
Sinar matahari pagi mulai masuk melalui celah gorden. Clara yang matanya terasa silau tersebut terpaksa menyudahi tidurnya yang nyenyak.
Ia menggeliat dengan merentangkan kedua tangannya ke atas lalu menoleh. Namun Ferdi sudah tidak ada di sisi wanita itu.
Clara bingung. Sebab biasanya ketika menoleh, pasti ada Ferdi yang tersenyum kepadanya. Mereka selalu bangun di waktu yang nyaris bersamaan.
Tapi kali ini agaknya Ferdi bangun lebih awal. Mungkin karena mau ke toilet, pikirnya. Clara pun menoleh ke arah kamar mandi dan tak ada suara maupun tanda-tanda pergerakan disana.
Seketika ia menyadari jika kamar sudah rapi dan bersih. Hanya bagian tempat tidur saja yang masih kusut, sebab masih ia gunakan.
Clara beranjak, ia membuka pintu kamar mandi dan Ferdi tak ada di dalamnya. Kemudian wanita itu membuka pintu kamar dan melihat lantai di depan kamar yang juga telah kinclong. Ia melangkah ke ruangan tengah.
"Ma, lewat sebelah sana, ini masih basah." ujar Anzel.
Clara kaget melihat anak itu mengepel lantai. Kemudian Arvel secara serta merta menariknya ke sisi lain.
"Lewat sini, ma." tukas remaja itu.
Maka mereka melangkah. Axel terlihat membawa banyak tumpukan pakaian.
"Kamu mau ngapain dek?" tanya Clara.
"Abang, ma." ujarnya membenarkan.
"Iya, abang mau kemana bawa baju begitu?"
"Mau nyuci." jawab Axel.
Clara masih kaget, sebab tak biasanya anak-anak itu tampak rajin di pagi hari.
"Mama mau ke ruang makan kan?" tanya Arvel.
"Iya, koq kamu jadi gandeng mama gini sih?. Mama nggak apa-apa koq jalan sendiri."
"Jangan ma, nanti jatuh. Anzel ngepel barbar soalnya. Kayak kapal Titanic tenggelam." ujar Arvel.
Clara tertawa, mereka tiba di ruang makan. Di dapur Ferdi tampak sibuk memasak sesuatu.
"Fer, kamu ngapain?" tanya Clara.
"Bikin sarapan buat kita semua." jawab Ferdi.
"Kalian pada kenapa sih?. Tumben banget pagi gini udah pada geratakan." Clara berujar sambil duduk. Kursinya di tarik oleh Arvel.
"Makasih ya sayang." ujar Clara pada Arvel.
"Sama-sama."
"Ya nggak apa-apa dong, emang kenapa kalau kita pada bangun pagi. Kan sehat juga." ujar Ferdi.
"Ya aneh aja." tukas Clara.
__ADS_1
Tak lama Arvel berlalu, ia tampak membersihkan bagian depan.
"Mau dibantu nggak?" tanya Clara.
"Nggak usah." ujar mereka semua secara serentak.
Kebetulan Axel juga kembali untuk mengambil segelas orange jus yang ada di di atas meja makan.
"Mending mama minum jus aja nih." ujar Axel.
"Ntar kalau mama capek, dedeknya kenapa-kenapa lagi." lanjutnya kemudian.
"Iya tapi kan mama juga harus gerak."
"Tadi kan udah gerak dari kamar kesini." Lagi-lagi Axel berujar.
Clara tersenyum. Mungkin kehamilannya lah yang membuat keempat laki-laki di rumahnya ini, jadi bergerak dan mengerjakan banyak hal.
"Nih, sarapannya udah pada jadi." ucap Ferdi seraya meletakkan dua piring ke atas meja makan. Lalu ia kembali ke dapur dan mengambil tiga piring lainnya.
Di dalam piring-piring tersebut terdapat telur orak-arik, potongan daging, irisan tomat, kacang rebus, dan juga kentang tumbuk.
"Dek ajak abang makan." ujar Ferdi pada Axel.
"Koq masih adek?. Abang dong om." tukas Axel.
"Iya, bang. Panggil dua abang yang lain gih!. Kita sarapan bareng." ucap Ferdi.
