Terpaksa Menikahi Janda Kaya

Terpaksa Menikahi Janda Kaya
Hari Dimana


__ADS_3

Arvel dan Anzel diam berdiri, ketika beberapa perempuan karyawan butik merapikan ujung jas yang mereka pakai. Keduanya kini berada tepat di depan kaca di sebuah ruangan.


Hati mereka sama-sama galau, sebab ini adalah hari dimana Clara ibu mereka akan menikah.


Sementara Axel yang telah terlebih dahulu memakai jas, tampak makan berbagai makanan seperti roti dan juga kue-kue. Ia tak berada begitu jauh dari kedua kakaknya itu. Bahkan mereka masih berada di ruangan yang sama.


"Nih, udah selesai."


Orang-orang yang membantu merapihkan jas mereka mereka, menyatakan jika tugas mereka telah rampung. Ketiga anak itu terlihat tampan dalam balutan jas tersebut.


Sebab mereka juga memiliki tubuh yang tinggi serta rajin berolahraga. Sehingga memakai apapun mereka terbilang cocok.


"Abang pikirannya masih kusut?"


Axel mendekat dan bertanya pada kedua kakaknya tersebut. Arvel dan Anzel hanya diam, sebab menanggapi Axel sama saja menambah pusing kepala.


"Mending abang pada makan. Roti dan kuenya enak banget loh." Axel menawari.


"Nggak." jawab keduanya serentak.


Mereka lalu mencari tempat duduk dan mulai meraih handphone. Apalagi kalau bukan untuk membuka aplikasi game online. Arvel duduk di sudut kiri, sedang Anzel ada di sudut kanan.


Axel sendiri berada di tengah-tengah dan agak tak digubris oleh kedua kakaknya itu. Namun bukan Axel namanya kalau sampai ia tersinggung.


Dengan santai dan tanpa dosa ia mendekat ke arah Arvel, yang mulai masuk ke ranah permainan.


"Bang."


"Hmm?" jawab Arvel seraya masih memperhatikan handphone.


"Bluuup!"


Axel memasukkan potongan roti secara serta merta ke mulut kakak pertamanya itu. Hingga menyebabkan Arvel kaget lalu menatapnya.


Sementara Axel kemudian mendekat cepat ke arah Anzel dan juga memasukkan kue dadar gulung ke mulut kakak keduanya itu.


"Axel."


Arvel dan Anzel geram. Sebab dari kecil Clara selalu mendisiplinkan mereka dengan tak boleh membuang makanan. Jika sudah diambil, maka harus dihabiskan.


Sedang mereka saat ini sedang tak ingin makan, tapi roti dan kue tersebut sudah terlanjur masuk ke mulut mereka. Maka jadilah mereka harus bertanggung jawab.


"Nyebelin banget."

__ADS_1


Arvel menggerutu sambil menggigit roti tersebut. Sebab bila ia tidak memakannya, sudah barang tentu Axel akan mengadu pada Clara. Bahwa kakaknya telah menyia-nyiakan makanan.


"Gue tuh lagi nggak mau makan tau nggak?" Anzel berujar kesal.


"Buang aja, paling nanti dimarahin mama." ujar Axel.


"Pengaduan lo, dasar." tukas Anzel sekali lagi, sementara Axel kini hanya nyengir dan lanjut makan.


***


Di ruang lain, tepatnya di sebuah hotel yang tak jauh dari gedung pernikahan. Tampak Ferdi tengah memeluk Frans dengan erat dan begitupun sebaliknya.


Dari pelukan tersebut Frans bisa merasakan emosi Ferdi yang belum stabil. Ia terbilang cukup gugup menghadapi hari ini.


Dan lagi setelah pernikahannya nanti berlangsung, itu artinya ia sudah akan memiliki kehidupannya sendiri.


"Semua akan baik-baik aja, Fer." ucap Frans pada Ferdi. Sementara suhu tubuh adiknya itu mulai naik.


"Lo harus tenang. Kalau nggak tenang, nanti semuanya jadi kacau." ucap pemuda itu lagi.


Ferdi terus memeluk Frans dan Frans menepuk bahu Ferdi. Setelah beberapa saat, ketika dirinya mulai tenang. Jeffri muncul dan memanggilnya. Sebab acara akan segera di langsungkan.


