
Ferdi mencium kening Clara, ketika semua kegiatan panas mereka telah mencapai puncak dan memberi kepuasan tersendiri bagi masing-masing. Clara tersenyum sambil menatap suami berondongnya itu.
"Kenapa?" tanya Ferdi sambil menatap Clara.
"Nggak apa-apa, enak soalnya." Clara berseloroh. Ferdi tertawa kali ini.
"Jangan gatel, ntar buncit." jawab pemuda itu.
"Kamu nggak mau aku hamil?" tanya Clara.
"Ya mau dong, tapi bicarakan dulu sama anak-anak. Jangan sampai nanti mereka kaget atau malah jadi benci sama adek mereka."
Clara tersenyum, ia teringat pernah berbohong pada anak-anaknya. Jika ia menikah hanya karena sebuah kepentingan. Dan apabila nanti ia hamil, maka itu akan membuktikan kebohongannya di mata mereka.
Tetapi Clara juga yakin anak-anaknya adalah anak-anak yang baik. Mereka mungkin akan membenci Clara atas kebohongannya, namun tidak akan marah pada adik mereka sendiri.
"Kamu mikirin apa?" tanya Ferdi kemudian.
"Mikirin omongan kamu yang barusan." jawab Clara.
Ferdi menarik nafas dan merasa agak sedikit bersalah. Sebab ia telah mengacaukan suasana hati wanita itu.
"Maafin aku ya, aku mau koq punya anak. Tapi kita juga harus kasih pengertian ke Arvel, Anzel, dan Axel. Jangan sampai ada yang merasa nggak enak hati nantinya."
Clara mengangguk, lalu kembali tersenyum.
"Mereka anak-anak baik koq, Fer. Kamu sendiri bisa menilai kan?"
Ferdi mengangguk.
"Mereka nggak akan membenci adik mereka sendiri." lanjut Clara.
"Ya udah, kamu aku hamilin sekarang aja."
"Tadi kan udah."
"Ya, lagi. Biar besok langsung jadi." seloroh Ferdi.
Clara benar-benar terkekeh kali ini. Selama pernikahan dengan Nando bahkan mereka tak pernah bercanda sedekat ini, setelah bercinta. Biasanya Nando langsung mandi dan tertidur dengan lelap.
Saat bangun tidur ia bahkan seakan lupa jika sebelumnya ia dan Clara begitu intim. Clara jadi merasa hubungan suami istri diantara mereka hanya sebatas menyalurkan hasrat. Bukan didasari rasa cinta yang sedemikian besar.
Sementara dengan Ferdi, ia mendapatkan hal lebih dari apa yang ia inginkan. Ferdi benar-benar menjadi sosok suami yang ia impikan selama ini.
"Besok kamu pulang kantor jam berapa?" tanya Ferdi.
"Di jam biasanya." jawab Clara.
"Dinner yuk besok." ajak pemuda itu.
Clara makin tersenyum, Ferdi benar-benar romantis meski tak pandai merayu dengan kata-kata puitis. Ia lebih kepada orang yang banyak melakukan action ketimbang menggombal. Sedang dulu Nando sudah tak pandai menggombal, tak ada actionnya pula.
"Boleh." jawab Clara kemudian.
__ADS_1
"Ya udah, besok aku jemput. Pulang dari kantor, kita langsung dinner." ujar Ferdi.
"Berarti besok aku minta antar supir aja ya. Biar kamu bisa jemput aku pas pulang."
"Oke, tapi kamu nggak masalah kan naik mobil itu?" Ferdi menyinggung soal mobil kantornya yang biasa saja.
"Nggak masalah, naik motor pun ayo kalau ada." ujar Clara.
"Beneran, ntar masuk angin loh." seloroh Ferdi.
"Ih beneran, aku mau naik motor asal jalan sama kamu." ucap wanita itu.
Ferdi pun lalu tersenyum. Ucapan Clara terdengar antara polos dan memang sengaja menggombal. Ternyata istrinya itu diam-diam merupakan buaya betina, meski tampilannya kalem dan elegan. Hal tersebut membuat Ferdi sedikit kaget, namun ia menyukainya.
***
Esok harinya ketika bubar sekolah, Axel terkejut mendapati Arvel dan Anzel yang nongkrong di dekat penjual es Boba di seberang gerbang depan.
Pada saat yang bersamaan Gibran dan kedua temannya juga keluar dan melihat ke arah Arvel dan juga Anzel.
"Tumben bang udah datang, biasanya Axel yang nunggu kalian lama."
