
Clara mulai membicarakan perihal perusahaannya yang sampai saat ini masih berada di tangan Nando. Seperti biasa ia menceritakan hal tersebut pada orang kepercayaan ayahnya.
"Kita sudah bisa mulai untuk menarik semua itu kembali kan, om?" tanya Clara.
"Bisa, tapi kita jangan gegabah. Lagipula kan kamu baru menikah. Takut terjadi keributan yang tidak diinginkan." ujar orang kepercayaan ayahnya tersebut.
"Masa baru menikah, kamu dan suamimu sudah terlibat cekcok dengan Nando. Sebaiknya kalian nikmati saja dulu pernikahan kalian." ujar pria itu lagi.
"Oke deh, berarti aku harus tahan dulu nih?" tanya Clara.
"Iya, sambil nanti om bicara sama yang lain. Biar kita mengambil langkah yang tepat."
"Oke om, nanti kita bicarakan lagi kalau begitu."
"Baik."
Obrolan tentang perusahaan itu pun di sudahi. Clara kembali bekerja dan orang kepercayaan ayahnya itu kembali ke ruangannya.
"Hallo, Cla."
Tiba-tiba Valerie menelpon setelah beberapa saat berlalu.
"Hei, Val. Apa kabar?" tanya Clara antusias.
"Yang apa kabar itu elo, wahai pengantin baru." goda Valerie.
"Udah hamil belum?" godanya kemudian.
"Masa iya secepat itu." ujar Clara sambil tertawa.
"Ye, siapa tau aja ya kan. Si Ferdi semburannya tepat sasaran, langsung dah lu tekdung."
"Hahahaha." Clara tertawa.
"Doain aja." ujarnya kemudian.
"Eh, Cla ada waktu nggak?. Ketemuan yuk, kan belum ketemu pasca elo menikah." ucap Valerie lagi.
"Oke, tapi gue izin dulu ya ke laki gue."
"Cie yang udah punya laki."
"Ih, apaan sih Val?. Clara sewot namun senang.
"Ya udah izin dulu gih sama laki lo, kalau diizinkan segera kabari gue. Biar gue ngabarin Friska."
"Oke-oke. Ntar gue kabarin ya." ujar Clara.
"Oke, ditunggu!"
Valerie pun menyudahi telpon tersebut. Kini Clara mencoba menghubungi Ferdi.
"Hallo, Cla. Kenapa?" tanya Ferdi pada istrinya itu.
"Fer, aku mau minta izin pergi, boleh nggak?" tanya Clara.
"Kamu mau pergi dari hati aku?" Ferdi berseloroh. Membuat Jordan, Sean dan Nova kompak melempar kepalanya dengan buku.
"Buuuk!"
Ferdi pun tertawa meski tanpa suara.
__ADS_1
"Nggak gitu, Ferdi. Aku tuh mau pergi sama Valerie. Mau ketemuan sama dia." ujar Clara sambil tersenyum, pipi wanita itu mendadak bersemu merah.
"Oh ya udah, aku juga mau ngabarin kalau hari ini aku pulang agak malam. Soalnya kita semua lembur di kantor." ucap Ferdi.
"Oke deh, nanti aku tungguin sampai kamu pulang."
"Kamu perginya jangan nggak inget waktu tapi." ujar Ferdi lagi.
"Iya, paling satu atau dua jam doang koq. Ngopi dan ngobrol aja di kafe langganan aku sama teman-teman."
"Oke." jawab Ferdi.
"Aku lanjut kerja dulu ya." ujarnya kemudian.
"Iya sayang, semangat." ucap Clara.
"Makasih sayang."
Clara lalu menutup sambungan telpon tersebut.
***
Di sekolah.
"Heh, sini lo!"
Gibran, musuh yang tempo hari di hajar oleh Axel tiba-tiba mendekat dan menarik kerah baju anak itu. Axel cukup kaget, begitu pula dengan kedua temannya Rafa dan juga Saka yang ada di dekatnya. Axel tak melakukan perlawanan, hanya menatap Gibran saja dengan tajam.
"Kalau lo emang berani, gue mau ajak lo duel one by one."
Gibran melepaskan cengkeraman tangannya di kerah baju Axel. Axel kemudian menarik sudut bibir dan tersenyum penuh maksud pada lawannya itu.
"Kurang sakit yang gue buat tempo hari?" tanya nya kemudian.
