Terpaksa Menikahi Janda Kaya

Terpaksa Menikahi Janda Kaya
Sebuah Kehangatan


__ADS_3

"Hhhhh."


"Capek banget."


Ferdi dan Clara berujar di waktu yang nyaris bersamaan. Lalu keduanya sama-sama tertawa. Clara berusaha melepaskan pengait belakang gaun pengantinnya, begitupula dengan Ferdi. Pria itu kini melepaskan jasnya dan...


Keduanya bersitatap satu sama lain. Ferdi diam, Clara pun diam. Sebab mereka belum pernah saling melihat tubuh masing-masing, selama berpacaran beberapa waktu belakangan ini. Dan meskipun pernah menikah, hal ini tetap saja terbilang canggung bagi Clara.


"Aaa..."


Ferdi pergi ke kamar mandi. Sekalian ia ingin mandi dan membersihkan diri. Sementara Clara buru-buru melepaskan gaun pengantinnya dan mengganti dengan dress rumahan yang lebih simpel. Kebetulan semua sudah di persiapkan.


Clara menghapus makeup dan membereskan semuanya. Tak lama Ferdi selesai mandi, dan langsung mencari pakaiannya. Clara sendiri gantian masuk ke kamar mandi dengan terburu-buru. Ia masih malu melihat Ferdi berganti pakaian.


Beberapa menit berlalu, usai mengeringkan rambut dengan menggunakan hairdryer. Clara keluar dari kamar mandi.


Namun karena terlalu cepat berjalan, tanpa terasa handuk yang menutupi tubuhnya tersangkut di gagang pintu. Handuk itu terlepas dan buru-buru Clara menutupnya lagi.


Tetapi Ferdi sudah melihat dengan jelas. Ia diam menatap istrinya itu dengan nafas yang mulai agak cepat. Sementara jantung Clara kini berdegup dengan kencang.


Perlahan Ferdi mendekat, lalu meraih pinggang wanita itu dengan tangan kanannya. Perlahan ia mulai mencium bibir Clara dan Clara pun membalas.


Semakin lama ciuman tersebut semakin panas. Tubuh mereka semakin dekat satu sama lain, hingga handuk Clara pun kembali terlepas dan jatuh di lantai.


Ferdi menatap mata wanita itu, dan kini tangannya mulai menyentuh dan mengusap-usap salah satu gundukan di dada Clara. Clara yang memang sudah lama tak disentuh oleh laki-laki itupun, merasakan sebuah sensasi yang perlahan terasa nikmat.


Matanya mulai sayu. Lalu Ferdi kembali mencium bibir wanita itu sambil lanjut memberikan remasan dan usapan di tempat yang tadi.


Ferdi kemudian menatap dua gundukan kembar itu. Dan dengan lembut ia pun memainkan bibirnya disana.


"Hmmh."


Clara bersuara sambil menggerak-gerakkan tubuhnya. Tangan wanita itu kini membelai lembut kepala dan rambut sang suami.


Dalam sekejap mereka telah berpindah ke tempat tidur. Ferdi kembali mencium bibir Clara, dengan tangan yang sudah berada di bagian bawah. Ia memberi usapan-usapan disana, hingga membuat Clara begitu terbuai.


"Hmmh, ssshh."


Clara kembali bersuara, tanpa sadar ia sudah menyentuh dan mengeluarkan milik Ferdi. Mereka kini saling memberi kenikmatan di area yang sama.


"Ssshh."


Milik Ferdi telah tegang sempurna. Ia kemudian membuka kedua kaki Clara dan mulai memainkannya disana. Antara hendak memasukkan dan tidak. Clara menggeliat-geliat keenakan dibuatnya.


"Aaaah."


Wanita itu kembali mengeluarkan suara ketika milik Ferdi sudah mulai di tekan masuk. Meski setelah itu Ferdi kembali mengeluarkannya dan memasukkannya kembali.

__ADS_1


"Ferdi, hmmh."


"Iya sayang."


Ferdi berbisik ditelinga Clara, sambil kembali mendorong miliknya.


"Aku sayang kamu." ujarnya lagi.


"Ssshh."


"Hmmh.


"Aaaaaaah."


Semuanya terbenam sempurna. Clara merasakan nikmat yang luar biasa. Apalagi setelah Ferdi mulai bergerak memaju mundurkan miliknya itu. Erangan dan racauan pun tak dapat terelakkan.


"Aaaah, hmmh, ssshh."


Ferdi kembali mencium Clara, dan terus memompakan miliknya. Karena Clara sudah pernah menikah, Ferdi pun tak begitu takut untuk merubah posisi. Dari yang tadinya mereka ditempat tidur, kini berdiri.


