Terpaksa Menikahi Janda Kaya

Terpaksa Menikahi Janda Kaya
Jaga


__ADS_3

Sebuah panggilan dari Axel masuk ke handphone Ferdi.


"Axel?" gumam Ferdi seraya memperhatikan layar handphone.


Tak biasanya anak itu menelpon, Ferdi pun lalu mengangkat panggilan tersebut.


"Hallo."


"Om Ferdi."


"Iya."


"Axel sama mama di rumah sakit."


"Hah?. Di rumah sakit?"


Ferdi kaget dan mendadak cemas mendengar semua itu. Sementara Jordan, Sean dan Nath kini memperhatikan.


"Siapa yang sakit?" tanya Ferdi kemudian.


"Abang Ar, jatuh dari tangga."


"Arvel jatuh dari tangga?"


Ferdi benar-benar kaget, begitupula dengan teman-temannya.


"Iya om, tadi tuh..."


"Kresek."


"Kresss."


"Karena tadi tuh kita..."


"Zrzrzrs."


Suara Axel terputus-putus.


"Axel, kamu dirumah sakit mana sekarang?"


"Hallo, om Ferdi."


"Iya, kamu bisa dengar suara om nggak?"


"Kresss."


"Hallo, om."


"Iya, kamu dengar suara om nggak?" tanya Ferdi.


"Tuuuut."


Telpon terputus, karena gangguan signal.


"Gimana Fer?" tanya Nath dengan wajah yang juga sama paniknya dengan Ferdi dan dua teman Ferdi yang lainnya.


"Ini gue hubungin dulu si Axel. Masalahnya dia belum ngomong di rumah sakit mana." jawab Ferdi.


"Si Arvel-nya nggak apa-apa?" tanya Nath.


"Belum tau. Tadi suaranya aja ilang." ucap Ferdi.


"Axel kalian di rumah sakit mana?" tanya Ferdi melalui pesan singkat di WhatsApp. Setelah akhirnya ia mencoba untuk menelpon balik remaja itu.


"Dert."

__ADS_1


"Dert."


Axel menjawab, ia memberitahu di rumah sakit mana dirinya dan sang ibu berada. Ferdi pun beranjak.


"Udah dapat Fer, alamatnya?" tanya Nath.


"Udah nih." jawab Ferdi.


"Gue ikut, biar gue yang nyetir." ujarnya kemudian.


"Gue juga ah." tukas Jordan.


"Gue juga." Sean turut beranjak.


"Ya udah, ayo buruan!" ujar Ferdi.


Mereka lalu bergegas.


***


Nath mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi. Bahkan bagi Jordan dan Sean ini sudah termasuk ugal-ugalan. Sementara Ferdi hanya fokus memikirkan Arvel.


"Nath, Nath. Lampu merah Nath." Jordan mengingatkan.


Ferdi seketika tersadar jika Nath hampir menerobos lampu merah tersebut. Ia melihat wajah Nath yang panik, bahkan melebihi dirinya sendiri.


"Bro, perlintasan kereta bro."


Ferdi mengingatkan Nath, ketika akhirnya mereka telah keluar dari kemacetan dan kini berjalan hampir melewati rel kereta. Sedang peringatan kereta lewat tengah berbunyi.


Nath pun menghentikan mobil dan mereka menunggu hingga kereta berlalu. Tak lama mobil kembali berjalan.


Ketika tiba di rumah sakit, Ferdi langsung menelpon Axel kembali dan mencari dimana keberadaan anak serta istrinya.


Clara berlarian ke arah Ferdi, ketika suaminya itu mengarah ke koridor tempat dimana Clara berada.


"Sayang."


Ferdi memeluk Clara dan mencoba menenangkannya.


"Arvel gimana?" tanya nya kemudian.


"Ada benturan cukup keras di kepala dan kakinya terkilir. Tapi udah nggak apa-apa sekarang, cuma tadi ngeluh sakit aja di kakinya."


Ferdi menarik nafas lega, begitupula dengan Jordan, Sean, dan Nath.


"Dia sekarang?" tanya nya lagi.


"Tidur." jawab Clara.


Tak lama Ferdi pun menyambangi kamar anak tirinya tersebut. Tampak Arvel memang tengah tertidur lelap ditemani kedua adiknya.


Anzel lebih banyak diam karena masih merasa sangat bersalah. Ialah yang memulai dengan dengan melempar ular-ularan ke arah kakaknya tersebut.


