
Dari kejadian di ruangan Nath tadi, Ferdi kini jadi teringat pada clue-clue lain yang sejatinya telah terlihat selama ini. Namun tak pernah ia sadari.
Contohnya saja ketika mereka tengah pergi bersama waktu itu. Nath begitu perhatian pada Arvel. Meski ia tak tebang pilih dan memberikan hal serupa kepada Axel dan juga Anzel. Tetapi perlakuannya terhadap Arvel agak sedikit berbeda.
"Kira-kira obat yang bagus apa ya?"
Ferdi sengaja menanyakan hal tersebut pada Jordan, disaat Nath tengah melintas dan Ferdi pura-pura tak melihatnya.
"Obat apa?" tanya Jordan.
"Itu anak gue yang pertama, dia tuh sakit terus beberapa hari ini. Dan nggak mau dibawa ke dokter." ucap Ferdi.
"Degh."
Nath tampak menghentikan langkah dan refleks menoleh ke arah Ferdi. Dari pantulan kaca pembatas ruangan, Ferdi bisa melihat semua itu.
"Beli aja Paracetamol, bro. Kalau cuma sekedar demam doang mah." ucap Jason."
"Oh iya, ya. Ntar deh gue beli deh." ucap Ferdi kemudian.
Tak lama Nath berlalu.
Sore hari Ferdi menunggu di teras rumah, adakah orang yang mengirimkan obat secara misterius kepada Arvel. Namun setelah cukup lama berlalu, tak ada tanda-tanda hal tersebut akan terjadi.
Ferdi pun kemudian masuk ke dalam, tetapi kecurigaannya terhadap Nath belum juga usai. Selang beberapa saat memang ada ojek online yang datang membawa bungkusan obat, dan itu tertera untuk Arvel.
Sekuriti memanggil Arvel yang kebetulan tengah melintas, lalu memberikannya. Arvel yang bingung langsung menerima saja obat itu dan membawanya kedalam.
Tanpa ada seorang pun yang a beritahu. Dan pada saat itu terjadi, Ferdi tengah mandi bersama Clara. Sedang Anzel dan Axel tidur di kamar mereka masing-masing.
***
Esok hari, saat jam makan siang. Ferdi terlihat mengambil handphone dan menghubungi seseorang
"Hallo, bang Arvel. Om boleh minta tolong nggak?. Nanti ambil orderan om."
Ferdi kemudian menyebut nama sebuah toko atau outlet yang berada di sebuah mall.
"Tolong ya, nak." ujarnya kemudian.
Tak lama ia sudah terlihat menutup telpon dan kembali bekerja.
__ADS_1
***
Nando masih teringat ucapan Jessica kemarin mengenai Ferdi. Dan saat ini dirinya tengah senyum-senyum sendiri memikirkan hal tersebut.
Meski masalah yang ia hadapi belum juga usai. Netizen masih saja ribut dan menyerang akun miliknya dan juga akun milik Wina.
Nando merasa menang dan hendak menertawai Clara. Tentang betapa bodohnya perempuan itu, dinikahi hanya untuk dimanfaatkan.
Sementara itu di lain pihak, Jeffri terus berjuang untuk menyelesaikan permasalahan yang tengah ia hadapi.
Meski ia terlihat begitu lelah dan juga stress. Sampai-sampai hal tersebut mengundang perhatian Frans. Meski ia tak suka jika Ferdi dimanfaatkan untuk kepentingan perusahaan. Namun ia tetap sangat peduli kepada sang ayah.
Frans benar-benar tidak tega melihat kondisi Jeffri saat ini. Ia berusaha keras untuk membantu ayahnya itu, meski hasil yang didapat pun sangat sedikit.
***
Sebuah mall, di sore hari.
Nath yang baru tiba langsung keluar dari dalam mobil, lalu masuk ke dalam melalui loby basemen. Pria itu mengambil langkah menaiki beberapa eskalator dan melewati lantai demi lantai. Kemudian ia menuju ke arah sebuah outlet yang berada di lantai 3
Sementara dari lain sudut seseorang tampak berdiri sambil memperhatikan dirinya. Nath melihat kesana-kemari, tatkala ia tiba di muka outlet tersebut. Seperti tengah berusaha menemukan apa yang ia cari.
