
"Makan siang bareng yuk, nanti."
Ferdi mengirim pesan singkat seperti itu pada Clara, ketika jam makan siang telah tiba. Namun kemudian ia menyadari sesuatu.
"Eh, tapi kamu ada waktu nggak?. Kalau nggak ada, nggak apa-apa." lanjutnya lagi.
Ferdi meletakkan handphonenya ke atas meja, lalu melanjutkan sisa pekerjaan yang tinggal sedikit lagi.
"Dert."
"Dert."
Secepat kilat ia kembali menyambar perangkat itu dan melihat balasan yang dikirim oleh Clara.
"Ada koq, mau makan dimana?" tanya Clara.
Tentu saja Ferdi begitu senang mengetahui kesediaan Clara. Namun ia berusaha untuk tidak bersikap berlebihan. Sebab itu akan mengundang perhatian dari sekitar.
Meskipun sejak tadi sekitar sudah memperhatikan tingkah anehnya, yang suka senyum-senyum sendiri.
"Aku yang tentukan boleh?" tanya Ferdi.
"Terserah." jawab Clara.
Ferdi pun tertawa. Ternyata semua perempuan, mau status sosial rendah ataupun tinggi. Ketika ditanya soal makan, maka jawabannya hanyalah "Terserah."
"Tapi emang kamu mau makan dimana aja?. Nggak harus ada standarisasi atau syarat tertentu?" Ferdi kembali memastikan.
"Nggak koq, aku bisa makan dimana aja. Kan waktu itu kita udah pernah makan bareng juga" ucap Clara.
Ferdi ingat, tapi saat itu mereka makan di restoran yang cukup bagus dan terkenal. Ia ingin bertanya sekali lagi, namun takut jika terkesan terlalu banyak bicara. Akhirnya ia pun kembali mengirim balasan.
"Oke, aku jemput kamu dalam beberapa menit." ujar Ferdi.
Clara tersenyum lalu turut mengirim balasan pula.
"Oke."
Maka Ferdi pun bergegas, bahkan sangat cepat sebelum Jordan dan Sean sempat menyapanya.
Selang beberapa saat berlalu ia sudah terlihat meninggalkan kantor. Pemuda itu menjemput Clara di lobi pintu utama kantor yang bersangkutan.
"Hai." sapa Ferdi pada Clara.
"Hai."
Clara tersenyum, kemudian tertawa. Namun dengan wajah yang tersipu malu. Dari sekat pintu lobi utama, beberapa karyawan Clara tak sengaja melihat semua itu.
"Ibu bos kemana dan sama siapa itu?" tanya salah seorang dari mereka.
"Pacar barunya kali ya?" celetuk yang lainnya lagi.
__ADS_1
Mereka mencoba mendekat, dan hendak memperhatikan lebih detail. Namun Ferdi keburu menginjak kembali pedal gas mobilnya dan berlalu meninggalkan tempat itu.
***
Di sepanjang perjalanan keduanya sempat sedikit canggung. Seperti remaja yang baru menjalin hubungan cinta. Namun kemudian suasana menjadi cair, ketika salah satu dari mereka kembali membuka obrolan.
Ferdi menggenggam tangan Clara dan begitupun sebaliknya. Kemudian melepaskan itu semua kembali, karena Ferdi harus berkonsentrasi dalam mengemudikan mobil.
Ferdi kemudian mengajak wanita cantik itu, untuk masuk ke sebuah restoran Korea yang terkenal. Pikir Clara, Ferdi akan mengajaknya makan di kaki lima. Sebab ia berharap ke arah situ.
Namun ternyata tidak. Karena Ferdi pun masih menjaga image dan selera makan Clara. Ia masih takut untuk membawa Clara makan di tempat yang benar-benar merakyat. Meskipun di tempat yang merakyat, rasanya kadang jauh lebih enak.
Dari masih berpacaran dengan Jessica pun, ia selalu membawa Jessica makan ke tempat-tempat hits bahkan mewah. Karena ia sangat mementingkan mood pasangannya saat tengah bersama dengan dirinya.
"Ini restoran Korea ya?" tanya Clara.
"Iya." jawab Ferdi seraya menarik kursi pada sebuah meja, dan mempersilahkan Clara untuk duduk.
"Kamu bilang kan terserah mau makan dimana. Ya udah, aku pilihlah tempat ini." lanjutnya kemudian.
"Tempatnya enak dan semi private." Clara memberikan penilaian pertamanya.
Ferdi tersenyum.
"Aku harap kamu menyukainya sampai selesai." ujar pemuda itu.
