
"Gubraaak!"
Axel melaju dengan kencang, lalu menabrak rak yang berisi banyak boneka di sudut supermarket. Tepatnya di barisan yang menjual pernak-pernik serta ornamen penghias kamar.
Arvel dan Anzel yang menyaksikan langsung kejadian tersebut sontak terbahak. Sementara Clara berlarian dan lupa jika dirinya tengah hamil muda. Ia khawatir terjadi sesuatu pada Axel..
Sementara satu atau dua orang sales promotion girl, berlarian ke arah remaja itu dan mengkondisikan semuanya.
"Makanya jangan terlalu pecicilan, Axel. Untung nabrak rak boneka, kalau dak barang pecah belah gimana?. Ayo bantu bereskan!" ucap Clara.
"Iya ma." Axel berkata seraya membantu mbak-mbak SPG tersebut membereskan apa yang telah ia buat menjadi berantakan.
"Udah nggak apa-apa." ujar mbak-mbak SPG itu masih dengan sikap yang ramah.
"Untung mbak-mbaknya baik. Kalau mama yang jadi SPG nya, mama gebuk kamu." ucap Clara lagi.
"Ada yang rusak atau kotor nggak?" tanya Ferdi.
"Nggak ada, pak." jawab SPG itu.
Memang tidak ada yang kotor sebab lantai supermarket itu pun super mengkilap. Tetapi Clara yang tidak enak atas kelakuan anak bungsunya itu kini mengambil dua diantara boneka yang tadi jatuh.
Ia lalu memasukkan boneka-boneka itu ke dalam troly. Ferdi sendiri tak banyak bertanya mengapa Clara mengambilnya. Karena ia juga punya pikiran yang sama dengan istrinya itu.
"Makanya lo, jangan pecicilan. Kesana-kesini kayak gasing."
Arvel menegur sang adik ketika Clara dan Ferdi telah menjauh. Kemudian mereka kembali memilah barang yang hendak dibeli.
"Kayak driver tong setan tau nggak lo." Anzel menimpali ucapan sang kakak.
Axel hanya diam, kini banyak pengunjung yang melihat ke arahnya dan ia merasa malu sekali.
"Kenapa mesti ngepot segala sih tadi." sesal remaja itu.
"Mana ada cewek cakep lagi yang ngeliatin gue." ujarnya.
Gadis cantik yang ia maksud itu tampak tertawa kecil, seperti menertawai dirinya. Dan tentu saja hal tersebut membuat Axel ingin meminta pintu Doraemon, Kemudian kabur.
***
"Heran sama anak itu, padahal aku sama bapaknya nggak ada yang pecicilan. Nggak tau kenapa dia mirip cacing kremi kayak gitu."
Clara masih menggerutu saat dirinya dan Ferdi telah jauh dari Axel. Tadi ia ada sempat meminta maaf juga kepada para SPG dan supervisor untuk area tersebut.
"Mungkin dari orang tua kamu atau orang tua papanya anak-anak." ucap Ferdi sambil tertawa.
"Emang bisa ya, menurun gitu?" tanya Clara.
"Ya tergantung." jawab Ferdi.
"Pecicilannya karena apa dulu nih." lanjutnya lagi.
__ADS_1
"Kalau karena ada sistem saraf dia yang mirip uget-uget, bisa jadi genetik." tambahnya.
Clara tertawa.
"Emang ada sistem saraf kayak uget-uget." tanya wanita itu.
Ferdi kembali tertawa.
"Ya kali aja ada." ujarnya kemudian.
Mereka terus melangkah dan mengambil sereal serta makanan lainnya.
"Tapi waktu kecil hiperaktif nggak anaknya?" tanya Ferdi.
"Iya lumayan." jawab Clara.
"Dia kalau naik tangga nih, turunnya dari pegangan." lanjut wanita itu.
"Dari pegangan?" Ferdi mengerutkan dahi.
"Iya pegangan tangga, meluncur disitu." ucap Clara.
"Astaga." Ferdi benar-benar kaget.
"Itu kan bahaya buat anak kecil." ujar pria itu lagi.
"Emang bahaya. Dulu bibi yang jagain dia sampe nangis mulu, kalau mengadukan tingkah tuh anak." ucap Clara.
"Oh ya?"
"Terus kamu sama bapaknya anak-anak, gimana menanggapi hal tersebut waktu itu?" tanya Ferdi.
"Ya aku bilang ke bibi. Kalau aku paham Axel itu gimana. Aku nggak akan mengalahkan bibi kalau memang Axel yang salah. Akhirnya sejak itu dia udah nggak terlalu takut lagi kalau Axel pecicilan." ucap Clara.
