Terpaksa Menikahi Janda Kaya

Terpaksa Menikahi Janda Kaya
Kecurigaan


__ADS_3

"Bro, tolong untuk hari ini."


Nath mengirim pesan singkat ke handphone Ferdi melalui WhatsApp. Kebetulan pagi itu Ferdi tengah bersiap untuk berangkat.


"Iya, tenang aja." ujar pria itu kemudian.


"Semangat buat new project juga." ujar Nath lagi.


"Iya, pokoknya gue selesaikan sesuai deadline dan target." Lagi-lagi Ferdi menjawab.


"Sekalian ada beberapa file di ruangan gue, tolong kasih ke Nova. Sama flashdisk yang biru di laci."


"Kasih ke Nova juga?"


"Iya, tadi gue udah WhatsApp dia. Nanti lo tolong ambilin aja disana. Kunci ruangan gue masih sama lo kan?" Nath memastikan.


"Masih." jawab Ferdi.


"Ya udah, tolong banget ya Fer."


"Sip." balas Ferdi.


Nath kemudian tak membalas lagi. Ferdi kini melangkah bersama Clara yang juga siap berangkat ke kantor.


"Mau berangkat sekarang, ma?" tanya Axel pada Clara yang terburu-buru.


"Iya." jawab Clara.


"Tumben buru-buru banget, kayak mau upacara." celetuknya lagi.


Anzel yang mendengar hal tersebut pun tertawa.


"Mama ada urusan mendadak dan mendesak di kantor. Makanya ini harus pergi pagi-pagi." ucap Clara.


"Nggak sarapan dulu?" tanya Anzel.


"Ini mama udah bawa roti koq, buat dimana di jalan nanti sama om Ferdi. Kalian nanti sama supir, jangan nakal, jangan berantem."


"Iya ma." jawab keduanya serentak.


Clara yang masih tampak mondar-mandir karena mengambil sesuatu itu, tiba-tiba nyaris terjatuh. Untuk Ferdi dengan sigap menangkap tubuhnya.


"Pelan-pelan." ujar Ferdi kemudian.


"Iya ini udah koq. Yuk berangkat!" tukas Clara.


Keduanya pun akhirnya berangkat.


***


"Kamu hati-hati di jalan ya, Fer."


Clara berkata pada sang suami ketika mobil sudah sampai di muka kantornya. Ferdi mencium kening istrinya itu.


"Semangat ya." ujar Ferdi.


"Kamu juga." balas Clara.


Wanita itu bersiap untuk keluar, sebab Ferdi pun sudah membuka lock pintu mobilnya.


"Hmmph."


Clara mendadak merasakan mual di perutnya dan seperti ingin muntah.

__ADS_1


"Kamu kenapa?" tanya Ferdi panik.


"Nggak tau, kayaknya karena menunda sarapan sama kemarin aku ada minum kopi deh di kantor." jawab Clara.


"Kamu butuh obat."


"Aaaa, nggak usah."


Clara menarik nafas.


"Ini udah mendingan koq." ujarnya kemudian.


"Ya udah, nanti minum air putih yang banyak. Jangan ngopi atau ngeteh dulu. Dua-duanya sama, suka bikin asam lambung naik." ujar Ferdi.


Clara mengangguk. Lalu meraih tangan Ferdi dan menciumnya. Ferdi tertegun, ini kali pertama semenjak menikah, Clara melakukan hal yang demikian.


"Aku masuk ya." ucap Clara.


Ferdi mengangguk.


"Hati-hati di jalan, Fer."


"Iya sayang."


Clara keluar dari dalam mobil dan melangkah menuju ke lobi. Sementara Ferdi melanjutkan perjalanan.


Sesampainya di kantor, Ferdi dikejutkan oleh kehadiran Nando. Lagi-lagi mantan suami dari istrinya tersebut menyambangi kantor Nath. Ferdi menatap pria itu, ia sudah siap berkelahi jika memang di perlukan. Sebab tak ada cara lain dalam menghadapi Nando kecuali dengan kekerasan.


"Saya mau bicara baik-baik."


Tiba-tiba Nando mengeluarkan pernyataan yang mengejutkan Ferdi. Jika hari-hari sebelumnya ia tampak selalu berapi-api, hari ini ia lebih terlihat cooling down.


"Perlu tempat untuk bicara?" tanya Ferdi kemudian.


Nando berkata dengan mimik wajah yang seakan penuh penyesalan. Ferdi bingung mengapa tiba-tiba saja pria itu berubah. Ia mencoba menangkap maksud lain dari semua ini.


"Saya jarang ada untuk mereka."


Nando kembali menatap Ferdi setelah sebelumnya ia menjatuhkan pandangan ke lain sudut.


