Terpaksa Menikahi Janda Kaya

Terpaksa Menikahi Janda Kaya
Sindir


__ADS_3

"Hai, say."


Orang yang punya acara menghampiri Clara dan juga Ferdi.


"Hai." ujar Clara sambil tersenyum.


Ia kemudian memberikan selamat pada si empunya acara tersebut, lalu memperkenalkan Ferdi padanya.


Melihat hal itu Nando secara serta merta ikut mendekat. Membuat berbagai pasang mata kini tertuju padanya. Pasalnya mereka tau jika Nando adalah mantan suami Clara dan hubungan diantara mereka tak baik-baik saja pasca perceraian.


"Hai, selamat ya atas pernikahan anda."


Nando berujar pada si empunya acara, seraya melirik dengan angkuh pada Clara dan juga Ferdi.


"Saya nggak menyangka kalau anda juga mengundang orang yang mengganggu penglihatan mata saya." ucap Nando kemudian.


Kali ini ia tersenyum sinis pada Clara, diikuti kepala sang istri baru yang mendadak terangkat ke atas dengan congkak.


Alih-alih merasa terintimidasi, Clara justru menatap mantan suaminya itu dengan berani dan menantang. Kemudian ia turut berujar pada si empunya acara.


"Kalau saya tidak terganggu oleh kehadiran siapapun. Karena saya tidak memiliki perasaan mendalam terhadap siapapun itu. Kalau ada yang merasa terganggu dengan kehadiran saya, berarti dia masih punya perasaan terhadap saya. Atau bisa jadi juga, dia merasa iri terhadap saya." ucap Clara sambil tersenyum tipis dan melirik ke arah Nando.


Si empunya acara mulai menahan diri, takut mantan pasangan itu menjadi ribut di acaranya. Mungkin Clara tak akan berbuat demikian, namun sepertinya Nando memancing sejak tadi. Siapapun akan panas jika terus-menerus di pancing dan disindir.


"Baik, terima kasih banyak sudah datang." ujarnya kemudian.


"Oh ya, suamimu yang mana?" tanya Clara.


"Itu?"


Si empunya acara menunjuk ke suatu arah, tempat dimana suaminya tengah mengobrol dengan hadirin yang lain.


"Oh oke." jawab Clara sambil tersenyum.


"Kalau begitu saya tinggal dulu ya."


Si empunya acara tersenyum pada Clara, Ferdi, dan juga Nando. Tak lama ia pun menyapa undangan lain.


Nando kembali pada Ninis, istrinya. Sedang Clara kini mengobrol dengan Ferdi. Nando membuat adegan sok mesra dengan istri barunya tersebut, ia mendekat ke arah telinga perempuan itu dan seolah membisikkan sesuatu. Si istri baru tertawa setelahnya, meski tak jelas apa yang tengah mereka bicarakan.


Tapi di setiap aktivitas mesra yang berusaha ia pertontonkan tersebut, ia selalu sambil melirik ke arah Clara. Seakan sengaja hendak membuat Clara merasa cemburu.


Namun, Clara malah cuek saja dan tak menggubrisnya sama sekali. Bahkan melirik sedikit saja pun tidak. Clara saat ini hanya fokus pada Ferdi dan mereka tampak tertawa-tawa.

__ADS_1


"Nando mesranya fake banget nggak sih?"


Valerie yang turut hadir dalam acara tersebut berbicara pada Friska dan beberapa rekan sosialita mereka di kejauhan. Sejak tadi mereka memperhatikan tingkah Nando yang dikit-dikit berlaku mesra pada sang istri baru, namun sambil melirik pada Clara.


"Iya, kayak sengaja mau bikin Clara cemburu." timpal Friska.


"Istri barunya Nando nggak banget, anjir." ucap teman mereka yang lain. Valerie, Friska dan yang lainnya langsung tertawa.


"Maksa banget pake barang mahal, tapi tuh kayak nggak mampu milih model yang sesuai." lanjutnya kemudian.


"Iya anjir." celetuk yang lainnya lagi.


"Iya kan?. Barang mau brand semahal apapun, kalau nggak pinter milih model. Nggak paham sama bentukan muka kita dan warna kulit kita, pas di pake justru kayak alay. Mirip biduan organ tunggal."


"Hahahaha."


"Hahahaha."


"Masih mending, biduan organ tunggal mah banyak yang bagus selera fashionnya." ujar Valerie.


"Iya, masih lebih modis biduan ketimbang dia." Friska menimpali.


