Terpaksa Menikahi Janda Kaya

Terpaksa Menikahi Janda Kaya
Hadiah


__ADS_3

"Papa berdoa dulu dong."


Axel berkata pada Ferdi sementara kini Arvel menghidupkan lilin diatas kue. Ferdi pun lalu berdoa, kemudian meniup lilin tersebut. Kemudian istri dan ketiga anak sambungnya bertepuk tangan.


"Yeaaaay."


"Semoga papa makin dewasa dan makin sayang sama mama, sama kita juga." Axel mulai menyampaikan harapannya.


"Aamiin." jawab mereka serentak.


"Abang apa harapannya, bang?" tanya Clara pada Arvel dan juga Anzel.


"Semoga om Ferdi makin kaya dan jangan lupa jajanin kita semua." ucap Anzel sambil tertawa.


"Aamiin."


"Abang Ar?" tanya Clara.


"Semoga sehat selalu dan panjang umur." jawab Arvel.


"Aamiin."


"Mama harapannya apa?" tanya Axel pada Clara.


"Semoga papa sehat selalu, panjang umur, dan sayang sama kita semua."


"Aamiin."


Tak lama setelah itu mereka sudah terlihat makan bersama sambil berbincang di meja makan. Sesekali salah satu dari mereka mengambil gambar maupun video, untuk kemudian mereka upload di sosial media.


Ferdi senang ia menikah dengan wanita yang tepat. Meski awalnya seorang janda, tetapi Clara memiliki hati yang baik. Sehingga anak-anaknya pun tumbuh dalam kebaikan. Dan kebaikan mereka itulah yang kini membuat Ferdi merasakan kebahagiaan secara utuh.


"Bu, paket."


Terdengar suara teriakan satpam dari luar.


"Tuh udah sampai." ucap Clara pada anak-anaknya."


Ketiga anak itu beranjak. Ferdi bingung mengapa tak satu orang saja yang mengambil, jika mereka memesan sesuatu.


"Nih sekalian bawain satu kotak pizza buat sekuriti, ntar nasi kuningnya mama wadahin juga." ucap Clara.


"Oke." jawab mereka.


Ketiganya lalu keluar sambil membawa kotak pizza, sedang Clara mengambil piring untuk mewadahi nasi kuning yang telah ia buat sejak jam empat pagi tadi.


Tak lama anak-anak kembali, Clara pergi keluar sejenak untuk mengantarkan nasi kuning. Tak lama ia kembali dan lanjut makan. Usai makan mereka berkumpul di ruang tengah. Saat itu ketiga anak sambung Ferdi memberi hadiah.

__ADS_1


"Ini buat om Ferdi."


Arvel membuka paket dan menyerahkan dua kemeja warna hitam dan putih pada ayah sambungnya itu. Ferdi kaget sekaligus terharu. Karena ternyata paket yang mereka ambil tadi berisi hadiah untuknya.


"Makasih ya bang." ucap Ferdi lalu memeluk anak itu sejenak.


"Nah, ini dari Anzel. Karena ini dadakan, jadi sorry kalau cuma ini doang." ucap remaja itu.


Anzel menyerahkan dua buah kaos polos dan Ferdi pun menerimanya dengan rasa terima kasih. Seperti tadi mereka pun berpelukan untuk sejenak.


"Axel mana hadiah buat papa?" Ferdi menggoda anak itu.


Axel kemudian membuka paket yang ia beli, lalu menyerahkannya pada Ferdi. Paket Axel lebih kecil ketimbang paket milik sang kakak sebelumnya.


"Nih, pa. Voucher google play." ucap Axel sambil memberikan beberapa voucher google play pada ayah sambungnya itu.


Ferdi tertawa dan menerima hadiah tersebut. Clara yang kini baru tiba dengan membawa beberapa gelas minuman dingin itu pun, ikut tertawa.


"Abang tuh hadiahnya lain dari yang lain ya." ucapnya pada Axel.


"Oh iya dong, Abang Axel gitu loh." Axel memuji dirinya sendiri.


Mereka semua tertawa-tawa, Ferdi berterima kasih sekali lagi pada semuanya. Kemudian mereka lanjut minum dan makan Snack, sambil menonton televisi.


