Terpaksa Menikahi Janda Kaya

Terpaksa Menikahi Janda Kaya
Permintaan


__ADS_3

"Fer, papa mau ketemu."


Pesan tersebut dikirim oleh Jeffri kepada Ferdi. Seketika pemuda itu langsung berada dalam dilema. Antara senang sekaligus cemas menjadi satu.


Betapa tidak, ia sangat merindukan ayahnya itu. Namun sudah dapat dipastikan jika sang ayah akan mempertanyakan perihal bantuan untuk menyelamatkan perusahaannya.


"Iya pa, kapan papa mau ketemu. Biar Ferdi cari waktunya. Soalnya Ferdi sibuk akhir-akhir ini."


Ferdi sedikit berdusta kepada ayahnya itu.


Besok atau lusa, bisa?" tanya Jeffri.


"Nanti liat aja ya pa. Kalau bisa Ferdi kabarin lagi nanti."


"Oke." jawab Jeffri.


"Kamu baik-baik aja kan sama Clara?" tanya nya kemudian.


"Baik koq pa. Papa sendiri gimana?"


"Papa baik, masih kayak biasanya aja." jawab Jeffri.


"Oke, jaga kesehatan ya pa." ujar Ferdi lagi.


"Sip, kamu juga."


"Iya pa."


Ferdi menyudahi chat tersebut, kini ia berada dalam kebingungan yang mendalam. Jika orang lain menikah penuh kebahagiaan. Maka ia pun sama bahagia.


Hanya saja kebahagiaannya harus berbarengan dengan beban yang di tumpuk ke bahunya. Berat, itulah yang kini Ferdi rasakan.


"Kenapa lu, bro. Ambeien?" Jordan melontarkan pertanyaan diikuti tatapan Sean dari meja kerjanya. Sebab Ferdi kedapatan tengah melamun.


"Prostat." seloroh Ferdi.


"Bangsat."


Jordan dan Sean terkekeh. Ferdi memang selalu pandai menyembunyikan bebannya. Bukan apa-apa, ia hanya tak ingin dikit-dikit cerita tentang masalah pada kedua sahabatnya itu.


Sebab bukan hanya dirinya saja yang memiliki masalah. Dan bukan dirinya saja yang ingin di dengarkan dan diberi saran.


Ferdi kemudian melanjutkan pekerjaan, begitupula dengan kedua temannya.


***


Malam itu Arvel, Anzel, dan Axel tengah berada di kamar Axel. Ketiganya berbaring dengan kepala saling berdekatan, namun berbeda arah posisi tubuh.


Arvel dan Anzel ke sisi kiri. Sedang Axel yang berbaring di tengah, tubuhnya mengarah ke sisi kanan.


Mereka bertiga tengah bermain game online. Di atas mereka terdapat tali rapia yang mereka gantungi dengan coklat, roti, dan biskuit. Mereka membuatnya sama persis dengan lomba makan kerupuk.


Sambil bermain, mereka sambil menggigit makanan yang mereka telah pilih dari awal. Ini adalah mode malas yang idenya berasal dari otak Axel.


"Yah, kalah lagi kita." gerutu Anzel.


Mereka bertiga gagal chicken dinner di sesi terakhir PUBG mobile yang mereka mainkan. Padahal musuh mereka hanya sisa dua orang.


"Udah ah ntar lagi, pegel." ujar Axel.


Mereka tetap berbaring dan lanjut makan.

__ADS_1


"Lo berdua kemaren ngeliat nggak sih, di restoran itu ada papa lagi sama cewek?"


Arvel mulai mengungkapkan keresahan yang ia simpan sejak kemarin. Tepatnya pada saat ia kembali dari toilet dan memergoki Nando yang berada di sebuah meja bersama perempuan.


"Iya, gue udah ngeliat sejak awal mereka masuk malah." Anzel menimpali.


"Kenapa lo nggak ngasih gau gue?." tanya Arvel.


"Ya menurut gue dia nggak penting. Jadi buat apa gue kasih tau lo."


Arvel menarik nafas panjang. Meski merupakan seorang anak adopsi, ia hanya tau jika ibu dan ayahnya adalah Clara dan juga Nando. Untuk itulah apapun yang terjadi pada keduanya, bisa sangat mempengaruhi pikiran anak itu


"Gila ya, udah punya bini masih aja mesra sama cewek lain." ucap Arvel.


Anzel menarik sudut bibirnya.


"Lo kayak nggak tau papa aja, bang, bang." ujarnya kemudian.


"Kalau menurut Axel sih, biarin aja papa mau pacaran sana-sini."