"Kasih sayang untuk mereka sangat kurang dan timpang, lantaran saya selalu sibuk. Saya nggak pernah punya waktu banyak sebagai seorang ayah. Saya juga tidak terlalu bagus dalam hal tanggung jawab." ucap pria itu lagi.


"Saya harap anda bisa mengisi kekosongan itu dan bisa memberi sosok ayah yang dibutuhkan anak-anak."


Ferdi menghela nafas panjang.


"Saya akan berusaha semampu saya." ucapnya kemudian.


Nando mengangguk.


"Thanks." ujarnya kemudian.


Tak lama Nando pun beranjak. Ferdi yang masih bingung dan terkejut dengan semua itu, kini memilih masuk ke dalam lobi kantor.


***


"Fer, kata pak Nath gue disuruh ngerjain beberapa file yang ada didalam sana."


Nova berujar seraya menunjuk ke arah ruangan Nath.


"Iya ini mau gue ambil dulu."


Ferdi mengacungkan kunci ruangan Nath pada Nova. Pemuda itu kemudian membuka dan masuk ke ruangan Nath. Ia mengambil beberapa file termasuk mencari flashdisk yang dimaksud oleh Nath di WhatsApp tadi pagi.

__ADS_1


Dan ia mendapatkan flashdisk tersebut di laci. Namun kemudian Ferdi menemukan sebuah kwitansi pembelian laptop gaming. Awalnya ia tak begitu peduli, sampai kemudian ia menatap seri laptop yang tertera di kwitansi tersebut.


Ferdi teringat dengan yang ada pada Arvel. Seri laptop tersebut sama dengan yang dibeli oleh Nath.


"Ah, ngapain gue jadi cocokologi sih. Kayak netijen." ujar Ferdi seraya tertawa.


Ia kembali berpikir bahwa mungkin saja Nath membeli laptop itu untuk dirinya sendiri. Karena laptop tersebut dijual untuk umum.


Ferdi hendak keluar dengan membawa file-file yang telah ia kumpulkan. Namun kemudian ia sadar jika Nath tidak suka bermain game online.


Ferdi terdiam, dan lagi-lagi pikirannya teralihkan.


"Ah, kali aja buat keponakan atau siapa." gumamnya.


Ferdi pun kembali tertawa dan keluar dari ruangan tersebut. Ia kemudian memberikan pekerjaan yang disuruh Nath kepada Nova.


***


"Aku ada transfer uang lima puluh juta. Buat anak-anak."


Dunia serasa jungkir balik ketika Clara mendapatkan pesan tersebut dari Nando.


"Tumben si Sengkuni ingat buat nafkahin anak-anak." gumamnya kemudian.


"Nanti bulan depan aku kasih lagi." tambah Nando.


"Tumben."


Clara mengetik pesan tersebut dan hendak mengirimkannya. Namun kemudian ia berpikir, pasti akan panjang dan berdebat ujungnya.


Maka ia pun mengurungkan niat tersebut dan hanya menulis kata,


"Thanks. Uang itu akan aku simpan di tabungan mereka, nggak akan aku sentuh." ujar Clara.


"Makasih udah jagain anak-anak selama ini dengan baik." ujar Nando lagi.


Dan lagi-lagi Clara terdiam. Ia benar-benar bingung, apakah Nando habis mengalami kecelakaan lalu kepalanya terbentur trotoar. Atau mungkin ia mulai dirasuki semacam virus yang membuatnya tiba-tiba berubah.


Sebab tidak mungkin sifat atau tabiat orang bisa berubah dalam waktu yang sedemikian singkat. Clara teringat kapan terakhir berdebat dengan pria itu.


"Thank you."


Lagi-lagi Clara hanya menulis kata terima kasih untuk membalas pesan dari Nando. Ia benar-benar masih bingung dengan sikap sang mantan suami.


Sementara di kantor cabang sana, sekretaris Nando masuk ke ruangan pria itu.


"Pak, itu calon karyawan barunya sudah datang." ujar sekretaris tersebut.


"Suruh ke ruangan saya segera." perintah Nando.


"Baik pak."


Tak lama seorang perempuan masuk ke ruangan tersebut.


"Selamat pagi pak." ujarnya menyapa.


"Selamat pagi, dengan siapa?" tanya Nando.


"Saya Jessica, pak." jawab gadis itu.


"Oh, silahkan duduk Jessica." Nando mempersilahkan.


"Terima kasih, pak." jawab gadis itu lalu duduk di hadapan Nando.

__ADS_1


Untuk selanjutnya Nando mulai melakukan interview singkat kepada gadis tersebut.


__ADS_2