Terpaksa Menikahi Janda Kaya

Terpaksa Menikahi Janda Kaya
Mendadak Beku


__ADS_3

Ketika hampir larut, Clara dan Ferdi terbangun dari tidur dan mereka ingat harus pergi ke rumah sakit. Untuk menggantikan anak-anak dalam menjaga Arvel.


"Kalau kamu ngantuk, kamu disini aja." ujar Ferdi.


"Biar anak-anak, aku yang jemput. Aku drop pulang kesini, ntar aku yang jagain Arvel." lanjutnya kemudian.


"Jangan, Fer. Kamu terus jadinya yang jaga Arvel, kasihan kamu nanti capek." ujar Clara.


"Nggak apa-apa, disana juga aku bisa tidur kan. Nggak bakal begadang juga sampe pagi." jawab Ferdi.


"Aku ikut." Clara bersikeras.


"Aku mau jaga dia, Fer. Nanti dia kecewa koq mamanya nggak jagain dia. Aku paling nggak bisa kalau anak-anak sampe prasangka buruk dan kecewa sama aku."


Ferdi menarik nafas dalam-dalam demi melihat keteguhan hati istrinya tersebut.


"Oke deh." Ia menyetujui.


Mereka kemudian bergerak menuju rumah sakit. Ferdi mengantar Anzel dan Axel pulang, kemudian kembali ke rumah sakit untuk menjaga Arvel sampai pagi.


***


Esok pagi.


"Bang, nih mie cup. Udah Axel seduhin. Mumpung mama belum pulang."


Axel yang tengah mendengarkan musik di handphonenya dengan menggunakan headphone tersebut, bicara pada sang kakak di meja makan.


Beberapa saat yang lalu ia nenyeduh dua mie instan cup dan kini semuanya sudah siap disantap. Anzel tak mengambil mie instan cup tersebut dan memilih menatap Axel.


"Buruan, bang. Nanti kalau mama pulang dan lihat ini, habislah kita. Di omelin mak lampir cakep pagi-pagi." selorohnya lagi.


Wajah Anzel tiba-tiba berubah sedikit takut.


"Kenapa sih?" tanya Axel heran, sebab tak biasanya sang kakak bersikap aneh dan menolak pemberiannya. Biasanya ia bahkan mengambil duluan yang sudah selesai di seduh.


"Kenapa abang nggak mau?" tanya Axel lagi seraya melepas headphone yang ia kenakan.


Anzel melirik ke arah kanan Axel. Remaja itu menoleh dan mendadak ia pun nyengir lebar. Sebab ditempat tersebut sudah ada Clara dan dibelakangnya ada Ferdi.


"Eh, mama. Om Ferdi."


"Ngomongin ibunya sendiri mak lampir." ucap Clara.


"Kan ada cakepnya, ma. Mak lampir cakep, hehe."


"Tetap aja mak lampir kan?"


Clara mengambil sapu yang kebetulan terletak tak jauh dari dirinya. Axel berjalan bak kepiting dan....


"Tuing."


Ia kabur meninggalkan tempat itu. Clara hanya menahan senyum, sementara Ferdi tertawa kecil. Anzel tak berani menunjukkan ekspresi apa-apa meski sejatinya ia sangat ingin tertawa.


"Ya udah dimakan ini bang, mie nya." ujar Clara seraya melirik mie instan cup, yang tadi diletakkan Axel ke atas meja makan.


"Emang boleh ma, pagi-pagi?" tanya Anzel.

__ADS_1


"Ya mau gimana, orang udah di seduh sama si kutu air." ucap Clara.


Anzel tertawa kali ini.


"Semalam juga mama makan pasta koq. Jadi ya udalah."


Anzel lalu mengambil mie instan cup tersebut dan memakannya. Clara berbalik ke arah Ferdi.


"Sayang kita sarapan roti aja ya." ujarnya.


Kebetulan di atas meja makan itu masih ada roti tawar. Axel saja yang selalu sesat dan beda aliran di setiap pagi.


"Ya udah, gampang." ujar Ferdi.


"Aku mau mandi dulu." lanjutnya kemudian.


"Aku juga." ucap Clara.


"Ya udah yuk!" ajak Ferdi lagi.


Seketika mereka terdiam, Anzel pun terdiam. Mereka saling bersitatap dalam suasana yang mendadak canggung.


Ferdi ingin mandi, Clara juga demikian. Sedangkan kamar mandi di kamar mereka cuma ada satu. Hal tersebut tentu saja mengundang dugaan dan persepsi di benak Anzel. Dan kini Ferdi coba menyelamatkan semuanya.


"Maksudnya ayo ke atas, ntar mandinya bisa kamu duluan atau aku duluan." ucap pemuda itu.


"Aaa, iya." jawab Clara masih dengan nada canggung. Sebab takut anaknya berpikir macam-macam, padahal memang begitulah adanya. Mereka terlambat menyelamatkan persepsi di benak Anzel.


"Ayo kita ke atas." ujar Clara lagi.


