
"Bu Clara."
Salah orang kepala divisi di perusahan cabang, yang saat ini masih dipegang oleh Nando. Tiba-tiba menghubungi Clara pada keesokan harinya.
"Iya Vin, ada apa?" tanya Clara kemudian.
"Saya bisa ketemu ibu siang ini?" tanya kepala divisi itu.
"Oh boleh, kamu datang saja ke kantor pusat." ujar Clara.
"Ada hal penting kah?" tanya nya lagi.
"Iya bu, ini mengenai perusahan ini. Saya bingung kalau harus menjelaskan di telpon."
"Oke, saya tunggu kedatangan kamu."
"Baik bu, terima kasih."
"Sama-sama." jawab Clara.
Ia lalu menyudahi telpon tersebut dan lanjut bekerja. Sementara hatinya agak mengira-ngira. Perihal apa yang akan dibicarakan kepala divisi itu nanti.
***
"Fer, kata papa kamu harus belajar mengenai seluk beluk perusahaan."
Adrian berkata pada Ferdi ditelpon. Saat Ferdi tengah mengedit konten sosial media yang sudah ia dan teamnya buat untuk Nathan.
"Belajar apaan lagi om?" Ferdi tak mengerti.
"Ya mengenai perusahaan papa kamu ini. Kamu mesti tau bergerak di bidang apa. Sektor apa aja yang harus kamu majukan disini. Biar nanti saat mendekati calon jodoh kamu, kamu bisa dengan mudah masukin omongan soal perusahaan. Kamu bisa dengan mudah melobi dia untuk berinvestasi bahkan menyelamatkan perusahaan ini. Istilahnya kayak kamu belajar produk knowledge lah." ucap Adrian.
"Huuuh, oke deh om." ucap Ferdi dengan nada malas.
Ia ingin segera menyudahi percakapan dengan sahabat dari ayahnya tersebut. Sebab ia lebih butuh konsentrasi ketimbang mendengarkan Adrian bercuap-cuap panjang lebar kali tinggi.
"Ya sudah nanti om atur jadwalnya." ujar Adrian lagi.
"Iya om." jawab Ferdi.
Adrian lalu berpamitan dan Ferdi kembali berkutat dengan pekerjaannya.
"Lesu amat pak, kayak anemia akut."
Nova yang baru tiba bersama Sean dari membeli sesuatu di luar itu, menyapa Ferdi.
__ADS_1
"Nih seblak." ujar Nova lagi.
Ferdi menarik nafas. Bahkan ia sudah tak memiliki selera makan lagi kali ini.
"Jordan mana?" tanya Sean pada Ferdi."
"Lagi disuruh Nath keluar." jawab pemuda itu.
Nova membagikan makanan kepada karyawan lain di ruangan itu. Tak lupa ia juga memberikannya untuk Ferdi.
"Kenapa sih lo?" tanya Nova lagi.
"Bokap gue ribet. Nyuruh gue belajar soal perusahaannya segala, buat kepentingan mendekati si Janda. Bukannya terima kasih gue udah mau di jodohkan, masih aja nambahin beban pikiran gue."
"Emangnya disuruh apa lagi.?" Kali ini Sean yang bertanya.
"Ya belajar mengenai perusahaan dia. Kan gue nikah demi kepentingan dia tuh, biar ada yang nolongin masalah perusahaan. Buat minta tolong ke si mbak janda, gue butuh menjelaskan semuanya dong. Makanya gue disuruh belajar, untuk kepentingan lobi-melobi." jawab Ferdi panjang lebar kali tinggi.
Nova dan Sean saling bersitatap satu sama lain.
"Kita sebenarnya mau bantu sih, Fer. Tapi kita bingung mau bantuin lo dari mana dan bantu apa." ucap Nova.
"Iya Fer, kalau butuh duit 100-200 ribu mah gue ada." celetuk Sean.
"Lah ini utang perusahaan bapak lo, mana bisa gue bantu." ucap pemuda itu lagi.
"Thanks gaes. Tapi dengan adanya kalian disini aja, gue udah seneng koq." ujarnya kemudian.
"Udah makan dulu, ntar dingin."
Nathan si bos spesialis nyeletuk sambil berjalan itu pun berucap. Seperti biasa ia berkata sambil melangkah ke suatu arah.
"Yuk Fer, makan dulu." ujar Nova.
