Terpaksa Menikahi Janda Kaya

Terpaksa Menikahi Janda Kaya
Bertemu


__ADS_3

Sekitar empat hari berlalu. Sedikit meleset dari perkiraan Jeffri dan Adrian sebelumnya. Dengan segala pertimbangan yang matang, kedua belah pihak akhirnya memutuskan untuk bertemu.


Sejak pagi kedua sahabat Clara yakni Friska dan Valerie, sudah sibuk membawa Clara ke salon langganan mereka. Salon tersebut adalah salon milik seorang makeup artis terkenal, yang telah memiliki jam terbang tinggi.


Kliennya bukan orang sembarangan. Mulai dari anak pejabat, para crazy rich, hingga artis ibu kota. Clara di dandani disana dan kebetulan kemarin Valerie sudah menyiapkan gaun termewah dan pastinya mahal untuk wanita itu.


Tapi, tak ada sedikitpun raut bahagia di wajah Clara hari itu. Sehingga dandanan cantiknya seperti kurang beberapa persen. Ia masih mengingat soal Ferdi dan sangat merindukan pria itu selama empat hari belakangan ini.


Ia tak coba menghubungi Ferdi, dan Ferdi pun demikian. Agaknya pemuda itu memang telah mantap menerima perjodohan yang telah diatur orang tuanya. Atau hanya sedang senang lepas dari Clara yang merupakan seorang janda.


"Lo kenapa sih, say?" tanya Valerie pada Clara.


"Pasti masih mikirin si berondong kang ghosting itu kan?" Friska menimpali.


"Kagak bego."


Clara berkilah sambil berusaha keras untuk tersenyum. Ternyata berpura-pura tegar itu sungguh terasa menyiksa.


"Ngapain sih, masih dipikirin juga." ucap Valerie lagi.


"Tau, dia aja ninggalin lo. Berondong mah kagak bisa di percaya, Cla." Lagi dan lagi Friska menimpali.


Sementara MUA terus melakukan finishing akhir pada makeup di wajah Clara.


"Yang tua aja kadang ninggalin, apalagi yang berondong." lanjut Friska.


Clara diam, kini pikirannya beralih pada laki-laki yang akan dikenalkan oleh Glenca padanya. Ia heran mengapa Glenca menolak memberikan foto laki-laki yang hendak di kenalkan itu padanya. Meski telah beberapa kali Clara meminta.


Glenca bilang itu untuk kejutan. Dan dia juga bilang jika laki-laki yang hendak dikenalkannya itu, sudah pasti akan membuat Clara suka secara otomatis. Sebab katanya lagi laki-laki itu very good looking dan high quality.


Namun Clara agak ragu dan takut. Takut apabila yang dikatakan Glenca itu ternyata adalah zonk.


Tetapi kembali lagi, ia memang sangat membutuhkan sosok suami saat ini. Demi kepentingannya menumbangkan sang mantan. Maka dari itu menurutnya, tak mengapa bagaimanapun rupa pria itu.


"Nah, sudah selesai mbak Clara. Lihat di kaca."


MUA yang mendandani Clara menghindar dari kaca yang tadi ia belakangi. Clara, Friska, dan Valerie sama-sama bisa melihat betapa cantiknya wanita yang terpantul di depan cermin tersebut.


"Gila, cantik banget." ucap Valerie seraya tersenyum, begitu juga dengan Friska.


Clara hanya terus berusaha untuk tersenyum.


"Ya udah, sekarang kita bantu elo pake baju termahal dan termewah sejagat dadi gue." ucap Valerie.

__ADS_1


Maka Clara pun beranjak dan memakai gaun yang telah di siapkan sahabatnya tersebut.


***


Sementara di sebuah restoran super mewah, sebuah ruangan cukup besar telah di sewa oleh Adrian. Sesuai janji ia tak ingin keluarga Jeffri terlihat malu dihadapan pihak Clara.


Meski perusahaan tengah bermasalah. Tapi setidaknya Jeffri bukan tokoh sinetron azab Indosi@r. Yang jika jatuh miskin maka sampai uang tabungan pun akan habis tak bersisa, dan baju yang dipakai berubah menjadi bolong-bolong dengan sendirinya.


Mereka masih memiliki kehormatan, apalagi untuk meraih keuntungan yang lebih besar. Tak masalah merogoh kocek lebih demi semua itu.


***


"Ma, buruan ma. Kita harus berangkat."


Frans berkata di pintu kamar sang ibu. Tak lama Aini keluar dengan gaun hebohnya yang elegan dan super mewah.


"Ini yang mau di lamar, itu cewek apa mama sih?" Frans berseloroh.


Aini cuek saja dan langsung melengos menjauh, sementara Frans hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tertawa.


"Uhuk."


"Uhuk."


Ia benar-benar penat, ketika jadwal pertemuan dengan si janda telah deal. Dan kini ia tengah menyiapkan diri untuk itu.


Ia telah rapi, namun begitu malas melangkah keluar kamar. Sebab bayangan akan Clara kini terus melintas dalam diri dan benaknya. Hati pemuda itu begitu sakit, mengingat hidupnya yang tak menjadi pilihannya sendiri.


"Ferdi, buruan kata papa. Kita udah mau berangkat."