Kemudian mereka kembali lagi ke tempat tidur. Clara menuntaskan hasratnya yang sudah lama haus akan sentuhan tersebut. Lama mereka berada dalam permainan, sampai kemudian Clara berujar.


"Sayang, aku mau...."


"Aku juga." ujar Ferdi dengan nafas yang tersengal.


Maka ia pun mempercepat gerakan, Clara kembali meracau dan mengeluarkan erangan. Sampai kemudian,


Semburan yang hangat membanjiri rahim Clara. Tubuh keduanya bergetar hebat dan gelombang kenikmatan terasa diantara perut hingga ke bawah.


Tubuh Ferdi jatuh dalam pelukan istrinya itu, dengan nafas mereka yang sama-sama tersengal.


Clara mengusap-usap punggung Ferdi dan mencium pipinya hingga beberapa kali. Sampai kemudian Ferdi mengangkat kepala dari bahu Clara dan tersenyum padanya. Clara pun balas tersenyum, sebab permainan tadi begitu nikmat dan memuaskan.


Ferdi membelai rambut Clara, dan menatap matanya. Cukup lama mereka seperti itu, hingga kemudian milik Ferdi yang masih berada di dalam terlepas dengan sendirinya. Ia lalu merebahkan diri disisi Clara.


Mereka sama-sama tertidur, dan terbangun secara bersamaan pula setelah beberapa jam berlalu.


"Hai."


Clara tersenyum menyapa Ferdi.


"Hai." ujar Ferdi sambil balas tersenyum.


"Aku laper." ucar Clara.


"Sama." jawab Ferdi.

__ADS_1


"Tapi kita mandi dulu ya, baru pesan makanan." lanjut pemuda itu.


Clara mengangguk, mereka lalu pergi mandi bersama-sama. Sudah tak ada canggung seperti di awal tadi. Mereka telah menjadi suami-istri yang seutuhnya.


Usai mandi dan berpakaian, keduanya lalu memesan makanan. Mereka memesan cukup banyak, karena pada saat acara wedding tadi mereka hanya makan sekedarnya.


Meski makanannya terbilang banyak dan beragam, tetap saja dalam acara seperti itu akan membuat selera makan kita menjadi tak begitu baik.


Belum melayani undangan yang menghampiri ke arah kita, belum kitanya sendiri yang harus menyapa undangan itu. Berbicara dengan keluarga, berfoto, dan lain-lain.


Ketika makanan tiba, Clara pun kalap. Ia langsung saja makan tanpa malu-malu. Biasanya mereka selalu makan di restoran dan menggunakan sendok serta garpu. Kini Clara makan dengan menggunakan tangan, sebab yang ia pesan adalah nasi Padang.


"Pelan-pelan, sayang."


Ferdi berucap seraya tertawa menyaksikan Clara.


"Aku udah laper banget, ini udah nggak bisa lagi nahan." ucap wanita itu.


Ferdi makin tertawa, sebab baru kali ini ia melihat Clara seperti ini. Biasanya ia selalu tampil elegan dan lembut. Namun dihadapannya kini, bahkan Clara menaikkan salah satu kakinya di kursi.


Usai makan dan membereskan semuanya, mereka lalu sama-sama duduk di kursi sofa sambil menikmati dessert. Sedang Ferdi berteman dengan segelas es kopi.


"Fer."


"Hmm?"


"Aku boleh nanya nggak." ucap Clara.


"Nanya aja."


"Kamu, katanya sama Jessica belum pernah begituan. Tapi koq tadi kayaknya lancar banget, nggak ada hambatan."


Ferdi tertawa.


"Kamu suka nonton film dewasa ya?" tanya Clara lagi. Dan lagi-lagi Ferdi tertawa.


"Aku rasa kalau soal itu, rata-rata cowok pernah koq. Cuma sebagian ngaku, sebagian lainnya munafik aja." jawabnya.


"Berarti pernah kan?" Clara menatap suaminya itu.


"Pernah tapi aku nggak adiksi ya. Pernah sesekali dulu."


"Tapi sama Jessica beneran nggak pernah?"


"Nggak pernah. Karena aku emang pengennya nanti pas udah nikah aja. Jadi nggak perlu safety-safety lagi. Hamil ya udah, kan udah nikah juga."


Clara tertawa kali ini.

__ADS_1


"Jadi perkara cuma nggak mau safety doang."


"Iya itu doang masalahnya." Ferdi berseloroh. Keduanya kemudian sama-sama tertawa.


__ADS_2