Terpaksa Menikahi Janda Kaya

Terpaksa Menikahi Janda Kaya
Acara Selesai


__ADS_3

"Abang ayo foto sini."


Salah satu keluarga Clara memanggil Arvel dan Anzel untuk mendekat. Mau tidak mau mereka pun menuruti. Sebab tak enak pada Clara, jika mereka menunjukkan wajah asam dan terkesan tidak suka.


Mereka takut undangan akan menganggap Clara kurang mendidik anak. Maka dari itu mereka pun akhirnya rela untuk di foto bersama. Axel yang senyumnya paling sumringah, sebab ia tak ada beban apapun mengenai pernikahan tersebut.


"Fer, selamat ya."


Nathan mendekat terakhir, setelah Nova, Jordan dan Sean. Namun ketiga teman Ferdi itu masih berada di dekat kedua mempelai.


Tadi Nathan sempat mengobrol ada seorang kenalannya yang ternyata juga diundang dari pihak Clara.


"Thank you, bro."


"Clara, selamat ya." ujarnya lagi.


"Makasih, pak Nath." ucap Clara.


"Akhirnya Ferdi jadi laki orang."


Seloroh Nova sambil menekan tombol rekam insta story. Ferdi dan Clara tertawa, begitu juga dengan teman yang lainnya.


"Akhirnya hidup Ferdi menjadi seperti cerita novel online." lanjut Nova lagi.


Semua orang makin tertawa, termasuk Clara. Namun Clara sendiri tak mengerti dengan apa yang di maksud. Sehingga ia pun bertanya pada Ferdi.


"Maksudnya novel online?"


"Oh itu, nanti aja aku jelasin. Setelah acara selesai." ujar Ferdi.


Mereka pun lanjut berinteraksi dengan undangan dan keluarga. Dari sebuah sudut Jeffri menatap semua itu.


"Are you oke?" tanya Adrian pada Jeffri.


"Ya." jawab Jeffri sambil mengangguk. Namun seperti ada kesedihan di mata pria itu.


"Tapi lo kayak sedih?" tanya Adrian lagi.


Jeffri menghela nafas.


"Orang tua mana sih yang nggak sedih. Melepas anak yang udah dia besarkan, untuk menjalani kehidupan yang baru. Semua orang tua pasti sedih. Karena akan jarang ketemu, nggak akan ngeliat dia setiap hari dirumah."


"Kan bisa tinggal di rumah lo." ucap Adrian.

__ADS_1


"Si Clara nya nggak mau. Dia mau Ferdi yang tinggal disana. Dengan alasan anak-anaknya nggak akan betah tinggal di rumah yang baru."


"Oh, I see." Adrian mengangguk-anggukan kepalanya.


"Ya udah, lo kan bisa minta mereka datang sesekali. Atau lo sama Aini yang kesana." ucap Adrian lagi.


Jeffri kemudian kembali menghela nafas, lalu mereguk minuman yang ada di tangannya.


***


"Jadi mereka menikah hari ini?"


Nando bergumam sendiri di kamar rumahnya. Disaat sang istri baru saja pergi ke bawah, untuk mengambil makanan yang ia pesan.


Sejak menikah untuk yang kedua kali, tak yang namanya masak di dapur. Sejatinya Nando pun telah terkecoh. Dulu saat selingkuh, segala upaya dilakukan wanita itu untuk menarik perhatian Nando.


Termasuklah caper melayani dan memasak untuk pria itu. Tetapi setelah menikah, banyak hal yang berubah dan membuat Nando kaget.


Namun ia harus tetap menutupi hal tersebut dari Clara dan sekitar. Sebab dulu ia suka menyinggung Clara sebagai istri yang terlalu sibuk bekerja.


Selalu membuatkan sarapan roti yang membosankan, dan tak pernah memasak makan siang ataupun malam malam untuk sang suami.


Kini setelah menikah yang kedua kalinya pun, tak ada bedanya. Malah yang ini lebih parah, apa-apa harus beli.


Nando bertanya pada salah seorang partner bisnisnya.


"Hai bro, gue lagi nemenin istri kondangan di tempat Clara." jawab partnernya itu.


Ia bukan teman akrab Nando, jadi dia tak ada masalah datang ke undangan Clara.


