
Sore itu sepulang kantor, sesuai janji Clara dan kedua sahabatnya pergi ke butik. Tempat dimana Clara memesan gaun pengantin.
Setibanya disana, Clara langsung mencoba contoh gaun yang ia pesan, sedangkan. Friska dan Valerie mencari gaun jadi berwarna Lila. Sesuai dengan apa yang menjadi warna baju bridesmaids, yang telah ditentukan oleh Clara.
"Waw, lo cantik banget."
Valerie memuji Clara yang saat ini telah berada dalam balutan gaun pengantin.
"Iya, tapi ini agak kegedean di bagian sininya. Karena ini contoh." ucap Clara seraya menunjukkan bagian yang menurutnya kebesaran.
"Coba sini gue tarik belakangnya." ucap Friska.
Maka wanita itu pun membiarkan sang sahabat menarik bagian yang kebesaran itu.
"Bagus, Cla. Sumpah bagus." ujar Valerie sekali lagi.
"Berarti cocok ya di gue?" tanya Clara.
"Iya cocok banget." jawab Friska dan Valerie secara serentak.
"Nggak salah dong pilihan gue?"
"Nggak, udah. Ini bagus banget." ujar Friska.
"Elegan, simpel, pokoknya cakep." lanjutnya lagi.
Clara lalu mematut dirinya di depan kaca sambil tersenyum. Sementara Friska dan Valerie kini menuju ke ruang ganti. Tak lama mereka tiba dengan gaun berwarna Lila yang telah mereka pilih.
"Gimana, Cla?" tanya keduanya pada Clara.
"Bagus."
Clara berujar secara spontan, karena menurut pandangan matanya, pilihan kedua wanita itu memanglah bagus dan pas di badan mereka.
"Gue ini aja deh." ujar Valerie sambil mematut diri di depan kaca.
"Gue ini apa ini ya?"
Friska masih ragu dengan dua model pilihan. Antara yang ia pakai dengan satu lagi yang masih berada di gantungan.
"Coba pakai." ujar Clara kemudian.
"Coba ya."
Friska pun mencoba gaun yang satu lagi.
"Kalau kata gue bagus yang tadi." ucap Valerie.
"Gimana, Cla?" Valerie meminta persetujuan wanita itu.
"Iya, bagus yang tadi." jawab Clara.
"Beneran?" tanya Friska.
"Iya, tapi terserah elo." ujar Clara
"Oke deh."
Friska pun menentukan pilihan pada gaun yang sebelumnya.
Tiba-tiba handphone Clara berdering. Ternyata itu dari Ferdi.
"Hai." ucap Clara sambil tersenyum.
"Hai, kamu lagi dimana sayang?" tanya Ferdi.
Baru saja Clara hendak menjawab, terdengar sebuah celetukan di dekat pemuda itu.
"Sayang, pale lu sayang."
Suara tersebut adalah suara Jordan dan tentu saja ia tengah bercanda meledek Ferdi, yang saat ini sudah mulai berani mesra pada Clara.
__ADS_1
"Sana ah, dengki lu." seloroh Ferdi seraya tertawa. Ia kemudian mengulang pertanyannya.
"Kamu dimana sayang?"
"Lagi fitting baju." jawab Clara.
"Oh, mana fotoin dong!" pinta Ferdi.
"Ya jangan dong, nanti nggak wah lagi pas hari pernikahan kita."
"Iya sih."
Ferdi menjawab sambil masih tersenyum. Ia bahagia bisa mendengar suara Clara.
"Oh iya, kamu sendiri dimana?" tanya Clara.
"Aku di tempat latihan."
"Karate?"
"Iya, sama jordan. Ada Sean juga."
"Udah balik apa baru mau latihan?" tanya Clara lagi."
"Baru mau latihan."
"Oh oke deh, selamat latihan ya."
"Iya, kamu disana sama siapa?"
"Sama Friska dan Valerie. Sekalian mereka juga cari baju buat bridesmaids."
"Oh, oke deh kalau gitu. Aku latihan dulu ya."
"Iya, tapi jangan sampai kecapean banget."
"Iya, nggak koq." ucap Ferdi.
"Ya udah."
"Iya."
"Bye."
"Bye."
Ferdi menyudahi telpon tersebut. Sementara Clara lanjut berkutat dengan gaun pernikahannya.
***
Axel tiba di tempat latihan dengan agak sedikit berantakan, serta bagian salah satu sudut bibirnya tampak biru lebam.
"Fer, anak lo kenapa tuh?"
Sean yang melihat Axel duluan, kini menyikut Ferdi. Ferdi pun menoleh.
"Axel."
Ferdi memanggil Axel, anak itu menoleh. Namun tak seperti biasa, ia hanya tersenyum sekedarnya saja. Padahal bisanya ia langsung nyengir saat bertemu dengan Ferdi.
