
"Tadi anak-anak ngomong apa aja, Fer?"
Clara bertanya setelah ia kembali pada Ferdi.
"Biasa aja, kita nggak berbicara terlalu banyak koq." jawab Ferdi.
"Mereka anak-anak baik kan?" Clara kembali bertanya pada calon suaminya tersebut.
Ferdi menatap ke arah Arvel dan Anzel. Keduanya mengangkat tangan dan menggerakkannya di sekitar leher mereka. Seperti adegan hendak menghabisi seseorang. Sementara si bungsu ikut-ikutan, karena tengah berada di dekat kedua kakaknya. Tapi Axel menggunakan garpu.
Ferdi pun tertawa, tentu saja hal tersebut membuat Clara heran. Ia menoleh ke arah dimana pandangan Ferdi tadi mendarat. Disana terlihat ketiga anaknya yang telah bersikap santun sambil makan. Clara tak melihat adegan yang sebelumnya.
"Aku harap nantinya, kita bisa punya hubungan yang baik antar satu dan yang lainnya." ucap Clara.
Ferdi mengangguk, lalu merangkul pinggang calon istrinya itu.
"Hai, Fer. Selamat ya!"
Nova mendekat beserta Jordan, Sean, dan juga Nath. Mereka memberi selamat pada pemuda itu.
"Thanks." ucap Ferdi sambil tersenyum.
"Pokoknya gue nanti mau dandan kayak princess waktu lo nikahan." Nova kembali berujar.
"Biar ada CEO yang kecantol kan sama lo."
Jordan langsung menjudge. Sementara Nova kini tersenyum.
"Mabok Novel online mulu lo." seloroh Sean.
Clara memperhatikan Nova sambil tersenyum.
"Tenang aja, nanti bakal banyak CEO yang datang koq." ujarnya.
"Tuh kan, gue bilang juga apa." ujar Nova antusias.
Ferdi, Jordan, Sean dan Nathan saling bersitatap satu sama lain dan tersenyum. Nova memang tak pernah luput dari khayalan babu nya itu. Ia selalu berfantasi jika dirinya berada dalam cerita novel online. Dimana akan ada CEO kaya-raya yang jatuh cinta padanya.
Meski telah diingatkan oleh Ferdi dan teman-temannya yang lain. Tetap saja kadang Nova hilang kendali.
Acara lamaran tersebut pun dilanjutkan dengan acara makan. Bincang-bincang terjalin diantara pihak Jeffri dan pihak keluarga Clara. Sementara Frans ada di sebuah meja bersama Nadia.
"Calonnya Ferdi, cantik banget ya." ucap Nadia sambil memperhatikan Clara.
Frans tak menjawab, namun dalam hatinya memang membenarkan hal tersebut.
__ADS_1
"Oh ya sayang, aku mau ambil minum lagi. Kamu mau?" tanya Nadia.
Frans pun mengangguk, maka Nadia beranjak meninggalkan tempat itu. Igor yang tengah makan di meja sebelah, melipir ke meja Frans.
"Masih sakit hati lo?" godanya pada Frans.
"Nggak, siapa yang sakit hati?"
Igor nyengir venom demi untuk menggoda Frans. Hingga menyebabkan temannya itu menjadi gusar.
"Apaan sih, Gor. Orang gue nggak kenapa-kenapa juga."
Igor makin nyengir, Frans pun terpaksa menoyor kepala sahabatnya itu dengan tangan.
"Udah, mending lo udahin perasaan lo ke Clara. Nanti lo bersaudara bisa jadi canggung kalau dia atau Ferdi tau soal perasaan lo. Belum lagi Nadia nanti mikir macem-macem, malah curiga, cemburu sama Clara. Jadi runyam semuanya."
"Iya."
Frans menjawab dengan agak sedikit kesal.
"Denger nggak omongan gue."
Igor mendekatkan wajahnya ke wajah Frans, bahkan hanya berjarak 5cm saja. Hal tersebut membuat Frans refleks menjauhkan wajah Igor dengan tangannya.
"Apaan sih?"
***
"Gue nggak nyangka itu bocil anaknya Clara."
Jordan berbisik pada Ferdi saat mereka semua tengah berada di suatu sudut. Clara sendiri tampak mengobrol bersama teman-temannya dengan posisi agak jauh. Kini Ferdi melirik ke arah Axel, yang tengah makan.
