Terpaksa Menikahi Janda Kaya

Terpaksa Menikahi Janda Kaya
Clara


__ADS_3

Jeffri dan Adrian tengah mengadakan sebuah pertemuan, guna mencari investor yang diharapkan bisa menyelamatkan perusahaan mereka.


Dengan kekuatan melobi tingkat dewa. Serta janji manis, semanis ucapan buaya. Jeffri dan Adrian berusaha memperdaya calon-calon penyumbang dana.


Mereka menemui setidaknya 100 orang di aula pertemuan itu. Tentu saja orang-orang tersebut adalah orang-orang kaya, yang tidak tahu secara pasti perihal petaka yang kini tengah menggerogoti perusahaan Jeffri. Mereka taunya Jeffri itu seorang pengusaha sukses yang kini tengah memberi angin surga kepada mereka.


"Jeff."


Adrian melirik pada suatu arah. Ke tempat dimana seorang wanita muda dan cantik, tengah berdiri sambil meminum segelas sampanye yang disediakan.


"Itu Clara Danuwidjaja." ujar Adrian.


Jeffri mengerutkan keningnya.


"DNC grup?"


Jeffri menyebutkan grup perusahaan yang kini tengah meroket dalam dunia bisnis negri ini.


"Ya, dan dia janda sekarang." ujar Adrian lagi.


Jeffri kembali mengerutkan kening. Ia paham makna janda secara harfiah. Namun tak paham apa hubungannya hal tersebut dengan semua ini.


"Tunggu-tunggu!"


Jeffri mulai berpikir dan menemukan jawabannya.


"Maksud lo gue harus deketin dia, supaya dia bisa bantu menyelamatkan perusahaan kita?" tanya Jeffri.


"Yap, kira-kira seperti itu." jawab Adrian.


"Nggak, nggak, nggak. Gue nggak akan gunakan cara licik seperti itu." ujar Jeffri.


"Perusahaan itu gue bangun atas dasar kejujuran, gue nggak mau merubah itu semua." lanjutnya lagi.


"Lah emangnya mendekati Clara, kemudian membuat dia bergabung dengan kita dan perusahan ini. Apa itu sebuah bentuk ketidakjujuran?" tanya Adrian.


"Toh tujuan kita membuat pertemuan ini, memang untuk menipu calon investor kan. Walaupun kita pada akhirnya akan mengembalikan uang mereka berikut bunganya. Tetap aja jalan awalnya menipu." lanjut pria itu.


"Tapi kan lo tau kalau gue monogami. Gue orangnya nggak bisa bohong, bro. Dan Aini itu lebih dari detektif yang kerja di badan intelijen negara." ujar Jeffri lagi.


"Yang nyuruh lo poligami siapa, Bambang?" tanya Adrian pada Jeffri.

__ADS_1


"Lah tadi ngapain lo menyinggung soal status jandanya si Clara, kalau emang lo nggak ada niatan untuk nyuruh gue ke arah sana."


"Kan lo masih punya dua anak laki-laki yang belum menikah. Frans dan juga Ferdi."ujar Adrian.


Jeffri kini menatap temannya itu.


"Mereka pekerja keras dan good looking. Sedang Clara janda yang dikhianati oleh mantan suaminya. Kenapa nggak kita satukan saja dalam sebuah pernikahan?"


Jeffri kini tampak berpikir.


"Toh elo sama Aini pernah bilang kan ke gue dan istri gue. Bahwa lo berdua nggak masalah punya menantu yang janda sekalipun. Asal anak-anak lo cinta dan perempuan itu selevel sama kalian."


"Ya tapi kan ini anak-anak gue nggak cinta, nggak kenal juga sama si Clara itu." tukas Jeffri.


"Tapi paling tidak mereka selevel, sama-sama berasal dari keluarga kaya. Dan kekayaan Clara saat ini, bisa kita pakai untuk menyelamatkan perusahaan kita."


"Lo yakin dengan semua ini?. Kalau Clara yang nggak mau sama salah satu anak gue gimana?"


"Makanya deketin dulu, lobi dulu. Lo kan jago dalam hal itu." ujar Adrian lagi.