Axel mengeluarkan pendapatnya tanpa diminta.


"Biar si tante Ninis ngerasain jadi mama. Biar dia tau rasanya di selingkuhin itu kayak apa." lanjutnya kemudian.


Arvel dan Anzel saling bersitatap lalu menoleh kepada Axel.


"Iya kan?" Axel meminta persetujuan kedua kakaknya tersebut. Arvel dan Anzel pun kini tertawa.


"Iya juga ya." ujar mereka secara serentak.


"Gue aja nggak kepikiran sampe sana." seloroh Anzel.


"Sama, gue juga." Arvel menimpali.


"Mau kemana lo?" tanya Anzel heran.


"Mau ngambil sate ayam di om Ferdi. Gue nitip minta beliin tadi." jawabnya sambil berlarian.


Arvel dan Anzel hanya bisa saling bersitatap.


***


"Om Ferdi."


Axel turun dari tangga dan langsung menghampiri Ferdi yang terlihat membawa beberapa bungkusan.


"Hai Axel."


Ferdi menyapa anak itu. Ia berusaha keras untuk terlihat baik-baik saja, disaat pikirannya kusut memikirkan soal Jeffri.


"Jadi dibeliin kan om?" tanya Axel.


"Jadi dong, nih!"


Ferdi memberikan titipan anak tirinya itu dan Axel pun menerimanya dengan senang hati.


"Oh ya mama mana?" tanya Ferdi kemudian. Sebab sejak masuk tadi ia tak menemukan Clara sama sekali.


"Lagi ke minimarket. Tunggu aja, ntar juga pulang." jawab Axel.


Anak itu berbalik hendak kembali ke atas. Namun kemudian ia menghentikan langkah dan kembali menoleh pada Ferdi.

__ADS_1


"Om baik-baik aja kan?" tanya nya kemudian.


Ferdi agak terkejut mendengar pertanyaan itu. Sebab ia telah berusaha menyembunyikan masalahnya sebisa mungkin.


"Baik, kenapa emangnya?" Ferdi balik melontarkan pertanyaan.


"Om kayak orang yang lagi banyak pikiran soalnya."


"Emang keliatan?" Ferdi bertanya sekali lagi.


"Keliatan, om. Persis kayak orang yang lagi mikirin ujian matematika."


Ferdi tertawa kali ini.


"Om kalau punya masalah cerita aja sama mama." ujar Axel lagi.


"Kenapa harus sama mama?" tanya Ferdi.


"Karena kalau om cerita sama Axel, nggak akan ada solusi."


Ferdi makin terbahak.


"Udah ah, Axel naik ya om." ujar Axel kemudian.


"Nggak ngambil piring sama sendok?" lagi-lagi Ferdi melontarkan pertanyaan.


"Oh iya ya."


Axel kembali turun dan mengarah ke dapur. Tak lama ia kembali dengan tiga piring dan tiga sendok. Sebab Ferdi membeli tiga bungkus sate ayam untuk anak-anak tirinya.


Axel kembali ke kamar, sementara Ferdi kini mencoba mengembalikan mood dengan membuat kopi.


"Tak lama Clara pulang dengan membawa barang belanjaan yang cukup banyak.


"Fer, udah pulang?" tanya nya kemudian.


"Nggak belum, didepan kamu nggak ngeliat mobil aku kan?" canda Ferdi.


Clara tertawa, Ferdi membantu sang istri dengan mengambil belanjaan yang ada di tangannya. Kemudian ia meletakkan barang belanjaan itu di dekat kitchen set.


Clara hendak membereskan barang tersebut, namun Ferdi keburu memeluk wanita itu dari belakang.


"Fer, kamu kenapa?"


Clara bertanya seakan dapat merasakan apa yang suaminya itu sedang rasakan.


"Nggak apa-apa." jawab Ferdi masih berusaha berkilah. Clara membalikkan badan dan menatap Ferdi lekat-lekat.


"Kamu ada masalah?" tanya nya lagi.


Ferdi menggeleng. Ia belum bisa berbicara mengenai keuangan dengan Clara. Sebab itu adalah hal yang sensitif.


"Nggak enak badan kamu?" Clara menebak sekali lagi. Kali ini Ferdi mengiyakan.


"Kenapa minum kopi!" tanya Clara.


Ferdi hanya tersenyum lalu memeluk Clara.


"Nggak aku minum lagi koq." ujarnya kemudian.


***

__ADS_1


Meet Amanda, CEO cantik berusia 31 tahun yang membayar seorang mahasiswa bernama Arka. Untuk memberikan ia keturunan.



__ADS_2