
"Nggak, pokoknya Ar nggak mau kalau mama nikah lagi."
Arvel sudah menolak duluan. Sebelum mendengar alasan sang ibu, perihal mengapa ia hendak menikah lagi. Hal yang sama juga terjadi pada si anak kedua Anzel. Ia juga menunjukkan reaksi yang sama dengan sang kakak.
Hanya Axel yang terlihat netral, namun di pelototi oleh kedua kakaknya. Akhirnya ia memilih untuk menentang pula.
"Adek ikut apa kata abang-abang aja, ma." ujarnya kemudian.
Clara menarik nafas, ia berpikir apakah harus jujur pada ketiga anaknya itu. Mengenai dirinya yang ingin menyerang balik sang mantan suami.
Clara benar-benar tak tau, apakah hal tersebut akan membuat anak-anak membenci ayah mereka atau tidak. Sebab ia tak ingin menanamkan hal tersebut pada mereka. Biar bagaimanapun Nando adalah ayah mereka. Tapi keadaan ini sudah sangat mendesak.
"Mama butuh pendamping, Ar. Mama nggak bisa sendirian dalam mengasuh kalian." ucap Clara seraya menatap ketiga anaknya itu.
"Hidup kita baik-baik aja, ma. Keuangan kita juga baik-baik aja kan?"
Arvel yang pendiam itu, entah mengapa kini seolah mengeluarkan segala isi pikirannya dengan berani.
"Arvel bisa jaga adek-adek, dan mereka juga bisa jaga diri." lanjutnya lagi.
"Kalian butuh sosok ayah."
"Nggak."
Arvel dan Anzel menjawab di waktu yang nyaris bersamaan. Sedang Axel yang loadingnya sedikit lama itu, akhirnya ikut menjawab.
"Nggak." ujarnya kemudian.
Clara kembali menarik nafas dan menatap anak-anaknya itu sekali lagi. Sementara mata Arvel, Anzel dan Axel tertuju pada lain sudut.
"Perusahaan peninggalan kakek kalian, yang saat ini mama pegang. Itu memiliki cabang dan salah satu cabangnya masih dipegang sama papa kalian."
Arvel, Anzel, dan Axel kini menatap ke arah Clara.
"Tau kan kalau papa kalian nggak kasih nafkah lagi?. Padahal dia masih menghasilkan uang dari perusahaan itu dan perusahaan keluarga dia yang lainnya. Tau kan larinya uang papa kalian kemana?"
Ketiga anak itu kini diam. Clara benar-benar sudah tak memiliki jalan lain selain jujur.
"Perusahaan itu hanya bisa mama ambil kembali, kalau mama menikah lagi. Sebab kakek kalian meninggalkan sebuah perjanjian aneh, sebelum mama menikah dengan papa kalian."
"Perjanjian aneh?" Anzel kini bertanya pada sang ibu.
"Ya, dulu saking inginnya mengawinkan perusahaan kami dengan perusahaan milik orang tua papa kamu. Kakek kamu, papanya mama itu sampai membuat sebuah perjanjian. Bahwa dia akan mempercayakan salah satu cabang perusahaan kepada papa kalian. Karena saat itu keluarga papa kalian memberi syarat, supaya mau menikahkan papa kalian dengan mama. Syaratnya harus ada jaminan, supaya mereka merasa aman bekerja sama dan tidak was-was akan dikhianati oleh kami."
"Anzel nggak ngerti, itu kayak cerita di novel online." ujar Anzel kemudian.
__ADS_1
"Mama juga nggak ngerti dengan jalan pikiran mereka. Yang mama tau saat itu adalah, mama di suruh menikah. Dan mama lakukan itu."
Arvel, Anzel, dan Axel kompak menatap Clara.
"Dalam perjanjian itu juga, kalau seandainya kami bercerai. Maka kepemimpinan terhadap cabang perusahaan itu baru bisa diambil alih, kalau mama menikah lagi. Suami mama yang baru yang berhak mengambilnya. Kayaknya kakek kamu sudah mewanti-wanti sifat mama, dan khawatir kalau mama menjadi janda seumur hidup. Kalau seandainya mama bercerai. Sebab bagi mama sendiri pun nggak apa-apa. Tapi kali ini mama punya kepentingan."
Axel menggaruk-garuk kepalanya karena semakin tidak mengerti. Namun Arvel dan Anzel agaknya sedikit paham dengan jalan cerita yang ibu mereka beberkan.
"Terus mama mau menikah demi kepentingan itu?" tanya Anzel lagi.
