
"Di sekolah jangan bikin ulah ya."
Ferdi berpesan pada Axel usai membekali anak itu, dengan sarapan pagi yang ia beli di toko roti langganan.
Hari ini Axel sengaja bangun siang, sehingga Arvel dan Anzel pergi meninggalkannya duluan. Lantaran ia lama sekali mandi dan kedua kakaknya tersebut takut terlambat.
Arvel dan Anzel memang nakal, tapi untuk urusan sekolah mereka cukup disiplin. Clara selalu menekankan pada mereka, nakal bukan berarti harus menyia-nyiakan pendidikan. Sebab di luar sana banyak anak yang ingin bersekolah tapi tak dapat kesempatan.
Ada juga anak-anak yang berharap bisa sekolah ditempat yang bagus, namun kedua orang tua mereka tidak sanggup membiayai. Untuk itulah Arvel dan Anzel tak pernah terlambat datang ke sekolah dan nilai-nilai mereka cukup bagus.
Sementara Axel memang sengaja ingin pergi diantar oleh Ferdi. Sebab Ferdi adalah orang yang asik diajak bicara menurutnya.
"Axel nggak bakal nakal banyak koq, om. Cuma sedikit aja, segini nih."
Axel menunjukkan ujung jari telunjuknya, hingga membuat Ferdi tertawa.
"Ya udah sana masuk, om mau kerja dulu." ujar Ferdi.
Axel membuka pintu mobil.
"Hati-hati di jalan, om." tukasnya kemudian.
"Iya."
Axel keluar dan langsung bertemu dengan salah satu temannya yakni Rafa. Axel melambaikan tangan, Ferdi menghidupkan klakson lalu berlalu meninggalkan tempat itu. Sementara kini Axel dan Rafa melangkah memasuki gerbang sekolah.
***
Ferdi mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang. Kemudian ketika memasuki kawasan jalan yang cukup sepi, ia menekan pedal gas mobilnya lebih dalam.
Jordan tiba-tiba menelpon dan menanyakan dimana Ferdi. Ferdi yang harus berkonsentrasi dalam mengemudi tersebut, kini juga harus menjawab setiap pertanyaan yang diajukan Jordan. Hingga tak lama kemudian.
"Braaak."
Sebuah hantaman keras diterima Ferdi di bagian sisi kanan mobilnya. Hingga menyebabkan ia terkejut lalu membanting stir ke arah kiri.
Saat itu di sisi kiri ada beberapa anak sekolah yang tengah berjalan di trotoar. Ferdi yang kembali kaget tersebut, menarik kembali mobilnya ke sisi kanan.
"Braaak."
Ia menyenggol mobil lain dan kembali menarik mobilnya ke sisi kiri, kemudian ia menekan rem dalam-dalam.
Suasana pagi itu cukup kacau. Ferdi keluar dari dalam mobil dengan nafas yang tersengal. Masih dalam keadaan panik ia lalu menghampiri mobil yang barusan ia tabrak. Sementara mobil yang menabraknya pertama kali sudah tak terlihat.
__ADS_1
Ferdi meminta maaf dan mengganti kerugian orang tersebut. Orang itu tak masalah, setelah adanya beberapa saksi mata yang menjelaskan jika awalnya Ferdi juga ditabrak seseorang.
Dan Ferdi sendiri berkata jika ia menghindari anak-anak yang tengah berjalan di trotoar. Jika tidak, ia bisa saja menabrak mereka.
Masalah itu kemudian tidak diperpanjang. Ferdi kembali ke mobil dan diam untuk beberapa saat. Sesampainya di kantor Jordan mengungkapkan rasa penyesalannya. Sebab tadi Ferdi tertabrak dalam keadaan telpon masih tersambung, dan ia mendengar semua itu.
Jordan sempat khawatir dan hendak menyusul ke lokasi. Namun Ferdi bilang jika ia baik-baik saja dan akan segera kembali berjalan menuju ke kantor.
"Lo sih, kalau Ferdi sampai kenapa-kenapa gimana?" Sean memarahi Jordan.
"Kan gue biasa telponan sama dia pagi-pagi, event dia lagi ada di dalam mobil." Jordan membela diri.
"Ya tapi dari sekian banyak hal biasa itu, ada aja satu kali yang bakal bikin celaka." Sean masih dengan emosinya yang berapi-api.
"Iya, gue minta maaf." Jordan tampak jelas merasa begitu bersalah.
