Terpaksa Menikahi Janda Kaya

Terpaksa Menikahi Janda Kaya
Panas Panas Panas


__ADS_3

"Om dimana?"


Sebuah pesan bernada pertanyaan namun dengan maksud memanggil untuk datang, tertera di handphone Nando.


Seketika pria itu tersenyum tanda kemenangan. Pasalnya pesan itu berasal dari Wina, selingkuhannya saat ini. Jika seorang perempuan telah bertanya dimana. Maka itu artinya dia minta di datangi dan di goyang. Itu adalah teori Nando.


"Lagi di hati kamu, sayang. Soalnya aku kangen." ucap Nando.


"Perut aku lagi rata nih, om. Minta diisi dedek bayi sama om."


Wina yang masih berusia 23 tahun itu membuat Nando seketika menegang juniornya.


"Nanti aku suntik ya sayang. Aku pulang dulu dan siap-siap."


"Tuh kan lagi nggak dirumah. Pasti selingkuh kan kamu?"


"Nando mengirim foto selfie dirinya."


"Nih, lagi car free day sayang."


"Sama istri kamu yang bodynya jelek itu ya?"


Wina cemburu.


"Nggak sayang, dia di rumah. Makanya ini aku bisa balas pesan kamu.


"Ya udah buruan kesini makanya. Udah geli nih, nyut-nyutan. Pengen di enakin."


Nando pun seketika makin menegang.


"Oke tunggu aku ya sayang, aku segera kesana." ujarnya.


***


Sementara itu di kediamannya, Clara tiba-tiba saja memeluk Ferdi dari belakang. Saat dirinya dan pria itu tengah mandi bersama di shower room.


Ferdi diam, lalu tangannya mengecilkan shower yang semula cukup deras. Dada Clara menempel di bagian belakang tubuh pria itu dan terasa sangat kenyal. Area sensitif wanita itu juga tak kalah hangat melekat di tubuh Ferdi.


"Fer."


"Hmm?"


"Kamu menyesal nggak nikah sama aku?" tanya Clara serius.


"Iya, menyesal banget." jawab Ferdi.


"Kenapa nggak dari dulu aku melakukannya." lanjut pria itu.


Clara diam.


"Aku serius loh, Fer. Aku merasa aku dan anak-anakku nyusahin kamu. Kehidupan kamu sebagai pengantin baru, nggak kayak kehidupan pengantin baru pada umunya. Kamu jadi ikut repot ngurusin anak-anak aku."


Ferdi berbalik, juniornya terlihat sudah sangat tegang akibat tubuh Clara yang menempel tadi. Kini ia mendorong istrinya itu secara perlahan, sambil menatap matanya.


Clara di sandarkan ke dinding shower room. Ferdi mendekat hingga juniornya yang tegang itu menempel di perut Clara. Tentu saja wanita itu langsung bangkit gairahnya. Mendadak perut wanita itu terasa geli, dan area sensitifnya terasa berdenyut-denyut.


"Mereka anak-anak aku juga, Clara."


Ferdi berucap sambil menarik turunkan juniornya dari perut ke area sensitif Clara. Hingga Clara pun menarik nafas dengan bibir yang perlahan menganga.

__ADS_1


"Ssshhh, Ferdiiii."


"Dari perut kamu ini nanti, akan lahir anak-anak kita yang lain."


"Hmmh, iyaaah."


Clara merasakan junior Ferdi makin naik turun. Dan itu membuatnya makin berdenyut-denyut. Tanpa sadar ia mulai menggoyang-goyangkan pinggulnya sendiri.


"Aku mau keluarga kita ramai, Cla. Aku sayang sama anak-anak yang udah ada sekarang. Aku juga sayang sama anak-anak kita yang masih aku proses. Aku sayang mereka semua."


"Ferdiiii."


Clara makin tak terbendung hasratnya, Ferdi bisa merasakan area sensitif istrinya itu telah basah oleh cairan.


"Bles."


Ferdi memasukkan ujung kepala miliknya, sambil terus menatap Clara. Sementara mata Clara telah sedemikian sayu.


"Ssshhh, Ferdi."


"Hmmph." Dengan sekali hentakan dari Ferdi, semuanya terbenam sempurna.


"Aaaah, Ferdiiii."


"Enak?" tanya Ferdi sambil mulai bergerak.


"Hmmh, ssshh, enak." Clara meracau.


"Geli kan?" tanya Ferdi lagi.


"Iyaaah."


Ferdi mencium bibir wanita itu dan terus memompa. Kemudian ia kembali membuat shower menjadi deras, meski tak terkena tubuhnya dan tubuh Clara. Karena posisi mereka agak jauh dari terpaan air.


