Terpaksa Menikahi Janda Kaya

Terpaksa Menikahi Janda Kaya
Ternyata


__ADS_3

Tiba di rumah sakit, Ferdi langsung mengecek kondisi Nath. Bosnya itu tampak tertidur dan mengeluarkan suara seperti mengigau sesekali.


"Gimana hasil pemeriksaannya, bro?" tanya Ferdi pada Jordan.


"Untuk sejauh ini dia stabil. Tapi untuk selanjutnya masih dalam tahap observasi lebih lanjut. Dokter mau mencari tau dulu apa penyebabnya. Karena belum kelihatan apa-apa sampai saat ini." jawab Jordan.


Ferdi menghela nafas lalu memperhatikan Nath.


"Bro, lo harusnya baik-baik aja. Lo nggak boleh kenapa-kenapa." ucap Ferdi.


Jordan pun jadi turut memperhatikan Nath. Ia dan Ferdi sama-sama takut terjadi sesuatu pada bos mereka itu. Sebab selama ini Nath di kenal sebagai sosok pemimpin yang baik dan juga friendly.


Ia tegas, namun tidak pernah bersikap arogan. Ataupun memberi tembok tinggi antara bos dan juga karyawan.


Nath juga bukan tipikal bos garing yang tidak bisa diajak nongkrong bareng. Ia justru sebaliknya, meskipun disaat ia harus marah mengenai pekerjaan, maka ia tak akan segan untuk marah. Apabila memang karyawannya melakukan kesalahan yang fatal.


***


"Jeff."


Adrian menelpon Jeffri yang tengah sibuk dengan laptopnya di rumah.


"Iya, bro." jawab Jeffri.


"Kita dapat masalah lagi." tukas Adrian.


Sahabat Jeffri itu coba menjelaskan dan Jeffri kini mendadak terdiam. Tak lama ia pun bergegas mengambil kunci mobil lalu keluar dari rumah.


Sementara itu di kediamannya, Ninis resah. Sebab sejak tadi Nando tak jua bisa di hubungi. Padahal ini sudah beberapa jam berlalu pasca dia pamit bermain golf.


Hari menjelang gelap, namun belum ada tanda-tanda suaminya tersebut akan pulang. Tentu saja karena Nando tengah terhipnotis oleh simpanan barunya, Wina.


Apalagi simpanan baru ini sangat menggoda, manja dan juga lebih cantik parasnya ketimbang Ninis. Memang tak secantik Clara, tapi cukup untuk menjadi karma bagi Ninis, yang selama ini tak berperasaan merusak rumah tangga orang lain.


"Om, kapan om mau menceraikan istri om itu. Ntar keburu buncit perut aku."


Wina yang memakai pakaian sangat menggoda tersebut kini mendekat dan bermanja-manja pada Nando yang tengah duduk di sofa.


Nando menjawab lalu mencium bibir wanita muda itu, seraya menempelkan tangan di dada kirinya. Kemudian tangannya membuat gerakan mengurut-urut disana.


"Hmmh, om. Aku kan jadi geli lagi." ujar Wina.


"Aku kesini memang untuk membuat kamu geli sepanjang waktu sayang." Nando terus melakukan aksinya.


"Om nggak jawab pertanyaan aku. Kapan mau menceraikan dia." tanya Wina.


"Tunggu kamu positif." jawab Nando.


"Hamil?" tanya Wina lagi.


"Iya dong, apalagi?"


"Kenapa harus nunggu sampai aku hamil dulu?"


"Mendingan om cerai sebelum aku hamil, abis itu kita bisa nikah juga."


"Biar aku punya alasan untuk ninggalin dia." jawab Nando.


"Tapi dulu om nggak nunggu dia hamil dulu, buat cerai dari yang pertama." tukas Wina lagi.

__ADS_1


"Itu kan karena istri pertamaku yang menggugat cerai. Kalau ini dia belum menggugat apa-apa. Makanya cariin perkara dulu biar dia mau menggugat cerai."


Wina menghela nafas. Jalan ninja satu-satunya adalah, ia harus segera mengandung bayi Nando. Agar segera menyandang status nyonya dan menggeser posisi Ninis.


"Sayang, aku tegang lagi." bisik Nando ditelinga wanita muda itu.


Maka Wina pun segera memanfaatkan keadaan. Ia meraih sesuatu yang dibilang Nando tegang tersebut lalu menggenggam dan mengelusnya sambil memberikan ciuman.


