Terpaksa Menikahi Janda Kaya

Terpaksa Menikahi Janda Kaya
Pamali


__ADS_3

"Parah sih si Jessica, untung gue sigap."


Jordan berujar pada Ferdi ketika mereka telah berada di jalan pulang.


"Awal yang nguping pembicaraan mereka kan, gue." Sean tak mau kalah.


"Iya tapi gue yang punya ide merekam." ujar Jordan lagi.


"Udah ya, Upin, Ipin. Jangan berantem lagi." Kali ini Ferdi yang bersuara, sambil tertawa.


"Kalian berdua the best koq. Gue hargai itu." lanjutnya kemudian.


"Semoga Jessica kapok abis ini." ucap Jordan lagi.


"Ya semoga aja." tukas Ferdi.


"Nggak abis pikir gue sama tuh cewek." ujar Sean.


"Dia yang main api, dia yang kebakaran sendiri." lanjut pemuda itu.


"Sering kejadian sih, bro." Jordan menimpali.


Sementara Ferdi kini hanya tertawa kecil. Pemuda itu terus mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, dan mereka menyusuri jalan demi jalan.


"Eh, Fer. Besok jadi nggak sih kita latihan?"


Sean mengatakan perihal jadwal latihan karate mereka.


"Jadi dong." jawab Ferdi.


"Lo nggak ada acara di pingit-pingit gitu?" tanya Jordan.


Ferdi pun terbahak.


"Ngapain gue di pingit." tanya nya kemudian.


"Ya kali aja, kayak calon pengantin yang lain. Yang pamali, nggak boleh kesana-kemari." ucap Jordan lagi.


Dan lagi-lagi Ferdi tertawa.


"Kagak, di keluarga gue mah kagak ada yang begitu-begituan. Dulu aja bokap cerita, sehari mau nikah sama nyokap, dia masih di Thailand."


"Ngapain bokap lo disana?" tanya Sean heran.


"Tau, beli ****** lusinan kali di sono. Kalau nggak suntik putih sama oplas idung."


"Hahahaha."


"Anjir." Jordan mengeplak kepala Ferdi.


"Bokap sendiri di cengin, anak durhaka lo." tukasnya kemudian.


Ferdi makin terkekeh, sama halnya seperti Sean.


"Eh, Fer. Tapi pantangan sebelum nikah itu beneran ada loh." ujar Sean.


"Kayak tetangga nenek gue di kampung, kagak di pingit sebelum nikah. Eh, tau-tau pas menjelang hari H, tabrakan motor sampe patah kaki. Akhirnya nikah pake kursi roda." lanjutnya lagi.


"Tetangga nenek gue juga ada, pas hari H nya lewat, kena serangan jantung. Padahal cuma diem dirumah selama seminggu." ucap Ferdi.


"Tapi ya balik lagi, semua itu udah takdir. Lagian kan gue juga nggak ugal-ugalan di jalan kayak driver tong setan."

__ADS_1


Jordan dan Sean terkekeh.


"Dan gue juga nggak kemana-mana selain ke kantor, ke rumah, tempat latihan paling. Ini doang gue ketempat Jessica gara-gara terpaksa."


"Iya sih." ujar Jordan dan Sean di waktu yang nyaris bersamaan.


"Lo berdua cukup doain gue aja, supaya nggak terjadi apa-apa dan semuanya lancar."


"Aamiin."


Jordan dan Sean kembali menjawab secara serentak.


***


"Cla, udah dapat gaun pengantinnya?"


Valerie yang datang bersama Friska ke kantor Clara pada keesokan harinya tersebut, bertanya pada sang sahabat.


"Udah, ntar balik ini mau fitting dulu." ucap Clara.


"Sama Ferdi?" tanya Valerie lagi.


"Nggak, gue sendiri." jawab Clara.


"Lah koq?" Friska heran.


"Bisanya kan baju nikah dua-duanya barengan." ujarnya kemudian.


"Nggak juga." ucap Valerie.


"Tergantung mau pake desainer yang mana." lanjut wanita itu.


"Iya, karena ada juga desainer atau butik yang cuma menjual gaun pengantin cewek." Clara menimpali.


"Tadinya mau bareng ibunya Ferdi. Tapi model yang dia tawarkan ke gue, bling-bling semua. Gue kan karakternya nggak heboh." ucap Clara.


"Emang heboh banget?" Lagi-lagi Valerie bertanya.


"Iya, bagus sih. Tapi gue nya kurang srek aja. Gue lebih suka yang simpel dan elegan. Sementara pilihan ibunya Ferdi yang keliatan wah banget. Kayak princess nyasar tau nggak."


