
"Nggak, pergi!."
"Pergi!"
"Pergi kamu!
"Pergi!"
"Bang."
Axel yang malam itu tidur bersama kedua kakaknya di satu kamar, tampak membangunkan Arvel yang terlihat mengigau.
"Bang."
Arvel terbangun berbarengan dengan Anzel yang juga mendengar suara Axel.
"Abang kenapa?" tanya Axel pada sang kakak tertua.
Arvel tampak bengong, sebab ia pun lupa pada apa yang menjadi mimpinya tadi.
"Abang mimpi apaan?" tanya Anzel penasaran.
Arvel menggelengkan kepala, dan wajahnya masih terlihat bingung.
"Abang lupa." jawbnya kemudian.
"Nggak inget sama sekali?" tanya Axel.
Arvel lagi-lagi menggelengkan kepalanya.
"Tapi satu hal yang abang ingat." ujarnya.
"Apa?"
Anzel dan Axel bertanya di waktu yang nyaris bersamaan.
"Om Nath." jawab Arvel.
"Om Nath?" Anzel dan Axel sama-sama mengerutkan dahi.
"Om Nath bosnya om Ferdi?" tanya Anzel.
Kali ini Arvel mengangguk.
"Iya." jawabnya.
"Emang dia ngapain di mimpi abang?" tanya Axel lagi.
"Abang nggak tau, nggak inget sama sekali. Tapi abang ingat mukanya dia di dalam mimpi abang."
"Kebetulan doang kali." ujar Anzel.
"Iya, Axel kadang mimpi kapten Amerika malahan." Axel menimpali.
"Iya, tapi tuh rasa yang ditinggalkan nggak enak banget deh. Kayak sedih, tapi tuh abang nggak tau sedihnya kenapa."
"Abang nggak baca doa kali tidurnya. Orang terakhir tadi Axel liat abang ngelike fotonya Ariel Tatum sama Pevita Pearce." seloroh Axel.
"Dih, siapa yang ngelike?" Arvel membela diri.
"Makanya abang mimpi buruk. Baca doa kagak, malah ngeliatin foto cewek cakep dulu." lanjut Axel lagi.
Arvel menoyor kepala adiknya itu. Kemudian mereka kembali tidur. Sedangkan Anzel agak berpikir sedikit mengenai hal tersebut, sebelum akhirnya ia ikut terlelap.
***
"Ah, Fer."
"Ssshhh."
"Aaaaaah."
"Sayang, suara kamu. Nanti di dengar anak-anak loh."
__ADS_1
Ferdi yang malam itu menjalankan kewajibannya sebagai suami, meminta Clara untuk menurunkan sedikit volume suaranya. Sebab Clara nyaris berteriak saking keenakan.
"Hmmh, enak Fer. Hmmh."
"Iya sayang, aku tau."
"Ssshhh."
Ferdi mencium bibir Clara, sambil terus memompa di bagian bawah. Clara benar-benar melayang dibuatnya.
"Hmmh."
"Ssshhh."
Dan setelah cukup lama berlalu.
"Sayang aku mau, kel..."
"Aaaaaah."
Arvel, Anzel dan Axel kaget di kamar mereka. Tadi sejatinya mereka sudah nyaris terlelap kembali.
"Bang, denger suara orang teriak nggak sih?"' tanya Axel pada kedua kakaknya.
"Denger sih." jawab Arvel seraya menatap Anzel dan begitupula sebaliknya.
Namun tak lama mereka berdua menyadari sesuatu, lalu tersenyum nakal satu sama lain. Membuat Axel menjadi penasaran.
"Apaan sih bang?. Suara siapa coba?" tanya Axel penasaran.
"Nggak ada, lo tidur aja udah." perintah Arvel.
"Ih suara siapa yang tadi?" tanya Axel dengan wajah yang polos.
"Suara kuntilanak yang keliaran di kompleks kita." seru Anzel.
"Masa sih?" Wajah Axel berubah panik.
"Beneran suara kuntilanak ya bang?" tanya Axel lagi.
"Beneran, makanya tidur." jawab Arvel.
Axel lalu menarik selimut dan segera memejamkan mata. Kebetulan memang posisinya ada di tengah-tengah Arvel dan juga Anzel. Tak lama kedua kakaknya itu pun ikut terlelap.
Sementara di kamar bawah, Ferdi dan Clara masih merengkuh sisa-sisa kenikmatan. Ferdi mendekatkan kepalanya ke perut Clara, sambil memeluk istrinya itu.
"Dek, kamu lagi apa di dalam sana?" tanya nya kemudian.