"Oh, lo disana?" tanya Nando dengan nafas yang mulai memburu.


Ia sejatinya bukan marah atas perilaku partnernya itu, sebab partnernya itu hanyalah undangan. Ia cuma panas hati mendengar Clara menikah.


"Iya nih."


Dengan tanpa rasa tak enak, partnernya tersebut mengambil foto suasana pernikahan Clara dan mengirimnya pada Nando. Ia berpikiran Nando kini sudah menikah, dan tak mungkin cemburu pada Clara. Padahal keadaan justru sebaliknya.


"Ini?" lagi-lagi Nando bergumam. Ia melihat Jeffri berdiri di samping Ferdi.


"Koq ada Jeffri Atmaja, bro?" tanya Nando curiga.


"Ya kan yang nikah sama mantan bini lo, anak keduanya Jeffri. Masa lo nggak tau-menahu."

__ADS_1


Nando benar-benar terkejut membaca semua itu. Ia tak menyangka jika Clara menikah bukan dengan pria yang berasal dari keluarga biasa.


Jantung Nando berdegup kencang, dadanya kini terasa begitu sesak dan tubuhnya gemetar. Pada saat yang bersamaan Istri keduanya Ninis, muncul dan mengabarkan jika makanan mereka telah siap di meja makan.


"Ayo sayang, makan!" ujarnya kemudian.


Nando tak menjawab, wajahnya kusut dan asam serta terkesan sangat judes pada Ninis.


"Kamu kenapa sih?" tanya Ninis heran.


Nando tak menjawab, ia hanya melengos dan berlalu. Kemudian masuk ke dalam kamar mandi, dan membanting pintu.


Nando lupa membawa handphone. Ninis membaca pesan yang masuk. Kini ia mengetahui sebab mengapa suaminya tersebut murka.


Kali ini gantian ia yang naik darah. Ninis tak terima suaminya masih punya rasa dengan Clara. Setelah suaminya itu keluar dari dalam toilet, pertengkaran hebat pun tak dapat dihindari.


Mereka berteriak-teriak dan saling menyalahkan. Ninis mencerca Nando dan begitupula sebaliknya. Hingga sumpah-serapah pun mewarnai ruangan tersebut.


***


Acara pernikahan Ferdi selesai. Para undangan berpamitan. Arvel, Anzel dan Axel diantar pulang oleh sepupu ibu mereka.


Arvel dan Anzel menatap Clara yang tengah melambaikan tangan ke arah mereka. Hanya Axel yang membalas sambil tersenyum. Sedang dua anak itu gundah gulana.


Mobil yang membawa mereka pun bergerak. Kini Clara kembali ke tengah keluarga dan undangan yang masih tersisa.


Mereka semua berpamitan satu demi satu. Termasuklah teman-teman Ferdi maupun teman-teman Clara. Ada yang menangis, ada yang memeluk keduanya dengan erat dan menyampaikan berbagai pesan.


Keluarga Ferdi sendiri menghampiri terakhir kali, disaat semua undangan dan keluarga Clara sudah pulang. Air mata Jeffri dan keluarganya tak bisa dibendung.


Mereka memeluk Ferdi dan Clara secara bergantian. Tak lupa Jeffri dan istrinya memberi pesan-pesan seperti layaknya orang tua dan mertua pada umumnya.


Walau pernikahan ini didasari sebuah maksud tertentu, tetap saja Ferdi mencintai istrinya tersebut. Ia ingin menjalani rumah tangganya sebagai mana rumah tangga orang lain.


Maka dari itu Jeffri meninggalkan berbagai wejangan untuk putra bungsu dan menantunya tersebut.


Jeffri dan yang lain berpamitan, Ferdi kini berusaha menghapus air matanya. Ia merangkul Clara dan coba tersenyum ketika Jeffri, Frans, ibunya dan Nadia serta Adrian melambaikan tangan.


Mereka kemudian pergi ke hotel, yang telah menjadi wedding package dari wedding organizer yang mereka pakai jasanya.


"Duh capek." ujar Clara yang sampai saat ini masih memakai sepatu pernikahan.


Ferdi kemudian berjongkok dan melepas sepatu wanita itu. Lalu mereka naik lift, dan kembali berjalan hingga muka pintu kamar.

__ADS_1


__ADS_2