Terpaksa Menikahi Janda Kaya

Terpaksa Menikahi Janda Kaya
Fitting Final


__ADS_3

Hari demi hari berlalu. Clara menjalani kehidupannya seperti biasa. Ia tetap menjadi ibu yang mengurus segala keperluan rumah dan pergi bekerja.


Meski Nando masih terus menerornya dan mengancam akan mengambil anak-anak, namun Clara santai saja. Toh, anak-anaknya juga tak akan mau tinggal bersama ayah yang tak pernah perhatian pada mereka.


Mau seribu kali Nando memaksa, jika ketiga anak mereka tidak mau. Maka semua itu tak akan pernah terjadi.


Sama halnya dengan Clara, Ferdi pun tetap menjalani hari-hari seperti biasa. Bahkan ia terlihat seperti orang yang bukan hendak menikah.


"Lo sebenarnya mau nikah apa kagak sih, Fer?" Nova bertanya pada Ferdi, saat mereka telah berada di kantor.


"Kenapa lo tanya kayak gitu?" Ferdi balik bertanya.


"Ya abisnya lo santai banget, kayak orang yang bukan mau nikah."


"Emang kalau mau nikah itu, gue harus gimana?. Harus bersikap kayak apa?" tanya Ferdi heran.


"Ya, gimana kek." jawab Nova.


"Ya, gimana?" Ferdi makin heran.


"Gini loh, Fer." Sean menimpali.


"Maksud Nova tuh, lo nggak ada gimana-gimananya jadi calon pengantin." lanjutnya lagi.


"Ya gimana?" Lagi-lagi Ferdi bertanya dan menjadi semakin bingung.


"Ya, gimana kek." ucap Sean lagi.


"Lo semua kenapa sih?. Ribet banget pembicaraan." Kali ini Jordan nyeletuk.


"Tau tuh mereka." ucap Ferdi sambil tertawa.


Nova dan Sean pun ikut terkekeh.


"Ya, lo tuh kayak nggak ada beban. Nggak khawatir sama pernikahan lo sama sekali. Nggak keliatan gugup juga." ujar Nova lagi.


Ferdi akhirnya mengerti.


"Gue sih gugup, siapa bilang nggak gugup. Cuma kalau lagi kepikiran aja. Kalau lagi nggak kepikiran ya, nggak." jawab pemuda itu.


"Lagian kan yang bagian-bagian riweh, semua udah ditangani bapak gue sama om Adrian. Jadi ya udah, ngapain gue mesti pusing." lanjutnya lagi.


"Lo udah fitting?" tanya Nova.


"Udah, hari ini lah terakhir penyesuaian. Lusa, udah harus jadi."


"Oh iya, minggunya lo merried ya." ujar Jordan.


"Iya." jawab Ferdi.


"Wah kagak nyangka, udah mau hari H aja." tukas Nova.


"Gue belum beli baju lagi." lanjutnya gadis itu.


"Lo beli aja di olshop, biar nggak ribet." Sean memberi saran.


"Pengennya sih beli langsung, takut zonk soalnya kalau di olshop."


"Cari yang ratingnya bagus." ujar Sean lagi.


"Iya juga sih. Ya udah deh, ntar gue cari." ujar Nova.


Mereka pun lanjut berbincang sambil melanjutkan pekerjaan.

__ADS_1


***


Sore harinya Ferdi mendatangi desainer yang dipilih oleh keluarganya. Sejatinya bukan. Desainer baru, namun desainer yang memang sudah biasa melayani keluarga mereka.


Di lemari pemuda itu, sebenarnya masih banyak jas-jas mahal dengan brand-brand dari luar negri. Ia bisa menggunakan salah satu diantaranya, seperti saat lamaran kemarin.


Tapi kata Nathan, pernikahan itu sama saja dengan melangkah menapaki hidup yang baru. Maka usahakanlah memakai sesuatu yang baru pula. Supaya feel menempuh hidup barunya benar-benar terasa.


Berdasarkan hal tersebutlah, Ferdi lalu memutuskan untuk memesan satu jas lagi. Yang khusus ia pakai di hari pernikahannya nanti.


"Ferdi."


Si desainer sekaligus pemilik butik yang rata-rata sama gemulainya dengan desainer atau pemilik butik lain, kini menghampiri Ferdi.


Kebetulan desainer tersebut juga baru tiba dari menemui kliennya yang merupakan seorang artis.


"Gimana, bro. Udah bisa gue coba?" tanya Ferdi.


"Ih, lu mah. Jangan bro dong, emang eke brojol?"


"Jadi apa nih, mbak?" tanya Ferdi seraya tertawa.


"Madam." ucap desainer tersebut.


"Oh, udah madam sekarang. Dulu nona perasaan." seloroh Ferdi lagi.


"Maklum, Udin emak-emak sekarang." ucap si desainer itu lagi dan Ferdi pun kembali tertawa.


"Anak lo bererot ya pasti." celetuk Ferdi.