Ferdi dan keluarga bergerak meninggalkan hotel, menuju ke tempat dimana gedung pernikahan berada.


Ia kemudian menuju ke tempat yang telah disediakan untuknya. Jeffri menguatkan hati anaknya itu, begitupula dengan Frans.


Tak lama orang yang akan menikahkan dan para saksi pun hadir. Tanpa membuang waktu banyak, perhelatan tersebut akhirnya di laksanakan. Ferdi menikahi Clara dengan lancar dan hanya dengan sekali ucap.


"Bagaimana saksi?. Sah?"


"Saaaah."


Saksi dan para hadirin menjawab, termasuklah Axel yang volume suaranya cukup besar.


"Axel." Anzel melotot ke arah adiknya itu.


"Ye, orang kita ditanya masa nggak jawab." Axel membela diri.


"Kan yang ditanya itu saksi, bukan kita." ujar Anzel lagi.


"Definisi saksi apa ayo?" tanya Axel kemudian.


"Orang yang menyaksikan kan?" lanjutnya lagi.

__ADS_1


Anzel benar-benar keki kali ini.


"Berarti kita juga saksi, soalnya kita menyaksikan." Lagi-lagi Axel berucap. Anzel kini memilih diam dengan hati yang super dongkol.


***


Tak lama kemudian, Ferdi berdiri didekat tempat yang tadi. Sebab sebentar lagi mempelai wanita akan dibawa masuk. Setelah tadi gugup mengucapkan ikrar pernikahan, kini Ferdi kembali gugup menantikan Clara.


Hadirin diminta berdiri dari duduk masing-masing. Mereka kini menghadap agak condong ke jalan tengah, tempat dimana karpet merah panjang di gelar untuk menyambut kedatangan pengantin wanita.


"Kreeek."


Suara pintu yang menuju ke ruangan itu pun terdengar. Pintu tersebut terbuka, tampak seorang pria yang tiada lain adalah om dari Clara masuk, dengan menggandeng wanita itu. Di belakang Clara terdapat beberapa bridesmaids yang terdiri dari beberapa teman akrabnya.


Jantung Ferdi berdegup kencang, pasalnya Clara terlihat begitu cantik dan beda dari biasanya. Hadirin mulai melempar kelopak bunga di sepanjang jalan yang di lalui Clara.


Clara tersenyum. Sama halnya seperti Ferdi, wanita itu pun merasa gugup. Sebab kini yang berdiri dihadapannya bukan lagi kekasih, melainkan sudah suaminya yang sah.


Mereka terus melangkah, hingga paman Clara menyerahkan sang keponakan pada Ferdi. Kemudian mereka menandatangani apa-apa yang harus di tanda-tangani.


Tak lama keduanya saling memasangkan cincin di jari masing-masing. Ferdi lalu mencium kening Clara. Membuat nafas Arvel dan Anzel memburu. Kedua remaja itu sempat berpaling sejenak ke arah lain. Sementara Axel tampak sumringah.


Lalu foto dan video mereka semua pun diambil oleh fotografer dan juga videografer. Raut bahagia terlihat di wajah keduanya dan juga hadirin. Terutama teman-teman dekat dari kedua mempelai.


"Dream wedding banget sih ini." ujar Nova sambil terus merekam.


"Pokoknya ntar gue nikah harus kayak gini." ujarnya lagi.


"Cari dulu aja calonnya yang bener." celetuk Jordan.


"Iya, ini juga lagi pedekate sama seseorang. Tapi kalian nggak boleh tau." ujar Nova.


"Ntar kalian kacaukan lagi kayak yang kemaren." lanjutnya kemudian.


Jordan dan Sean yang mendengar semua itu pun terkekeh.


"Lagian lo mau aja diajak-ajak. Orang kek jaim dikit gitu, biarin dia yang ngajar elo." tukas Sean.


"Tau lo, Va." Jordan menimpali.


"Udah ah, gue mau kasih selamat ke Ferdi sama istrinya."


Nova menjauh dan mulai bergerak ke arah Ferdi. Sementara kini Jordan dan Sean mengambil minuman, setelah itu mereka pun pergi menyusul Nova bersama yang lainnya. Mereka semua memberi selamat pada Ferdi dan juga Clara.

__ADS_1


__ADS_2