Valerie dan Friska mengangguk-anggukan kepala sambil tertawa.


"Tapi nyokap dan keluarganya Ferdi nggak masalah kan, lo pesan di tempat lain?" tanya Friska.


"Nggak, mereka membebaskan koq. Asik sih keluarganya, nggak banyak ngatur. Orangnya santai-santai banget." ucap Clara lagi.


"Nggak kayak keluarganya Nando ya?" Valerie berkata sambil terus tertawa.


"Hmmh, itu mah nggak usah di tanya." ujar Clara.


"Sampe DNA dan golongan darah kita pun, kalau bisa mereka yang ngatur." lanjut perempuan itu.


Friska dan Valerie pun kian terkekeh.


"Sampe nafas juga diatur ya, beb." Friska menimpali.


"Bukan lagi. Gue bener-bener stress waktu hamil Anzel sama Axel, apa-apa diatur sama mereka. Sampe mau minggat ke luar negri gue rasanya saat itu. Berisik banget sekeluarga, nggak ibunya, saudara-saudaranya. Nyebelin semua." tukas Clara.


"Waktu lo ngadopsi Arvel aja mereka ribut kan?" Valerie mengingatkan.


"Iya, padahal Nando setuju waktu itu. Mereka bilang kalau udah nagdopsi anak takutnya nggak bakalan hamil lagi. Teori dari mana coba?. Padahal terpelajar semua, sekolah di luar negri katanya. Tapi kelakuan dan pikiran pada kolot."

__ADS_1


Clara kembali membuat kedua temannya itu terbahak.


"Udah, yang penting sekarang lo udah lepas dari keluarga stres itu." ucap Friska.


"Iya, gue bersyukur banget." ucap Clara.


"Bisa-bisanya dulu mendiang bapak gue menjodohkan anak tanpa melihat terlebih dahulu bibit, bebet, dan bobot si calon mantu. Udah silau sama kerjasama perusahaan sih waktu itu. Eh ujungnya sekarang si Nando menguasai salah satu cabang, yang udah dibangun bapak gue dengan susah payah."


Friska dan Valerie sama-sama menghela nafas.


"Namanya cerita pengalaman hidup, Cla. Ada aja pasti." ucap Valerie.


Clara mengangguk-anggukan kepalanya.


"Eh, Cla. Lo nanti fitting sama siapa berarti?" kali ini Friska bertanya.


"Ya diantar supir paling, mau ikut?" tanya nya kemudian.


"Mau."


Friska dan Valerie menjawab di waktu yang nyaris bersamaan.


"Ya udah, pada ikut gih. Sekalian lo berdua cari baju bridesmaids." ujar Clara.


Friska dan Valerie tampak sumringah.


"Emang warna baju bridesmaids nya udah di tentukan?" tanya Friska.


"Udah, warna Lila." jawab Clara.


"Asik, kita mau cari-cari sekalian." Valerie menimpali.


"Iya, ntar sekalian aja disana."


Clara kembali berucap. Sementara kini Friska dan Valerie makin terlihat bahagia.


"Lo udah cari souvernir?" tanya Valerie.


"Hmmm, belum sih. Apa ya enaknya?"


Clara balik bertanya pada sahabatnya itu. Sementara Friska dan Valerie tampak berpikir.


"Gelas, payung, mug, atau asbak." ucap Friska.


"Nggak semua orang ngerokok tapi, kalau asbak mah." ucap Valerie.


"Iya juga sih." gumam Friska.


"Jam tangan aja kalau nggak." Valerie memberi ide.


"Tau sendiri undangannya nanti, rata-rata ekonomi elite semua. Malu kalau kasih jam tangan murah. Dikasih yang mahal ntar over budget." ujar Clara.


"Gue nggak mau abis-abisan banget, say. Kasihan Ferdi. Dia yang ngebiayain pernikahan kami." lanjut wanita itu.


"Ferdi semua yang biayain?" tanya Valerie.


"Iya, tapi gue ada maksa pengen bantu juga. Tadinya Ferdi nggak mau, Tapi akhirnya dia menerima kalau gue mau ikut biayain. Cuma gue dibatasi sama dia, ada beberapa aja yang gue boleh bayarin. Sisanya dia dan keluarganya yang keluar duit."


"Ya udah kalau gitu mug aja. Mug kan bisa digunakan oleh orang elite maupun non elite, netral." ucap Friska.


"Iya, itu aja kali ya." Clara sepertinya menyetujui ide tersebut.

__ADS_1


***


__ADS_2