Terpaksa Menikahi Janda Kaya

Terpaksa Menikahi Janda Kaya
Nafkah Pertama


__ADS_3

Ferdi dan seluruh karyawan Nath sudah gajian hari ini. Namun tak seperti bulan sebelum-sebelumnya, ketika ia masih single. Kali ini ia tampak tak begitu bahagia.


Hal tersebut tentu saja mengundang pertanyaan dari Jordan dan juga Sean. Mereka heran melihat Ferdi yang seperti berpikir keras sejak tadi.


Saat ini mereka tengah berkumpul di rumah Jordan. Sebuah hal yang biasa mereka lakukan saat gajian. Yakni berkumpul untuk makan bersama sambil bermain game online dan menghabiskan rokok.


"Lo kenapa sih Fer, dari tadi?. Gaji lo di kurangin Nath?"


Jordan bertanya dengan sotoynya diikuti tatapan Sean.


"Iya, dari tadi lo kayak orang bingung." timpal Sean.


"Apa bingung soal kita mau mabok Amer atau ke panti pijat." lanjutnya lagi.


Sean dan Jordan pun tertawa. Ferdi sendiri tak mampu untuk tidak memamerkan barisan giginya yang putih dan rapi. Celetukan Sean maupun Jordan selalu mampu membuatnya terkekeh meski disaat genting sekalipun.


"Gue tuh lagi mikirin Clara." ucap Ferdi.


"Kenapa mesti dipikirin?. Emang lo LDR sama bini lo?" tanya Jordan kemudian.


"Gue mikirin nafkah buat dia." ujar Ferdi.


Jordan dan Sean saling menatap satu sama lain, kemudian kembali menatap Ferdi.


"Ya lo kasih aja separuh gaji lo, dua puluh juta. Cukuplah itu." ucap Jordan.


"Iya, kan rumah juga nggak ngontrak kalian. Paling makan sama bayar listrik, air." Sean menimpali.


Ferdi menarik nafas panjang.


"Gue nggak masalah ngasih separuh gaji gue. Dia pegang semuanya juga silahkan, asal kasih aja gue ongkos tiap hari. Cuma masalahnya, bini gue ini orang kaya. Penghasilannya jauh berkali-kali lipat di atas gue. Mau nggak dia menerima nafkah dari gue yang nggak seberapa itu?"


"Oh iya."


Jordan dan Sean kembali saling menatap satu sama lain. Keduanya mini kompak menggaruk-garuk kepala.


"Bingung juga ya kalau bini kita lebih kaya. Bingung mereka mau menerima apa nggak nafkah dari kita." seloroh Sean.


"Iya, sedangkan itu kewajiban kita sebagai kepala keluarga." ujar Ferdi.


Mereka diam sejenak.


"Pantes aja kaum-kaum insecure kalau nyari bini pasti yang dibawah mereka. Mungkin alasannya kayak gini." tukas Sean lagi.


"Kalaupun mereka menikahi cewek kaya, pasti punya selingkuhan pelakor miskin." tambahnya.


"Iya biar ngerasa punya power." ucap Ferdi.


"Kalau gue sih biarin aja bini gue kaya, gue nggak akan insecure. Kalau dia nggak mau menerima nafkah dari gue, ya gue kantongi balik. Kan lumayan kumpulin buat beli motor baru atau laptop gaming."


Jordan mengeluarkan pendapat yang membuat Ferdi serta Sean menatap ke arahnya.


"Sabi juga." ucap Ferdi.


"Tapi masalahnya ini mengganjal di hati gue. Gue kepala keluarga sekarang." lanjutnya lagi.


"Lo ada perjanjian gitu nggak sih sebelum nikah sama dia?" tanya Sean.


"Kayak dia minta nafkah berapa gitu perbulan?" lanjut pemuda itu.


"Kagak ada, makanya gue bingung. Harusnya bikin perjanjian dulu ya sebelum nikah. Kayak bule-bule di Eropa gitu. Nanti abis nikah siapa yang bayar ini, siapa yang bayar itu. Masalah belanja gimana dan lain-lain." ujar Ferdi.


"Iya harusnya lo gitu." tukas Sean lagi.


"Kalau kata gue gini aja." Jordan kembali bersuara.


"Lo kasih nafkah ke si Clara. Tapi kalau dia menolak dengan alasan udah punya duit sendiri, ya udah lo nggak usah tersinggung." ujarnya lagi.

