Terpaksa Menikahi Janda Kaya

Terpaksa Menikahi Janda Kaya
Ngidam Aneh Clara


__ADS_3

"Ferdi, aku mau makan seblak yang pedes banget. Tapi yang makan kamu sama anak-anak. Kecuali Axel karena dia sakit."


Clara berucap pada Ferdi dan Ferdi yang tengah sibuk dengan laptopnya tersebut, mendadak menoleh pada sang istri sambil mengerutkan dahi.


"Ngidam macam apa itu?" tanya nya sambil tertawa.


"Nggak tau, pengen aja ngeliat kalian makan seblak pedes gitu." ucap Clara.


Ferdi menatap sang istri, dalam beberapa saat mereka semua sudah berada di meja makan. Ini terjadi sehari setelah Axel di bawa ke klinik, dan keadaannya sekarang sudah lebih baik.


"Ini kita kenapa disini?" tanya Arvel pada Clara.


"Iya, tumben. Padahal belum jam makan malam." timpal Anzel.


Mereka berdua menatap Ferdi, tak lama Clara datang dengan tiga mangkuk seblak pedas entah level berapa.


"Seblak?" tanya Arvel dan Anzel di waktu yang nyaris bersamaan.


Ferdi yang gantian menatap mereka berdua.


"Mama kalian lagi ngidam. Tapi ngidamnya beginian, dan pengen kita yang makan." ucap Ferdi.


Arvel dan Anzel saling bersitatap seraya mengerutkan dahi.


"Ngidam apaan model begini?" seloroh Anzel dengan masih terheran-heran.


"Iya, bukannya kalau ngidam harusnya mama ya yang makan." Arvel menimpali.


"Nggak tau kenapa, pengen aja ngeliat kalian makan ini." ucap Clara lalu duduk di hadapan mereka semua.


Arvel dan Anzel kembali bersitatap satu sama lain. Kali ini mau tidak mau mereka harus menuruti. Mereka mulai menyendok seblak tersebut dan memakannya.


"Uhuk."


Mereka bertiga batuk saat mendapat suapan pertama tersebut. Clara tertawa lalu memberi mereka minum. Sejatinya itu tidaklah terlalu pedas, namun banyaknya minyak yang membuat tenggorokan mereka bereaksi.


"Udah, udah!" ucap Clara.


"Kalau pedes banget nggak usah di teruskan. Nanti kalian pada sakit." lanjutnya lagi.


"Mama liat suapan pertama kalian aja udah seneng koq." ucap wanita itu.


"Wah, mama berarti ngajarin kita mubazir nih." goda Anzel.


Ferdi dan Arvel tertawa.


"Di beberapa wilayah banyak orang kelaparan ya bang." Ferdi menimpali.


Mendadak Clara pun menjadi dipenuhi rasa bersalah.


"Nggak koq, mama nggak ada maksud kayak gitu." ujarnya membela diri.


Ferdi dan kedua anak sambungnya menahan senyum.

__ADS_1


"Ya udah deh, abisin!" tukasnya lagi.


"Tapi kalau kalian nanti jadi sakit semua gimana?" lanjutnya kemudian.


"Ya, kamu jagain dan rawat kita semua." ucap Ferdi.


"Sendirian gitu?" tanya Clara.


"Iya dong, kan kami semua sakit." jawab Ferdi.


Clara terdiam.


"Ya udah, jangan dimakan lagi." ujarnya memerintahkan.


"Tapi gimana dengan orang-orang yang kelaparan. Kita bakalan buang-buang makanan loh ini." Lagi-lagi Ferdi berucap.


Clara kembali diam.


"Jadi kalian maunya aku gimana?. Serba salah tau nggak."


Clara marah lalu menangis. Ferdi tertawa dan menghentikan makan, kemudian ia pun beranjak lalu memeluk wanita itu. Sementara Arvel dan Anzel kompak menahan senyum.


"Dari tadi nyebelin banget kata-katanya. Aku tuh pengen gini juga gara-gara anak yang ada di dalam perut. Aku nggak pernah nyusahin orang sama sekali selama belum hamil."


Clara makin terisak.


"Ssshhh, udah-udah!. Aku bercanda doang koq."


Ferdi masih tertawa saat memperhatikan istrinya itu. Sementara sang istri benar-benar terlihat sedih.


Clara bertanya di sela-sela tangisnya yang mulai mereda. Ia sesenggukan seperti anak kecil.


"Ya nggak gimana-gimana, nanti aku habisin." ucap Ferdi.


"Kalau kamu sakit gimana?"


Ferdi kembali tertawa untuk yang kesekian kalinya.