"Ember, ada delapan noh di rumah. Dua, anjing. Sisanya kucing."


Lagi-lagi Ferdi kembali terbahak. Diketahui desainer tersebut memang ada memelihara hewan di rumahnya, dan selalu ia perlakukan seperti anak sendiri. Ia sering membagikan semuanya di Instagram pribadinya.


Maka Ferdi pun mencoba pakaian tersebut dan memperhatikan apa yang kurang.


"Ini kegedean deh." ujar Ferdi menunjuk ke sebuah bagian."


"Oh iya."


Si desainer mulai menandai bagian tersebut. Termasuk beberapa bagian lain yang dirasa belum begitu pas.


"Oke deh, berarti ini doang ya yang mesti di revisi." ujarnya kemudian.


"Oke." jawab Ferdi.


***


Tak jauh berbeda dengan Ferdi, Clara pun hari ini menjalani fitting terakhir sebelum gaunnya di rampungkan. Bedanya, seluruh bagian sudah pas dan tak ada yang mesti di kecilkan lagi.


Clara begitu puas dengan look gaun tersebut. Sebab gaun itu benar-benar membuatnya merasa sangat cantik.


"Gimana, udah puas?"


Desainer yang menangani pembuatan gaunnya bertanya apa Clara.


"Puas banget, ini bagus banget sumpah." Clara masih mematut diri di depan kaca dan mengagumi gaun tersebut.


"Usahakan makan stabil aja, biar pas hari H nggak ada kenaikan berat badan."


"Iya, beres deh pokoknya." ujar Clara.


Wanita itu kemudian mengambil handphone, lalu mengambil foto dan video dirinya melalui kaca. Setelah semuanya diambil ia berniat meng-uploadnya ke sosial media.

__ADS_1


Namun kemudian niat itu ia urungkan. Mengingat gaun pengantin ini sangat sakral baginya, dan hanya boleh dilihat Ferdi ketika hari pernikahan mereka nanti.


Jika sudah di upload di sosial media, takutnya Ferdi malah melihat. Dan di saat hari pernikahan tiba nanti, semua sudah tidak wah lagi.


***


"Abang kenapa, bang?"


Axel bertanya pada kakak keduanya yang saat ini tengah duduk di balkon lantai atas, sambil termenung dan melempar pandangan ke suatu sudut.


"Nggak kenapa-kenapa." jawab Anzel lalu menghela nafas.


"Bohong."


Axel nyengir sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Anzel. Hal tersebut tentu saja membuat Anzel terkejut lalu menjauhkan wajah Axel dengan tangannya.


"Apaan sih?. Bohong apaan coba?" tanya nya sewot.


"Ya, Axel ngerasa abang lagi menyembunyikan sesuatu aja. Entah itu apa."


"Sok tau." ujar Anzel gusar.


"Lagi galau mikirin kak Tiara ya?" Axel menduga-duga.


Tiara adalah gadis yang belakangan di gosipkan tengah dekat dengan kakak keduanya itu.


"Siapa yang mikirin dia." ujar Anzel kemudian.


"Terus mikirin apa dong?"


"Kepo banget sih, lu?"


Anzel semakin gusar, namun Axel terus menatapnya dan seakan meminta jawaban. Ekspresi wajahnya saat itu persis seperti lemur Madagaskar. Matanya sengaja di besar-besarkan untuk membuat sang kakak merasa tidak tahan.


"Abang tuh kepikiran mama. Ini udah berapa hari lagi menjelang pernikahan dia sama cowok itu." Anzel akhirnya jujur.


"Kepikiran soal apanya?. Makanan di acara weddingnya?"


"Bukan itu, Bambang. Abang tuh kepikiran aja, gimana kalau mama beneran jadi suka sama cowok itu." lanjut Anzel lagi.


"Ya, paling kita punya adek lagi." jawab Axel santai.


"Paling?. Kamu bilang punya adek lagi itu, paling?"


Anzel rasa ingin memukul kepala adiknya itu dengan jangkar kapal.


"Ya, apalagi resikonya selain kita punya adek lagi?"


"Terus lo mau gitu?"


"Ya mau gimana, kalau udah lahir depan mata. Masa iya dibungkus terus dipaketin."


"Hhhhh."


Anzel menghela nafas panjang. Hal tersebut kini menjadi kekhawatiran tersendiri dalam dirinya. Padahal tadi ia tak begitu terpikir sampai sana.


"By the way kamu tau dari mana, kalau orang nikah itu bisa punya adek lagi?"


"Ya kan semua orang menikah rata-rata hamil." ujar Axel.


"Hhhhh."


Lagi-lagi Anzel menghela nafas, ia telah berpikir terlalu jauh. Dengan mengira jika Axel pernah nonton film dewasa atau apa. Tapi ternyata itu memang hanya pikiran berdasarkan apa yang dilihatnya dari orang sekitar.

__ADS_1


__ADS_2