Terpaksa Menikahi Janda Kaya

Terpaksa Menikahi Janda Kaya
Hukuman Disiplin


__ADS_3

"Frans."


Ferdi akhirnya bertemu Frans, pasca menikah dengan Clara. Tentu saja hal tersebut disertai dengan gejolak emosional dari keduanya. Mengingat selama ini mereka sangat dekat satu sama lain.


"Lo apa kabar?" tanya Frans pada adiknya itu, seraya menyeka sisa air mata yang sempat membasahi kedua sudut matanya. Mereka tadi sempat berpelukan selama beberapa saat.


"Baik, lo sendiri?" Ferdi balik bertanya, kemudian ia duduk di sofa ruang tamu apartemen sang kakak.


"Gue baik-baik aja. Gue selalu kepikiran elo, Fer. Apa lo bahagia?" tanya Frans lagi.


Ferdi mengangguk.


"Ya, gue bahagia." jawab Ferdi.


"Masalah anak-anak tiri lo gimana?"


Ferdi agak diam sejenak.


"Baik-baik aja, nggak ada hal yang terlalu serius."


Ia menutupi jika hubungan dengan kedua anak tiri tertuanya belum begitu baik. Frans kemudian tertawa dan mengepalkan tinju di bahu Ferdi.


"Gimana?"


Ia melontarkan pertanyaan yang membuat Ferdi mendadak ambigu. Sebab pikirannya dengan isi otak Frans seperti terkoneksi.


"Gimana apanya?" tanya Ferdi kemudian.


"Enak nggak?"


"Apanya?" Lagi-lagi Ferdi bertanya sambil tertawa.


"Nikah, apalagi coba?"


"Gue tau isi otak lo." seloroh Ferdi.


Frans pun kini tertawa-tawa.


"Lagian lo umur segini baru ilang perjaka. Gimana gue nggak mempertanyakan gimana." ujar pemuda itu kemudian.


"Abisnya gue males pake-pake pengaman segala. Nggak nyaman." celetuk Ferdi.


"Emang lo pernah nyoba?" tanya Frans lagi.


"Pernah lah. Gue pake waktu mau begituan sama Jessica. Tapi akhirnya nggak jadi, karena gue ngerasa nggak nyaman. Kayak dibekap gitu rasanya, aneh."


"Lah?. Terus Jessica lo anggurin dong?"


"Ya mau gimana lagi coba?. Konsentrasi gue ilang, gara-gara tuh karet pengaman sialan."


"Jessica nggak ngambek gitu?"


"Ngambek lah. Nggak di tegur gue selama dua minggu." Ferdi berujar sambil tertawa.


Frans pun jadi ikut-ikutan terkekeh mendengar semua itu.


"Pantes aja Jessica selingkuh."


"Alah, itu mah dia aja yang gatel." seloroh Ferdi.


"Aturan mah hantam aja. Kan bisa lo tarik keluar."


"Emang udah rejekinya Clara ngerasain perjaka gue."


"Bangsat!" Frans makin tertawa.

__ADS_1


"Obrolan macam apa ini." selorohnya kemudian.


"Lo mancing-mancing." ujar Ferdi.


Tak lama pesanan kopi Frans dari salah satu cofee shop pun tiba. Ia memesannya melalui layanan ojek online. Kini mereka berdua menikmati kopi dingin tersebut dan mulai membuka bungkus rokok.


"Lo udah makan belum?" tanya Frans pada Ferdi.


"Udah, tadi."


"Kalau mau makan lagi, gue masak noh." ujarnya kemudian.


"Lo bikin apaan?" Ferdi balik bertanya.


"Balado kentang sama hati sapi, kesukaan lo." jawab Frans.


"Ntar deh, gue mau ngopi dulu." ucap Ferdi.


"Oh ya, Fer. Masalah papa gimana?"


Frans melontarkan pertanyaan yang membuat Ferdi sedikit terdiam.


"Gue nggak tau." ujar Ferdi seraya menyedot kopi dinginnya.


"Ini semuanya masih gue pikirkan." lanjutnya kemudian.


Ada rasa tak enak yang menjalar di hati pemuda itu ketika membicarakan hal tersebut. Frans dapat menangkap perubahan sikap Ferdi meski berusaha ia tutupi.


"Maafin gue, Fer. Gue cuma nanya doang karena penasaran. Gue takutnya papa terlalu menekan lo."


Ferdi tersenyum.


"Nggak koq tenang aja. Sejauh ini gue masih nikmatin pernikahan gue. Belum ada tuntutan apa-apa dari papa." ujarnya kemudian.


Frans menghisap batang rokok lalu menghembuskan asapnya ke udara. Hingga sekitaran tempat itu tampak ngebul. Kemudian Ferdi menyusul melakukan hal yang sama.


***


"Koq saya disuruh nyapu sama ngepel, bu?"


Axel bertanya pada gurunya dengan nada penuh keheranan. Ini terjadi sesaat setelah jam sekolah bubar.


