
@fernando_dean mengikuti anda.
Sebuah notifikasi masuk ke handphone Ferdi, ketika ia dan kedua sahabatnya tengah makan siang di kantor.
Ferdi mengerutkan kening, ia membuka sosial media Instagram dan melihat siapa yang telah memfollow akun miliknya tersebut. Dan ia pun seketika terkejut.
"Kenapa, bro?" tanya Jordan heran.
"Ini mantan suaminya Clara koq, follow gue ya?" ucap Ferdi lagi. Ia memperlihatkan akun milik pria itu pada kedua temannya.
"Akun lo di private?" tanya Sean.
"Iya."
"Buka, bego. Biarin aja dia follow lo, biar kebakaran bulu ketek tuh orang."
"Iya bener."
Jordan dan Sean berkata saling menimpali dengan penuh semangat. Ferdi menatap kedua temannya itu secara seksama.
"Buka sekarang, Fer. Jangan di private lagi." ucap Jordan.
Ferdi pun lalu membuka akunnya sehingga akun tersebut tak lagi di private. Ia kini berteman dengan Nando, meski tak melakukan follow back.
"Nah kalau udah kayak gini, lo update aja terus soal lo sama Clara. Gue yakin itu orang masih punya rasa cinta ke cewek lo. Kalau nggak ngapain dia pake acara memfollow lo segala." Kali ini Sean yang berbicara.
Dalam hati Ferdi pun menyetujui. Jika Nando sudah tak punya rasa pada Clara, untuk apa ia sampai memfollow akun Ferdi. Sudah pasti pria itu cemburu dan ada hal yang hendak ia ketahui mengenai dirinya.
"Jadi sekarang gue harus apa?" tanya Ferdi pada kedua temannya itu.
"Udah, lo diem aja dulu. Nggak usah ngapa-ngapain, pura-pura lo nggak tau kalau itu mantan suaminya Clara." Jordan memberi saran.
"Iya, nanti pelan-pelan besok atau lusa. Lo mulai update dah tuh kebersamaan lo sama Clara." Sean menimpali.
"Main smooth aja." lanjutnya lagi.
"Alay banget nggak sih kayak gitu?. Lo berdua kan tau kalau gue bukan tipe orang yang suka pamer-pamer hubungan di sosmed."
"Untuk kali ini lo nggak apa-apa alay dikit, bro." ucap Jordan.
"Iya, kan tujuan dia follow lo itu karena kepo dan kepengen tau banyak tentang lo. Dan lo kasih aja pemandangan yang dia nggak pengen liat dari lo, biar mampus sakit hati." Lagi-lagi Sean menimpali.
Ferdi pun kini hanya tertawa kecil. Ia yang punya hubungan dengan Clara, tapi malah kedua temanya yang excited.
Sementara di lain pihak, benar apa yang dikatakan oleh Jordan dan juga Sean. Bahwasannya Nando kini kepo pada siapa Ferdi sebenarnya.
Ia mendapatkan akun pemuda tersebut dengan melihat postingan Clara yang mentag akun Ferdi di insta story'. Postingan itu berupa foto cincin di jari mereka berdua. Maka Nando pun mengikuti akun Ferdi, lantaran rasa ingin taunya yang begitu besar.
Dan lagi ia ingin mencari dimana letak kelemahan pemuda itu. Untuk kemudian bisa ia gunakan untuk menjatuhkan harga dirinya di muka Clara.
"Lo liat nih, calon suaminya mantan istri gue."
Nando berkata pada salah seorang temannya dengan nada mengejek. Saat video mengenai lamaran Clara kemarin ia terima. Jeffri tak masuk ke dalam frame si pengunggah. Hingga Nando pun belum mengetahui jika Ferdi adalah putera dari pengusaha kaya tersebut.
Sejatinya Nando mengetahui banyak tentang Jeffri. Tetapi tidak mengetahui siapa keluarganya dan berapa jumlah anaknya.
__ADS_1
"Umur berapa sih dia?" tanya teman Nando padanya.
"Nih di bio nya liat, kelahiran tahun berapa."
"Oh masih bocil." ucap teman Nando lagi.
"Pasti mau morotin si Clara doang." lanjutnya kemudian.
"Ya apalagi, yang dicari laki-laki umur segini ke janda beranak tiga. Kalau bukan uang dan numpang hidup." Nando kembali meremehkan Ferdi.
"Lo nggak ambil aja anak-anak lo, bro. Ntar malah kenapa-kenapa lagi. Dapat bapak tiri umuran segitu."
"Gue sih pengen anak-anak tinggal sama gue." ucap Nando.
"Usia mereka udah di atas 12 tahun dan seharusnya mereka udah bisa memilih untuk ikut siapa." lanjutnya kemudian.
"Nah ya udah, tarik aja anak-anak ke lo."
