
(Siang hari sebelum Axel dan kedua kakaknya pulang sekolah.)
Masalah Axel di sekolah sampai ke telinga Nando. Sebab pihak sekolah masih memiliki kontak pria itu sebagai orang tua atau wali dari Axel.
Mereka menghubungi Nando, sebab Clara menolak mengganti kerugian yang di tuntut oleh keluarga Gibran. Mereka meminta sejumlah uang sebagai kompensasi dari perbuatan Axel yang sudah memukul anak mereka.
Bukan perihal Clara tak punya uang. Hanya saja ia telah mengetahui kebenaran, jika Axel tidaklah salah sepenuhnya. Gibran juga bersalah dalam hal ini, karena telah melakukan bullying terhadap Axel.
"Dert."
"Dert."
Handphone Clara tiba-tiba bergetar, saat ia tengah sibuk bekerja di kantor.
"Dert."
"Dert."
"Dert."
"Dert."
"Nando?"
Clara menatap layar handphone dan melihat notifikasi panggilan dari mantan suaminya itu.
"Ngapain dia nelpon gue?" tanya nya dengan suara pelan. Sementara handphonenya terus bergetar.
"Dert."
"Dert."
"Dert."
Tak lama panggilan tersebut berakhir, lalu muncul notifikasi pesan di WhatsApp. Dan pesan tersebut juga dari Nando.
"Kenapa Axel mukul anak orang, kamu nggak ngasih tau aku?"
Begitulah bunyi pesan yang dikirim oleh pria itu. Clara menarik nafas dan melakukan scrolling eyes.
"Elah, tumben perhatian ke anak. Kemaren-kemaren kemana?" jawabnya kemudian.
"Aku bapaknya mereka ya." ujar Nando.
"Aku yang berojolin dan mengasuh mereka." jawab Clara tak mau kalah.
"Harusnya kamu libatkan aku dalam mengurus mereka." ujar Nando lagi.
"Tumben banget minta dilibatkan segala. Bukannya biasanya nggak peduli. Perasan setelah aku menikah lagi, kamu jadi caper banget. Minta banget dibilang kalau kamu adalah ayah yang bertanggungjawab."
Nando sejatinya panas membaca semua itu. Clara seolah bisa membaca perangai dirinya.
"Mereka anak aku, aku berhak tau mereka kenapa. Jangan karena kamu sudah menikah lagi, kamu jadi mengesampingkan peran aku sebagai ayah dari mereka."
"Halah, minta banget dianggap. Baru mau waras apa gimana?" tanya Clara.
"Kamu itu memang bener-bener perempuan kurang ajar ya. Aku bapaknya anak-anak, aku berhak tau soal mereka. Suami baru kamu nggak ada hak atas anak-anak aku."
"Lah, kenapa jadi bawa-bawa suami aku?. Lawak dasar."
__ADS_1
"Kamu yang perempuan lawak, ngurus anak nggak becus."
"Lebih becus mana sama kamu yang nggak pernah sekalipun terlibat ngurus mereka?"
"Karena aku nggak pernah dilibatkan sama kamu."
"Tai kucing." jawab Clara.
"Gimana mau dilibatkan, dikit-dikit sibuk. Ada waktu senggang dikit, mabok dan selingkuh. Sekarang baru mau terlihat sebagai sosok hero. Telat Nando, anak-anak udah punya hero mereka sendiri. Hero Marvel sama mobile legends."
Nando semakin kesal dengan jawaban Clara tersebut. Ia ingin memaki mantan istrinya itu, namun keburu sekretarisnya masuk ke dalam ruangan.
"Pak, bapak sudah di tunggu di ruang rapat." ujar sekretarisnya itu.
"Oke." jawab Nando.
Kemudian ia bergegas dan melupakan sejenak perdebatan sengitnya dengan Clara.
***
"Nih Fer, ini outlet punya tante gue."
Sean mengajak Ferdi ke sebuah toko roti yang merangkap kafe, pada saat jam makan siang kantor. Jordan juga ikut, sebab mereka hendak memperkenalkan Ferdi pada beberapa pebisnis yang mereka kenal. Tadi mereka sudah dari tempat sepupu Jordan yang berbisnis jual beli gadget.
"Dulu modal berapa tante lo mendirikan tempat ini?"
Ferdi bertanya seraya menunggu kopi yang mereka pesan jadi.
"Kalau awalnya banget, tante gue sama suaminya itu kan sama-sama pernah kerja di kafe. Nah mereka buka usaha dari rumah, jual kopi literan di online marketplace. Setelah kopinya terkenal dan banyak investor yang pengen menanam modal. Nah disitulah tante gue sama suaminya berani buka outlet kayak gini, dan bertahan sampe sekarang. Udah ada 20 cabang di berbagai kota." ujar Sean.
"Lo bisnis kayak gini juga oke sih, Fer. Mulai aja dulu dari rumah. Kopi bikinan lo enak soalnya." tukas Jordan.
"Gue emang pernah belajar jadi cofee maker dulu. Inget nggak yang kita baru lulus SMA terus di suruh ikut pelatihan pra kerja. Gue ngambilnya itu, karena bingung mau ambil kursus apaan. Nggak lama dari situ baru gue kuliah." ucap Ferdi.
"Gue sih mau, maksudnya biar bisa jadi penghasilan tambahan buat gue. Tapi saat ini gue lagi mau cari pekerjaan atau bisnis, yang kira-kira bisa menghasilkan uang milyaran tapi cepat. Supaya gue nggak harus pake duitnya Clara, buat bantu bokap gue."