__ADS_1


"Gue setuju sama Jordan, Fer." tukas Sean pada Ferdi.


"Lo kasih aja ke si Clara berapa gitu. Kalau dia menolak, ya udah ambil lagi duitnya." lanjut pemuda itu.


"Iya, istilahnya yang penting sebagai suami, lo udah menjalankan kewajiban lo. Mau terima syukur, nggak ya bukan salah lo lagi." ucap Jordan.


Ferdi diam dan meresapi ucapan dari para sahabatnya itu.


"Oke deh, gitu aja kali ya." tanya Ferdi.


"Iya, udah gitu aja." tukas Jordan.


"Ya udah, thanks ya bro. Dari tadi gue pusing banget mikirinnya." ujar Ferdi.


"Makanya gue pernah bilang. Apa-apa itu kalau berat ya cerita. Lo kayak sama siapa aja." ucap Jordan.


"Tau lo, lagian kan kita nggak mungkin ghibahin lo ke orang lain. Emang eke lambe turah?" Sean berseloroh sambil melambai.


Ferdi dan Jordan melempar kepala sahabat mereka itu dengan bantal. Sean pun tertawa-tawa, begitupula dengan Ferdi dan juga Jordan.


"Tapi lo cocok banget kayak gitu. Suara lo kayak bences salon." tukas Jordan.


"Bangsat."


Sean berujar sambil tertawa. Ia lalu menyalakan batang rokok dan membuat kamar Jordan mengebul.


***


"Axel sama abang mau makan apa?. Mumpung om masih di luar ini."


Ferdi mengirim pesan singkat pada Axel. Ketika dirinya pun masih berada di kediaman Jordan. Saat ini mereka tengah memancing di kolam pemancingan keluarga Jordan, yang dibuka untuk umum.


"Axel lagi pengen makan udang saos Padang. Tapi Axel tanya abang dulu deh, mereka maunya apa." jawab remaja itu.


"Ya udah, nanti kabarin om."


Ferdi lanjut memancing, sedang Axel kini berjalan naik ke lantai atas. Dimana kedua kakaknya itu tengah belajar coding secara online.


"Bang, kata om Ferdi mau makan apa?" tanya nya kemudian.


Arvel dan Anzel kompak diam. Sampai saat ini mereka masih terlibat perang dingin dengan Ferdi. Meski Ferdi tak mempersoalkan hal tersebut.


"Oh ya udah, berarti nggak mau ya. Axel sih mau udang saos Padang sama cah kangkung. Soalnya kita cuma ada nasi putih." ucap remaja itu.


"Pokoknya apapun yang lo makan, kita pasti makan yang sama. Jadi kalau kita abisin, jangan marah." ucap Anzel..


"Berbelit-belit amat, bilang aja mau juga." ujar Axel lagi.


Anzel tetap fokus pada laptopnya sama seperti Arvel.


"Ya udah, ntar Axel bilangin om Ferdi."


"Masa udang semua." ucap Arvel.


"Iya, Axel tau abang Ar suka cumi dan Anang An suka kerang. Ntar dibeliin semua, dasar gengsian. Ribet!"


Axel menggerutu lalu membalas pesan Ferdi. Sementara Arvel dan Anzel tetap fokus ke layar laptop sambil menahan senyum.


***


Saat pulang ke rumah, Ferdi membiarkan ketiga anak sambungnya makan. Sebab ia tak ingin Arvel dan Anzel menjadi canggung. Lagipula ia butuh mandi dan menunggu Clara pulang. Sebab wanita itu telah memberitahu sejak pagi, jika ia akan kembali ke rumah agak larut.


"Fer, kamu udah makan sayang?"


Clara bertanya ketika ia telah tiba dirumah dan masuk ke kamar. Wanita itu kemudian menghampiri Ferdi, yang tengah duduk di sofa sambil berkutat dengan laptopnya.


"Belum, aku nungguin kamu." jawab Ferdi.

__ADS_1


"Aturan kamu makan aja duluan, kasihan jadi harus nungguin."


Clara membelai rambut serta kepala suami berondongnya itu. Ferdi kemudian mencium bibir Clara.


"Oh ya."


Ferdi mengambil sebuah amplop coklat dan memberikannya pada Clara.


