Terpaksa Menikahi Janda Kaya

Terpaksa Menikahi Janda Kaya
Mantan-Mantan Teraneh


__ADS_3

"Gue nggak bisa bantu apa-apa, Jes."


Nadia berkata pada Jessica. Ketika mantan pacar Ferdi itu datang dan meminta bantuannya untuk membujuk Ferdi. Ia ingin berbaikan dengan pria itu, dan menjalin kembali hubungan yang telah hancur.


Jessica dan Nadia sendiri saling mengenal meski tak begitu akrab. Sebab pernah dulu Ferdi mengajaknya untuk bergabung, dalam trip yang diadakan oleh Frans dan juga kekasihnya tersebut.


"Gue udah nggak sama selingkuhan gue itu. Gue bener-bener khilaf dan pengen memperbaiki semuanya, Nad." ujar Jessica sekali lagi.


Nadia memperhatikan mantan kekasih Ferdi tersebut.


"Lo nggak tau emangnya?" Ia bertanya pada Jessica. Sementara Jessica kini terlihat bingung.


"Tau soal apa?" Jessica balik melontarkan pertanyaan.


Nadia diam, ternyata Jessica sepertinya memang belum mendengar kabar.


"Ferdi kan udah lamaran dan tunangan, Jes." ujarnya.


Petir seakan menggelegar, padahal langit pun tiada mendung.


"La, lamaran?" tanya nya tak percaya.


"Tunangan?" ucapnya sekali lagi.


Nadia menghela nafas, agak tak tega melihat reaksi Jessica yang demikian. Namun mau bagaimana lagi, kenyataan memang seperti itulah adanya.


"Iya." jawab Nadia kemudian.


Tubuh Jessica pun seketika gemetar, jantung perempuan itu kini berdegup dengan kencang. Udara sekitar terasa mendadak menipis dan menyebabkan sesak.


"Dengan siapa?" tanya nya dengan nada yang penuh emosi. Ia tampak mulai kacau kali ini, menjadikan Nadia agak sedikit takut.


"Sa, sama Clara." ujarnya.


"Lo tau nggak sih sama dia?" tanya wanita itu lagi.


Seketika Jessica pun teringat, pada wanita cantik yang pernah ia labrak di kantor Ferdi.


"Nggak." ujarnya sambil menatap Nadia.


"Ini nggak mungkin." teriaknya memecah.


Nadia semakin takut, meski ia telah menduga Jessica akan seperti itu.


"Maafin gue, Jes. Tapi kenyataannya memang gitu."


"Nggak."


Jessica menggeleng-gelengkan kepalanya, seperti hendak menolak kenyataan.


"Ngaaak." teriaknya sekali lagi.


Kemudian ia menangis sejadi-jadinya.

__ADS_1


***


Lain halnya dengan Jessica yang bereaksi dengan menangis, Nando justru tak tahan lagi untuk menemui Clara.


Sejak semalaman ia resah dan ingin segera bertatap muka dengan mantan istrinya tersebut.


Hingga akhirnya hari ini ia menemui Clara secara mendadak di pelataran kantor wanita itu. Tepat ketika Clara sendiri baru saja keluar dari mobil dan hendak berjalan menuju pintu lobi.


"Clara."


Nando menarik dan mencengkram lengan Clara dengan kasar. Clara yang kaget tersebut menoleh dan mendapati Nando yang menatapnya dengan penuh kemarahan.


"Apa-apaan sih?. Lepasin!" teriaknya mengundang perhatian sekitar.


"Kamu ngapain mau menikah dengan laki-laki itu?" Nando berkata dengan nada tak kalah berteriak.


"Lah, urusan gue dong. Lo bukan siapa-siapa gue lagi. Lo sendiri aja udah nikah, ngapain pernikahan gue lo jadiin masalah?"


"Heh, gue nggak mau anak-anak gue punya bapak tiri. Apalagi dia orangnya."


"Lo pikir anak-anak sudi punya ibu tiri?" Clara balik menyerang Nando. Membuat Nando terdiam untuk beberapa saat. Tapi bukan Nando namanya jika tidak memanipulasi keadaan.


"Anak-anak nggak tinggal sama gue, mereka tinggal sama lo. Mereka nggak kena dampak langsung tinggal bersama ibu tiri, sedangkan sekarang lo mau membuat mereka serumah dengan bapak tiri."


"Itu urusan gue. Lagian gue udah bicara sama anak-anak, dan mereka sangat-sangat tidak masalah kalau gue menikah lagi."


Nando makin terdiam, namun masih menatap Clara.


