
Ferdi masuk ke kamar Arvel. Dan secara serta merta Axel menarik ayah tirinya itu ke dalam
Sementara Anzel menutup pintu dan menguncinya.
Ferdi berpikir bahwa saat itu ia akan di keroyok oleh ketiga anak tirinya tersebut. Meski mereka bertiga sekalipun bukanlah lawan yang sulit bagi Ferdi. Tetapi ia tidak mungkin menghajar anak dibawah umur.
Terlebih mereka bertiga adalah anak tirinya sendiri. Bisa-bisa pernikahannya dengan Clara akan berakhir di hari itu juga, kalau sampai Ferdi berbuat demikian.
"Ada apa sih?" tanya Ferdi bingung.
Arvel lalu menunjukkan laptop gaming yang ia dapatkan dari terduga Nando tadi pagi.
"Laptop gaming?" tanya Ferdi.
"Ini punya siapa?" lanjutnya lagi.
"Om Ferdi nggak tau atau pura-pura nggak tau?" tanya Arvel.
"Kalau emang itu dari om, om ngaku aja." Anzel menimpali.
Ferdi mengerutkan dahi.
"Dari om?" tanya nya kemudian.
"Iya, soalnya disini tertulis dari papa. Tapi papa Nando nggak mungkin membelikan ini. Lagipula yang tau kalau bang Arvel menginginkan laptop gaming seri ini, cuma teman sekolahnya dia. Dan tadi papa udah kita chat. Dia ngaku kalau dia nggak tau soal ini." Anzel berkata panjang lebar sambil menatap sang ayah tiri.
"Ya terus kalian koq bisa-bisanya menuduh om sebagai pelakunya. Emang om tau abang kalian mau laptop gaming jenis ini?." Ferdi kembali mengajukan pertanyaan.
"Gini ya om, berdasarkan teori yang Axel buat beberapa menit yang lalu. Mungkin om Ferdi pengen di panggil papa sama kita-kita." ujar Axel.
"Maka dari itu om mencoba melakukan pendekatan dengan membelikan apa yang bang Arvel suka. Setelah ini om akan membelikan apa yang bang Anzel dan Axel suka. Iya kan?"
Axel bertanya dengan gaya sotoynya.
Ferdi menghela nafas.
"Terus soal om tau kalau bang Arvel mau yang seri dan merk ini dari mana?. Emang om cenayang?"
Ketiga anak itu diam.
"Om emang pengen kalian panggil om dengan sebutan papa, ayah atau apapun itu. Tapi om juga nggak maksa." ujar pemuda itu kemudian.
"Om akan sangat berterima kasih dan senang kalau kalian mau melakukan hal itu. Tapi buat om panggilan itu nggak terlalu penting. Jadi om nggak mungkin melakukan hal-hal yang nggak gentleman kayak gini. Kalau emang om mau belikan kalian barang yang kalian mau, ngapain om sembunyi-sembunyi?. Beliin martabak sama sate aja om terang-terangan koq." ucap Ferdi.
Ketiga anak itu terdiam, dalam hati mereka membenarkan hal tersebut.
__ADS_1
"Dan juga om nggak mungkin beliin satu, pasti tiga-tiganya om belikan. Karena om tau hobi kalian sama, nge-game."
Ketiga anak itu makin diam. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Buru-buru Anzel membuka kunci dan ternyata Clara.
"Koq dikunci?" tanya Clara heran.
Ia menatap ada Ferdi di dalam, dan wajah-wajah penghuni kamar itu seolah menyembunyikan sesuatu.
"Ada apa nih?" tanya Clara seraya menatap mereka semua satu persatu.
Laptop gaming yang tadi ada di tangan Arvel, telah terlebih dahulu diselamatkan oleh Axel ke dalam lemari.
"Nggak, nggak ada apa-apa koq ma." ucap Arvel.
"Beneran?. Om Ferdi-nya kalian apain?" tanya Clara lagi. Ia curiga telah terjadi sesuatu antara suami dan anak-anaknya tersebut.
"Nggak ada apa-apa." ucap Ferdi kemudian.
Clara menghujani mereka semua dengan tatapan yang dalam.
"Awas ya kalau bohong sama mama."
"Nggak ma, mama sayang cantik deh."
"Adek sayang sama mama, mama kalau marah dan curigaan mirip Irene Red Velvet. Kayak ulzzang."
"Irene, ulzzang. Pujiannya nggak nyambung." ucap Clara.