"Nggak kenapa-kenapa koq. Orang itu nggak pedes banget." ujarnya.


"Serius?" tanya Clara.


"Iya, serius." jawab Ferdi.


"Oh ya udah deh kalau gitu."


Ferdi mengambil tissue lalu mengusap air mata istrinya itu hingga habis tak bersisa.


"Udah ah, jangan nangis lagi. Nggak malu tuh dilihat anak-anak." ucap Ferdi sambil tersenyum.


Clara pun lalu ikut tersenyum, bahkan tertawa kecil.


"Om Ferdi suka banget godain mama."

__ADS_1


Anzel berseloroh dan membuat sang kakak kini tertawa.


"Tapi lucu." ujar Arvel kemudian.


"Lagian mama ngidamnya ada-ada aja." lanjut remaja itu.


Ferdi tampak memeluk Clara, sedang kedua anak sambungnya lanjut makan hingga habis.


"Abang, bau seblaaak." teriak Axel dari lantai atas.


"Nyampe aja segala bau ke idung tuh anak." gerutu Anzel diikuti tawa.


"Udah abis." teriak Arvel.


"Masa sih, bohong kali." Axel tak percaya.


"Turun aja kesini kalau nggak percaya. Lagian lo sakit ngapain makan seblak." ujar Arvel lagi.


"Jahat, orang kek bisa beliin yang nggak pedes."


"Tetap aja, lo harusnya makan bubur." seloroh Anzel.


"Iya, bahkan yang nggak ada rasanya sama sekali." Arvel menimpali.


Axel diam dan keki di kamarnya. Sementara Arvel dan Anzel kini cekikikan.


***


"Kasihan ya, yang dinikahi tapi cuma untuk di keruk harta dan uangnya."


Jessica membuat status di insta story akun Instagram miliknya. Dan secara tak sengaja Clara mengklik lalu melihat semua itu. Jessica merasa senang dan ingin meloncat-loncat ke udara rasanya.


Tetapi siapa yang ia sindir tersebut tak tepat mengenai sasaran. Pasalnya Clara tak tahu-menahu sama sekali perihal apa yang Jessica katakan. Ia pikir mantan Ferdi tersebut tengah menyindir seseorang.


Sebab sepanjang pernikahannya sendiri berlangsung, belum pernah ia merasa dimanfaatkan uang maupun harta yang ia miliki. Diberi mobil mewah saja, Ferdi lebih memilih mengendarai mobil kantor. Nafkah, Clara selalu diberi. Bahkan kini segala uang makan, lebih banyak Ferdi yang mengeluarkan.


"Yes, pasti tuh janda mak jleb banget gue giniin. Mau cerai pasti malu, karena udah sok mesra banget selama ini. Nggak cerai tapi makan hati. Gue yakin dia lama-lama bakal depresi."


Jessica tertawa-tawa di kamarnya. Ia beranggapan bahwa di setiap rumah tangga itu, perempuan pasti menderita batin layaknya istri Indo Siar. Padahal tak semua perempuan mengalami nasib buruk.


Ada orang-orang beruntung mendapat pasangan yang baik dan menyenangkan hati. Tak melulu hidup rumah tangga itu seperti drama ku menangis. Meski sebagian besar memanglah seperti itu adanya.


"Dimana-mana kalau ada bujangan memilih janda. Apalagi jandanya kaya. Udah pasti ada maksud tersembunyi di dalamnya."


Jessica membuat insta story sekali lagi. Ia ingin kembali membuat panas hati Clara. Namun setelah cerita kedua itu ia posting, Clara sama sekali tak melihat.


Sebab yang tadi pun Clara bukan sengaja, melainkan tangannya terlalu latah mengklik pemberitahuan.


Sementara Jessica tengah sibuk dengan kesenangan semu-nya. Nando dan si pelakor kini menghadapi tekanan lebih banyak lagi.


Wina di serang dan di ungkap masa lalunya oleh Ninis. Perempuan itu mendapat informasi dari seseorang mengenai Wina yang merupakan wanita nakal, dan sering nongkrong di klub malam untuk mencari mangsa.


Sontak semua netizen kini makin membela Ninis. Dengan mengatakan mengapa Nando lebih memilih gadis kotor ketimbang istri sah yang orang baik-baik.

__ADS_1


Hal tersebut tentu membuat Friska dan Valerie teman Clara jadi terbahak-bahak. Kebetulan mereka masih sangat mengikuti perkembangan dari gosip tersebut.


"Liat aja, besok gue bongkar." ucap Valerie kemudian.


__ADS_2