"Lo udah mempermalukan gue di depan orang banyak tempo hari. Sekarang gue mau nantangin lo berantem di depan anak-anak sekolah." Lagi-lagi Gibran berujar.
"Oke, lo maunya kapan?" Axel balas menantang.
"Besok jam empat sore. Pas anak-anak bubaran." ujar Gibran.
"Oke, gue terima tantangan lo." jawab Axel.
Gibran menatap Axel dengan penuh kebencian, kemudian remaja itu berlalu begitu saja diikuti teman-temannya.
"Axel, lo serius mau ribut sama dia?" tanya Rafa tak percaya.
"Tempo hari dia udah gue gebukin di kafe." ujar Axel.
"Serius?"
Saka bertanya dengan wajah yang tiba-tiba sumringah. Entah mengapa ia senang saat mendengar Gibran di pukuli oleh Axel.
"Ya, gue sendirian ngelawan mereka." ujar Axel lagi.
"Terus mereka kalah?. Apa lo yang kalah?" tanya Rafa.
"Lo liat dong, siapa yang datang minta pertandingan ulang. Berarti lo tau kan siapa yang kalah." tukas Axel.
Rafa tersenyum, begitupula dengan Saka.
"Anjir, koq lo nggak cerita sih?. Kalau gue disana pasti seru banget tuh." ujar Rafa lagi.
__ADS_1
"Yoi, nggak kebayang gue si Gibran yang sok hebat itu akhirnya tumbang." Saka menimpali.
Lagi-lagi Axel menarik sudut bibirnya.
"Besok, lo akan menyaksikan sendiri." ujarnya kemudian.
***
Malam itu menjelang jam makan malam, Axel terlihat memukul-mukuli samsak tinju yang ada di ruangan gym belakang.
Clara memang menyediakan tempat untuk berolahraga dirumahnya. Dulu tempat itu juga sering dipakai oleh Nando. Tapi kini ia dan anak-anak saja yang sering menggunakan.
"Bak, buk, bak, buk."
Axel memukuli samsak tersebut sambil berusaha fokus.
"Bak, buk, bak, buk."
Dari pintu Arvel dan Anzel memperhatikan adik mereka tersebut. Tak biasa-biasanya Axel begitu fokus latihan dirumah. Sebelum-sebelum itu ia harus ditemani oleh sang kakak. Karena jika tidak, ia tak akan bisa menahan godaan handphone untuk bermain game online. Kakak-kakaknya akan bertindak sebagai pengawas.
"Dia lagi kenapa?" tanya Anzel pada Arvel.
Sementara Arvel hanya diam, dan itu artinya ia tak tau mengenai apa yang terjadi pada Axel.
"Bang, adek mana?" Clara muncul secara tiba-tiba.
"Itu." jawab Arvel dan Anzel serentak.
Clara memperhatikan Axel yang tengah latihan.
"Tumben latihan jam segini." ujarnya kemudian.
"Emang ada pertandingan besok, di klub karatenya dia?" tanya Clara pada kedua anaknya.
"Kayaknya nggak ada deh, ma. Tapi nggak tau juga." jawab Arvel.
"Dek, makan dulu!" Clara berujar pada Axel.
"Mama sama abang, sama om Ferdi, duluan aja. Axel tanggung nih, abis ini mau mandi dulu. Mama kan tau Axel mandinya lama, ntar udah pada laper nungguin Axel."
"Oh ya udah kalau gitu. Mama sama yang lain duluan ya?"
"Iya, duluan aja!" ujar Axel lagi.
"Yuk bang, kita makan." ajak Clara kemudian.
Lalu Arvel dan Anzel pun mengikuti langkah Clara. Mereka makan bersama dengan Ferdi.
"Axel mana?" tanya Ferdi pada Clara, ketika tak melihat Axel ada disana.
"Lagi latihan tuh, nggak tau dalam rangka apa." jawab Clara.
"Latihan apaan?" tanya Ferdi.
"Tuh lagi mukul-mukulin samsak tinju."
"Dia nggak makan emangnya?" Lagi-lagi Ferdi bertanya.
"Katanya kita disuruh duluan aja, dia mau mandi dulu."
"Oh, oke." jawab Ferdi kemudian.
__ADS_1
Mereka pun akhirnya lanjut makan, sementara Axel masih meneruskan latihannya.