
Usai mengantar Clara, Ferdi pun bergerak ke arah rumah. Dan dalam beberapa saat ia tiba. Di sepanjang perjalanan tadi ia mengingat saat Clara hendak keluar dari dalam mobil, tatkala Ferdi sudah mengantarnya di muka kediaman perempuan itu.
Clara berpamitan, namun Ferdi kemudian menarik tangannya. Saat itu mereka kembali berciuman, bahkan terbilang cukup panas. Kini Ferdi mengingatnya sambil senyum-senyum sendiri.
"Kenapa lo senyum-senyum sendiri, kayak kesurupan jin."
Frans tiba-tiba muncul di hadapan Ferdi. Sejatinya bukan tiba-tiba, melainkan sudah bergerak sejak tadi. Hanya saja Ferdi tak sadar, sebab masih larut dalam ingatannya soal Clara.
"Apa sih?" tanya Ferdi seraya tersenyum. Namun Frans menangkap aura aneh dari senyuman itu. Ya, seperti begitu puas dan bahagia sekali.
"Gue tau nih kalau udah sumringah kayak patung McD begini." ujarnya.
"Apaan coba?" Ferdi masih berusaha berkilah.
"Abis ngapain lo tadi.?"
Frans kepo, Ferdi kini berjalan menaiki tangga ke lantai atas dan Frans menyusul adiknya itu.
"Fer, lo nggak mau cerita ke gue?" ia berusaha mengorek keterangan.
"Cerita apaan?" tanya Ferdi masih pura-pura tak mengerti.
"Lo jadian kan sama cewek itu?"
Ferdi makin tertawa.
"Kagak." jawabnya kemudian.
Ia segera masuk ke dalam kamar dan merebahkan diri ke atas tempat tidur. Kini mata Ferdi menatap ke langit-langit kamar dan mengingat semua hal tentang Clara. Saat mereka berbicara, tertawa, berdansa bersama dan berciuman.
"Tuh kan apa gue bilang."
Sebuah suara terdengar dari arah samping, sontak Ferdi pun menoleh dengan penuh keterkejutan.
"Lo koq bisa ada disini sih?" tanya nya pada Frans.
"Elu kagak kunci pintunya, ya gue masuk lah." jawab Frans sambil nyengir.
"Sana lo ah, ganggu aja."
Ferdi menutup dan menoyor kepala saudaranya itu dengan bantal. Membuat Frans kini jadi tertawa-tawa.
"Gue seneng kalau lo jatuh cinta, Fer. Setidaknya lo harus merasakan itu sekali seumur hidup. Meskipun itu mungkin nggak akan jadi jodohnya elo."
__ADS_1
Seketika Ferdi teringat kembali pada perjodohan yang akan ia jalani. Ia kini sadar betul dimana posisinya, tapi ia tetap merasa bahagia. Sebab ia berani untuk mencintai seseorang yang bahkan tak pernah terpikirkan sebelumnya.
"By the way tuh cewek gimana orangnya?" tanya Frans pada Ferdi.
"Dia baik, dan menyenangkan." Ferdi menjawab dengan jujur.
"Cantik?" tanya Frans lagi.
"Banget." jawab Ferdi sambil tertawa.
Frans pun jadi ikut tertawa dan senang mendengar semua itu.
"Kapan-kapan kenalin ke gue ya." Lagi-lagi Frans berujar.
"Iya." jawab Ferdi.
"Gimana persiapan pernikahan lo sama Nadia?" tanya nya pada sang kakak.
Frans agak terdiam sejenak, kemudian menjawab.
"Mmm, belum ada apa-apa sih. Gue mau nunggu papa sama bapaknya dia aja yang menentukan. Lo kan tau orang tua Nadia ribet. masih percaya tanggal baik, tanggal buruk, hari bagus, hari sial. Menurut gue semua tanggal dan hari sama aja."
"Iya sih, tapi kan beda pandangan kita sama orang tua." ujar Ferdi.
"Makanya." Frans menimpali.
"Maksudnya?" tanya Ferdi heran.
"Lo tau kan, yang pernah gue ceritain. Soal yang gue jatuh cinta sama seseorang itu."
"Ah, iya. Kenapa emangnya?" tanya Ferdi.
"Gue serius soal itu, Fer. Gue bener-bener jatuh cinta sama dia. Tapi di samping itu juga, gue nggak mungkin ninggalin Nadia. Karena orang tuanya udah baik banget sama papa. Dan lo tau kan hubungan gue ke Nadia udah sampai mana."
