
Malam itu Ferdi tidur dengan lelap sambil memeluk istrinya. Sementara dirumah ketiga anak Clara belum ada yang tidur sama sekali.
Arvel dan Anzel terpikir akan ibu mereka. Biar bagaimanapun mereka sudah SMA dan sedikit banyak mengetahui perkara apa yang dilakukan orang setelah menikah.
Terlebih mereka memang lebih dominan di pelajaran ilmu pengetahuan alam. Meski mereka terbilang cukup bandel dan harusnya lebih berminat ke bidang ilmu pengetahuan sosial. Setidaknya itulah anggapan yang beredar di masyarakat selama ini.
Arvel diam sambil menatap langit-langit kamarnya. Ia tidak ingin pernikahan ini menjadi serius, dan ia jadi benar-benar memiliki seorang ayah tiri. Ayah yang satunya saja seperti itu tabiatnya, apalagi ayah tiri. Ia hanya takut ibunya kembali terluka.
Sama halnya dengan sang kakak, Anzel pun sedari tadi hanya berpindah. Dari balik kanan ke balik kiri, sambil memeluk bantal guling yang ada di kedua sisi. Bahkan keinginan untuk bermain game online pun tak ada sama sekali.
Kecuali Axel yang saat ini tengah sibuk dengan permainan PUBG mobile-nya. Seperti sebelum-sebelumnya ia tak ada beban sama sekali. Sebab ia telah mengenal Ferdi dan tau jika Ferdi adalah pria yang baik.
"Yes."
Axel senang ketika ia menjadi pemenang. Tiba-tiba perutnya terasa lapar. Karena ia dan kedua kakaknya sudah besar, jadi tak ada satupun keluarga Clara yang menginap dirumah. Hanya ada sekuriti di luar sana.
Axel turun ke bawah, berniat menyeduh mie instan cup. Sebab ketiadaan Clara dirumah adalah saatnya berpesta mie instan. Ia turun dengan setengah berlarian menyusuri tangga.
Tetapi di meja makan ia menemukan Arvel dan Anzel yang tengah duduk diam saling berhadapan. Dengan tatapan mata yang sama-sama terbuang ke lantai.
"Kenapa lo, bang?" ia bertanya pada keduanya.
Arvel dan Anzel diam.
"Pasti mikirin kak Tiara sama kak Cindy kan, yang tadi datang ternyata sama gebetan mereka."
Axel mencoba menggoda kedua kakaknya itu. Perkara gadis yang mereka taksir di sekolah, tadi datang bersama teman laki-laki mereka di acara Clara. Clara memang mengundang teman sekelas anaknya untuk datang.
"Makanya, kalau suka sama cewek tuh ngomong. Kalau diem aja, mana mereka tau." ujar Axel lagi.
Arvel dan Anzel memberi lirikan sekilas ke arahnya. Sejatinya mereka terpikir akan Clara, tapi kini jadi ikut terpikir pada kedua gadis itu lantaran diingatkan.
"Axel mau nyeduh mie cup nih, ada yang mau?" tanya Axel lagi.
"Abang mau." ucap Arvel.
"Abang juga." Anzel menimpali.
"Mau rasa apa?"
"Bakso." ujar Arvel.
"Pedas Korea." Anzel menimpali.
Maka Axel pun mengambil mie cup dari dalam lemari kitchen set. Satu untuk dirinya yang rasa soto ayam, dua lagi untuk kedua kakaknya.
Sekitar beberapa menit, mie tersebut pun jadi. Lalu mereka makan bersama. Axel kemudian menuju kulkas dan mengambil beberapa sosis siap makan dan meletakkannya di meja.
Untuk beberapa saat mereka larut dalam percakapan, dan membahas beberapa hal. Yang jelas, bukan membahas soal Clara dan Ferdi.
***
"Pagi."
Clara bangun dan mendapati Ferdi yang sudah mandi serta baru berganti pakaian.
__ADS_1
"Pagi." jawab Ferdi lalu mencium kening Clara.
"Ah, aku belum cuci muka. Pasti berminyak." ucap Clara.
"Iya, ini nempel." canda Ferdi sambil tertawa.
"Ih, kamu mah."
Clara berkata dengan nada manja, sambil memukul lengan Ferdi. Sejatinya bila di lihat sekilas, usia mereka seperti tak berbeda jauh. Malah kelihatan seperti seumuran.
Clara masih awet muda dan cantik. Ferdi pun perawakan tubuhnya atletis, tinggi, serta tampan. Mereka terlihat seperti pasangan pada umumnya.
"Aku mau mandi ah." ucap Clara sambil mengganti posisi menjadi duduk. Ia tampak mengusap-usap matanya dengan tangan.
"Mandi gih, aku udah pesan sarapan dan mungkin bentar lagi datang." tukas Ferdi.
"Oh iya, kamu pesan apa?"
"Ada banyak. Teh dan kopi panas, roti bakar coklat keju, ada nasi goreng juga."
"Kayak makan siang ya." seloroh Clara sambil beranjak.
