Terpaksa Menikahi Janda Kaya

Terpaksa Menikahi Janda Kaya
Trik Axel


__ADS_3

"Axel, koq hero lo jalan kayak orang sinting gitu?"


Anzel bertanya dari dalam kamarnya. Sebab hero yang digunakan Axel dalam game mobile legends, seperti tidak dimainkan oleh adiknya itu.


"Axel."


Arvel turut memanggil sang adik.


"Hah?. Hmmh."


Ternyata anak itu tertidur. Pikiran Arvel dan Anzel langsung tertuju pada martabak. Dalam sekejap mereka sudah tiba di kamar Axel. Mereka membuka pintu secara perlahan dan benar, Axel sudah tertidur pulas dengan handphone serta game yang masih menyala di tangannya.


Arvel dan Anzel berjalan layaknya maling. Mata mereka tertuju pada kotak martabak yang ternyata isinya masih ada tiga. Mereka terus mengendap, hingga kemudian mereka menyentuh kotak tersebut.


"Hayo lo, ketahuan. Hahaha."


Axel menangkap basah kedua kakaknya. Arvel dan Anzel kini terlihat begitu kesal.


"Siapa juga yang mau ngambil." Arvel masih jual mahal.


"Tau, main tuduh aja." Anzel menimpali.


"Terus ngapain kesini kalau emang nggak mau?" ya ya Axel sengit.


"Ya mau kesini aja." ujar Anzel.


"Tapi idung lo kembang-kempes, bang."


"Apaan sih?"


"Ya udah mau Axel makan semua."


"Jangan, jangan, jangan " Keduanya menghalangi.


"Tuh kan, pada mau kan?"


Axel berusaha mempertahankan. Maka terjadilah perebutan sengit. Namun akhirnya Axel berkata.


"Ini kan ada tiga, ngapain kita ribut?"


"Elu yang ngajak ribut."


Anzel mencomot salah satu lalu memakannya, Arvel pun demikian. Axel makan yang satunya lagi dan mereka kembali masuk dalam permainan.


"Makanya bang, jadi orang tuh nggak usah terlalu jual mahal. Obral aja udah, mahal-mahal amat." ucap Axel.


"Buuuk."


Ia menerima jawaban dari Arvel berupa bantal guling yang mendarat di kepala. Malam berlanjut, mereka main mobile legends sebanyak tiga kali. Lalu sama-sama tertidur di tempat yang sama hingga pagi.


***


Pagi hari.


"Axel buruan!"


Arvel berteriak dari halaman depan, tepatnya disisi mobil yang mesinnya sudah dihidupkan oleh supir. Namun tak ada yang menjawab dari dalam.


"Axel, abang ada ujian hari ini." Anzel menimpali.


"Dek, abang udah pada nunggu tuh di depan. Buruan!" Clara ikut-ikutan berujar.

__ADS_1


Axel yang berada di toilet belakang itu pun balas berteriak.


"Masih sakit perut banget, ma. Suruh aja abang duluan. Ntar Axel naik ojek aja."


"Serius?. Kamu kenapa sih?. Ada salah makan nggak kemaren?" Clara mendekat ke arah toilet.


"Mana sih, Axel?"


Anzel akhirnya masuk dan mendekati sang ibu.


"Gue sakit perut, bang. Ini tokai gue banyak banget."


"Axel, itu om Ferdi lagi makan."


Clara menegur anaknya. Sementara Ferdi yang mendengar hanya tertawa, sebab ia bukan tipikal penjijik. Apalagi jika ia tak melihatnya secara langsung.


"Ya orang emang gitu kenyataannya."


"Brooot."


Terdengar suara yang begitu syahdu dari dalam. Membuat Clara serta Anzel mendadak terdiam.


"Ya udah abang sama abang Ar berangkat duluan gih!. Nanti Axel biar mama aja yang antar." ucap Clara kemudian.


"Ya udah, Anzel berangkat ya ma."


"Ya, hati-hati. Bilang sama supir jangan ngebut-ngebut."


"Iya, ma."


Anzel kembali keluar dan langsung berangkat bersama Arvel. Sementara di toilet Axel kegirangan. Suara yang di dengar Clara dan Anzel tadi bukanlah suaranya. Melainkan sound yang ia dapat dari teman.


Ia tak sedang sakit perut, hanya ingin pergi ke sekolah bersama Ferdi. Sebab kemarin ia telah berjanji pada teman-temannya untuk memamerkan ayah barunya itu di hadapan mereka.


"Kamu nggak apa-apa, dek?" tanya Clara heran.


