
"Hei."
Ferdi mendekat dan duduk di samping Axel. Remaja itu pun menoleh dan melihat kehadiran Ferdi.
"Udah makan?" tanya Ferdi kemudian.
Axel menggeleng.
"Mau makan?" tanya nya lagi.
Axel pun kembali menggeleng. Biasanya ia selalu antusias bila diajak jajan, sebab ia selalu dilarang ibunya untuk melakukan hal tersebut.
"Kenapa?. Udah makan dirumah?. Atau takut ketahuan?"
Lagi dan lagi Axel menggeleng.
"Kenapa sih?. Sakit?"
Ferdi terus saja kepo pada anak itu. Sementara Axel akhirnya menarik nafas dan menghembuskan udara dengan sedikit penekanan.
"Om punya bapak tiri nggak?" Remaja itu balas bertanya.
Ferdi mengerutkan dahi, namun kemudian ia pun berkata.
"Nggak tau deh yang dirumah itu kandung apa tiri. Kadang dia baik banget, kadang juga ngeselin sampe pengen om kirim ke planet mars."
Axel menatap mata Ferdi.
"Serius, om?" tanya Axel dengan mimik wajah yang penuh keterkejutan.
Ferdi diam, lalu pemuda itu pun tertawa.
"Nggak, om bercanda koq. Yang dirumah itu papa kandung om. Ya, walau kadang suka ngeselin kayak bapak tiri yang jahat." ujarnya.
"Emang semua bapak tiri jahat ya?"
Pertanyaan yang dilontarkan Axel membuat Ferdi berpikir.
"Kamu punya papa tiri sekarang?" tanya pria itu.
Axel menggeleng.
"Sekarang sih belum, tapi akan punya dalam waktu dekat." ujarnya lagi.
Ferdi mengerti.
"Berarti dari tadi, kamu tuh diem gara-gara ini?" tanya nya.
Axel tak menjawab, namun juga tak menampik hal tersebut.
Ferdi menarik nafas, lalu menoleh ke arah tukang sempol ayam yang ada di dekat mereka.
"Bang, sempol lima. Telor gulung lima, cilor dua." ucap Ferdi.
"Ok, bang."
Sambil menunggu, Ferdi kemudian pergi dan kembali dengan membawa dua cup es Boba. Lalu ia memberikannya satu pada Axel.
"Nih, minum dulu." ujarnya.
__ADS_1
Axel pun menerima sebab tak kuasa untuk menolak. Tak lama sempol, telur gulung dan cilor yang dipesan tadi pun jadi. Ferdi menyodorkan makanan itu pada Axel.
"Mending kita cerita sambil makan." ujarnya kemudian.
Remaja yang sangat jarang jajan itupun tak mampu menahan godaan makanan yang memanggil-manggil tersebut. Maka ia pun lalu mencomot dan memakannya.
"Kamu nggak perlu takut sama bapak tiri. Kamu kan udah besar, belajar beladiri lagi. Kamu juga punya dua kakak yang suka berantem juga kan?"
Ferdi mengingat saat ia bertemu kedua kakak Axel di depan sekolah mereka. Kedua anak itu tampak seperti anak yang cukup berandal serta pemberani.
"Iya sih, tapi kan aku nggak tau calon suaminya mama itu siapa. Kalau dia jago berkelahi juga gimana?. Atau dia punya kekuatan gitu kayak Marvel Hero."
Ferdi tertawa kecil.
"Kuat kayak Limbad."
Ferdi tersedak kali ini, ia tak menyangka ternyata pikiran Axel bisa sampai ke sana.
"Kan ada layanan pengaduan." ujar Ferdi.
"Kalian bisa ke kantor polisi terdekat atau menelpon Komnas perlindungan anak. Atau bisa minta tolong ke tetangga sekitar. Kalau emang mendesak." lanjutnya lagi.
"Ada nggak sih om, ayah tiri yang baik?" Untuk kesekian kali Axel melontarkan pertanyaan.
"Ya, pastinya ada." jawab Ferdi sambil terus makan, begitupula dengan Axel.