Ferdi kembali tertawa meski kecil.
"Tapi karakter anak itu emang beda-beda, Cla." ujarnya.
"Ada yang kalem, kayak Arvel. Ada juga yang santai kayak Anzel. Ada juga yang kelebihan energi kayak Axel."
"Iya sih, aku paham itu koq. Cuma tuh kadang gemes aja sama kelakuan dia, pengen gebuk." ucap Clara.
"Kayak gini nih, terpaksa beli boneka kan kita." tukasnya lagi.
Ferdi mengambil boneka tersebut dari dalam troly dan mendekatkannya kepada Clara.
"Nggak apa-apa, ini lucu nih. Kalau anak kita cewek, buat dia aja." ucap Ferdi.
Clara lalu tersenyum.
"Iya juga sih." tukas wanita itu kemudian.
__ADS_1
Mereka lalu lanjut menyelesaikan kegiatan.
***
Usai berbelanja, mereka sekeluarga makan di restoran cepat saji yang terletak masih di area supermarket.
Tentu saja Axel sangat gembira, mengingat ia dan kakaknya sangat jarang sekali diajak Clara untuk makan di tempat tersebut. Kalaupun harus ke restoran, biasanya mereka pergi ke tempat yang menyajikan healthy food.
Sebab Clara tak ingin anak-anaknya terbiasa menyantap makanan cepat saji. Menurutnya makanan cepat saji membuat anak-anak jadi tak ingin memakan makanan yang lain.
"Fer, cobain deh!"
Clara menyuapi Ferdi dengan sayap ayam saus Korea yang ia pesan. Ferdi pun lalu menerimanya.
"Nggak terlalu pedas." ucap Ferdi.
"Iya, enak kan?" tanya Clara.
Ferdi mengangguk, kemudian pria berusia 27 tahun itu kembali berkutat dengan makanannya.
Ia yang memilih potongan paha atas krispi dengan nasi dan juga kentang goreng tersebut, kini memisahkan antara kulit dengan ayam. Kemudian ia mulai makan dan mereka terus berbincang.
Selang beberapa saat Clara selesai duluan, sebab ia makan seperti orang kelaparan. Maklum ibu hamil, dan selera makannya tengah meningkat tajam.
Clara pamit ke toilet, sementara ketiga anak sambung Ferdi tampak aneh dan saling memberi kode. Ferdi awalnya tak menyadari, namun mereka selalu melakukan hal berulang, hingga membuat Ferdi merasa curiga.
Ditambah lagi mereka saling melempar kode sambil sesekali melirik ke arah Ferdi. Meski saat Ferdi melihat mereka, mereka langsung membuang pandangan.
Ferdi pun jadi makin curiga terhadap tingkah ketiga anak itu. Ferdi berpikir apakah dirinya tengah di ledek atas sesuatu.
"Kalian kenapa sih?" tanya nya heran.
Arvel dan Anzel tampak kaget namun tertawa dan jelas sekali mereka menyembunyikan sesuatu.
"Nggak ada apa-apa koq om." ucap Arvel, diikuti Anzel yang kini nyengir.
"Kenapa?" tanya Ferdi yang masih curiga.
"Nggak, biasa aja." ucap Anzel.
Tak lama wajah mereka pun berubah jadi kaget dengan bibir yang sama-sama menganga. Dan tanpa sengaja Ferdi menoleh pada Axel, yang ternyata telah mengambil kulit ayam krispi lebar di atas piringnya.
"Hehe, kriuk."
Axel langsung melahap kulit ayam krispi tersebut. Ferdi akhirnya mengerti dan tertawa. Pada saat yang bersamaan Clara kembali dari toilet.
"Aturan minta aja bang, kalau mau. Orang om nggak suka sama kulit ayam." ucap Ferdi pada Arvel dan juga Anzel. Kedua anak remaja itu membuang pandangan sambil menahan senyum.
"Diambil Axel kan jadinya." ucap Ferdi lagi.
Axel kembali tertawa bagai bajing, lalu menghabiskan kulit ayam tersebut. Clara yang tak tau akan kejadian itu bertanya ada apa. Kemudian Ferdi menjelaskan dan wanita itu tertawa.
__ADS_1
Sejak Ferdi masuk ke dalam kehidupannya, selalu ada saja hal luar biasa di setiap hari. Clara hanya berharap kebahagiannya ini tidak di usik oleh hal-hal negatif nantinya.
***