Kini gantian Clara yang tersenyum. Lalu seorang pelayan pun mendekat dan memberikan menu pada mereka berdua. Kemudian mereka sama-sama memilih.
Selang beberapa saat berlalu, mereka terlihat sudah melakukan pembakaran daging di atas tungku yang ada di meja. Di sebelah tungku tersebut terdapat sebuah hotpot yang saat ini tengah di panaskan pula.
"Hmm, enak." Clara memuji makanan yang telah masuk ke mulutnya.
Ferdi tersenyum sambil terus memanggang dan makan sesekali. Sementara di kantor Ferdi, Nathan kaget ketika ada banyak box pizza datang kesana.
"Pizza dari mana nih?" tanya Nath pada semuanya.
"Dari mbak-mbaknya Ferdi." ucap Jordan.
"Mbak-mbak yang sering kesini itu?. Dari mana lo tau?" tanya Nath lagi.
"Nih ada tulisannya Ciara Shinta, eh..."
Jordan memperhatikan nama tersebut.
"Nama itu mbak-mbak, Clara ya?. Salah sebut dong gue, Ferdi, sama Sean selama ini." ujarnya lagi.
Tapi kemudian ia tertawa.
"Yang penting makan, ah." ujarnya kemudian.
Nath mendekat dan turut mencomot pizza tersebut.
__ADS_1
"Si Ferdi nya sendiri mana?" tanya nya sambil makan.
"Nggak tau, tadi buru-buru banget keluar." ucap Sean.
"Tapi feeling saya sih, dia makan siang bareng mbak." lanjutnya kemudian.
"Sering-sering aja si Ferdi kayak gini." ucap Nath.
"Kebagian rejeki nomplok ya pak, Nath?" ucap Nova.
"Yoi."
Mereka pun kini tertawa-tawa. Sejatinya ini adalah balasan dari Clara. Sebab ia merasa gembira di ajak makan oleh Ferdi. Ferdi sendiri tak tau jika Clara melakukan hal tersebut.
Sebab Clara memesan pizza sebelum Ferdi sampai ke kantor wanita itu, dan pizza datang setelah Ferdi menjemput Clara.
***
"Nih, cobain."
Ferdi secara tiba-tiba hendak menyuapi Clara, dengan potongan daging saos Bulgogi. Clara sempat tertegun sejenak dengan jantung yang berdegup kencang. Sampai akhirnya ia pun menerima suapan tersebut.
"Enak?" tanya Ferdi.
Clara mengangguk. Kemudian gantian Clara yang menyuapi Ferdi. Ferdi berubah mukanya mendadak seperti udang rebus. Ia tersenyum lalu menerima suapan itu.
Mereka terus makan sambil berbincang. Sesekali terdengar tawa di meja mereka. Sementara di kantor Ferdi maupun kantor Clara, para karyawan tengah menikmati anugerah siang mereka.
***
"Gue mau menemui Clara dan langsung membicarakan soal perjodohan dia dengan Ferdi."
Jeffri berkata pada Adrian.
"Mau di percepat?" tanya Adrian padanya.
"Iya lah, kita udah nggak bisa menunda lagi. Sebelum dia di dekati laki-laki lain dan dinikahi. Mending kita curi start duluan." jawab Jeffri.
"Gue pengen to the poin aja, minta dia jadi menantu gue." lanjut pria itu.
"Ya udah, kalau emang itu mau lo. Ntar gue coba hubungi dia dan kita atur pertemuan." tukas Adrian lagi.
"Soap Ferdi gimana?" tanya nya kemudian.
"Ferdi mah gampang, dia udah bilang kalau dia pasti mau. Ya udah tinggal ke Clara nya aja, lagipula kata lo dia mesti menikah lagi kan. Untuk bisa menguasai kembali sebagian perusahaan ayahnya yang masih dipegang her ex."
"Iya bener, gue baru dapat cerita itu semalam sih, dari orang kepercayaan bapaknya. Idris Johan, tau kan lo?" tanya Adrian.
"Oh iya, tau gue. Jadi dia yang cerita."
"Iya, kebetulan kita ketemu. Ngobrol-ngobrol masalah kerjaan, eh sampai kesana obrolannya. Emang dia nggak nyebut nama Clara secara langsung di depan gue. Tapi dia emang kerja di perusahaan Clara sejak jaman bapaknya Clara masih ada. Siapa lagi anak bos yang dia sebut, kalau bukan Clara. Orang anak bos nya cuma satu itu doang."
__ADS_1
Jeffri mengangguk-anggukan kepalanya.
"Ya udah, atur pertemuan sama dia." lanjut pria itu.