***


"Fer, aku belum kasih hadiah kamu. Nih!"


Clara memberikan satu buah paper bag pada suaminya itu. Ferdi pun membukanya dan ia kaget.


"Cla, ini jam tangan kan mahal banget." ucap Ferdi pada wanita itu.


Clara tersenyum.


"Dulu aku pernah ke luar negri, aku beli ini dan rencana mau aku kasih ke papanya anak. Tapi begitu pulang, aku memergoki dia selingkuh sama Ninis. Sejak saat itu jam tangan ini aku simpan dan nggak pernah aku keluarkan lagi. Sekarang, aku pikir jam ini akan berada di tangan orang yang tepat."


Clara menatap Ferdi dan begitupun sebaliknya.


"Kamu nggak masalah kan dengan latar belakang cerita dari jam tangan ini?" tanya Clara.


Ferdi tersenyum.


"Itu cuma masa lalu." ujarnya kemudian.


Clara jadi ikut tersenyum. Sejatinya ia bisa membeli jam tangan lain, namun akan lebih lama lagi menunggu. Sedang ia baru ingat ulang tahun Ferdi subuh tadi. Maka ia mengambil dulu hadiah mana saja yang ada.


"Walaupun tadinya ini untuk papanya anak-anak, tapi ini belum pernah dibuka dan belum pernah dipakai sekalipun." ucap Clara.

__ADS_1


"Aku percaya koq." jawab Ferdi.


"Tapi apa nggak kemahalan kalau kamu kasih aku hadiah ini?" tanya nya kemudian.


"Cincin yang aku kasih ke kamu aja harganya nggak seberapa." lanjutnya lagi.


"Ini bukan tentang siapa yang bisa memberi lebih, Fer. Aku nggak peduli dengan harganya. Kebahagiaan yang kamu kasih ke aku dan anak-anak itu nggak ternilai." ucap Clara.


Ferdi diam, namun kemudian ia mencium kening wanita itu dengan lembut.


"Aku sayang kamu." tukasnya.


Clara lalu mencium bibir Ferdi dan dibalas oleh pria itu. Kemudian Clara meraih tangan Ferdi dan mendaratkan tangan tersebut di perutnya yang mulai membuncit.


"Dedek minta di kunjungi papanya." ucap Clara mesra di telinga Ferdi. Maka gairah laki-laki itu pun seketika melonjak naik.


"Nanti kalau dikunjungi, resikonya makin buncit loh."


Ferdi balas menggoda istrinya itu, dan keduanya sama-sama tersenyum. Tak lama kemudian kegiatan nikmat tersebut pun berlangsung. Ferdi sangat hati-hati dalam melaksanakan tugasnya sebagai seorang suami.


"Aku sayang kamu Fer."


Clara meracau di tengah hantaman benda tumpul milik sang suami. Suaranya nyaris berbisik, namun itu menjadi terdengar seksi di telinga Ferdi.


"Aku juga sayang kamu, Cla. Ssshhh, hmmh."


Ferdi terus bergerak maju-mundur.


"Fer, hmmh, ssshhh."


Ferdi mencium bibir Clara, dan itu menambah nikmatnya suasana. Mereka terus saja melakukan hal tersebut, hingga setelah beberapa saat berlalu keduanya mencapai puncak.


"Hmmmmh."


Clara menahan teriakan. Sementara Ferdi terbelalak matanya dengan kepala menengadah ke atas. Kemudian keduanya sama-sama terhempas. Mereka tersenyum satu sama lain, lalu Ferdi mencium kening Clara.


"Ini hadiah paling enak yang pernah aku terima di hari ulang tahun aku." ucap Ferdi dengan nada masih nakal kepada Clara.


Di puji seperti itu Clara jadi melayang hatinya di udara. Ia merasa sebagai wanita yang dicintai secara utuh.


"Happy birthday ya, Fer. Jangan tinggalkan aku dan anak-anak. Aku butuh kamu, karena aku sayang kamu."


Ferdi membelai kepala istrinya itu dengan lembut.


"Aku janji nggak akan melakukan hal jahat semacam itu." ucap Ferdi.


"Kalian keluargaku." lanjutnya lagi.

__ADS_1


Keduanya saling berpelukan satu sama lain.


__ADS_2