"Takutnya ada yang pengen nasi, makanya aku pesan nasi juga." ujar Ferdi lagi.
Clara tertawa lalu pergi ke kamar mandi. Usai ia mandi, tampak sarapan sudah tiba di kamar. Wanita itupun kini berganti pakaian, kemudian duduk disisi sang suami yang telah menunggunya.
"Kamu mau makan apa?"
Ferdi dan Clara saling bertanya di waktu yang bersamaan. Detik berikutnya mereka pun sama-sama tertawa.
"Aku, mmm." Clara melihat makanan tersebut.
"Atau mau bareng aja?" tanya Ferdi.
"Boleh."
"Ya udah yuk!"
Mereka lalu duduk. Clara mengambil teh, sementara Ferdi meraih kopi. Lalu mereka meminumnya di waktu yang bersamaan. Unik awal mereka memakan roti bakar bersama-sama.
"Hmm, enak." ucap Clara.
Ferdi mengangguk sambil tersenyum dan terus makan. Sesekali ia menyuapi istrinya itu. Clara semakin merasa di perlakukan layaknya seorang istri. Dulu Nando jangankan seperti itu, mengobrol di meja makan saja kadang menjadi hal yang sulit.
Ia selalu terburu-buru saat sarapan, dan terburu-buru pula meninggalkan meja makan. Clara paham mantan suaminya itu dulu sibuk, tapi sesibuk-sibuknya seseorang tak mungkin sampai tak punya waktu sekedar mengobrol 5-10 menit dirumah. Terutama untuk istri dan anak-anak.
Nando juga biasanya pulang larut dan langsung tidur. Ia benar-benar memiliki waktu jika ingin dilayani kebutuhan biologisnya semata. Membuat Clara menjadi seolah hanya sebatas teman tidur.
"Mau cobain nasi gorengnya?." tanya Ferdi ketika mereka telah selesai memakan roti.
Clara mengangguk. Ferdi kemudian mengambil nasi goreng itu dan mereka lalu makan bersama.
***
Sementara di rumah Arvel, Anzel, dan Axel tengah sarapan. Bahkan Axel baru menganga untuk menangkap mie instan rebus yang kini ada di sumpit. Ketika mereka bertiga mendengar suara gaduh di luar.
__ADS_1
"Ada apaan sih, bang?" tanya Axel sambil terus mendengarkan.
"Sekuriti lagi berantem ya?" tanya-nya lagi.
Ketiganya saling menatap satu sama lain, dan memang suara sekuriti mereka seperti tengah beradu mulut dengan seseorang. Ketiganya lalu buru-buru keluar.
"Ada apa pak?" tanya Arvel kemudian.
"Arvel, ajak adik-adik kamu keluar dan ikut papa sekarang!"
Ternyata Nando yang ada di luar pagar. Sekuriti menolak membukakan pintu, sebab Clara pernah berpesan padanya. Jika Nando mendatangi rumah itu dan Clara tak ada ditempat, maka ia tak boleh membuka pintu pagar. Sekuriti tersebut hanya menjalankan amanah dari bosnya dan Nando malah naik pitam.
"Papa ngapain sih?" tanya Anzel kesal, ia tak suka melihat ayahnya terlihat arogan pada sekuriti mereka.
"Buka pintunya, atau kalian bersiap. Ikut papa sekarang!"
"Ya tapi mau kemana?" tanya Arvel.
"Mulai hari ini kalian tinggal sama papa."
"Nggak mau!"
Ketiga anak itu refleks berucap, sementara pintu pagar masih di gembok.
"Kalian mau tinggal sama ayah tiri yang nggak kalian kenal itu?"
"Adek kenal koq."
"Ups."
Axel menutup mulutnya, Arvel dan Anzel sempat menoleh. Namun perhatian mereka kembali tertuju pada Nando.
"Sama aja, emang kita kenal sama istri papa?" Anzel berkata dengan nada ketus.
Nando bertambah kesal. Ia pikir dengan adanya pernikahan Clara, anak-anaknya akan tidak betah tinggal di rumah ini lagi. Tapi ternyata mereka biasa saja.
"Jangan sampai papa bikin kerusakan disini!" Nando mengancam ketiga anaknya.
"Coba aja." Mereka bertiga berucap secara serentak. Dari nada bicara mereka, sepertinya mereka siap mengadakan perlawanan, jika Nando sampai nekat.
"Ayo ikut papa, buruan!"
"Nggak mau."
Arvel kembali ke dalam, disusul oleh Anzel. Kini hanya sisa Axel saja yang berdiri di muka pintu pagar.
"Papa mau ramyun?" tanya nya pada Nando sambil mengacungkan panci Korea berwarna kuning, yang biasa digunakan untuk memasak mie instan. Tadi ia keluar sambil membawa panci tersebut.
"Diem kamu!" ujar Nando dengan penuh emosi.
"Oh ya udah."
"Sluuurp."
Axel memakan mie nya dihadapan Nando, sebelum akhirnya ia berlalu. Tak lama Nando yang sudah kesal itu pun kembali ke dalam mobil dan segera tancap gas.
__ADS_1