"Udah, udah. Gue nggak apa-apa koq. Lagian kayaknya gue sengaja ditabrak deh. Bukan gue yang lalai ngambil line itu orang." ujar Ferdi.
Nathan yang ada di tempat itu mengerutkan keningnya sambil memperhatikan.
"Kamera dashboardnya masih idup kan itu mobil?" tanya nya kemudian.
"Mati Nath, gue tuh rencana mau ganti hari ini." ujar Ferdi.
"Lo ditabrak itu di area mana?" tanya Nath lagi.
Ferdi mengatakan dimana wilayahnya.
"Ya udah, ntar gue yang cek untuk CCTV di jalan itu. Gue takutnya itu mantan lakinya bini lo."
Ferdi, Jordan, Sean dan seisi kantor menatap Nath. Bos mereka itu memang pikirannya selalu melesat lebih jauh ketimbang orang lain.
"Bisa jadi, Fer." Nova nyeletuk.
"Kan lo sendiri juga yang cerita, kalau semenjak lo nikah sama Clara. Mantan suaminya itu jadi sering neror atau maksain anak-anaknya supaya sama dia." lanjut perempuan itu lagi.
Ferdi mulai berpikir, jangan-jangan apa yang dikatakan Nath dan Nova itu benar adanya.
"Gue sih setuju sama apa yang Nova dan pak Nath bilang. Lo kan nggak punya musuh." ujar Jordan.
Ferdi diam dan menatap mereka semua.
"Mulai sekarang lo harus lebih hati-hati, Fer." tukas Sean.
__ADS_1
"Bener, Fer. Mantan banyak yang laknat sekarang." Nova menimpali.
***
Sore itu.
"Mau kemana lo, kabur?"
Axel yang benar-benar lupa jika hari itu dirinya harus berduel dengan Gibran tersebut, kini menghentikan langkah. Kedua temannya yakni Rafa dan Saka juga baru ingat.
Padahal semalam Axel sudah latihan dengan sekuat tenaga. Bisa-bisanya ia melupakan semua itu begitu saja.
"Takut kan lo sama gue?" Gibran berujar sekali lagi. Axel kini menoleh ke arah lawannya itu.
Sementara siswa lain yang sudah bubar kelas dan berencana hendak pulang ke rumah masing-masing tersebut, kini turut menghentikan langkah dan melihat ke arah dua remaja itu.
"Asal lo tau aja, tempo hari gue cuma mengalah supaya lo senang. Nggak ada bukunya seorang Gibran bisa kalah sama bocah anak mama kayak lo."
"B@cot lo tau nggak."
"Buuuk."
Axel berkata dan langsung memukul wajah Gibran. Para siswi dan orang tua yang menjemput histeris, sementara para siswa tampak kaget dan memperhatikan.
Gibran bangun dan balas menghajar Axel. Sementara Axel tak memberi ampun sedikitpun.
Perkelahian sengit pun terjadi, Gibran kemudian jatuh dan dadanya diinjak oleh Axel. Para siswa, orang tua dan guru yang masih tersisa langsung memisahkan dan mengamankan keduanya.
***
"Apa?. Anak saya mukulin anak orang pak?"
Clara benar-benar terkejut dan nyaris histeris siang itu. Pasalnya seumur-umur ia belum pernah dipanggil pihak sekolah untuk kasus kenakalan anak.
Apalagi ini dilakukan bukan oleh Arvel maupun Anzel yang sudah ketahuan bandelnya. Tetapi dilakukan oleh Axel, yang selama ini selalu tampak innocent dimata sang ibu.
"Ya udah, saya kesana sekarang pak." ujar Clara.
Maka wanita itu pun bergegas meninggalkan kantor lalu menuju ke sekolah Axel. Disana ia dihadapkan pada kenyataan, bahwa apa yang dikatakan guru di telpon tadi adalah benar adanya.
Axel benar-benar memukuli Gibran. Terbukti dari tangkapan kamera CCTV yang ada di dekatnya dan juga kamera handphone orang tua siswa. Sebab untuk siswanya sendiri tak diperkenankan membawa handphone ke sekolah tersebut.
Clara benar-benar syok, beberapa kali wanita itu mengelus dadanya. Sebab ia tak percaya pada apa yang ia lihat kini. Dimana Axel yang terlihat seperti anak baik-baik, telah membuat salah satu siswa di sekolahnya babak belur.
__ADS_1