"Nggak semua orang tua tiri itu jahat, koq. Banyak juga orang tua kandung, tapi kejam." lanjut pria itu.
"Iya sih, contohnya kayak papa."
Ferdi terdiam mendengar hal tersebut. Sebab ia bingung harus memberi tanggapan apa.
"Kamu curiga apa sama calon ayah tiri kamu itu?"
"Curiga dia cuma mau ngincer harta mama."
"Degh."
Batin Ferdi bergemuruh. Sebab ia pun akan segera menikahi janda beranak. Ia takut dianggap seperti itu oleh anak-anak Clara nanti. Kini gantian jadi Ferdi yang merasa agak tak enak hati.
"Om kenapa?. Axel salah ngomong?"
Axel agaknya menyadari perubahan ekspresi Ferdi.
"Aaa, nggak."
Ferdi menarik nafas panjang dan menghembuskannya.
"Om, dalam waktu dekat akan menikah." ujarnya kemudian.
"Oh ya?"
"Iya, dan calon om juga udah punya anak."
Axel menatap pria itu lekat-lekat.
"Om takut anak-anak dia nanti beranggapan seperti yang kamu takutkan tadi. Bahwa om hanya mau hartanya dia. Padahal om cinta sama ibu mereka."
Axel menjatuhkan pandangan dan menyedot minumannya.
__ADS_1
"Pernikahan itu ribet ya, om." ujarnya. kemudian.
Ferdi lagi-lagi menarik nafas, sambil mengangguk.
"Ya, tapi mungkin disitulah letak keseruannya." ucap pemuda itu.
"Sama serunya dengan solo lord pakai Nana." lanjutnya lagi.
Kali ini Axel tersenyum.
"Ntar Axel bantuin, pake Cyclops."
"Itu mah sama aja."
Ferdi berseloroh sambil tertawa. Sementara makanan mereka kini sudah hampir habis.
***
"Ferdi kayaknya udah siap banget jadi bapak."
Jordan yang makan ketoprak dan sudah nambah itu, berkata sambil melirik ke arah Ferdi.
"Liat aja sama tuh bocah, bisa akrab gitu." lanjutnya lagi.
"Tapi kayaknya tuh anak doang deh, yang berhasil mengambil hati Ferdi." Sean berkata sambil melirik juga ke arah sana..
"Masa sih?" tanya Jordan kemudian.
"Iya, soalnya gue pernah jalan sama Ferdi. Ada anak kecil songong banget. Eh di pites palanya sama dia sampe nangis."
"Serius lo?" Jordan bertanya sambil tertawa.
"Serius gue. Ferdi tuh cukup keras kalau sama anak-anak. Nggak tau deh kenapa jadi sweet begitu ke tuh bocah." lanjutnya lagi.
"Berarti tuh bocah bisa mengambil hatinya dia." ucap Jordan.
"Iya sih, mudah-mudahan anak-anaknya Clara bisa sedekat itu nantinya sama Ferdi. Kan PR kalau seandainya mereka jahat. Mau di pites, anak tiri. Mau di diemin, ntar ngelunjak. Jadinya hidup Ferdi akan serba salah. " ujar Sean.
"Iya sih, mudah-mudahan calon-calon anak tirinya Ferdi nggak ngeselin." ujar Jordan lagi.
***
"Ini udah abis, kita makan yang lain ya?"
Ferdi berkata pada Axel ketika makanan yang tadi ia pesan telah ludes tak bersisa
"Axel kenyang, om." jawab Axel.
"Yakin?"
Ferdi menatap remaja itu.
"Mumpung kamu disini loh, mumpung nggak ada kakak-kakak kamu juga." ujarnya lagi.
Remaja itu diam, namun ia melirik ke pedagang sekitar. Aroma demi aroma yang mereka sajikan tampak mulai menggoyahkan pertahanan..
"Makan ya?" ajak Ferdi lagi.
"Biar barengan sama om. Om juga masih laper soalnya."
__ADS_1
Axel diam, namun akhirnya ia pun tak dapat menolak ajakan dari calon ayah tiri yang belum disadarinya tersebut.