Frans berteriak dari bawah. Ferdi kemudian menarik nafas panjang dan memperhatikan dirinya di kaca. Satu-satunya jalan ia harus bersikap tenang dalam menghadapi semua ini. Tak lama ia pun turun dan keluarga itu pergi menggunakan dua mobil.


Jeffri dan Aini berada di mobil utama, yang saat ini kemudinya dipegang oleh supir. Sedang Ferdi berada di mobil lain bersama Frans.


Mereka berangkat, dan di sepanjang perjalanan Ferdi hanya diam. Ia menghisap pod Vape atau rokok elektrik, meski masih batuk dan nafasnya sudah cukup sesak.


"Are you ok?" tanya Frans pada sang adik.


Ferdi tak menjawab. Hal tersebut sudah sangat membuat Frans terpikir akan kondisi Ferdi yang sebenarnya. Dibalik ketenangan dan ketegaran yang ia pertontonkan sejak tadi.


Dalam kurun waktu beberapa menit saja, keluarga Jeffri berikut Ferdi sudah tiba di lokasi. Adrian dan keluarganya telah berada di sana terlebih dahulu. Terdapat pula Nadia kekasih Frans disana.


"Gue mau ke toilet." ucap Ferdi, saat Jeffri dan Aini duduk pada dua buah kursi yang tersedia.

__ADS_1


"Sama, gue juga." timpal Frans.


Ferdi memang merasa malas untuk berinteraksi hari itu. Ia ke toilet hanya alasan saja, untuk bisa duduk dan menenangkan diri. Sedang Frans memang ingin melakukannya, karena sudah tidak tahan ingin buang air sejak di perjalanan tadi.


Saat sama-sama telah keluar dari toilet, Frans mendekati Ferdi, yang lanjut menghisap rokok elektrik di suatu sudut. Frans kemudian mencoba untuk membuat adiknya itu merasa tegar, dengan memberinya nasehat serta semangat.


Sementara di luar, pihak Clara sudah tiba. Ia terkejut melihat Jeffri dan juga Adrian ada disana. Sebab ia pernah menghadiri acara yang diadakan kedua orang itu beberapa waktu lalu.


Glenca memperkenalkan Jeffri dan juga Aini serta Adrian, sebagai orang tua atau wali dari laki-laki yang akan ia kenalkan pada Clara hari itu.


Tetapi Jeffri kemudian membuka omongan, bahwasannya sejak pertama bertemu dengan Clara di acara perusahaannya waktu itu. Ia sudah tertarik untuk menjadikan Clara sebagai menantunya.


Tentu saja dengan maksud tertentu di belakang, namun ia tak menjelaskan maksud tersebut. Ia hanya meminta Clara menjadi menantunya dengan nada bicara yang sungguh-sungguh.


Aini selaku ibu juga menambahkan jika anaknya dan Jeffri adalah anak yang baik, dan memang semua anak mereka dijodohkan. Aini bilang mereka sengaja mencarikan jodoh, agar anak-anak mereka tidak jatuh cinta pada orang yang salah.


Hari itu semua berakting sesuai dengan perannya masing-masing, semata demi agar perjodohan tersebut berjalan lancar.


Sedang Clara kini terpaksa menanggapi ucapan Aini dan Jeffri dengan berkilah. Ia mengatakan jika ia mencari pendamping untuk menjaga dan melindungi dirinya.


Sama sekali ia tak bercerita, jika ia mau menikah secara random demi untuk kepentingan perusahaan.


Glenca sendiri sempat ada memotong pembicaraan dan mengatakan pada Clara, jika keluarga calonnya tersebut sudah tau ia janda beranak tiga. Sebab Clara ada hendak mengatakan hal tersebut namun ragu.


"Kami tidak memandang status janda. Bagi kami janda itu bukan sebuah aib." ucap Aini sambil menggenggam tangan Clara. Untuk hal tersebut Aini dan keluarga Ferdi memang tulus. Mereka memang tak pernah memandang orang dari single atau janda.


Clara pun makin merasa haru, namun tiba-tiba hatinya pilu merindukan Ferdi. Tetap Ferdi yang ada di hatinya saat ini, meski pria itu telah meninggalkannya.


"Oh ya, dari tadi kami tidak melihat anak bapak yang mana?" ucap Valerie pada Jeffri dan juga Adrian.


Baru saja Jeffri hendak menjawab, Ferdi tiba-tiba muncul bersama Frans.


"Ini orangnya." ucap Aini seraya menepuk tangan Ferdi, kebetulan Ferdi kini berdiri di dekat sang ibu dan hendak menuju ke sebuah kursi.


"Ferdi, ini Clara." ucap Jeffri.


Sontak waktu pun seketika membeku. Clara terkejut melihat Ferdi dan juga Frans, begitupun sebaliknya. Tubuh Ferdi gemetar, tak percaya pada apa yang ia lihat. Sementara Frans sendiri seperti di tusuk dari belakang hingga tembus ke jantung.


"Clara." Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Ferdi.


"Fe, Ferdi." Clara menjawab dengan penuh emosional. Seperti tangisnya hendak meledak saat itu juga.


Secara serta merta Ferdi pun mendekat lalu memeluk Clara dengan erat dan begitupun sebaliknya.

__ADS_1


Sementara Jeffri serta Adrian dan yang lainnya kini belum bergerak. Hanya mata mereka saja yang berkedip saking kagetnya.


__ADS_2