Ia juga melebarkan kaki sehingga tangan Nando bisa bermain dengan leluasa diantara kedua pahanya.


"Hmmmh, om."


Dalam sekejap mereka terlihat sudah bercinta. Wina kembali di garap oleh Nando untuk yang kedua kali setelah jeda yang pertama cukup lama.


Wina benar-benar membuat Nando lupa diri dan mengembalikan kebiasaan selingkuhnya yang sempat terhenti beberapa waktu belakangan ini.


***


"Hueeek."


"Hueeek."


"Hueeek."


Tiba-tiba Clara terdengar muntah di kamarnya. Anzel yang tengah melintas di depan sana kini terdiam.


"Hueeek."


"Hueeek."


"Hueeek."


"Mama."


Anzel mencoba memanggil. Clara saat ini masih berada di dalam kamar mandi dan masih terdengar muntah.


"Hueeek."


"Hueeek."


Lalu terdengar bunyi flush kloset yang dipencet.


"Mama."


Axel mengetuk pintu kamar mandi. Clara segera membukanya. Wajah wanita itu begitu pucat pasi.


"Abang."


Ia menyebut Anzel dengan tubuh sempoyongan. Maka Anzel pun segera menyambut wanita itu.


"Bang, bisa tolong ambilkan mama minum nggak bang. Penglihatan mama gelap."


Clara tampak seperti orang yang begitu kelelahan.


"Iya, abis ini langsung abang ambilin. Mama ke tempat tidur dulu." ujar Anzel seraya memapah ibunya tersebut ke arah tempat tidur.


"Hmmh, mama kenapa ya bang?" tanya Clara lalu,


"Buuuk."

__ADS_1


Tiba-tiba saja wanita itu jatuh tak sadarkan diri dan Anzel refleks menangkap tubuhnya.


"Axeeel."


"Abaaang."


Remaja itu meneriakkan nama adik dan juga kakaknya. Tak lama Axel dan Arvel pun datang dan secara serta merta langsung membantu Anzel.


"Mama kenapa?" tanya Arvel panik. Axel pun tak kalah paniknya dengan sang kakak.


"Nggak tau tadi dia muntah dan tiba-tiba pingsan begini." jawab Anzel.


Mereka kemudian membawa dan membaringkan tubuh Clara ke atas tempat tidur.


"Axel lo telpon om Ferdi sekarang." perintah Anzel. Sementara Arvel mencoba membangunkan Clara.


"Iya bang, Axel ambil handphone dulu."


Axel bergegas mengambil handphone miliknya di kamar lalu menghubungi Ferdi. Beruntung Ferdi saat itu tengah memegang benda yang sama, hingga tak perlu bagi Axel untuk menunggu. Karena pemuda itu segera menjawab panggilan.


"Hallo, Axel." ujar Ferdi.


"Om, mama om."


"Mama kenapa?" tanya Ferdi.


Axel segera memberi tahu keadaan ibunya. Ferdi pun terkejut dan bergegas pulang ke rumah. Sesampainya di rumah ia tak banyak bicara lagi dan langsung melarikan Clara ke rumah sakit.


***


Tubuh yang dingin perlahan hangat kembali. Cahaya lampu yang cukup terang memaksa Clara membuka mata. Kini disisi wanita itu ada Ferdi dan di dekat pintu berdiri ketiga anaknya.


"Fer, aku kenapa?" tanya Clara dengan suara yang masih lemah.


Ferdi tersenyum dan menatap wanita itu serta membelai kepala dan rambutnya.


"Nggak apa-apa sayang." ucapnya kemudian.


Clara masih bingung.


"Aku kecapean gara-gara car free day ya?. Apa gara-gara aku jajan tadi."


"Nggak, kamu hamil." ucap Ferdi


"Hah?"


Clara terkejut mendengar semua itu.


"Hamil?" tanya nya kemudian.


Ferdi mengangguk. Clara menatap suaminya tersebut lalu menoleh pada anak-anak. Ia sangat takut ketiga anak itu akan membencinya. Namun mereka bertiga tersenyum pada Clara.


"Kalian, nggak apa-apa?" tanya Clara masih dengan kekhawatiran yang cukup besar.


Ketiga anak itu mendekat.


"Kita nggak apa-apa koq, ma. Kita senang."


Arvel mewakili saudaranya. Clara langsung memeluk ketiga anaknya itu dan Ferdi kini tersenyum menatap mereka.

__ADS_1


__ADS_2