya. Nath juga belum pulang dan masih berkutat dengan pekerjaan di ruangannya.


"Hallo, Junaedi."


Tiba-tiba Jordan dan Sean datang dengan membawa bungkusan. Ferdi kaget dengan kedatangan dua sahabatnya itu. Sebab mereka tak ada pemberitahuan terlebih dahulu, jika mereka akan mampir.


"Dari mana lo berdua." tanya Ferdi pada keduanya.


"Dari rumah lah, sengaja mau kesini." tukas Jordan.


"Widih, tau aja gue lagi laper." ucap Ferdi.


"Pak Nath pasti nggak ngasih lo makan kan?" seloroh Sean.


"Dia di dalam, ege." ujar Ferdi sambil tertawa.


"Oh."


Sean kaget dan menutup mulutnya sambil tertawa tanpa suara. Ia pikir Ferdi hanya sendirian di tempat tersebut.


"Gue denger ya, anjay."


Nath nyeletuk dari dalam. Ketiga sahabat itu pun lalu cekikikan.


"Martabak pak Nath." teriak Sean pada bos-nya itu.


"Banyak nggak lo bawanya?" tanya Nath.


"Banyak dong. Masing-masing dua kotak large nih."


"Ntar gue kesana." ucap Nath lagi.


Ferdi menyelesaikan pekerjaannya, tak lama ia pun beristirahat dan mulai makan serta ngopi bersama Jordan dan juga Sean. Beberapa saat berlalu, Nath keluar dan ikut bergabung.


***


"Dok, gimana kondisi anak saya?"


Clara bertanya pada dokter yang menangani Arvel. Setelah beberapa saat mereka tiba di emergency dan Arvel langsung mendapat pertolongan.

__ADS_1


"Kami sedang melakukan pemeriksaan lebih lanjut, bu. Mohon di tunggu dulu hasilnya." ujar dokter tersebut.


"Baik dok, terima kasih." ucap Clara.


"Sama-sama."


Dokter tersebut berlalu. Anzel dan Axel duduk sambil menunduk di kursi ruang tunggu. Sementara Clara kini mondar-mandir, sebab masih harus menanti hasil.


Clara tiba-tiba teringat Ferdi. Ia pun mencoba meraih handphone untuk memberitahu suaminya itu. Namun tiba-tiba ia tersadar jika dirinya sedang tidak membawa handphone.


"Astaga ketinggalan lagi." ujarnya kemudian.


"Bang, mama pinjam handphone." Clara mendekat dan berujar pada Anzel.


"Abang nggak bawa ma." jawab remaja itu.


"Adek?"


Axel mengeluarkan handphone, namun ternyata handphone tersebut mati. Sebab baterainya telah habis.


"Yah, mati lagi." ujarnya pada Clara. Clara menyayangkan hal tersebut.


"Di mobil mama ada charger nggak?" tanya Axel.


"Seingat mama nggak ada, udah mama bawa ke kamar." jawab Clara.


"Coba kamu cari pinjam di sekitar sini. Sama siapa kek, bagian informasi depan coba. Tanya ada charger iPhone nggak." lanjut wanita itu.


"Ya udah." Axel beranjak dan mulai mencari charger.


***


"Kenapa sih pak Nath, lo nggak nikah-nikah?"


Sean bertanya pada Nath di sela-sela ngopi dan juga ngerokok. Sementara Ferdi dan Jordan ikut memperhatikan bos mereka itu dan menunggu jawaban.


"Warga +62 banget lo, nanyain kapan nikah."


Nath berseloroh sambil tertawa, lalu menghisap batang rokok yang terselip diantara kedua jarinya.


"Gue penasaran aja, lo umur udah mau kepala empat tapi nggak kepikiran nikah. Kan kalau lo punya alasan, bisa gue terapkan ke keluarga gue yang nanya mulu kapan gue nikah." ujar Sean.


Lagi-lagi Nath tertawa.


"Makanya nikah kayak gue." tukas Ferdi pada Sean.


"Lo mah emang gatel." ucap Sean pada sahabatnya itu.


Mereka semua kini terkekeh.


"Gue pernah punya luka masa lalu." ujar Nath.


Ferdi, Jordan, dan Sean kini memperhatikan bos mereka tersebut. Mereka bahkan belum pernah mendengar apa yang barusan ia katakan.


"Lo kecewa gitu sama cewek apa gimana?" Kali ini Jordan yang bersuara.


Nath diam, lalu kembali menghisap batang rokoknya.


"Rumit sih kalau gue ceritain. Tapi mungkin lo semua akan denger kalau gue udah siap." ujarnya kemudian.


"Intinya gue takut suka lagi sama orang. Apalagi kalau dia nggak kaya. Takut orang tua gue mengacaukan semuanya lagi." lanjut pria itu.


Ferdi, Jordan, dan Sean masih diam. Dalam hati mereka menyimpulkan, bahwa Nath dulu mungkin pernah punya hubungan yang tidak direstui.

__ADS_1


__ADS_2