"Masalah lo simpan dulu, bro. Beberapa menit ke depan baru buka lagi." ucap Sean.
Ferdi mengangguk, sebab ia tak enak untuk menolak. Meski saat ini perutnya terasa kenyang, akibat terlalu disesaki oleh beban.
***
"Apa?. Dia bikin kebijakan kayak gitu?"
Clara benar-benar kaget sekaligus naik pitam. Ketika sang kepala divisi di bagian cabang perusahannya bercerita. Mengenai perilaku Nando akhir-akhir ini.
Di ketahui sebelumnya bahwa ayah Clara menulis surat wasiat aneh, mengenai cabang perusahaan tersebut. Bahwasannya jika terjadi perceraian, tampuk kepemimpinan masih akan dipegang mantan suami sebelum Clara mendapatkan suami baru. Maka dari itu kini sang mantan masih juga berada disana.
__ADS_1
"Iya bu, kelakuan pak Nando tuh bener-bener bikin kita semuanya naik darah. Mau ngelawan dia pemimpin disitu, kami nggak punya kuasa. Banyak yang kepikiran pengen resign, akibat kebijakan yang dia buat. Dan juga..."
Sang kepala divisi itu menghentikan ucapan, ia seperti agak sedikit ragu untuk melanjutkan.
"Dan juga apa?" Clara mulai penasaran dibuatnya.
"Ada beberapa aset penting perusahaan yang dijual pak Nando."
"Apaaaa?"
Clara benar-benar terkejut. Besarnya suara wanita itu membuat beberapa karyawan yang tengah makan siang di meja kerja masing-masing pun terkejut.
"Apa yang dia jual?" tanya Clara dengan emosi yang sudah naik ke ubun-ubun. Sang kepala divisi itu pun menjelaskan secara rinci apa saja aset perusahaan yang telah di perdagangkan oleh Nando.
Jantung Clara berdegup kencang. Ia kini mencoba mengatur nafas di sela rasa emosinya yang meledak-ledak.
"Emang bangsat itu laki-laki."
Ia benar-benar sangat geram.
"Maafin saya bu, tapi bu Clara harus tau. Kami sebagai karyawan nggak mau kalau kami sampai dituduh. Padahal itu kelakuan pak Nando." ujarnya lagi.
Clara masih diam dan mencoba mengatur nafas. Ia ingin bertanya namun sepertinya ia sudah tau. Jika uang hasil penjualan tersebut pastilah masuk ke pundi-pundi milik sang mantan suami.
"Oke, makasih kamu udah cerita masalah ini ke saya. Tolong kalau ada apa-apa lagi, segera laporkan. Kalau saya belum bisa di hubungi, kamu bisa chat atau kirim saya email."
"Baik bu Clara." jawab sang kepala divisi tersebut.
***
Siang itu setelah sang kepala divisi pulang, Clara bergegas mengambil kunci mobil dan meninggalkan kantor.
Saat sekretarisnya bertanya mau kemana ia, Clara hanya menjawab ada keperluan mendesak.
Wanita itu pergi ke sebuah tempat dan menemukan apa yang dijual oleh Nando memang benar adanya. Si pembeli membenarkan jika ia telah menjadi pemilik dari salah satu aset perusahaan milik Clara tersebut.
Clara benar-benar marah sekaligus kecewa. Sebab ini semua adalah hasil dari kerja keras mendiang ayahnya di masa lalu. Dan Nando seenaknya saja menjual aset perusahaan, hanya karena ia pemimpin di tempat tersebut.
"Lo bisa memberikan sangsi."
Valerie teman Clara mencoba membuka pikiran Clara yang kalut. Ketika akhirnya mereka bertemu dan saling berbiara.
"Biar bagaimanapun itu hanya cabang perusahan. Lo yang pegang kendali." ucap Valeri lagi.
Clara menarik nafas panjang. Ia tau jika ia memegang kendali pusat. Namun ia juga tau Nando bukan orang yang bisa dengan mudah ia singkirkan. Pastilah laki-laki itu sudah menyiapkan amunisi untuk menggempur dirinya. Mengingat ia merupakan laki-laki yang memang enggan mengalah pada siapapun, termasuk pada wanita.
__ADS_1
Dulu saat berumah tangga, mereka kerapkali bersitegang lantaran Nando memang selalu ingin menang sendiri.