"Oke."
"Hmmph."
Clara tiba-tiba ingin muntah di sela-sela makan.
"Kenapa sayang?"
"Kenapa, ma?"
Ferdi dan ketiga anak bertanya pada Clara di waktu yang nyaris bersamaan. Clara diam menatap mereka semua, namun kemudian ia tertawa.
"Kamu kenapa?" tanya Ferdi sekali lagi.
Clara masih tertawa.
"Aku mendadak mual, tapi..." Ia kembali tertawa.
"Udalah, nggak jadi juga mau muntahnya." lanjut wanita itu kemudian.
"Beneran nggak apa-apa?" tanya Ferdi khawatir.
"Iya ma, kalau ada perasaan gimana-gimana bilang aja." ucap Arvel.
__ADS_1
"Nggak usah ngerasa nggak enak sama kita, ma." Anzel menimpali, diikuti anggukan Axel.
Clara kembali tertawa, ia benar-benar bahagia pagi ini. Entah hal baik apa yang telah ia lakukan di masa lalu, sehingga karmanya begitu terasa manis dan mengharukan seperti ini.
"Mama nggak apa-apa koq. Nanti kalau ada apa-apa, pasti mama kasih tau kalian." ujar Clara.
"Janji ya, ma." Axel memastikan.
"Iya sayang." tukas wanita itu lagi.
Kemudian mereka semua melanjutkan makan. Usai makan, Clara hendak membereskan piringnya.
"Nggak usah, Cla. Biar aku aja." Ferdi menyambar piring yang ada di tangan sang istri.
"Bang, antar mana ke kamar." ucap pria itu lagi kepada Arvel.
Arvel lalu berdiri dan mendekat pada Clara.
"Ayo ma!" ujarnya kemudian.
"Oke."
Clara mengalah, meski sesungguhnya ia ingin berjalan kemanapun yang ia mau. Sebab pekerjaan mengepel Anzel belum selesai.
Arvel mengantar Clara kembali ke kamar, Axel lanjut mencuci baju. Sedang Anzel kembali membuat rumah manjadi kapal Titanic. Ferdi sendiri mencuci piring, kemudian di bantu oleh Arvel.
***
Setengah jam lebih berlalu, Clara tak kunjung mendapati Ferdi masuk ke kamar. Padahal jika proses cuci-mencuci piring dan membereskan dapur sudah selesai. Harusnya saat ini pria itu sudah kembali ke kamar.
"Ah, mungkin menonton televisi atau merokok di luar rumah." pikir Clara.
Maka perempuan itu beranjak, sebab ia ingin sekali minum air putih. Ia juga tak ingin menjadi wanita manja yang apa-apa minya diambilkan. Hanya karena tengah hamil.
Ketika Clara keluar dan tiba diruang tengah. Ia mendapati sebuah pemandangan yang mengejutkan.
Dimana suami dan anak-anaknya sudah tertidur bergelimpangan. Ada yang di sofa dan ada juga yang di karpet bulu.
Clara tersenyum. Mereka tampaknya begitu lelah, karena tak biasa mengerjakan pekerjaan rumah dengan seniat itu.
Clara mengambil handphone, kemudian memotret mereka dan meng-uploadnya di insta story. Dengan wajah mereka yang masing-masing di beri stiker oleh wanita itu. Karena tak semua orang suka fotonya tengah tertidur diunggah ke sosial media.
"Makasih ya udah capek-capek bantuin mamanya yang lagi hamil. Love you suami dan anak-anak tercinta ku."
Clara menulis caption seperti itu di insta story tersebut. Dan orang yang pertama melihatnya adalah Nando, kemudian di susul Jessica. Lalu para pengikut Clara yang lainnya.
Tubuh Nando dan Jessica sama-sama gemetar. Kini mereka berdua tau jika Clara saat ini tengah mengandung.
Bahkan hal tersebut menjadi sesuatu yang sangat mengganggu pikiran mereka. Itu artinya ikatan diantara Ferdi dan Clara akan semakin erat.
"Brengsek." ujar keduanya di waktu yang nyaris bersamaan. Namun saat ini mereka berada di dua tempat yang berbeda.
__ADS_1