"Tetap aja mama cantik."
Ia memeluk Clara dengan erat, hingga Clara pun akhirnya luluh dan tertawa. Ia tak lagi membahas hal yang barusan terjadi.
"Ini bang, kue yang abang minta. Makan bertiga gih!" ucap Clara.
"Asik." Axel yang paling semangat berujar, membuat Ferdi seketika tertawa.
"Mama mau makan ke kantin sama om Ferdi, ada yang mau ikut?" tanya Clara.
"Ntar aja ma, mau makan kue abang dulu." ujar Axel.
"Anzel juga sama, ma." Anzel menimpali.
"Ya udah, tapi jangan banyakan kalian yang makan. Kasian loh abang lagi sakit.
"Anzel mah nggak, Axel nih."
__ADS_1
"Enak aja. Bang Anzel tuh kalau makan kayak kuli mau membangun peradaban." Axel membela diri.
Clara dan Ferdi tertawa, lalu mereka kemudian meninggalkan kamar tersebut. Tadinya Ferdi hanya ingin mengecek keadaan Arvel, namun malah disidang oleh ketiga anak tirinya.
Ia tadinya ada di rumah sakit yang sama dengan tempat Nath di rawat. Hanya saja Nath berada di gedung A, dan Arvel ada di gedung B dan letak gedung tersebut berseberangan.
Ia dan Clara sudah melakukan chat dari saat Nath dibawa. Mereka pun janjian untuk bertemu sambil mengawasi Arvel.
"Stress dan pressure tuh emang jadi penyebab hampir segala penyakit."
Clara berujar ketika Ferdi menceritakan kondisi Nath. Saat ini mereka telah berada di kantin rumah sakit dan sudah memesan makanan.
"Iya, dan Nath kan orangnya gitu. Dia tertutup banget untuk hampir segala hal. Teman nggak banyak, itu-itu aja. Nggak mau cerita juga. Jadi ya, cocok." ujar Ferdi.
"Makanya kadang aku suka ketawa kalau ada postingan anak orang kaya. Terus netizen dengan seenak jidat bilang, enak ya bapak emaknya kaya." Clara berkata pada Ferdi.
"Secara keuangan memang sedikit menang, tapi bukan berarti punya uang semua masalah bisa selesai gitu aja. Sekedar nggak mikir keras gimana caranya makan hari ini dan besok, bukan berarti kita nggak punya masalah, nggak punya tekanan." lanjutnya kemudian.
"Bener banget. Orang mengira dengan jadi anak orang kaya, hidup enak dan bahagia setiap hari. Padahal ya sama aja dengan kehidupan yang lainnya. Semakin kaya orang tua, semakin tinggi tuntutan dan pressure terhadap kita sebagai anak-anak." Ferdi menimpali.
"Apalagi kalau orang tuanya lulusan universitas ternama, beh lebih berat lagi tuntutan ke diri kita." ujar Clara.
"Bener banget." tukas Ferdi.
"Mungkin yang nggak punya mikir gimana caranya menyambung hidup. Karena susahnya cari uang. Sementara kita yang terlahir sebagai anak orang kaya, mikir gimana caranya bertahan hidup dari tekanan dan stress yang kita hadapi. Intinya nggak ada satupun hidup yang sempurna di dunia ini." lanjutnya kemudian.
"Ya, tapi tetap aja kita salah dimata netijen yang paling suci. Dibilang nggak bersyukur udah punya uang banyak. Mereka pikir hidup tuh cuma perkara uang doang, maka semua hal bisa terselesaikan simsalabim." ujar Clara.
Ferdi tersenyum lalu mereguk minuman yang ada di dalam gelas, kemudian melanjutkan makan.
Sementara di dalam kamar, Arvel, Anzel dan Axel tampak berembuk sambil memakan kue.
"Menurut lo berdua itu laptop kita apakan?" tanya Arvel.
Anzel dan Axel saling bersitatap satu sama lain.
"Kalau kata Axel sih, mending di ambil aja. Sayang kan rejeki nomplok."
Axel berujar dengan santai. Arvel melirik ke arah Anzel dan meminta pendapat dari adik keduanya itu.
"Ya karena bingung juga mau balikin ke siapa, ambil aja bang." Ia mendukung Axel.
"Kalau abang nggak mau, biar Axel aja yang mainin."
Arvel kini diam dan memperhatikan tempat dimana tadi Axel menyimpan laptop tersebut.
__ADS_1