"Lagi di sayang sama papa." Clara menjawab.
Ferdi mendaratkan ciuman disana.
"Kamu baik-baik aja kan sejauh ini?" tanya nya pada sang istri.
"Baik koq." jawab Clara sambil membelai kepala dan rambut Ferdi dengan lembut.
"Aku baru kali ini menghadapi perempuan hamil. Jadi aku masih takut dan penuh khawatir banget sepanjang waktu." ujarnya.
Clara tersenyum.
"Sini!"
Ia menarik Ferdi untuk sejajar dengannya, kemudian mereka saling berpelukan satu sama lain.
"Aku sayang kamu, Ferdi." ucap Clara.
"Apalagi aku." jawab Ferdi.
"Aku nggak akan biarin hal buruk terjadi sama keluarga kita." lanjut pemuda itu.
Maka keduanya lalu saling menatap dan berciuman.
"Mandi yuk!" ajak Ferdi.
__ADS_1
"Ayo!" jawab Clara.
Tak lama keduanya terlihat mandi bersama, kemudian pergi tidur.
***
Esok hari, di meja makan.
"Ma, mama tau nggak semalam ada suara kuntilanak."
Axel berkata dengan penuh keyakinan.
"Kuntilanak?"
Clara mengerutkan dahi, sementara Ferdi ikut mendengarkan.
"Iya kuntilanak kata abang. Abis kayak orang teriak gitu deh ma." ujar Axel lagi.
"Jam berapa?" tanya Clara dengan nada ragu-ragu.
"Jam satu-an yang bang ya?"
Axel menatap kedua kakaknya, sementara kedua kakaknya itu tampak canggung dan berusaha tersenyum.
"I, iya." jawab keduanya serentak.
Ferdi menahan tawa, sementara wajah Clara berubah memerah. Ia sadar mungkin suaranya-lah yang di dengar oleh anak-anaknya semalam. Clara lalu melanjutkan makan tanpa meneruskan obrolan tersebut.
"Mama percaya kuntilanak kan?" tanya Axel.
"Menurut mitos, kuntilanak itu suka kalau ada perempuan hamil." lanjutnya kemudian.
Ferdi makin berusaha menahan tawa.
"Mmm, iya mama tau mitos itu." ujar Clara.
"Tapi mama lebih percaya perlindungan Tuhan." ujarnya lagi.
"Iya sih." jawab Axel.
"Ya udah abisin makannya." ucap Clara.
"Iya ma."
Axel melanjutkan makan hingga habis. Setelah itu mereka semua berangkat. Ada yang bekerja, dan ada yang sekolah.
***
Disepanjang perjalanan menuju kantor, Ferdi dan Clara menjadi agak canggung. Clara benar-benar malu suaranya terdengar sampai atas semalam. Namun Ferdi kini jadi senyum-senyum sendiri.
Sebab ia telah mengingatkan Clara akan hal tersebut. Namun Clara tak mengindahkan, bahkan semakin hanyut dalam permainan Ferdi.
Untung hanya dikira kuntilanak. Kalau sampai Axel sadar itu adalah suara hubungan suami istri yang dilakukan orang tuanya. Bisa-bisa pikiran anak itu menjadi kotor bahkan rusak.
"Besok-besok, aku gigit sesuatu kali ya Fer. Biar nggak teriak."
Ferdi tak dapat membendung lagi tawanya.
"Kayaknya iya, soalnya nggak baik juga buat mental anak-anak. Ya walaupun mereka udah remaja, dan remaja jaman sekarang tau soal begituan. Tapi kan tetap kita harus menjaga mereka. Jangan sampai mereka jadi melakukan hal serupa dengan pacar-pacar mereka. Emang kamu mau punya cucu sekarang?" tanya Ferdi.
"Ih, amit-amit jabang bayi ya Fer. Aku lempar sendal bakiak kepala mereka, kalau sampai terjadi hal kaya gitu."
"Lain kali kita harus hati-hati. Aku curiga Arvel sama Anzel nggak mengira kalau semalam itu suara kuntilanak." ucap Ferdi.
Clara agak kaget mendengar pendapat suaminya tersebut.
"Maksud kamu, mereka tau itu?" tanya Clara.
"Kayaknya iya." jawab Ferdi.
"Soalnya ekspresi mereka beda." lanjut pemuda itu.
Clara makin memerah wajahnya, dalam hati ia benar-benar khawatir sekaligus merasa bersalah. Ia takut mental kedua anaknya menjadi terganggu akibat hal tersebut.
__ADS_1