"Kamu lupa?. Mulai hari ini kamu akan menjalani hukuman disiplin selama dua minggu ke depan."


Axel baru ingat pada saat penyelesaian perkaranya dengan Gibran kemarin, ia dijatuhi hukuman disiplin. Dan inilah saatnya ia menjalani hukuman tersebut.


"Koq saya sendiri, yang nantangin duluan itu kan Gibran. Kenapa dia nggak di hukum juga?"


"Kamu yang tampak memukul duluan di CCTV."


"Ya nggak bisa dong bu, dia yang nantangin saya. Gimana saya nggak panas coba?"


"Jangan ngelawan kamu, Axel. Jangan mentang-mentang orang tua kamu punya sumbangsih besar terhadap sekolah ini, lantas kamu seenaknya saja bertindak. Kamu tidak punya bukti bahwa Gibran yang menantang kamu duluan, dan ini sudah kita bahas kemarin."


"Makanya CCTV nya ganti aja pake kamera syuting sinetron. Sekalian tarok mikrofon di setiap sudut, biar tau ada omongan apa aja, ada kejadian apa aja. Daripada pasang CCTV primitif kayak gitu."


"Kamu jangan ngelawan ibu."


Axel diam lalu mengambil sapu dan pengepel yang ada di tangan guru tersebut. Ia kemudian mulai menjalani hukumannya.


***


"Hueeek."


Tiba-tiba Ferdi seperti ingin muntah.

__ADS_1


"Kenapa lo?" tanya Frans heran.


"Bini lo hamil?" lanjutnya kemudian.


"Koq bini gue yang hamil, gue yang muntah?" Ferdi berseloroh sambil menahan rasa mual di perutnya.


"Ye, bisa aja tau. Lo tanya aja sama mama, ada koq kejadian kayak gitu."


"Percaya sama orang dulu."


Lagi-lagi Ferdi kembali berujar, namun ia benar-benar ingin muntah kali ini. Ia berlari ke kamar mandi, membuka kloset, dan muntah disana."


"Hueeek."


"Fer, lo serius?"


"Serius lah, ngapain gue bercanda. Mau caper ke siapa gue." jawab Ferdi.


"Hueeek."


Frans menghampiri adiknya itu dengan wajah penuh kekhawatiran. Ferdi menghidupkan flush, menutup kloset lalu beralih berkumur di wastafel. Wajah pemuda itu kini pucat, Frans membantunya agar tak terjatuh.


"Nih minum dulu."


Frans memberikan segelas air putih hangat pada adiknya tersebut.


"Lo abis makan apaan sih?. Asam lambung tuh pasti." Frans seakan tau apa yang terjadi.


Seketika Ferdi teringat pada jeruk Bali yang ia dan Axel makan semalam.


"Semalam gue makan jeruk Bali, lumayan banyak." ujar Ferdi.


"Lagian lo ngapain makan jeruk Bali. Udah tau dari kecil lo nggak bisa makan buah-buahan jenis Citrus. Pasti asam lambung lo naik."


"Abisnya gue penasaran."


Ferdi tak menceritakan kejadian sebenarnya. Jika ia dan anak tirinya dihukum oleh Clara. Sebab itu terlalu lucu bila diceritakan.


"Kan gue dari kecil nggak pernah makan jeruk Bali. Gue penasaran aja sama isinya."


Mengenai hal tersebut, Ferdi sejatinya tak berbohong. Ia dari kecil memang selalu dibatasi untuk makan buah-buahan jenis Citrus. Dan ia memang penasaran dengan rasa jeruk Bali. Yang pernah ia coba adalah Pomelo, sejenis jeruk Bali yang kulitnya lebih tebal.


Jordan pernah bilang jika jeruk Bali lebih enak ketimbang Pomelo yang rasanya sedikit hambar. Untuk itulah Ferdi penasaran. Kebetulan semalam momennya pas, dan ia memakan buah tersebut.


"Tapi koq perut gue loadingnya lama ya. Harusnya kalau memang mau asam lambung, ya semalam dong. Kenapa baru sekarang?"


Frans menoleh pada kopi dan juga rokok yang ada di meja.


"Itu juga pemicu asam lambung, Junaedi." ujarnya Kemudian.


"Tadi lo bukannya order yang lain, malah minta kopi." lanjutnya lagi.


"Oh iya."


Ferdi baru menyadari letak kesalahannya, dan Frans rasanya ingin menggetok kepala adiknya itu dengan palu.


"Udah nggak usah diminum lagi, awas kalau ngerokok."


Frans bergerak ke arah kotak obat dan mencari antasida. Kemudian ia memberikan obat tersebut pada Ferdi.


"Lemah banget sih lambung gue, ketimbang kayak gini doang."


Ferdi menggerutu terhadap dirinya sendiri, kemudian meminum antasida tersebut. Ia bersandar sejenak di sofa, hingga nyeri di perutnya berangsur menghilang.


"Ada-ada aja lo, Fer. Bikin orang khawatir." ujar Frans kemudian.

__ADS_1


__ADS_2