
"Gimana soal mantan suami saya, apa dia sudah merespon surat yang kita kirimkan?"
Clara bertanya pada orang kepercayaan mendiang ayahnya.
"Belum." jawab orang kepercayaan mendiang ayahnya itu.
"Kenapa dia belum memberi tanggapan sampai sekarang, om?" tanya Clara.
"Om juga belum tau Clara. Tapi akan segera om cari tau dan kabari kamu."
"Oke, om."
Clara menyudahi dan menutup telpon tersebut. Sejatinya ia bisa saja langsung bertanya pada Nando, mengenai mengapa mantan suaminya itu sampai sekarang belum merespon surat peringatan yang ia layangkan.
Tetapi ini urusan kantor, segala prosedurnya ingin ia lakukan secara resmi. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, di luar itu semua.
"Dert."
"Dert."
Tiba-tiba Ferdi menelpon, dan wanita itupun lalu mengangkat panggilan tersebut.
"Hallo, Fer." ujar Clara.
"Cla, kamu baik-baik aja?" tanya Ferdi.
"Iya baik-baik aja. Kamu?" Clara balik bertanya.
"Aku baik, kamu nggak mual?" tanya Ferdi lagi.
"Tadi agak mual dikit, tapi ini udah minum air hangat. Jadi udah agak berkurang." jawab Clara.
"Beneran nggak apa-apa?" Ferdi tampaknya masih meragukan.
"Iya sayang."
"Nanti aku jemput ya." ujar Ferdi lagi.
"Iya, sana kamu kerja. Yang tenang kerjanya, nggak usah banyak khawatir. Aku bisa jaga anak kita dengan baik koq."
"Iya, aku percaya soal itu. Cuma khawatir aja kalau kamu muntah atau apa. Kasihan kamu-nya."
Clara tersenyum. Memiliki suami seperti Ferdi benar-benar adalah impian hampir semua perempuan. Namun ia tak pernah berekspektasi sampai sebesar ini.
"Iya sayang, makasih ya udah perhatian sama aku. Kalau ada apa-apa, aku pasti kasih tau kamu." ujar Clara.
"Oke deh, aku lanjut kerja ya." ucap Ferdi.
"Iya sayang, yang semangat kerjanya."
Ferdi yang tersenyum kali ini.
"Iya, kamu juga ya." ujar pria itu.
"Iya."
"Bye sayang." ucap Ferdi.
"Bye sayang." jawab Clara.
Ferdi menyudahi telpon tersebut dan melanjutkan pekerjaan, begitupula dengan Clara.
***
Siang itu sepulang sekolah, Arvel, Anzel, dan Axel nongkrong di depan sekolah Axel sambil makan bakso abang-abang gerobakan.
Semenjak tak terlalu di larang lagi oleh Clara untuk jajan, Axel jadi mempengaruhi kedua kakaknya. Mereka juga makan bersama supir. Namun supir mereka lebih memilih untuk duduk di dalam mobil.
"Terus makanannya gimana, bang?"
__ADS_1
Axel bertanya pada Arvel, ketika kakak sulungnya tersebut bercerita soal makanan misterius yang ia terima dari seorang wanita tak dikenal.
"Ya dimakan sama teman-teman gue." jawab Arvel.
"Tadinya nggak gue suruh, gue takut itu beracun. Kita mana tau niat orang." lanjutnya kemudian.
"Lah itu koq bisa dimakan tapi?" tanya Axel lagi.
"Ya, temen gue maksa nyoba. Tau-tau udah comot dan dimakan. Akhirnya yang lain ngikut. Lama-lama abis."
"Sampe sekarang mereka masih baik-baik aja kan?" lagi-lagi Axel bertanya.
"Tadi sih baik, nggak tau deh sekarang. Ntar palingan gue chat di grup kelas." tukas Arvel.
Axel tertawa. Anzel sendiri diam, entah mengapa pikirannya tertuju pada kedua orang tua kandung Arvel. Mulai dari laptop waktu itu, sampai ke makanan yang sekarang.
Entah mengapa hatinya mengatakan demikian, namun ia tak ingin Arvel sadar akan hal tersebut. Ia ingin Arvel tetap berada di rumahnya dan menjadi kakaknya serta menjadi anak Clara selamanya.
"Lo koq diem aja, bang?" tanya Axel yang mendadak menyadari diamnya Anzel. Arvel sendiri kini melihat ke arah adiknya itu.
"Nahan kentut lo?"
Axel melontarkan pertanyaan yang membuat beberapa siswi yang tengah berdiri di dekat mereka, menoleh pada Anzel.
"Mau berak, gue." seloroh Anzel.
"Ih lo mah, jorok banget bang." Axel sewot, Arvel dan Anzel tertawa.
"Elo mancing-mancing. Giliran di antepin beneran, sewot." tukas Anzel lagi.
"Hehe, santai bang. Biar nggak tegang." jawab Axel.
Mereka melanjutkan makan bakso tersebut sambil terus berbincang.