"Ini apa Fer?" tanya Clara seraya menatap sang suami.


"Ini uang belanja." ujar Ferdi pada wanita itu.


"Maksudnya?. Ini dari kamu?" tanya Clara lagi.


"Iya." jawab Ferdi.


"Itu jumlahnya ada dua puluh juta. Kalau kurang, aku masih punya dua puluh juta lagi. Dan kalau misalkan emang belum mencukupi, aku akan usahakan lebih banyak lagi nanti. Entah aku cari kerja sampingan lain atau apa."


Clara menatap suaminya itu. Dulu bahkan ia dan Nando selalu memegang uang masing-masing. Tak pernah Nando memberikan langsung penghasilannya seperti ini, jika butuh baru Clara memintanya.


"Tapi, Fer."


"Aku tau, kamu penghasilannya jauh lebih gede dari aku. Mungkin ini nggak sampe sepuluh persen dari total yang kamu dapat perbulan." ucap Ferdi.


"Tapi aku disini suami kamu, aku kepala keluarga. Nafkah itu tanggung jawab aku." lanjutnya kemudian.


"Aku bisa aja pura-pura nggak tau, mungkin juga kamu nggak akan minta. Tapi sebagai laki-laki aku malu, kalau aku nggak bertanggungjawab atas pernikahan kita." tambahnya lagi.


Clara menghela nafas dan tersenyum pada pemuda itu.


"Penghasilan aku emang lebih besar dari kamu. Kalau dibilang nggak perlu dibantu, sebenar aku emang nggak perlu dibantu masalah keuangan. Tapi karena kamu suami aku, nafkah ini adalah hak aku. Aku akan terima dan aku akan gunakan untuk keperluan kita." ucap Clara.


Ferdi kini bisa tersenyum lega.


"Tapi kurang nggak?. Atau kamu mau pegang semuanya?. Aku nggak apa-apa kalau kamu mau pegang semuanya. Tapi yang pasti untuk ongkos dan bensin, aku akan minta ke kamu."


Clara tertawa kecil, digenggamnya tangan Ferdi dengan erat.


"Segini udah lebih dari cukup, Fer. Udah bisa buat makan satu bulan, bisa bayar air, listrik, gaji sekuriti malah."


"Biaya pendidikan anak-anak?. Pasti nggak cukup kan?" ujar Ferdi.


"Biaya pendidikan anak-anak itu tanggung jawab bapak mereka. Itu kewajiban dia sebagai ayah. Tapi ya karena bapak mereka lagi gila saat ini, jadi itu tanggung jawab aku. Kamu nggak perlu pusing mikirin mereka. Masing-masing dari mereka udah punya tabungan pendidikan."


"Kalau listrik disini berapa?" Lagi-lagi Ferdi melontarkan pertanyaan.


"Paling dua juta." jawab Clara.


"Rumah segede ini listriknya cuma dua juta?" Ferdi kaget mendengar semua itu.


"Iya, emangnya dirumah papa kamu berapa?" tanya Clara.


"Di rumah papa aku bisa sampe sebelas juta loh." ucap Ferdi.


"Kan rumah papa kamu gede banget, Fer. Lebih gede dari ini. Dan mungkin listriknya banyak yang dinyalain kali tiap hari."


"Iya, sih. Mamaku boros banget kalau listrik, soalnya dia penakut. Siang pun ada yang dia hidupin lampunya." tukas Ferdi.


"Ya pantes aja." ujar Clara.


"Orang tempat ngubur ari-arinya Frans aja masih dikasih lampu koq sama mama sampe sekarang. Katanya biar nggak ada setannya. Padahal kelakuan Frans di belakang orang tuaku persis kayak setan kadang."


Clara tertawa kali ini.


"Ya kalau gitu listriknya pasti gede. Disini hemat karena anak-anak aku ajarin. Kalau nggak penting, listriknya di matiin. Dan mereka nggak bisa tidur kalau lampunya menyala. Paling yang idup lampu depan, luar pagar, pos sekuriti, sama belakang." ucap wanita itu lagi.


"Kalau di rumah orang tuaku nggak bisa. Mama pasti mencak-mencak." ucap Ferdi.

__ADS_1


Keduanya lalu tertawa-tawa, kemudian melanjutkan percakapan. Tak lama setelah itu mereka terlihat makan berdua di meja makan.


__ADS_2