"Itu sudut bibir kamu kenapa?" tanya Ferdi.
"Nggak apa-apa, om." jawabnya kemudian.
"Jangan bohong."
Ferdi seakan mengetahui apa yang calon anak tirinya itu sembunyikan.
"Beneran, nggak apa-apa om."
Ferdi masih berdiri ditempatnya dan terus menatap Axel. Hingga Axel pun mendadak menjadi canggung.
__ADS_1
"Axel dipukul sama yang nggak suka sama Axel." remaja itu akhirnya jujur.
"Kamu balas?"
Axel menggelengkan kepala.
"Kenapa, kamu kan bisa beladiri." ujar Ferdi lagi.
Axel menunduk.
"Kata mama dan coach, beladiri itu dipelajari bukan untuk sok jago berkelahi."
"Tapi kamu juga harus menggunakannya kalau situasi memang genting." ujar Ferdi kemudian.
"Sudah berapa lama mereka sering membully kamu?" tanya nya lagi.
"Udah lumayan lama, om." jawab Axel takut-takut.
"Dimana mereka?" Lagi-lagi Ferdi bertanya.
Axel tak menjawab.
"Om tanya, Axel."
Maka Axel pun menjawab. Ia memberitahu keberadaan anak yang telah memukulnya tadi.
"Ikut om!" ujar Ferdi.
Axel tercengang.
"Mau kemana om?" tanya nya kemudian.
"Ayo ikut!"
Ferdi melangkah dan Axel mau tidak mau harus ikut. Jordan dan Sean yang menyaksikan hal tersebut tetap menunggu di tempat. Sebab mereka sudah bisa membaca, apa yang Ferdi hendak lakukan.
Axel masuk ke mobil Ferdi. Calon ayah tirinya itu mengemudikan mobil dengan kecepatan cukup tinggi. Sampai akhirnya mereka tiba di suatu tempat yang membuat Axel benar-benar terkejut.
"Yang mana orangnya, itu kan?"
Ferdi melihat ke arah sekumpulan remaja yang tengah nongkrong di sebuah tempat minum kopi. Axel diam, namun dari diamnya itu Ferdi sudah mendapat jawaban.
"Keluar dan balas!" ujar Ferdi lagi.
"Ta, tapi om?"
"Kalau kamu nggak balas, om akan bilang ke mama kalau kamu dibully selama ini. Biar mama yang datangi anak itu di sekolah kamu dan kamu lebih malu lagi."
Nafas Axel seketika memburu, jujur ia tidak mau sampai Clara atau kedua kakaknya tau jika ia sering di-bully selama ini. Maka dengan modal ancaman dari Ferdi tersebut, ia keluar dari dalam mobil.
Tanpa banyak membuang waktu ia segera berjalan, ke arah remaja yang memukulnya tadi. Kemudian,
"Buuuk."
Axel menghajar remaja itu secara serta merta. Remaja itu dan teman-temannya kaget. Begitu juga dengan pengunjung kafe lain. Axel memukul lawannya empat kali, hingga lawannya tersebut jatuh tersungkur.
Teman dari lawannya itu mencoba mengeroyok dirinya, namun Axel berhasil menumbangkan mereka semua. Sebab kemampuan beladiri ditambah dendam yang sudah mengakar, merupakan perpaduan yang sempurna untuk membabi buta.
Selama ini ia begitu patuh pada apa yang di ucapkan Clara dan juga coach nya. Sehingga ia tak pernah melawan dan terkesan sebagai anak yang cupu di mata para lawannya tersebut.
Pihak pemilik cafe dan sekuriti mengamankan mereka semua. Ferdi kemudian muncul dan menarik si owner. Ia mengganti rugi semuanya secara kontan, saat itu juga.
Alhasil Axel tak jadi di laporkan pada pihak yang berwajib. Sementara kini lawannya babak belur.
"Om, gimana kalau mereka lapor polisi?" tanya Axel pada Ferdi ketika mereka telah berada di dalam mobil.
"Nggak mungkin, mereka pasti malu sudah kalah dengan kamu. Dan tadi juga om lihat, ada beberapa orang yang merekam. Itu sudah cukup untuk menjatuhkan mental mereka." ucap Ferdi.
Axel tersenyum bahkan tertawa. Ternyata menjadi berani tidaklah seburuk yang ia kira.
"Tapi jangan kasih tau mama ya om?"
__ADS_1
"Tenang aja, dia aja belum tau koq kalau kita satu tempat latihan dan sering ketemu."
Axel kaget mengetahui hal tersebut. Namun kemudian ia kembali tersenyum dan Ferdi mulai menghidupkan mesin mobil.