Clara mengangguk.
"Mau nggak mau." jawab Clara kemudian.
Ia tak mengatakan jika ia ingin menikah juga karena cinta. Sebab ia takut melukai hati ketiga anaknya itu.
"Ya udah, Anzel setuju kalau cuma untuk itu doang."
Clara menatap Anzel dan tak menyangka jika sebuah begitu mudah.
"Ar juga setuju kalau gitu, tapi jangan harap Ar mau panggil suami baru mama itu dengan sebutan "Papa."
"An setuju sama abang." Anzel menimpali.
"Tapi kalau panggil ayah, boleh nggak bang?"
"Axel nurut apa kata abang aja deh." ujar anak itu lagi
"Mama sangat berterima kasih." ucap Clara kemudian.
"Mama harap kalian bisa bersikap baik terhadap orang yang akan menikahi mama nanti. Sebab dia membantu kita dalam mengambil kembali perusahaan itu. Nggak apa-apa kalau kalian nggak mau panggil dia papa. Tapi tolong bersikap baik, sebab dia orang baik. Mama jamin kalian akan suka sama dia, kalau sudah ketemu dan kenal."
Arvel dan Anzel tak menjawab. Sedang si bungsu Axel lagi-lagi mengikuti sikap kedua kakaknya.
***
"Sorry banget, Cla. Pas kejadian itu gue dapat telpon dari rumah. Ngabarin kalau bokap jatuh di kamar mandi terus pingsan. Buru-buru lah gue balik. Karena nggak mungkin nyetir dalam keadaan panik, gue minta tolong sama Valerie."
Friska menjelaskan kronologi kenapa ia dan Valerie malah pulang, saat Ferdi jatuh pingsan dan di larikan ke rumah sakit. Ini terjadi pada keesokan harinya. Bahkan setelah Clara memberi pengertian pada ketiga anaknya.
"Iya udah, nggak apa-apa koq." ucap Clara pada kedua sahabatnya itu.
"Terus gimana jadinya kalian. Gue sama sekali nggak nyangka loh kejadiannya bakal kayak gitu." ujar Valerie.
"Iya, gue juga nggak habis pikir." timpal Friska.
__ADS_1
Clara kini tersenyum, kemarin-kemarin ia terlihat begitu beban. Saat mengetahui jika Ferdi hendak di jodohkan. Tapi kali ini berubah 180 derajat.
"Gue juga nggak nyangka, ternyata kenyataan kadang selucu itu." ucap Clara.
"Yang jelas jodoh itu nggak kemana sih." goda Friska kemudian.
Clara kembali tersenyum.
"Mereka mau datang dan melamar gue Minggu ini." ujar wanita itu seraya menatap kedua sahabatnya.
"Oh ya?" Valerie dan Friska tampak antusias.
Clara mengangguk. Jeffri dan Adrian memang merubah haluan. Kalau sudah begini jalan keluar satu-satunya adalah, melamar Clara seperti halnya lamaran pria terhadap wanita pada umumnya. Toh ia dan Ferdi juga saling mencintai dan tak ada hal yang perlu di khawatirkan lagi.
"Kalau begitu gue bisa dandan lebih cantik dan lebih heboh dari kemaren dong." ucap Valerie bersemangat.
"Iya, ntar kita persiapkan secara matang." ujar Clara.
"Gue mau keluarga gue ada juga." lanjutnya lagi.
"Asik." Valerie dan Friska berujar dengan wajah penuh berseri-seri.
***
"Ini mesti di ubah, Fer."
Nova berkata pada Ferdi yang saat ini masih berada di rumah sakit.
"Apaan?" tanya Ferdi heran.
"Bukan Terpaksa Menikahi Janda Kaya lagi, tapi Ku Nikahi Janda Kaya Dengan Sukarela."
Ferdi, Jordan, dan Sean tertawa.
"Bangsat." ujarnya kemudian.
"Gue tuh masih terpaksa tau, Va." ucapnya lagi.
"Terpaksa?"
Nova, Jordan, dan Sean kompak mengerutkan dahi.
"Ya kalau bukan karena kepentingan Clara merebut perusahaan itu, gue belum mau nikah. Biarin aja gue pacaran dulu sambil mendalami karakter dia, ngedeketin anak-anaknya dulu. Tapi karena keadaan kayak gini, dan gue juga sayang. Jadi ya udalah, daripada otong gue nganggur."
"Anjir."
__ADS_1
Jordan mengeplak kepala Ferdi dan mereka pun kini tertawa-tawa.