"Lo nggak punya firasat apa-apa kemaren-kemaren?". Sean kini bertanya padanya.
"Firasat apaan, orang gue pikir dia cuma anak remaja biasa doang. Mana gue tau kalau dia anaknya Clara."
"Selama hubungan emang lo nggak nanya soal anak-anaknya dia?" Kali ini Jordan yang bertanya.
"Hubungan juga baru beberapa hari doang. Nama dia aja gue salah, baru tau tempo hari kalau namanya Clara."
Nathan tertawa kali ini.
"Lo kurang mengeksplorasi, Fer. Kalau gue punya pacar, hari pertama aja gue udah tau semua tentang dia." ucap pria itu.
"Lo mah enak, Nath. Orangnya ceplas-ceplos. Lah gue, banyakan nggak enakannya kalau mau nanya ini itu ke orang. Takut orangnya risih."
__ADS_1
Ferdi berkata seraya tertawa kecil, kemudian mereguk minuman yang ada ditangannya.
"Si Nova mana?" tanya Ferdi lagi.
Mata mereka kemudian menjelajah wilayah sekitar. Tampak Nova berada di suatu sudut dan sedang berbicara dengan seorang laki-laki berjas biru.
"Noh, lagi sama laki-laki dari novel khayalannya."
Sean berseloroh, kini mata mereka semua kompak menatap ke arah dimana Sean melihat Nova.
"Bentar lagi si Nova bakal penuh halu nih hidupnya." tukas Jordan.
Ferdi dan yang lainnya pun kini tertawa-tawa.
***
Sementara di lain pihak, Nando sedang menikmati hari liburnya di sebuah yacht sewaan. Tentu saja bukan hanya ia sendiri yang menyewa, melainkan bersama beberapa temanya yang juga merupakan seorang pengusaha.
Ia berlibur tanpa mengajak istrinya, sebab mereka masih dalam suasana pertengkaran. Istrinya masih cemburu terhadap Clara. Sedang ia sudah sangat ingin bersenang-senang.
Maka jadilah kini ia dan teman-temannya di temani beberapa perempuan yang mereka sewa dari sebuah aplikasi kencan. Wanita yang secara gamblang memang menjajakan pelayanan berbayar.
Dulu ia sering melakukan ini, tanpa sepengetahuan Clara. Ia sering mengatakan jika ia ada tugas keluar kota, dan Clara yang jauh lebih muda darinya itu memang polos. Ia tak tau kelakuan suaminya dibelakang.
"Om, dingin deh. Ke dalam yuk!"
Salah satu gadis muda yang sejak awal menarik perhatiannya tersebut, kini berkata sambil menarik lengan Nando. Nando pun tak menyia-nyiakan kesempatan.
Ia membawa gadis itu ke dalam lalu memberinya kehangatan. Bukan hanya sekedar di peluk dalam ruangan, tapi juga dihangatkan rahimnya dengan semburan lahar panas.
Gadis muda itu terbaring lelah, dengan cairan ada dimana-mana. Setelah beberapa menit di tunggangi oleh Nando. Ia begitu puas dan kembali ke luar, namun tiba-tiba salah seorang temannya menghampiri.
"Ndo, ini si Clara lagi lamaran ya?"
Temannya itu memperlihatkan sebuah rekaman video, yang diunggah salah seorang karyawan Clara. Kebetulan teman Nando itu mengenal si pengunggah. Pernah ingin ia dekati dulu, namun perempuan itu menolak. Tetapi mereka masih berteman di sosial media.
Nando terdiam dan menatap rekaman yang disodorkan padanya tersebut. Tampak Ferdi tengah memasangkan cincin di jari manis Clara.
Seketika kemarahan Nando pun naik ke ubun-ubun. Ia tak suka melihat Clara move on seperti ini.
"Gimana bisa?. Gimana bisa si brengsek itu melamar Clara.?"
Suara Nando terdengar seperti berteriak. Ia ingin sekali melihat Clara menderita akibat perceraian mereka dan menghiba memohon cinta kepadanya.
Namun perempuan itu malah terlihat tegar sejak pertama palu diketuk. Dan kali ini ia malah ingin menikah lagi.
__ADS_1
"Lo nggak tau emangnya?" tanya temannya itu sekali lagi.
Nando tak menjawab, hanya nafasnya yang kini terdengar memburu.