Mereka terus tertawa-tawa, sedang Nando dan Ninis meneruskan drama Korea mereka yang lebih mirip drama komedi tersebut. Sebab tingkah mereka benar-benar mengundang tawa orang-orang yang mengenal Clara.


Beberapa saat berlalu.


"Mbak haus, Fer." ucap Clara seraya mencari dimana letak meja prasmanan. Ia ingin segera membasahi tenggorokannya yang terasa kering. Mata Ferdi pun turut mencari, sampai ia menemukannya terlebih dahulu.


"Tunggu disini!" ucap Ferdi.


Pemuda itu pun beranjak, mengambil air minum kemudian kembali dan menyerahkannya pada Clara. Sementara Nando melirik ke arah mereka, dan Ninis mulai tak nyaman melihat sang suami yang terus-menerus tercuri perhatiannya oleh Clara.


"Aku mau minum juga." ucap Ninis dengan perasaan tak mau kalah saing.


"Ya udah tunggu disini!" ujar Nando.


"Dih, iri banget anjir."


Valerie dan teman-temannya masih memperhatikan tingkah Nando dan juga Ninis. Mereka lalu tertawa-tawa.


"Gue berharap Ferdi punya kekuatan super, terus Clara minta ular cobra tuh. Ntar kan si Ferdi nggak kenapa-kenapa, karena sakti. Terus si bini nya Nando ikut-ikutan mau minta cobra juga. Karena mereka nggak sakti, terus di patok dan modar tuh."


"Hahahaha."

__ADS_1


Mereka semua tertawa mendengar ucapan dari Friska.


"Nih sayang minumnya."


Nando berkata dengan nada penuh penekanan. Sehingga sekitar bisa mendengar. Banyak yang memperhatikan, namun anehnya Clara sangat-sangat cuek. Ia bahkan tak menganggap sama sekali jika Nando itu ada.


Hal tersebut tentu saja sangat membuat Nando naik pitam. Betapa tidak, ia masih menaruh rasa pada mantan istrinya itu. Kemarahannya tentu saja mendidih, melihat sang mantan istri yang sudah tidak memiliki rasa cemburu terhadap dirinya.


Sebab Nando memiliki sifat ingin selalu diutamakan, disanjung dan digilai oleh banyak wanita. Ia tak terima jika mantannya itu bisa move on dengan mudah.


"Mbak ke toilet dulu ya, Fer." ucap Clara pada Ferdi setelah beberapa saat berlalu.


"Iya mbak." jawab Ferdi.


"Mau dianter?" tanya nya kemudian.


"Ah, nggak usah." jawab Clara sambil tertawa.


"Oke." tukas Ferdi.


Tak lama Clara pun pergi menuju toilet, sedang Ferdi kini meletakkan gelas bekas minum Clara ke sebuah meja. Sebab tadi ada sempat Ferdi memintanya sebelum wanita itu menuju toilet.


"Tak." Ia meletakkan gelas tersebut.


"Udah dibeliin apa aja sama mantan istri saya?"


Tiba-tiba Nando mendekat dan berbicara pada Ferdi. Membuat Ferdi terkejut, begitupula dengan orang-orang yang ada di sekitar.


"Maksudnya?" tanya Ferdi.


"Ya, anak muda seperti kamu mau-maunya pacaran sama janda kaya. Apalagi kalau bukan sering di jajani." Nando seakan merendahkan Ferdi.


"Mohon maaf, saya bekerja dan sampai hari ini saya belum pernah meminta apapun pada mantan istri anda. Saya punya uang saya sendiri." ucapnya kemudian


Nando menarik sudut bibirnya.


"Anak muda jaman sekarang itu rata-rata munafik, saya nggak heran koq." ujarnya kemudian..


"Dan orang tua jaman dulu itu rata-rata suka merasa dirinya adalah dukun atau Tuhan yang maha mengetahui segalanya. Sebuah budaya narsis yang bobrok, plus tidak punya harga diri." Ferdi balas menyindir Nando dengan pedas. Membuat sekitar jadi makin tertarik memperhatikan keduanya.


"Saya kalau sudah jadi mantan, nggak akan saya toleh ataupun saya urusi seperti anda mengurusi hidup mantan istri anda. Istri baru anda nggak cukup menggantikan mantan istri anda. Kalau cukup, kenapa masih mengurusi mantan?"


Nando terdiam, begitupula dengan Ninis. Kini wanita itu tampak emosi karena merasa ucapan Ferdi benar adanya.

__ADS_1


__ADS_2