Shower room itu benar-benar tertutup, dan suara Ferdi serta Clara pun tak terlalu besar. Anak-anak yang berada di lantai atas tak mendengar apa-apa.


"Fer, sesak. Hmmh, ssshh."


"Iya sayang, ini buat kamu sayang."


Ferdi terus menghujam-hujamkan miliknya dengan penuh keperkasaan. Gairahnya sedang sangat menggebu dan besar kali ini.


"Besar, ngeganjel, hmmh, Feeer."


"Tapi enak kan sayang?. Hmmh?"


"Iyaaah, enaaak. Hmmmh."


Ferdi meremas dua gundukan di dada istrinya itu sambil terus bergerak. Kemudian posisi berganti. Clara membelakangi Ferdi dan bertumpu pada dinding.


Ferdi menghantamnya dari arah belakang. Tetapi masih di tempat yang semestinya. Karena Ferdi adalah laki-laki normal, yang tidak memiliki penyimpangan apapun.


"Bles."


"Ah, Ferdi."


Ferdi mulai bergerak dan meremas bongkahan milik Clara yang ada di depan matanya.


"Ini besar sayang, kamu cantik."

__ADS_1


Ferdi memuji-muji istrinya, hingga Clara semakin melayang tinggi.


"Sayang."


Ferdi membuat Clara menoleh ke arahnya, kemudian mereka saling berciuman sambil terus bergoyang.


Menit demi menit berlalu, Clara di kembalikan Ferdi ke posisi semula yakni mereka saling berhadapan. Kemudian junior Ferdi kembali masuk ke area sensitif milik istrinya itu. Erangan dan racauan pun kembali terdengar.


"Aku suntik ya sayang." ujar Ferdi dengan nafas yang sudah tersengal.


"Iyaaah, hmmmh, ssshhh."


Ferdi makin mempercepat gerakan.


"Hmmh."


"Aaaaaaah, sayaaang."


Kali ini Clara berteriak kencang, karena sudah tak mampu lagi menahan suara. Gelombang rasa nikmat berdenyut-denyut di area sensitif dan perut keduanya. Clara bahkan sampai buang air kecil, dan untungnya itu di kamar mandi.


"Ferdi."


Clara memeluk Ferdi dengan perasaan emosional yang sangat dalam. Begitupula sebaliknya.


"Aku sayang banget sama kamu, Fer." ucap wanita itu.


"Apalagi aku." ujar Ferdi lalu kembali mendaratkan ciuman di bibir Clara.


Mereka pun kembali berpelukan untuk waktu yang cukup lama.


***


Sementara itu Nando yang habis mandi dan berpakaian kini bersiap.


"Mau kemana kamu?" tanya Ninis yang baru selesai mengambil orderan makanan dari ojek online.


"Mau main golf, udah janjian sama orang kantor." jawab Nando.


"Koq kamu nggak bilang dari semalam?" Ninis kembali bertanya, kali ini dengan penuh kecurigaan.


"Aku lupa, ini aja teman yang nelpon makanya aku baru ingat."


Tak lama masuk lagi sebuah panggilan.


"Nih kalau kamu nggak percaya."


Nando mengaktifkan loud speaker dan disana ada temannya berbicara. Menanyakan tentang dimana Nando sekarang, sudah on the way atau belum.


Tentu saja hal tersebut sudah ia kongkalikong kan dengan temannya itu, saat di car free day tadi. Dan Ninis pun akhirnya percaya.


Nando pergi, namun tentu saja bukan ke lapangan golf. Tapi ke sarang seorang perempuan muda yang menggoda. Dengan body bak gitar spanyol.


Perempuan muda yang memang sengaja membentuk badan, serta merawat kecantikan dengan tujuan menggaet laki orang.


Saat Nando tiba, ia langsung memberikan pelukan pada pria itu. Bersikap manja seolah dirinya sangat merindukan kehadiran Nando.


Tak lama setelah saling bicara, perempuan muda itu mulai digarap oleh Nando. Clara telah mendapatkan kebahagiaannya sendiri bersama Ferdi. Sedang Nando masih tak jua berubah, sebab tidak mungkin seorang peselingkuh akan berubah.


Mau diberi pelayanan sebagus apapun, di beri anak selusin sekalipun. Peselingkuh akan tetap berselingkuh. Kini Ninis tengah menuai karma, dari apa yang dulu pernah ia lakukan terhadap Clara.

__ADS_1


Tak ada sejarahnya laki-laki peselingkuh akan berhenti di satu pelakor saja. Selama dia masih belum miskin, ia akan terus berpetualang. Dengan atau tanpa diketahui oleh siapapun.


__ADS_2