Axel jadi tidak bisa jajan hari itu. Namun Arvel dan Anzel datang lebih awal bukan tanpa alasan. Masalah dengan Gibran belum selesai, sebab saat ini Clara masih sibuk dengan urusan kantor. Ia akan kembali lagi ke sekolah Axel dan membereskan semuanya, jika ia memiliki waktu senggang nanti.
Untuk itulah Arvel dan Anzel berinisiatif untuk berjaga-jaga. Takut kalau-kalau terjadi pertengkaran lagi dan Gibran kembali memberatkan posisi Axel.
"Tuh anak nggak cari masalah lagi kan?" tanya Arvel seraya melirik Gibran. Gibran sendiri dengan angkuhnya melangkah ke arah sebuah mobil.
"Oh ya, lo bilang kan kalau dua temen lo ngeliat kejadian itu dan ada beberapa saksi lainnya lagi. Kenapa nggak suruh mereka bersaksi aja?" tanya Anzel.
"Udah, bang. Mereka udah bersaksi buat Axel. Tapi tetap aja guru-guru lebih percaya sama hasil rekaman CCTV. Kayaknya orang tua Gibran nyumbang tambang berlian deh buat sekolah ini, makanya dia dibela banget ketimbang Axel."
"Pokoknya lo kasih tau aja, kalau tuh anak nantangin lo lagi." ujar Anzel.
"Ntar kalau abang berdua ikut berantem, Axel dibilang pengaduan lagi."
"Biarin aja, salah sendiri dia nggak punya kakak." seloroh Anzel.
"Iya juga ya." ucap Axel sambil tertawa.
"Axel, tumben nggak jajan."
Salah satu pedagang kaki lima yang nongkrong di depan sekolahnya kini nyeletuk. Axel mendadak jadi gelagapan, apalagi kini ia diberondong tatapan dari kedua kakaknya.
"Ayo jajan, biasanya jajan." ujar pedagang itu lagi. Axel rasanya ingin menjadi kutu loncat dan meninggalkan tempat itu.
"Tuing."
"Tuing."
"Tuing."
Arvel menatap Anzel. Anzel lalu menghampiri pedagang tersebut.
__ADS_1
"Ini apaan, bang?" tanya nya kemudian.
"Telor gulung, ini ada tulisannya." ujar pedagang tersebut.
Anzel ingat di sekolahnya juga ada pedagang telur gulung. Namun itu dibuat menggunakan alat khusus. Sehingga hasilnya begitu besar, mirip corn dog Korea yang sering ia order.
"Ya udah mau." ujarnya kemudian.
Axel menunduk gemetaran. Ia takut kedua kakaknya membeli makanan tersebut untuk memarahi dan mengadukannya pada Clara.
Anzel dan Arvel memperhatikan, telur gulung yang mereka beli tak dibuat seperti yang ada di sekolah mereka. Melainkan disebar langsung ke kuali yang berisi minyak panas. Kemudian digulung dengan menggunakan tusuk sate.
"Duh, kenapa mesti ngomong sih ini abang-abang. Mampus gue pasti dimarahin." gerutu Axel dengan suara sangat pelan.
Tak lama telur gulung itu pun jadi. Anzel membeli sebanyak sepuluh tusuk.
"Ayo masuk ke mobil!" ujar Arvel ketika Anzel terlihat sudah membayar.
Axel pasrah saja, sebab yang akan terjadi selanjutnya adalah keributan. Ia masuk ke dalam mobil bersama kedua kakaknya. Lalu Anzel memberikan telur gulung itu pada Axel.
"Nih makan!" ujarnya kemudian.
Axel menggeleng.
"Nggak mau."
"Kenapa nggak mau?. Kan lo suka jajan di belakang kita dan bohong sama mama."
Axel menunduk.
"Ya udah kalau nggak mau."
Anzel memakan salah satu dari telur gulung tersebut. Kemudian ia terdiam, dan memakannya lagi.
"Enak, bang." ujarnya pada Arvel.
Arvel menoleh ke belakang dan memintanya. Mereka kemudian memakan telur gulung itu dengan tanpa dosa.
"Mau." ujar Axel kemudian.
"Tadi katanya nggak mau." ucap Anzel.
Ia dan Arvel pun kini tertawa.
"Tapi jangan bilang sama mama."
"Siapa juga yang mau ngadu ke mama." ujar Arvel.
"Beneran, bang?" Axel sumringah. Ia lalu mengambil telur gulung itu dan memakannya.
"Bapak nggak dibagi?. Ntar bapak bilang mama loh."
Sang supir berucap. Mereka bertiga pun lalu tertawa dan membaginya.
__ADS_1