"Ini juga lagi gue usahakan. Gue akan bicara sama mereka." ujar Nando lagi.
Tanpa temannya itu ketahui bahwa Nando baru saja dibuat tertampar oleh anak ketiganya. Yang terang-terangan bersikap tak ramah dan lebih memilih pulang untuk bermain mobile legends, ketimbang pergi bersama dirinya.
***
"Ayo Nad, buruan kesini!"
Aini sang ibu yang memiliki dunia sendiri di kepalanya, kini sibuk menyuruh Nadia sang calon menantu agar cepat datang ke sebuah butik. Ia kini tengah memilah-milah gaun untuk ia pakai di pernikahan Ferdi nanti.
Dan ia ingin mengenakan gaun yang serupa dengan Nadia. Maka dari itu ia mengajak Nadia untuk datang.
"Iya ma, tunggu sebentar. Ini Nadia lagi di jalan, macet banget." ucap Nadia.
"Ya udah mama tunggu. Ini model gaunnya bagus-bagus banget, kamu pasti suka."
"Iya, ma. Tunggu dulu ya!" ucap Nadia sekali lagi.
"Ya udah mama tunggu."
Aini kemudian menutup sambungan telpon tersebut. Sementara Nadia kembali berkonsentrasi dalam mengemudikan mobil. Tiba-tiba handphonenya kembali berbunyi, kali ini telpon dari Jessica.
"Duh, kenapa lagi sih dia?"
Nadia bertanya sendiri. Cukup lama ia mengabaikan telpon tersebut. Namun Jessica selalu mencobanya lagi dan lagi. Hingga Nadia pun terpaksa mengangkat.
"Iya, Jes." ujarnya kemudian.
"Nad, gue udah nggak sanggup lagi Nad." Suara Jessica terdengar parau dan begitu lemah di seberang sana.
"Lo kenapa?"
Nadia yang gampang panik itu kini mendadak jadi khawatir, pikirannya jadi kemana-kemana karena ia memang agak over thinking.
"Gue udah nggak sanggup lagi kayak gini, Nad. Gue masih sayang sama Ferdi. Gue bodoh banget udah mengkhianati dia, padahal dia sayang sama gue."
Jessica terisak dalam tangis. Membuat rambut Nadia yang lurus bak di smoothing menjadi curly seketika. Lantaran otaknya kini menjadi keriting.
__ADS_1
"Udalah Jes, mau lo nyesel segimana juga, Ferdi udah lamaran dan tunangan. Pernikahan mereka nggak mungkin batal." ucap Nadia lagi.
Jessica diam, namun masih terdengar tangisnya yang tak kunjung mereda.
"Bilang sama Ferdi, gue sayang sama dia. Mungkin ini pesan terakhir gue, Nad."
"Maksud lo, lo mau bunuh diri gitu?" Nadia makin khawatir.
Jessica tak menjawab.
"Jes, jangan macem-macem deh. Ini gue lagi mau ketemu nyokapnya Ferdi. Gue lagi riweh, nggak bisa ketempat lo."
Jessica masih diam, tak lama kemudian telpon terputus.
"Jessica, Jes. Jessica."
Nadia memberhentikan mobilnya di bahu jalan.
"****!" gerutunya kemudian.
Ia lalu mencoba menelpon Jessica, namun nomor handphone perempuan itu sudah tak aktif lagi.
"Duh, jangan gini dong. Kan gue kepikiran jadinya."
Nadia semakin resah. Disaat yang sama Aini kembali menelpon.
"Aduh ntar dulu kek." ucap Nadia. Ia pun lalu mencoba menghubungi Ferdi disaat panggilan dari Aini mulai berhenti.
"Hallo, Fer."
"Iya Nad, kenapa?" tanya Ferdi.
"Lo dimana sekarang?"
"Baru keluar dari kantor, kenapa?"
"Fer, lo ketempat Jessica dulu gih. Itu dia mau bunuh diri." Nadia berkata dengan terburu-buru dan penuh kecemasan."
"Bunuh diri?. Bunuh diri gimana?"
"Pokoknya tadi dia nelpon gue. Dia itu terpukul karena tau lo mau nikah sama Clara. Dia mau bunuh diri sekarang."
Ferdi menghela nafas.
"Nad, dari jaman masih pacaran dia itu emang suka drama." ucap Ferdi.
"Kalau dia beneran bunuh diri gimana?. Orang yang terakhir dia hubungi itu gue, Fer. Gue yang akan ketempuhan kalau sampai kejadian."
Ferdi menghela nafas panjang.
"Ya udah deh, ntar gue kesana." ucap Ferdi.
"Beneran ya."
"Iya, ini gue jalan." ucap Ferdi lagi.
__ADS_1
Nadia pun akhirnya bisa bernafas lega, setelah tadi udara terasa begitu menipis.