
"Nath, gue antar lo balik ya. Lo kesini nggak bawa mobil kan?" tanya Ferdi ketika tugas lemburnya telah usai.
"Gue bawa mobil koq." jawab Nath.
Ferdi kaget dan hampir mengelus dadanya karena tak habis pikir.
"Gila lo ya." ujarnya kemudian.
"Gue baik-baik aja, Fer. Lo nggak usah khawatir." Nath berujar seraya menutup laptop dan membereskan semuanya.
"Oke." jawab Ferdi.
"Tapi gue iringi lo pulang, biar gue tenang." lanjutnya lagi.
"Nggak usah, ntar lo malah pulang lebih telat lagi. Kasihan istri lo, lagi hamil." ucap Nath.
"Lo tau dari mana?" tanya Ferdi.
"Jordan." jawab Nath.
"By the way congrats ya, bro. Jaga istri lo dengan baik, karena nggak semua orang bisa dapat kesempatan itu." tambahnya.
"Thanks." tukas Ferdi.
"Ya udah, cabut yuk!" ajak Nath kemudian.
Mereka lalu beranjak meninggalkan kantor.
"Lo yakin bisa aman sampai rumah?"
Ferdi kembali melempar pertanyaan pada Nath, ketika mereka telah berada di halaman parkir.
"Yakin, ntar gue kabarin kalau udah sampe." jawab Nath.
"Oke."
Ferdi menuruti keinginan Nath, meski hatinya masih tak yakin dan ingin mengiringi kepulangan temannya itu hingga sampai ke rumah.
Nath masuk ke dalam mobil, Ferdi pun demikian. Tak lama mereka berpisah di dua jalur yang berbeda. Tetapi Ferdi masih tetap tak tenang hatinya.
Ia belum tau apakah Nath benar-benar sudah sembuh atau hanya memaksakan diri. Sebab tadi pun wajahnya masih terlihat pucat. Meski atasannya itu makan dengan cukup baik.
Ferdi menilik jam digital yang ada di dashboard. Hari sudah kadung malam dan mungkin juga Clara serta anak-anak telah tertidur.
Ia memutar arah dan menyusul Nath. Setidaknya bila terjadi apa-apa dengan temannya itu, Ferdi ada di belakang dan bisa segera menolong. Walaupun ia berharap tak demikian.
Tapi dengan keadaan Nath yang mengidap penyakit langka, Ferdi cukup merasa khawatir. Apalagi Nath dengan santainya menyetir mobil sendiri.
Ferdi menaikkan kecepatan. Ketika tiba di suatu jalan, ia menemukan mobil Nath yang terparkir di pinggir jalan menuju ke pantai. Kebetulan Nath memang tinggal di kawasan elite di utara kota, yang notabenenya dekat dengan pelabuhan.
Ferdi buru-buru memarkir mobilnya karena khawatir penyakit Nath kambuh dan pria itu pingsan didalam. Ferdi memeriksa mobil tersebut, namun Nath tak ada di dalamnya.
Ia kini berjalan cepat ke arah pantai dan matanya menjelajah kesana-kemari. Dalam sekejap pandangannya menangkap pria itu. Dimana Nath tengah berdiri sambil menatap jauh ke depan.
Nath tak menyadari kehadiran Ferdi, sebab Ferdi berada cukup jauh di belakang. Pria itu lalu berteriak meluapkan semacam emosi, kemudian ia menunduk dan menangis dengan keras.
__ADS_1
Ferdi pun kaget. Selama mengenal Nath baru kali ini ia mendengar temannya tersebut menangis. Tidak seperti Jordan dan Sean yang lebih gampang mengungkapkan emosi mereka, terlebih di saat mabuk. Keduanya biasa curhat dengan Ferdi bahkan sampai benar-benar menitikkan air mata.
Sementara Nath seperti jiwa yang stabil dan tenang selama ini. Ia cenderung bersikap layaknya orang yang tidak pernah memiliki beban atau masalah apapun.
Seperti yang para karyawan kantor bilang, Nath itu nyaris sempurna. Ia tampan, sukses, terlahir dari keluarga kaya-raya dan cukup banyak digilai wanita.
Tapi kini dihadapan mata Ferdi, ia melihat sisi lain dari seorang Nat. Pria itu seperti begitu rapuh dan nyaris hancur.