Matanya terus saja menjelajah ke segala arah. Sampai kemudian ia terdiam, ketika mendapati Ferdi yang berdiri di muka.
Ferdi langsung menjudge ke arah sana. Tampak jelas saat itu Nath tersentak. Ia bahkan tak mampu menjawab apa-apa.
"Foto yang lo ambil kemarin dilantai, itu bukan punya lo." Ferdi kembali berujar.
"Gue ambil foto itu dari album yang ada di rumah dan sengaja gue letakkan di lantai ruang kerja lo." lanjutnya lagi.
Nath makin diam, seperti ia telah di serang dari berbagai sisi.
"Lo punya foto yang seperti itu kan?" tanya Ferdi kemudian.
Nath terus diam dan tampak sudah tidak nyaman di posisinya .
"Gue tau dia anak lo."
Ferdi benar-benar membuatnya kian tersentak.
"Gue harus pulang." ujarnya kemudian melangkah.
__ADS_1
"Sampai kapan lo akan membohongi diri lo sendiri kayak gini?"
Ferdi menghentikan langkah Nath. Tampak atasannya itu membeku dengan tubuh yang mulai gemetar.
"Dia akan tumbuh dewasa dan punya kehidupannya sendiri suatu saat nanti. Dan lo akan semakin kehilangan dia, kalau lo terus-menerus merahasiakan hal ini." ucap Ferdi.
Nath tetap tak memberikan jawaban. Dan saat ini ia kembali hendak berlalu.
"Nath." Lagi-lagi Ferdi menghentikan langkah sang atasan.
"Dia udah lama tau kalau dia anak angkat. Dan gue yakin dia juga pengen tau orang tua kandungnya siapa."
"Apa Clara udah siap, kalau anak itu gue ambil."
Kali ini Nath berkata sambil menoleh dan menatap Ferdi. Gantian Ferdi yang tersentak. Ia ingat betapa sayangnya Clara terhadap Arvel.
"Gue cuma menjaga perasaan Clara, sebagai ibu yang selama ini merawat dan membesarkan dia." ucap Nath lagi.
"Dan lagipula kalau dia sama gue, hidupnya akan beresiko besar. Keluarga gue selalu mau melenyapkan dia bahkan sejak dia masih bayi. Gue nggak akan membahayakan nyawa anak gue sendiri. Hanya karena keinginan gue untuk supaya dia tau, kalau gue ini bapaknya. Hanya karena gue pengen dia memanggil gue bapak dan gue mendapat pengakuan."
Nath memberi jeda pada ucapannya sambil terus menatap Ferdi.
"Gue nggak akan ambil resiko yang terlalu besar." lanjutnya lagi.
"Dia lebih aman berada dalam asuhan Clara dan gue percaya, kalau lo bisa jadi bapak yang baik untuk dia."
Nath kemudian berlalu, tinggallah kini Ferdi terpaku di tempatnya.
***
"Bang, kenapa abang nggak ngasih tau gue soal bang Ar selama ini?"
Axel bertanya pada Anzel, ketika mereka hanya berdua saja di balkon atas. Saat itu Arvel tengah tidur, karena kelelahan membaca buku.
"Ya, gue takut lo nggak bisa terima kenyataan aja. Buktinya lo nangis sampe segitunya kan, begitu tau masalah ini." jawab Anzel.
"Iya sih." ucap Axel kemudian.
"Sampe sekarang masih takut gue, bang. Takut kalau bang Ar diambil sama keluarganya. Kan biasanya gitu. Kayak yang gue tonton di film-film. Seenaknya menelantarkan anak, pas udah gede dicariin." tukasnya lagi.
Kali ini Anzel menghela nafas dalam-dalam.
__ADS_1
"Iya, sama. Gue juga takut dia bakal diambil dan dijauhkan dari kita. Gue sayang sama dia." ucapnya kemudian.
Lalu mereka sama-sama terdiam, dan menjatuhkan pandangan ke suatu sudut.