"Kalau lo nggak percaya, tanya aja anak-anak."


Sementara Clara kini sadar, bahwa Nando mungkin tidak tau. Jika dirinya mengatakan pada anak-anak, bahwa ia menikah untuk kepentingan merebut kembali perusahaan. Nando belum tau jika sebentar lagi ia akan di hancurkan.


"Gue nggak maksain mereka, tapi mereka yang tau kalau gue butuh sosok pendamping, dan mereka butuh figur ayah yang bisa membimbing mereka. Bukan sosok ayah egois yang setiap hari hanya kerja, ngurusin mobil, ke klub malam dan selingkuh sama perempuan nggak bener."


"Kurang ajar, kamu."


Nando mengayunkan lengannya, namun beberapa karyawan Clara yang laki-laki plus sekuriti kini menghalangi.


"Eh, apa-apaan pak?" tanya karyawan itu dengan nada marah.


"Lo nggak usah ikut campur ya." bentak Nando.


"Ya nggak bisa gitu dong. Bapak udah bukan suami bu Clara lagi, dan ini wilayah kantor kami. Bapak datang-datang bikin keributan dan menyerang perempuan. Jangan main-main disini pak. Jangan pikir kita semua akan diam aja ngeliat kelakuan bapak."


Nando sudah ingin menghajar karyawan tersebut saking emosinya. Namun ia melihat ada banyak karyawan lain yang mengitari dan menatapnya dengan tatapan yang begitu tajam. Seakan mereka siap pula untuk menghajar Nando.


Akhirnya Nando kembali ke mobilnya dan berlalu. Para karyawan perempuan langsung menarik Clara.


"Ibu nggak apa-apa, bu?" tanya mereka khawatir.


"Nggak apa-apa, makasih ya." ucap Clara.


Mereka semua akhirnya masuk ke dalam kantor. Sementara Nando mengemudi dengan ubun-ubun yang berasap karena masih emosi.

__ADS_1


***


"Fer, kita harus bicara."


Sebuah pesan singkat masuk ke handphone Ferdi, yang saat ini tengah sibuk bekerja. Pesan tersebut dari Jessica dan Ferdi hanya mengabaikan saja.


"Kamu tega, Fer."


Satu pesan lagi kembali masuk, namun Ferdi hanya membacanya lewat layar notifikasi.


"Bisa-bisanya kamu melamar perempuan itu."


"Selama ini aku jadi pacar kamu, nggak ada kamu lamar."


"Giliran perempuan itu, baru kenal udah mau dinikahi."


"Nggak punya hati kamu, nggak inget sama kenangan kita dulu?"


Jessica kemudian kembali mengirim pesan bahkan hingga puluhan kali.


"Siapa sih bro, yang ngirim pesan ke lo. Banyak banget." Sean berseloroh dari tempat duduknya.


"Jessica." jawab Ferdi jujur.


"Lah, masih berbalas pesan aja. Katanya udah muak." Jordan menimpali.


"Lo liat nggak dari tadi, emang ada yang gue balas?" tanya Ferdi.


Jordan dan Sean pun menyadari, jika sejak tadi Ferdi hanya mengabaikan saja pesan-pesan tersebut.


"Itu dia kenapa, nggak dibales tapi masih aja ngirim pesan?" Nova ikut-ikutan bertanya.


"Cieee, Nova. Udah nggak marah nih sama kita?"


Ferdi menggoda temannya itu. Karena sebelumnya Nova cuek serta jutek pada mereka semua. Pasca kemarin mereka memarahi Nova habis-habisan di hadapan orang tuanya. Perihal ia pergi dengan CEO yang baru ia kenal.


"Ya kan gue kepo." jawab Nova.


"Bukan berarti gue udah maafin kalian semua ya." ucapnya lagi.


Ferdi, Jordan, dan Sean saling bersitatap sambil tertawa kecil.


"Ini Jessica nggak terima, kalau gue udah ngelamar Clara dan mau nikah." Ferdi akhirnya menjelaskan.


"Lah kocak, kan udah mantan anjay." Lagi-lagi Sean berseloroh.


"Makanya gue nggak paham. Dia yang selingkuhin gue, sekarang dia juga yang nggak terima kalau gue mau nikah. Perempuan aneh." ujarnya kemudian.


Jordan dan Sean menarik sudut bibir dengan jumawa.


"Nyesel kali udah selingkuh dari lo." ucap Jordan.


"Bodo amat, udah nggak peduli gue." ucap Ferdi lagi.

__ADS_1


Lalu mereka pun sama-sama tertawa dan melanjutkan pekerjaan.


__ADS_2