Diketahui jika Arvel takut pada mainan apa saja yang terbuat dari karet. Karena dikerjai, Arvel balas mencari sapu lidi dan mengejar Anzel dengan benda tersebut.


Waktu kecil Clara pernah memukul kaki Anzel dengan sapu lidi, maka dari itu ia memiliki trauma dan ketakutan tersendiri.


Mereka saling mengejar dan menakuti di area sekitar tangga. Hingga peristiwa tersebut akhirnya terjadi. Arvel terpeleset saat menghindari kejaran Anzel.


"Besok kalian pecicilan lagi." ujar Clara.


Ia masih menyimpan kemarahan kepada anak-anaknya. Padahal ia telah mengingatkan mereka semua untuk berhati-hati, meski itu di dalam rumah.


"Mama tuh besok ada rapat penting. Sekarang abang kalian disini, pusing mama jadinya. Di satu sisi harus siap untuk besok, disisi lain mama juga seorang ibu. Mama nggak mungkin tega ninggalin abang kalian sendirian disini."

__ADS_1


Anzel dan Axel hanya diam. Sementara Ferdi memilih untuk tidak ikut campur dulu, sampai Clara selesai menasehati anak-anaknya.


"Kalian pulang dulu, besok kamu ada praktek kan?" Clara berkata pada Axel.


"Abang juga ada persentasi penting disekolah." lanjutnya sambil menatap Anzel.


"Terus kalau kami pulang, abang sama siapa?" tanya Anzel.


"Biar sama om aja." ujar Ferdi.


"Mama sama kalian pulang." lanjutnya kemudian.


"Aku nanti kesini lagi, Fer." ucap Clara.


"Mending kamu kesini nya besok aja. Arvel biar aku yang jaga."


"Tapi kan kamu besok juga harus kerja." ujar Clara.


"Besok kerjaan aku nggak sebanyak hari ini." ucap Ferdi.


"Jangan, Fer. Biar aku aja nanti yang jaga dia."


"Kamu pulang, dan istirahat." ujar Ferdi sekali lagi.


Clara pun tak mungkin membantah perkataan suaminya itu lebih lanjut.


"Aku titip Arvel." ujarnya kemudian.


"Besok aku janji pulang cepat dan langsung kesini." lanjutnya lagi.


Ferdi mengangguk, lalu menarik istrinya itu ke dalam pelukan. Tak lama Clara berpamitan, guna membawa Anzel dan Axel pulang.


"Anak-anak jangan di marahi lagi nanti. Tenangkan pikiran kamu, nyetir yang fokus, nggak usah terlalu ngebut."


Clara mengangguk. Ia lalu berpamitan pada Nath, Jordan dan juga Sean yang masih ada di depan kamar. Tak lama perempuan itu benar-benar beranjak bersama kedua anaknya. Ia diantar Ferdi hingga ke halaman parkir.


"Tapi kamu yakin nggak nyetir sendirian?"


Ferdi agak ragu melepas istrinya itu.


"Yakin, kamu tenang aja." jawab Clara.


"Hati-hati, konsentrasi. Kamu bawa anak juga soalnya. Nggak usah mikir macem-macem."


"Iya Fer, percaya sama aku."


Clara mencoba meyakinkan sang suami. Ferdi lalu mencium kening istrinya itu dan Clara kemudian masuk ke dalam mobil, diikuti Anzel dan juga Axel.


Mesin mobil dihidupkan, tak lama mereka pun tancap gas meninggalkan rumah sakit. Ferdi kembali ke dalam, ke tempat dimana ketiga temannya berada.


"Bro, gue nginep disini." Ferdi berujar pada mereka.


"Gue temenin sampe pagi." ujar Nath.


Ferdi agak kaget mendengar semua itu. Namun ia pun tak dapat menolak hal tersebut.


"Kita temenin lo, tapi nggak nginep." Jordan dan Sean menimpali.


"Paling sekitar jam 1 an kita cabut." lanjutnya lagi.


"Oke, thank you dan sorry banget jadi ikut negrepotin kalian. Kalau nggak gue yang jaga, siapa lagi." ujar Ferdi.


Mereka semua mengangguk. Ferdi menjaga Arvel dan mengawasi kalau-kalau anak itu bangun dan butuh sesuatu.


Saat pukul satu dini hari, Jordan dan Sean pamit dengan menggunakan taksi online. Kebetulan tadi memang mereka ke kantor tak mengendarai mobil pribadi. Kini hanya tersisa Ferdi dan juga Nath, yang berada di tempat itu.

__ADS_1


__ADS_2