Ia dan Ferdi pun sama-sama beranjak menuju tangga. Tiba-tiba Axel muncul lalu menatap Anzel sambil tersenyum venom. Remaja itu menaik-turunkan alisnya sambil melirik ke arah Ferdi dan Clara yang kini berada di tangga.


Anzel seolah mencegah adik bungsunya tersebut berpikir macam-macam. Sebab itu tak boleh dilakukan. Clara adalah ibu mereka sedang Ferdi adalah suami dari Clara. Lagipula mereka masih remaja dan harus memikirkan hal-hal bersih.


"Nggak, nggak mikir apa-apa. Abang kotor ya pikirannya?" Axel memutarbalikkan fakta.


"Udah makan aja, pikirin pelajaran di sekolah." ucap Anzel lagi.


"Oh iya bang, di sekolah Axel ada guru baru. Galak banget anjay."


Axel yang gampang split tersebut, kini membicarakan dan memikirkan hal lain. Yakni tentang guru baru seperti yang ia sebutkan tadi.


"Guru apaan?" tanya Anzel.


"Guru matematika." jawab Axel.


"Cewek apa cowok?"


"Cewek, sebel banget gue. Marah mulu, kayak haji Malih ketemu haji Bolot. Emosi Mulu bawaannya."


"Lagi stress keuangan mungkin."


Anzel berspekulasi. Kini mie instan cup yang ia makan sudah hampir habis. Sementara Axel sudah sampai tahap menambah kuah dengan cemilan keripik singkong. Ia sangat suka menambahkan snack tersebut setelah mie nya habis.


"Iya kali ya, soalnya kalau orang keuangannya bagus biasanya jarang marah." ujar Axel.


Kemudian ia dan Anzel diam.

__ADS_1


"Eh nggak juga." ujar mereka serentak.


"Papa?"


Keduanya sepakat, bahwa Nando sangat suka marah meski keadaan ekonominya baik-baik saja.


***


Sementara di atas, setelah beberapa saat berlalu. Clara dan Ferdi terlihat sudah selesai mandi. Tentu saja mereka mandi bersama untuk menghemat waktu.


"Kita harus jaga ucapan nih depan anak-anak." ujar Ferdi pada Clara seraya memakai dasi dan berkutat di depan kaca.


"Iya, Fer. Apalagi anak-anak jaman sekarang tau sendiri. Udah nggak ada yang polos banget kalau udah masuk usia remaja." timpal Clara.


"Ya, di era digital kayak gini. Belum lagi kalau mereka main Twitter atau telegram. Tau sendiri bahayanya gimana." ucap Ferdi lagi.


"Aku aja yang remaja nya udah agak lama dari mereka tau koq di umur segitu. Pikiran udah menjurus kemana-mana, karena pergaulan, pengaruh lingkungan sekitar dan lain-lain." pria itu menambahkan.


Clara menghela nafas.


"Kadang tuh aku masih belum move on ngurus mereka. Serasa mereka tuh masih anak kecil yang belum ngerti apa-apa." ucap wanita itu.


"Jadi kadang keceplosan ngomong hal yang sebenarnya mereka udah ngerti." lanjutnya lagi.


Ferdi selesai memakai dasi, kemudian mengenakan jasnya dengan dibantu Clara.


"Pokoknya kita hati-hati aja mulai sekarang." ucapnya kemudian. Clara mengangguk.


Mereka lalu turun ke bawah bersama-sama. Anzel dan Axel sudah tak terlihat lagi. Sepertinya telah berangkat.


"Kita sarapan dulu ya." ujar Clara.


Ferdi mengangguk, mereka mendekat ke arah meja makan. Clara secara serta merta berbalik dan memeluk Ferdi. Ferdi pun menyambut pelukan tersebut lalu mencium kening Clara.


"Aku bikinin roti ya." ujar Ferdi pada Clara.


"Mau." jawab Clara dengan nada manja. Ketika anak-anak sudah berangkat, adalah saatnya sedikit bermesraan.


"Kalau aku bikinin anak mau?" seloroh Ferdi.


"Ih, kan udah."


"Oh iya, dedek bayi nya udah disini nih." ucap Ferdi seraya melihat dan mengusap perut Clara.


"Udah di perut mama ya sekarang." ujar pria itu lagi. Clara tersenyum.


"Ma, om. Pergi ya."


Ferdi dan Clara benar-benar kaget, mereka tak menyangka jika Anzel dan Axel belum berangkat. Bahkan jarak keduanya tak begitu jauh dari mereka.


"Kalian berdua belum berangkat?" tanya Clara masih dengan wajah yang terkejut.


"Belum." jawab Anzel.


Clara makin syok, Ferdi pun demikian. Mereka benar-benar kecolongan kali ini. Baru saja tadi Ferdi mengatakan pada Clara di atas untuk lebih berhati-hati. Namun kini mereka berdua malah masuk ke dalam jurang.


"Aaa, sebenarnya kita udah pergi ma, om. Ini fatamorgana."

__ADS_1


Axel berujar sambil nyengir lalu menarik sang kakak.


"Bye." ujar mereka berdua di waktu yang nyaris bersamaan. Tinggallah Ferdi dan Clara dalam tubuh yang mendadak beku.


__ADS_2