Jordan dan Sean saling bersitatap. Mereka ingin sekali membantu Ferdi, andai mereka punya banyak uang. Tapi apalah daya Jordan dan Sean pun adalah anak muda yang mencoba berdiri di atas kaki mereka sendiri. Tanpa mengandalkan banyak privilege dari orang tua mereka.
"Gue kerja apa ya, apa gue melihara babi ngepet aja." seloroh Ferdi.
Jordan dan Sean terkekeh.
"Nih Sean kalau malem berubah tau dia. Jadi Ti Pat Kai." Jordan ikutan berseloroh. Kali ini mereka semua tertawa.
"Elo tuh kalau malam jadi kuyang." tukas Sean kepada Jordan.
"Palasik bego, dia." Ferdi menimpali.
"Ngisep ubun-ubun, eh benjolan tante-tante." lanjutnya kemudian.
"Nggak apa-apa, kalau tante-tantenya modelan tante Erni. Rela gue, jadi palasik, palasik deh gue." jawab Jordan.
"Tante Erni mah jangan idolanya Ferdi." seloroh Sean.
"Liat aja dia nikahnya sama tante Clara, akibat obsesi sama tante-tante." lanjutnya lagi.
"Bangsat." Ferdi terkekeh, begitupula dengan kedua temannya itu.
"Kita buat agency gaib aja apa nih?" ujar Jordan.
__ADS_1
"Ferdi presdirnya, gue wakil. Lo ketua pelaksana. Kerjanya menugaskan babi ngepet, tuyul, segala jenis perdemitan buat nyari duit."
"Tapi kalau mereka minta tumbal, lo gue tumbalin." seloroh Ferdi.
"Tumbalin pak Nath noh, biar kita menguasai start upnya dia." ujar Sean.
"Anjay niat buruk." Ferdi berkata seraya terus tertawa.
"Ternyata selama ini diam-diam Sean pengen menghabisi pak Nath." ucap Jordan.
"Lo periksa aja riwayat pencarian google di handphonenya dia." Ferdi kembali berujar.
"Pasti isinya tentang bagaimana cara menyingkirkan seorang CEO." lanjutnya lagi.
"Racun apa yang berfungsi dengan cepat tapi tidak berbau." timpal Jordan.
Ferdi dan Sean sama-sama terdiam dan menatap Jordan.
"Lo serem, anjay." ujar Sean kemudian.
"Tau, pulang yuk!" ajak Ferdi.
Ketiganya lalu tertawa-tawa. Tak lama minuman pesanan mereka pun tiba. Mereka cukup lama mengobrol di kafe tersebut. Sampai kemudian ketiganya memutuskan untuk kembali ke kantor.
Setibanya di kantor, Ferdi terkejut dengan kehadiran Nando. Begitupula dengan Jordan dan juga Sean. Mereka tak menyangka mantan suami Clara itu akan datang.
Ferdi menatap Nando tanpa rasa takut sedikitpun. Pria itu kemudian melangkah dan mendekat ke arah Ferdi.
"Saya minta anda, untuk mendidik istri anda dengan baik." ujarnya kemudian.
"Ajari dia bahwa jika ada masalah dengan anak-anak, saya sebagai ayah mereka harus dilibatkan. Karena saya adalah ayah mereka, ayah kandung mereka." lanjutnya lagi.
"Dan tolong ajarkan kepada istri anda untuk lebih mengutamakan dan memperhatikan anak. Jangan egois memikirkan diri sendiri, mentang-mentang baru menikah. Anak koq sampe bisa mukul orang."
Nando berbalik dan hendak berlalu meninggalkan tempat itu.
"Anda berkata seperti ini, seolah anda adalah orang tua yang mengasuh anak-anak itu dengan baik."
Ucapan Ferdi menghentikan langkah Nando.
"Seolah selama ini anda lah satu-satunya orang tua yang kehilangan banyak waktu, tenaga, dan pikiran dalam mengurus mereka."
Nafas Nando mendadak memburu, perlahan emosinya mulai memuncak.
"Anda bahkan tidak punya waktu untuk mengurusi tumbuh kembang mereka. Dan hanya sibuk dengan urusan anda sendiri." lanjut Ferdi.
"Dan anda percaya ucapan perempuan bermulut ular seperti istri anda itu?" Nando berbalik dan mencoba menjatuhkan mental Ferdi.
"Saya menikah dengan dia lebih dari satu dekade. Saya paham dia siapa, sifatnya seperti apa." ujar pria itu lagi.
"Clara itu bukan perempuan baik-baik, buktinya dia gagal membina rumah tangga dengan saya." lanjutnya kemudian.
"Saya lebih percaya ucapan seorang ibu, yang ketika dia bercerita tentang masa lalu, matanya berkaca-kaca menahan tangis. Ketimbang ucapan seorang ayah, yang mendadak sok perhatian terhadap anak-anaknya. Setelah dia berselingkuh dari ibu mereka dan kemudian menceraikan ibu mereka serta menjelek-jelekkannya di belakang. Itu tabiat seorang pengecut."
Nando bersiap menghajar Ferdi, namun tiba-tiba Nath bersuara.
"Ferdi, kita ada rapat sekarang. Jordan dan Sean juga." ujar pria itu.
Maka Ferdi dan kedua temannya pun masuk ke kantor. Nath kini menatap Nando.
__ADS_1
"Jangan ribut di kantor saya." ujarnya kemudian.
Nath pun masuk menyusul ketiga karyawannya. Sementara Nando masih terpaku dalam kekesalan yang mendalam.