Ferdi menghela nafas. Memanglah sulit memilih antara keadaan dan juga perasaan. Keduanya sama kuat dan sama menuntut perhatian.
"Kalau kata gue sih, lo turutin aja apa kata hati lo. Walaupun itu beresiko." ucap Ferdi.
"Kalau kata hati lo sendiri gimana?" tanya Frans.
Ferdi diam.
"Kalau kata hati gue, gue harus bantu papa dan keluarga kita." ucapnya kemudian.
__ADS_1
Frans mendadak malu perasaannya. Sebab kata hatinya ingin mengejar cinta apapun yang terjadi. Namun Ferdi sendiri memilih mengorbankan perasaan demi keluarga. Frans harusnya melakukan hal yang sama, atau bahkan lebih dari adiknya itu.
***
Sama halnya dengan Ferdi, Clara pun kini jadi terngiang-ngiang akan pemuda tampan bertubuh sexy tersebut. Setelah cukup lama bercerai, ia akhirnya mendapatkan kembali kehangatan yang sempat hilang dalam dirinya.
Kini ia jadi lebih bersemangat menghadapi hari esok, meskipun permasalahan dalam hidup perempuan itu cukup banyak. Tapi tak apalah menikmati hal ini barang sejenak saja.
Toh hidup tak perlu dibuat terlalu tegang ataupun susah. Sebab banyak yang lebih susah ketimbang diri kita saat ini.
Ia hanya ingin bahagia selagi bisa menikmatinya. Bahkan Nando pun sudah benar-benar hilang dari benak dan memori wanita itu.
Beda halnya dengan Nando, justru pria itu terlihat makin kacau. Terbukti dengan pertengkaran mereka yang berlanjut hingga kini.
Ninis benar-benar marah dan tak mau bicara pada suaminya. Sedangkan Nando enggan serta gengsi untuk meminta maaf. Baginya ia tidaklah salah, yang salah adalah Ninis sendiri. Menuntut suami untuk selalu memenuhi kehendaknya. Jadilah pasangan itu kini berada dalam situasi yang penuh ketegangan.
***
"Jeff, dua masalah udah beres. Kita selesaikan ini semua pelan-pelan."
Adrian memberikan laporannya kepada Jeffri. Tentu saja Jeffri begitu senang mendengar hal tersebut. Artinya kerja keras mereka guna menyelamatkan perusahaan, sedikit demi sedikit menemui hasil. Meskipun tak terlalu signifikan.
Tapi setiap kemajuan kecil haruslah di apresiasi. Bukan perkara mudah untuk bersikap tenang dalam situasi seperti ini.
"Ferdi gimana?" tanya Adrian pada Jeffri.
"Dia belajar degan baik dirumah. Walaupun sering kabur dari John." jawabnya sambil tertawa.
Adrian pun ikut tertawa. Itu artinya Ferdi benar-benar serius untuk menjadi tumbal dari semua permasalahan ini. Ia benar-benar anak yang berbakti serta tak pernah memprotes apapun terlalu banyak.
Mungkin baik Jeffri maupun Adrian terlihat sangat egois atau kebahagiaan Ferdi. Namun mereka semua harus bekerja sama dalam menyelesaikan semua permasalahan ini.
Andaipun Jeffri dan Adrian saat ini masih single dan masih muda. Mungkin merekalah yang akan menumbalkan diri sendiri, guna kepentingan bersama. Berhubung mereka sudah tua, dan tidak mungkin berpoligami. Sebab itu bukanlah prinsip yang mereka anut selama ini.
Maka dengan terpaksa Ferdi lah yang akan menggantikan semua itu. Semua demi kemaslahatan bersama.
***
"Mbak, udah tidur?"
Sebuah pesan singkat masuk ke handphone Clara. Disaat wanita itu memang tengah menunggu pesan dari Ferdi. Tentu saja ia pun jadi sangat bahagia dan hampir meloncat kegirangan. Layaknya anak baru gede yang tengah kasmaran.
"Tidur apaan, Fer. Masih jam segini." balasnya diikuti emoticon nyengir.
__ADS_1
"Ya kirain karena tadi capek terus ngantuk." jawab Ferdi.
Lagi-lagi Clara tersenyum membaca semua itu, kemudian mereka pun lanjut berbalas pesan hingga beberapa saat kedepan.