"Apa mungkin karena penyakit yang ia derita, sehingga ia terlihat begitu stress." gumam Ferdi.
"Atau ada hal lain yang lebih besar." lanjutnya lagi.
Nath melanjutkan tangisnya hingga puas. Kemudian ia kembali diam sama seperti di awal tadi.
Tak lama ia berbalik arah, Ferdi buru-buru kembali ke mobil dan memundurkan kendaraannya itu cukup jauh.
Nath yang masih tak menyadari kehadiran Ferdi tersebut, akhirnya kembali ke mobil. Ferdi mengikuti pergerakannya dan memastikan Nath sampai di rumah.
"Dert."
"Dert."
"Dert."
Tiba-tiba Clara menelpon.
"Ferdi, kamu belum pulang?" wanita itu langsung bertanya tanpa basa-basi.
"Iya sayang, ini aku udah dijalan pulang koq. Kamu tunggu aku ya." ucap Ferdi.
"Iya, ini aku bentar lagi sampe."
"Ya udah, hati-hati." ujar Clara.
"Iya sayang."
Clara menyudahi telpon tersebut, Ferdi melanjutkan perjalanan. Kebetulan mobil Nath sudah masuk ke area pekarangan rumahnya.
Ferdi mengemudikan mobil dengan kecepatan cukup tinggi. Berhubung hari telah larut dan jalan yang ia lalui sudah sepi, ia pun cepat tiba di rumah.
"Ferdi."
Clara menyambutnya di kamar dengan pelukan.
"Aku mandi dulu ya, takutnya dadi luar ada virus atau apa." ucap Ferdi.
Clara mengangguk.
"Mau aku siapin makan?" tanya nya kemudian.
"Nggak usah, tadi udah makan di kantor."
"Aku bikinin susu hangat ya." ujar Clara lagi.
"Kalau kamu nggak keberatan." tukas Ferdi.
__ADS_1
"Kalau males, ntar aku bikin sendiri. Kamu tiduran aja disini." ujarnya lagi.
"Nggak apa-apa koq, bikin susu doang." ucap Clara.
"Ya udah, makasih ya sayang."
Ferdi berkata sebelum akhirnya mengambil handuk.
"Sama-sama." jawab Clara lalu beranjak.
Ferdi kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Setelah beberapa saat Clara kembali dengan segelas susu hangat, menyusul tak lama dari situ Ferdi keluar dari kamar mandi.
Pria itu kemudian mengenakan piyama tidur dan mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk. Ia mendekat lalu mencium bibir Clara.
"Kangen ya sama aku?" tanya nya pada sang istri.
"Iya, kangen banget."
"Dedek kangen nggak sama papa?" Ferdi kembali bertanya seraya mengelus perut Clara.
"Kangen banget, papa. Ini yang bikin Mama kangen terus sama papa." ucap Clara kemudian.
Ferdi tersenyum lalu kembali mencium bibir sang istri.
"Nanti kalau kamu udah lewat tiga bulan di perut mama, papa kunjungi." seloroh Ferdi.
Clara tersenyum bahkan tertawa kecil.
"Kamu udah pengen banget ya, Fer?" tanya nya kemudian.
"Bisa tau pake cara lain." lanjut wanita itu.
Kali ini Ferdi yang tertawa.
"Iya sayang, aku sabar koq. Lagian juga aku lagi capek malam ini. Pengen pelukan aja sama kamu." ucap pemuda itu.
Ia lalu duduk di sisi Clara dan memeluk sang istri.
"Susunya di minum, Fer." ujar Clara.
Ferdi menoleh ke meja samping dan mengambil susu yang sudah di buatkan oleh wanita itu. Kemudian ia pun mulai meminumnya.
"Gimana tadi kerjaan kamu?" tanya Clara.
"Beres, semuanya lancar." jawab Ferdi.
"Kamu jangan lupa doain aku ya." lanjutnya lagi.
Clara tersenyum.
"Kalau itu nggak usah diminta, aku selalu doain kamu yang terbaik." jawabnya.
"Makasih ya, sayang."
Ferdi mencium kening Clara lalu lanjut meminum susu yang ada di dalam gelas hingga habis. Usai mengobrol cukup lama mereka pun akhirnya pergi tidur.
__ADS_1