"Ya nggak apa-apa, ma. Tenang aja." ujar Axel.


"Minum dulu deh!"


Clara menyerahkan oralit tersebut dan Axel langsung meminumnya. Baginya itu tak lain adalah isotonik belaka, yang bisa menambah elektrolit dalam tubuh.


"Kamu nggak Istirahat aja di rumah?" Ferdi mulai bersuara.


"Nggak, om." ujar Axel lalu nyengir.


Ferdi menatap hal ganjil dalam nada bicara anak itu. Namun ia belum mau menduga-duga.


"Axel boleh bareng om nggak ke sekolahnya?"


Ia langsung to the poin. Clara agak terkejut mendengar permintaan anaknya itu. Ia pikir Axel sama seperti kedua kakaknya yang sinis terhadap Ferdi.


"Boleh, dong." ujar Ferdi kemudian.


"Tapi kamu yakin nggak kalau kamu baik-baik aja?" tanya Ferdi lagi.


"Yakin koq, tenang aja." jawab remaja itu pasti.


"Tanya mama dulu!" ucap Ferdi.


"Boleh ya, ma. Ya, ya, ya?" Axel nyengir dihadapan sang ibu.

__ADS_1


"Ya udah, tapi kalau di jalan nanti ada apa-apa bilang ke om Ferdi ya!"


"Iya ma."


Tak lama mereka pun berangkat bersama. Sebelum itu seperti biasa Ferdi mencium Clara terlebih dahulu. Meski kali ini hanya mencium kening dan bukan bibir, sebab ada Axel di dekat mereka.


"Tadi kamu koq bisa sakit perut gitu sih?" tanya Ferdi ketika mobil telah merayap meninggalkan halaman rumah.


"Nggak, itu mah sound dari temen om."


"Jadi kamu bohongin abang sama mama?" Lagi-lagi Ferdi bertanya.


"Abisnya Axel bingung, nggak ada alasan biar Axel nggak ikut mereka."


"Kenapa emangnya, kalian berantem?"


"Nggak."


"Terus?"


Axel menggaruk-garuk kepalanya.


"Ketombean?" tanya Ferdi.


"Bukan, om." Axel mulai sewot, sementara Ferdi kini tertawa.


"Axel tuh ada janji sama temen, buat bawa om Ferdi ke sekolah."


"Oh ya?" Ferdi kaget mendengar hal tersebut.


"Iya, kan kemaren teman Axel yang datang ke acara pernikahan itu cuma lima orang. Soalnya rumah yang lain pada jauh-jauh. Mereka mau liat bapak tiri Axel, katanya."


Ferdi tertawa kecil, dalam hatinya ia merasa cukup terharu. Paling tidak sudah satu anak yang menganggap dirinya sebagai seorang ayah. Meski ada embel-embel kata tiri di belakangnya.


"Oh ya tadi kamu nggak makan?" tanya Ferdi.


"Gimana mau makan, orang pada kesiangan semua bangunnya. Abang Ar sama abang An aja tadi pada bawa roti, buat makan di jalan.


"Kamu bawa nggak?" tanya Ferdi.


"Nggak."


"Ya udah, kita cari sarapan dulu ya." ujarnya kemudian.


Axel mengangguk. Dalam hati remaja itu menari-nari bak cacing, yang tengah joget dangdut. Ia memang sengaja meninggalkan rotinya, agar bisa jajan pagi ini.


Ia sudah membayangkan makan cilok berbumbu kacang. Di padu dengan es teh manis yang menyegarkan.


Namun tiba-tiba semua harapan itu pupus. Ketika Ferdi mengajaknya ke sebuah toko roti dan membelikan beberapa potong, beserta satu cup susu hangat.


"Om, kita nggak bisa makan cilok aja gitu atau cilor bumbu barbeque?" tanya Axel pada Ferdi.


"Om tau koq, tadi kamu sengaja ninggalin roti kamu supaya bisa jajan yang kamu mau kan?"


Perkataan Ferdi tersebut sontak membuat Axel diam, lalu nyengir.


"Hehe." ujarnya kemudian.


"Kalau siang, boleh. Kalau pagi sarapan dengan yang ini dulu." tukas Ferdi.


"Ya udah deh, nggak apa-apa." ujar Axel lagi.

__ADS_1


Tak lama mereka pun kembali ke mobil dan menuju ke sekolah Axel. Setibanya disana, Ferdi keluar dari dalam mobil dan dikenalkan Axel pada teman-temannya yang penasaran.


__ADS_2