"Bang, gue pengen es campur, tapi kenyang kalau mau habisin sendiri."
Axel berucap setelah acara makan bakso selesai.
"Sama, abang juga." Arvel menimpali.
"Tapi gue pengen, bang." Axel merengek.
"Ya udah bungkus aja, bawa pulang. Arvel memberi saran.
"Es-nya itu di serut, bang. Sampe rumah pasti udah nggak dingin, nggak enak."
"Ya minta es batunya yang biasa aja." ujar Anzel.
"Tetap aja beda kalau udah di bawa ke rumah."
Arvel dan Anzel menghela nafas super kesal. Ingin rasanya mereka mengirim Axel untuk berkemah di planet lain.
"Ya udah, pesan sana!" tukas Arvel kemudian.
"Tapi bantuin ngabisin ya." ujar Axel lagi.
"Iya." jawab Arvel.
"Bang?" ia meminta kepastian Anzel.
"Iyaaa." jawab Anzel kesal.
Axel nyengir lalu memesan es campur dari sebuah tempat yang persis di samping sekolah. Tak lama es campur itu tiba di meja dan porsinya sangat banyak.
"Lo nge-WA abangnya ya, supaya dibanyakin?" Anzel curiga pada Axel.
"Handphone gue aja di mobil." jawab Axel.
"Disini tuh porsi es campurnya emang barbar. Makanya gue ngajakin lo berdua, bang." tukasnya lagi.
__ADS_1
Arvel dan Anzel menarik nafas. Kedua anak itu tidak terlalu suka dengan es campur. Namun demi Axel mereka pun ikut makan.
Tiba-tiba mata Arvel tertuju ke suatu arah. Pada sebuah mobil hitam yang sama dengan waktu itu di sekolahnya. Di dalam mobil tersebut juga terdapat orang yang sama.
"Ngeliatin apa sih, bang?" tanya Anzel lalu mengikuti arah pandangan sang kakak.
Axel pun jadi ikut-ikutan melihat ke arah sana.
"Lah, itu kan bosnya om Ferdi." seloroh Axel.
Arvel dan Anzel kini menoleh ke arah adiknya itu.
"Serius lo, itu bosnya om Ferdi?" tanya Arvel pada Axel kemudian.
"Iya, orang dia datang koq di pernikahan mama. Cek aja foto-foto pernikahan mereka, pasti ada om itu." tukas Axel lagi.
Arvel diam, kembali ia memperhatikan orang yang dibilang Axel sebagai bos Ferdi tersebut. Orang itu malah tampak keluar dari mobil.
"Dia itu pernah ngeliatin gue di sekolah." ujar Arvel.
"Lo mau diculik kali, bang." seloroh Axel.
"Hus, jangan suka prasangka." Anzel memarahi Axel.
"Curiga dikit, boleh dong." Axel membela diri.
Sementara bos sang ayah tiri kini mendekat.
"Kalian anak-anaknya Ferdi kan?" ujarnya.
"Om, om Nathan ya?" Axel memastikan.
"Iya." jawab Nath.
"Tadi om ngeliatin dari situ. Bener nggak itu anak-anaknya Ferdi, pikir om."
"Oh."
Mereka bertiga tersenyum. Akhirnya terjawab sudah mengapa pria itu melihat ke arah mereka. Tapi ada hal lain yang kini menyesaki benak ketiga anak itu.
Kalau Nath hanya memastikan mereka bertiga anak Ferdi atau bukan, lalu untuk apa bos seperti dia berada di lingkungan sekolah di jam kerja seperti ini.
"Om ngapain di sekolah ini?" pertanyaan Axel mewakili apa yang ada di benak kedua kakaknya.
"Om lagi cari sekolah buat keponakan om. Dia sekeluarga baru pindah kesini." ucap Nath.
"Satunya cari sekolah SMP, satunya lagi cari sekolah SMA. Makanya waktu itu kita ketemu kan?"
Nath membidik Arvel, kini Arvel mengerti mengapa waktu itu Nath melihat ke arah dirinya. Mungkin sama ingin memastikan apakah benar ia melihat anak tiri Ferdi atau bukan.
"Tapi udah dapat om, SMA nya?" tanya Arvel.
"Udah, yang dekat rumah sih akhirnya. Soalnya di sekolah kamu, walaupun bagus tapi lumayan jauh dari rumah mereka." jawab Nath.
Arvel mengangguk-anggukan kepalanya.
"Kalian belum mau pulang?" tanya Nath.
"Belum om, ini masih makan." jawab Anzel.
"Tapi dijemput kan?" Nath memastikan.
"Iya, tuh mobilnya."
Axel menunjuk pada mobil jemputan mereka.
"Oh ya udah kalau gitu. Om pamit dulu ya?" ucap Nath.
"Iya, om." jawab ketiganya serentak.
__ADS_1
Nath berbalik arah, ketiga anak itu tak melihat perubahan wajahnya yang tiba-tiba saja diliputi kesedihan.