Mereka kemudian mengambil minuman, yang dibawa oleh pelayan. Keduanya saling memberi kode lalu mendekat ke arah Clara yang masih berdiri di tempat semula.


"Salah satu anak saya, berharap bisa bekerjasama dengan anda. Dia sangat mengagumi anda." ujar Jeffri pada Clara.


"Oh ya?" tanya Clara sambil tersenyum dengan begitu manisnya.


"Iya, anak saya berusia 27 tahun dan masih single. Dia selalu menjadikan kepemimpinan anda di DNC grup sebagai sebuah acuan sekaligus panutan. Dia pernah bilang ke saya, kalau anda adalah sosok yang menginspirasi. Dia tipikal orang yang menyukai perempuan tangguh. Setiap anda berada di forum televisi atau seminar, dia pasti datang untuk mendengarkan anda bicara."


Jeffri benar-benar menggunakan kemampuan akting dan juga bibir dustanya untuk semua itu. Untung saja Adrian sudah terbiasa dengan kebangsatan Jeffri selama ini. Jadi ia tidak tertawa dan turut mendukung kebohongan temannya itu.


"Nanti kapan-kapan boleh saya ketemu anaknya pak Jeffri?" tanya Clara pada pria itu.


Tentu saja ini merupakan umpan balik yang sangat bagus untuk mereka.


"Oh tentu, dengan senang hati. Saya yakin Ferdi akan senang mendengar hal ini." jawabnya kemudian.


"Oh namanya Ferdi?" tanya Clara.


"Iya, Ferdi. Dia orang yang manis dan romantis. You will love him."


"Oh, ok."

__ADS_1


Clara kembali tersenyum pada keduanya. Lalu obrolan mereka pun berlanjut ke arah lain.


***


"Koq Lo pilih Ferdi, bukan Frans?"


Adrian bertanya pada atasan sekaligus sahabatnya itu. Ketika mereka berdua sudah berada di jalan pulang.


"Frans kan udah sama Nadia. Bapaknya Nadia itu bekerjasama dengan kita sejak lama."


"Oh iya sorry, gue lupa." ujar Adrian.


"Lupa kalau Nadia itu anaknya Irwan Darmawan." lanjutnya sambil tertawa.


"Nggak mungkin dong, gue mengkhianati kerjasama yang sudah terjalin. Kalau Ferdi kan tau sendiri, pacarnya aja mirip cabe-cabean gitu."


"Yang Jessica-Jessica itu bukan sih?" tanya Adrian.


"Iya, yang waktu itu dia ajak ke acara keluarga."


"Jessica itu kerja apa?" tanya Adrian.


"Kagak kerja, live sosial media doang kerjanya. Joget-joget di sawer. Sisanya morotin si Ferdi." jawab Jeffri.


"Wah parah, kenapa sih si Ferdi kalau dapet cewek yang gitu mulu. Dulu juga sama kan, yang dia galau banget. Ceweknya merried sama om-om."


"Tau, anak gue yang satu itu emang bego soal urusan cinta. Dia itu sama kayak gue, gampang jatuh cinta. Tapi bedanya gue selalu jatuh cinta sama orang yang tepat dan dia ke orang yang salah."


"Udah paling bener lo jodohin tuh sama si Clara. Daripada dia di porotin mulu. Ntar lama-lama si cewek sama keluarganya jadi sinetron. Mau menguasai semuanya."


"Itu dia, makanya anak-anak gue itu gue larang pacaran sama yang nggak selevel. Karena pasti banyak yang manfaatin doang. Nggak ceweknya, ya keluarganya nebeng numpang hidup. Nggak mau berusaha sendiri."


Adrian tertawa.


"Untung anak gue yang satu udah nikah sama yang selevel. Satunya lagi punya pacar selevel juga" ujarnya kemudian.


"Anak lo si Adril sama Adnan mah penurut. Ferdi, ngebantah mulu kalau soal pasangan. Kadang gue mikir jangan-jangan dia itu di guna-guna sama si Jessica."


"Hahaha." Adrian terbahak.


Jeffri pun ikut tertawa akibat ucapannya sendiri. Pria itu kemudian menaikkan kecepatan mobilnya, hingga kini melaju lebih kencang.

__ADS_1


__ADS_2